NovelToon NovelToon
ARCHEON : THE LAST SIGIL

ARCHEON : THE LAST SIGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kenken77

Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Dunia Archeon seakan menahan napas.

​Ibu kota Solaria, Lux Aeterna, yang biasanya dikenal sebagai Kota Matahari Abadi, kini diselimuti oleh kecemasan yang mencekik. Tembok-tembok putih marmer yang menjulang tinggi, yang selama seribu tahun tak pernah tersentuh oleh musuh, kini dipenuhi oleh ksatria yang bersiaga penuh. Di atas menara-menara tertinggi, para penyihir kerajaan merapal mantra pelindung tanpa henti, menciptakan lapisan demi lapisan cahaya yang bercahaya emas.

​Namun, di ufuk barat, kegelapan tidak datang dengan suara gemuruh. Ia datang dengan kesunyian yang mengerikan. Awan hitam pekat merayap di tanah, menelan hutan, desa, dan ladang gandum di sekitar ibu kota, mengubah siang yang terang menjadi senja yang abadi.

​Di dalam Aula Inti Solaria, Raja Valerius berdiri di hadapan sebuah kristal raksasa setinggi sepuluh meter yang melayang di udara. Kristal itu adalah Inti Surya, sumber kekuatan seluruh kerajaan. Di sampingnya, Liora Ashveil berdiri dengan bantuan tongkat kristal. Tubuhnya masih sangat lemah, namun matanya memancarkan tekad yang melampaui rasa sakitnya.

​"Liora," Raja Valerius berkata tanpa menoleh. "Kau tahu apa yang harus dilakukan jika gerbang kota runtuh."

​Liora menatap Inti Surya yang berdenyut hangat. "Anda benar-benar akan mengaktifkan The Sun-Cracker, Yang Mulia? Itu akan memusnahkan jutaan nyawa di sekitar ibu kota."

​"Lebih baik dunia ini menjadi abu daripada menjadi bagian dari perut Sang Void," suara sang Raja bergetar oleh amarah dan ketakutan. "Caspian telah gugur. Lima dari tujuh Holy Wardens telah tewas atau cacat. Kael Ravenhart bukan lagi manusia. Dia adalah bencana alam yang memiliki kehendak."

​Di luar tembok kota, Kael Ravenhart berdiri di depan pasukan bayangannya. Ia tidak lagi menyentuh tanah; ia melayang di dalam pusaran energi hitam yang begitu kuat hingga ruang di sekitarnya tampak terdistorsi.

​Vorgas mendekat, pedang besarnya sudah bersimbah darah dari para penjaga perbatasan. "Tembok itu dilindungi oleh Divine Aegis. Kita tidak bisa menembusnya dengan kekuatan fisik, Kael."

​Kael menatap tembok marmer itu dengan mata merah pekatnya. "Aku tidak butuh kekuatan fisik."

​Kael mengangkat tangan kirinya. Sigil Void dengan lima garis merah berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang kini terdengar seperti dentuman drum di kejauhan.

​"VOID EROSION."

​Dari telapak tangan Kael, keluar ribuan sulur hitam yang halus seperti sutra namun tajam seperti silet. Sulur-sulur itu merayap menyentuh dinding cahaya Divine Aegis. Alih-alih meledak, sulur-sulur itu mulai memakan frekuensi sihir pelindung tersebut. Cahaya emas itu perlahan berubah menjadi abu-abu, membusuk, dan akhirnya hancur berkeping-keping seolah-olah dimakan oleh rayap waktu.

​"SERANG!" teriak Draken.

​Pasukan Shadowspire merangsek masuk ke dalam celah yang diciptakan Kael. Xerxes melompat ke atas tembok, menghanguskan para pemanah dengan api hitamnya. Pertempuran di dalam kota menjadi pembantaian. Ksatria Solaria bertarung dengan gagah berani, namun bagaimana kau bisa melawan seseorang yang memakan sihirmu sebagai makanan?

​Kael berjalan melewati jalanan kota yang indah. Setiap ksatria yang mencoba menghalangi jalannya akan berakhir sama: mana mereka tersedot, tubuh mereka menjadi kering, dan jiwa mereka terjebak di dalam labirin kegelapan Kael.

