Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terperangkap
Beberapa hari kemudian, semua berjalan sebagaimana mestinya. Alma tak pernah lagi membahas soal laporan kerja Nova. Namun, diam-diam wanita itu selalu memisahkan berkas laporannya dari dokumen yang lain.
Hingga hari itu, tiba waktunya agenda rapat bulanan dengan anggota dewan direksi di kantor pusat.
"Mas Agam kita langsung ke kantor pusat saja, ya," pinta Alma pada Agam yang kini merangkap sebagai sopir pribadinya.
"Baik, Bu," jawab pemuda itu patuh.
Mobil pun bergerak menuju kantor pusat Al Gha Corp.
Sesampainya di sana, ruang rapat besar sudah penuh terisi dan Alma segera duduk di kursinya. Tak lama kemudian Papi Baim bersama Darrel dan Jason, memasuki ruangan lalu beliau duduk di kursi utama. Darrel duduk di samping Papi Baim, lalu Jason berdiri di samping Darrel. Serta para anggota dewan direksi dan pimpinan lainnya duduk barisan lainnya.
Ternyata, Nova pun telah hadir di sana, duduk di antara para kepala cabang dengan wajah tenang dan penuh percaya diri, seolah begitu yakin rencananya akan berjalan mulus.
Rapat pun akhirnya dimulai. Topik pembahasan utama mengenai laporan keuangan, jalannya proyek, dan rencana kerja bulan depan sudah selesai dibahas semuanya. Setelah itu masuk ke topik inti berikutnya, yaitu penjelasan data dan hasil kerja bagian operasional.
Saat itulah Alma berdiri lalu maju ke depan dengan langkah tegap.
"Mengenai poin terakhir ini, yaitu rincian data dan laporan hasil kerja bulan lalu, berkasnya sudah saya terima dan sudah saya periksa isinya. Namun, agar semuanya jelas dan tidak ada salah paham, lebih baik kita dengar penjelasan langsung dari Pak Nova, karena beliaulah yang mengerjakan laporan ini."
Ia lantas menatap lurus ke arah Nova. "Silakan maju ke depan untuk memaparkan hasil kerja Anda," ucap Alma dengan suara tegas dan lugas terdengar oleh semua orang.
Wajah Nova sedikit menegang, tetapi tak ada jalan lain untuk menolak apalagi di hadapan pimpinan langsung. "Sialan, kenapa dia malah mengumpankan aku?" gerutunya kesal dalam hati.
Dia pun akhirnya beranjak maju ke depan, berusaha berjalan tegap. Nova merasakan jantungnya berdebar kencang dan hatinya gelisah luar biasa. Meski wajahnya terlihat tenang, tetapi pikirannya begitu kalut. Dan dia tetap merasa yakin tidak akan ada seorangpun yang curiga apalagi mengetahui kecurangan yang telah dilakukannya.
Rupanya Nova sama sekali belum sadar, bahwa perangkap yang jauh lebih besar dan berbahaya telah menantinya. Bukan hanya sekadar soal angka yang dimanipulasi saja.
"Terima kasih, Bu Alma," ucapnya dengan sopan dan meyakinkan, begitu pria itu telah berdiri di depan.
Kemudian dia mulai menjabarkan isi dokumen tersebut satu per satu. Dia menyebutkan jumlah angka, rincian pengeluaran, catatan pemasukan, serta hasil hitungan akhir seolah itulah fakta yang sah dan benar adanya.
Namun, sebelum Nova kembali ke tempat duduknya, tiba-tiba suara berat dan berwibawa milik Papi Baim memecah keheningan ruangan.
"Tunggu, Saudara Nova. Ada yang ingin saya tanyakan," ucap Papi Baim seraya menatapnya dengan tajam.
Nova menoleh cepat, keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya. Tampak olehnya tangan Papi Baim memegang selembar berkas tebal yang berbeda dari apa yang baru saja dia bacakan.
"I-iya, Pak Ibrahim...apa ada yang kurang jelas?" tanyanya terbata-bata, berusaha menutupi kegugupannya.
Papi Baim menunjuk tepat ke barisan angka utama yang baru saja disebutkan oleh Nova.