​"Lihatlah keindahan ini, Kael..." Umbra berbisik, bayangannya kini menempel di bahu Kael seperti jubah hidup. "Semua peradaban ini, semua kesombongan mereka... semuanya akan berakhir di dalam dirimu. Kau adalah muara dari segala sungai kehidupan."

​"Diam," jawab Kael dingin. "Aku di sini hanya untuk satu hal."

​Langkah Kael terhenti saat ia mencapai alun-alun besar di depan istana. Di sana, berdiri dua sosok yang sangat ia kenal.

​Vorgas dan Lady Malice.

​Namun, mereka tidak sedang menghadap istana. Mereka sedang menghadap Kael.

​Kael menyipitkan matanya. "Apa artinya ini, Vorgas?"

​Vorgas menancapkan pedang besarnya ke tanah, menyebabkan keramik alun-alun pecah. "Kau sudah mencapai tahap kelima, Kael. Kau sudah terlalu kuat. Jika kau mendapatkan Inti Surya dan mencapai tahap keenam, kau tidak akan lagi bisa dikendalikan. Kau akan melahap kami juga."

​Lady Malice tersenyum tipis, cawan peraknya kini berisi darah yang lebih gelap. "Shadowspire membutuhkan senjata, Kael. Bukan dewa yang tak terduga. Kami telah membuat perjanjian dengan Katedral."

​Kael tertawa pendek, suara tawanya terdengar menyakitkan. "Kalian bersekutu dengan musuh yang kalian benci hanya untuk menghentikanku? Betapa menyedihkannya."

​"Ini bukan tentang kebencian, ini tentang kelangsungan hidup!" teruk Vorgas sambil menerjang maju.

​Pertempuran tiga arah pecah di alun-alun kota. Vorgas menyerang dengan kekuatan fisik yang mampu membelah gunung, sementara Lady Malice merapal sihir kutukan yang mencoba mengikat roh Kael.

​Namun, Kael bukan lagi murid yang mereka latih di The Pit.

​Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat, Kael menghindari tebasan Vorgas. Ia menangkap bilah pedang Vorgas dengan tangan kosong. Sigil Void-nya meledak dengan energi.

​"VOID REVERSAL."

​Seluruh kekuatan fisik yang disalurkan Vorgas ke dalam pedangnya dibalikkan secara instan. Tangan Vorgas hancur karena tekanan balik energinya sendiri. Di saat yang sama, Kael menatap Lady Malice.

​"Kau ingin melihat kutukan yang sesungguhnya?"

​Kael melepaskan kabut hitam yang membentuk ribuan tangan kecil yang mencekik Lady Malice, menghisap seluruh ramalan dan pengetahuannya langsung dari otaknya.

​"TIDAK! JANGAN!" jerit Malice sebelum ia pingsan dengan mata yang memutih.

​Vorgas yang terluka parah menatap Kael dengan horor. "Kau... kau adalah iblis sejati."

​Kael berdiri di atas mentornya yang sekarat. "Kalian yang menciptakan aku. Jangan mengeluh saat monster itu memutuskan untuk memakan penciptanya."

​Kael tidak membunuh mereka. Ia membiarkan mereka hidup dalam kehinaan, kehilangan seluruh mana mereka, sementara ia melanjutkan langkahnya menuju gerbang istana yang kini telah terbuka.

​Di punggung telapak tangan kirinya, garis kelima Sigil Void menyala dengan warna merah darah yang pekat, berdenyut seirama dengan jantung dunia yang mulai melambat. Namun, di samping garis kelima itu, kulit Kael mulai terbelah. Sebuah retakan baru, garis keenam, mulai terukir perlahan. Rasa sakitnya luar biasa; seolah-olah jiwanya sedang ditusuk oleh ribuan pisau, sebuah penderitaan yang mampu meruntuhkan pegunungan jika dikonversi menjadi energi fisik. Namun Kael hanya berdiri diam, menerima rasa sakit itu sebagai bentuk penobatan.

​Dari arah gerbang istana yang terbuka, Raja Valerius muncul. Sang penguasa matahari itu tidak lagi tampak agung; mahkotanya miring dan jubah emasnya kotor oleh abu. Di belakangnya, sisa-sisa ksatria suci yang paling setia menarik sebuah gerobak logam berat yang mengangkut artefak paling terlarang dalam sejarah Archeon:

The Sun-Cracker

​Ini adalah artefak yang ditempa dari inti bintang jatuh, sebuah senjata pamungkas yang hanya digunakan dalam naskah apokaliptik. Artefak itu mampu memfokuskan mana Inti Surya menjadi satu titik destruktif yang setara dengan ledakan supernova terkendali.