"Saya tanya, angka dan jumlah rincian yang baru saja Saudara sampaikan tadi, dasar perhitungannya diambil darimana? Mengacu pada dokumen yang mana? Dan siapa yang menyerahkan data itu kepada Saudara?"
Beliau mengangkat sedikit berkas yang ada di tangannya agar terlihat oleh semua orang di ruangan itu.
"Karena apa yang baru saja Saudara jelaskan ini, sama sekali tidak sesuai bahkan saling bertolak belakang dengan catatan induk laporan keuangan yang sah, dan data asli yang tersimpan di arsip pusat. Angka dan hitungannya berubah drastis. Coba Saudara jelaskan di sini, dari mana asal-muasal semua angka-angka ini?"
Wajah Nova seketika berubah pucat pasi, darah seolah berhenti mengalir di pembuluh nadinya. Mulutnya terbuka dan tertutup, tetapi tak satu kata pun yang sanggup keluar. Ditanya begitu lugas dan telak oleh pemilik perusahaan sendiri, tak ada lagi celah bagi Nova untuk menyangkal atau mencari alasan pembelaan. Dirinya seolah terkuliti hidup-hidup.
"Sa-saya... saya menyusunnya dari... dari berkas yang saya terima... sesuai data yang saya pegang..." jawabnya pelan, suaranya bergetar hebat tak mampu dikendalikan lagi.
"Data apa?" potong Darrel tegas, raut wajahnya tampak gelap dan penuh kekecewaan. "Dokumen resminya ada di sini, jelas, lengkap, dan sah isinya. Kalau yang kamu pegang beda jauh sekali, artinya memang kamu sendiri yang mengubah dan mengatur ulang semuanya, bukan?"
Tepat ketika Nova tengah terpaku di tempatnya dengan wajah pias, terperangkap dan tak berkutik, saat itulah Alma selangkah maju ke depan. Wajahnya begitu tenang, tetapi sorot matanya dingin dan tajam seolah telah menunggu momen yang tepat untuk melancarkan perangkap balasan. Ia meletakkan dua berkas besar yang dibawanya tersebut ke atas meja utama.
"Bapak Komisaris, Bapak Direktur, dan Bapak-bapak sekalian, izinkan saya melengkapi penjelasan ini," ucap Alma dengan suara rendah, tetapi terdengar sangat tegas ke penjuru ruangan.
"Apa yang terjadi ini bukan sekedar kesalahan hitung, atau salah catat, dan bukan pula kekhilafan biasa. Sudah terbukti dari pertanyaan tadi, bahwa laporan ini memang sengaja diubah, dirancang menyesatkan, serta dimanipulasi dengan rencana yang matang. Namun, ada hal yang jauh lebih berat dan besar dampaknya bagi keberlangsungan perusahaan ini."
Alma lantas beralih ke meja pengendali, lalu menyalakan layar proyektor besar yang ada di hadapan mereka. Dalam sekejap, isi dokumen, salinan catatan, serta rincian data keuangan terpampang terang dan jelas di sana. Sehingga semua orang yang hadir di dalam ruangan itu bisa melihat dengan gamblang isi dan rinciannya.
"Silakan dilihat satu per satu di layar ini," lanjut Alma seraya menunjuk tepat ke deretan angka dan nama yang tertulis.
"Ini adalah rekam jejak transaksi serta riwayat aliran dana yang berhasil dilacak dan dikumpulkan diam-diam oleh tim kami. Ternyata sudah bertahun-tahun lamanya, Pak Nova berulang kali mengambil dan mengalihkan uang milik perusahaan dalam jumlah besar, lalu seluruhnya dialirkan ke rekening atas nama saya."
Suasana seketika hening mematikan. Mata semua orang terbelalak menatap ke arah Alma dan Nova bergantian dengan pandangan penuh tanya.
"Lalu apa hubungan Bu Alma dan Pak Nova? Kenapa aliran dana bisa masuk ke rekening Anda?" salah seorang dewan direksi memberanikan diri bertanya.
"Saya adalah istri Pak Nova yang dinikahi secara siri." Jawaban Alma sontak berhasil membuat gaduh seisi ruangan dengan beragam reaksi dan penilaian yang berbeda.