​"Tembak!" perintah Sang Raja dengan suara parau yang nyaris pecah karena putus asa. "Musnahkan noda hitam itu dari muka bumi!"

​Dua belas penyihir agung Solaria merapal mantra secara serentak. THe Sun-Cracker mulai berputar cepat, mengeluarkan suara dengung yang memekakkan telinga. Energi dari Inti Surya yang melayang di menara tertinggi ditarik paksa menuju artefak tersebut. Dalam sekejap, sebuah pilar sinar emas yang menyilaukan melesat, membelah udara dengan kecepatan cahaya. Suhu di alun-alun melonjak drastis, hingga batu-batu marmer mulai mencair menjadi lava. Sinar itu mengarah tepat ke arah Kael.

​Namun, Kael tidak menghindar. Ia bahkan tidak bergeming. Ia hanya mengangkat satu jari telunjuknya ke arah serangan tersebut dengan gerakan yang hampir malas.

​"VOID SINGULARITY: EVENT HORIZON."

​Keajaiban mengerikan terjadi. Saat pilar sinar matahari itu menyentuh radius satu meter di sekitar Kael, cahaya itu tidak meledak. Ia tidak terpental. Sebaliknya, sinar itu melengkung secara tidak wajar, mengikuti kontur ruang yang terdistorsi oleh gravitasi Kael. Sinar itu terhisap, berputar dalam spiral kematian, dan menghilang ke dalam pusaran kecil di ujung jari Kael. Energi yang cukup untuk menguapkan satu provinsi itu hanya menjadi "nutrisi" tambahan bagi Sigil-nya.

​CRAAAKKKK!

​Ledakan suara seperti petir kosmik mengguncang seluruh ibu kota. Lantai marmer alun-alun amblas seketika, membentuk lubang hitam sedalam sepuluh meter akibat tekanan mana yang tak terbendung. Di punggung tangan Kael, garis keenam muncul dengan sempurna. Warnanya bukan lagi merah, melainkan hitam pekat yang bercahaya ungu tua—warna yang hanya dimiliki oleh bintang-bintang yang mati dan lubang cacing.

​Seketika, seluruh ksatria, pendeta, dan bahkan Raja Valerius jatuh berlutut secara serentak. Ini bukan penghormatan sukarela. Berat badan mereka mendadak terasa meningkat seratus kali lipat. Udara di sekitar mereka menjadi tipis dan hampa; oksigen seolah-olah ikut terhisap masuk ke dalam kekosongan yang dipancarkan Kael. Beberapa prajurit mulai muntah darah karena organ dalam mereka remuk oleh tekanan gravitasi.

​"Sekarang," suara Kael bergema di udara yang sunyi. Suara itu tidak terdengar dari telinga, melainkan berdentum langsung di dalam otak setiap orang yang ada di sana. Dingin, tanpa ampun, dan mutlak. "Aku akan mengambil apa yang secara sah merupakan milik kegelapan."

​Kael melangkah perlahan menuju Aula Inti Surya. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki berupa retakan ruang yang mengeluarkan asap hitam. Di depan gerbang emas aula, seorang gadis berdiri sendirian. Liora Ashveil. Busur kristalnya yang legendaris kini retak, tangan gadis itu gemetar hebat, dan wajah cantiknya dicoreng oleh debu serta air mata yang mengering.

​"Kael, kumohon... hentikan ini," isak Liora. Suaranya kecil di tengah badai mana yang mengamuk. "Jika kau memakan Inti Surya, dunia ini tidak akan hanya gelap. Seluruh benua Archeon akan membeku. Siklus kehidupan akan berhenti. Kau tidak hanya menghancurkan kerajaan, kau menghancurkan eksistensi!"

​Kael berhenti tepat dua langkah di depan Liora. Hawa dingin yang mematikan memancar dari zirah bayangannya, membuat ujung rambut Liora membeku seketika. Kael menatapnya dengan mata yang kini sepenuhnya hitam—tanpa pupil, tanpa iris, hanya sebuah jurang ketiadaan yang tak berujung.

​"Dunia yang membutuhkan matahari buatan untuk merasa aman adalah dunia yang pengecut, Liora," ucap Kael. Tidak ada kebencian dalam suaranya, hanya kebenaran yang pahit. "Kalian membangun peradaban di atas kebohongan cahaya, sementara kalian mengubur kegelapan di bawah tanah. Aku tidak menghancurkan dunia. Aku hanya mengembalikan dunia ke keadaan asalnya. Bernapaslah di dalam gelap, Liora. Di sana, kau akan menemukan kejujuran."

​Kael berjalan melewati Liora seolah gadis itu hanyalah udara. Liora mencoba mengangkat busurnya, namun kehadirannya saja sudah cukup untuk mematahkan kehendak sihir apa pun. Busur kristal itu hancur menjadi debu di tangan Liora.

​Kael mengulurkan tangan kirinya ke arah Inti Surya—sebuah kristal raksasa yang berdenyut dengan energi panas yang luar biasa.

​"CONSUMPTION: TOTALITY."

​Ia menggenggam udara di depan kristal tersebut. Seketika, sulur-sulur hitam keluar dari Sigil-nya, melilit Inti Surya seperti ular yang melahap mangsanya. Ledakan energi terjadi, tetapi bukan ledakan cahaya yang menyilaukan. Itu adalah ledakan kegelapan yang menelan segalanya. Inti Surya yang tadinya bersinar emas mendadak redup, berubah warna menjadi obsidian, menyusut, dan akhirnya lenyap sepenuhnya, terhisap masuk ke dalam tangan Kael.

​Seketika, Lux Aeterna—dan mungkin seluruh dunia—jatuh ke dalam kegelapan mutlak. Matahari di atas langit padam secara instan, menyisakan bulan yang retak dan bintang-bintang yang tampak menjauh karena ketakutan.

​Di tangan Kael, garis keenam itu kini melingkar sempurna, membentuk sebuah mahkota geometris di atas lima garis lainnya. Ini adalah Sigil of the End. Kini, Kael tidak lagi terbatas pada menyerap mana. Ia bisa merasakan aliran atom, ia bisa memelintir ruang, dan ia bisa menghentikan waktu dalam skala kecil. Ia telah menjadi hukum itu sendiri.

​Liora jatuh terduduk, seluruh kekuatannya sebagai penyihir api lenyap karena sumber mana matahari dunia telah tiada. Ia menatap Kael dengan tatapan kosong, melihat pola-pola aneh yang terus bergerak di kulit pemuda itu seperti cacing-cacing bayangan.

​"Bagus... sangat bagus..." Umbra, entitas purba yang bersemayam di dalam Sigil itu, tertawa gila di dalam kesadaran Kael. "Pekerjaan kita hampir selesai. Sekarang, tidak ada lagi ksatria, tidak ada lagi raja, tidak ada lagi dewa yang bisa mengusikmu. Kau adalah muara dari segala sesuatu."

​Kael berpaling dari aula dan berjalan menuju balkon istana yang menghadap ke seluruh penjuru kota. Di bawah sana, ribuan penduduk merayap dalam kegelapan, berteriak ketakutan, mencari obor yang tak lagi bisa menyala. Ia tidak merasakan kepuasan. Ia tidak merasakan dendam yang terbalaskan. Ia hanya merasakan keheningan yang sempurna—sebuah kedamaian yang hanya dimiliki oleh kematian.

​"Bangunlah," perintah Kael.

​Dari bayangan para ksatria yang tewas di alun-alun, mulai bangkit entitas-entitas baru. Mereka tidak memiliki wajah, hanya bentuk manusia yang terbuat dari kabut hitam dengan mata ungu yang bersinar redup. Prajurit Void. Mereka adalah pasukan yang lahir dari ketiadaan, tidak memiliki rasa takut, tidak memiliki rasa sakit, dan hanya patuh pada satu kehendak.

​Kael berdiri tegak, jubah bayangannya berkibar ditiup angin dingin yang mulai membekukan kota. Ia menatap langit hitam yang kini menjadi miliknya.

​"Malam ini, sejarah manusia yang ditulis dengan tinta cahaya telah berakhir," ucap Kael pada kegelapan yang membentang luas. "Dan sejarah Void... baru saja dimulai."

​Dunia Archeon telah mati malam itu. Dan di atas ribuan mayat, seorang Kaisar baru telah lahir.

1
Prety Chiky
semangat terus tor
Ivah Maria ulpah
Mc yg jdi villain hhmmm boleh juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!