[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Mulai terlihat
Sesampainya di rumah, Luis tidak langsung tidur. Ia masuk melalui pintu belakang dengan sangat pelan agar tidak membangunkan Ibu, Ayah, atau Luna.
Di kamarnya yang gelap, ia menyalakan lampu kecil. Cermin lemari menunjukkan sosok dirinya yang mengenaskan: baju hoodie-nya robek terkena pisau, wajahnya penuh lumpur, dan ada bercak darah kering di tangan.
Luis tidak panik. Ia bergerak seperti seorang dokter bedah yang terlatih. Ia membuka kotak pertolongan pertama yang ia sembunyikan di balik papan lantai kamar.
Dengan cekatan, ia membersihkan luka goresan di lengannya menggunakan alkohol. Rasanya perih luar biasa, tapi Luis tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Ia menjahit luka yang cukup dalam di samping perutnya menggunakan benang medis yang ia beli dari toko alat kesehatan secara anonim.
Ia menahan napas setiap kali jarum menembus kulitnya. Setelah selesai, ia membalutnya dengan kain kasa yang ketat agar tidak terlihat dari balik kemeja sekolahnya.
Ia membakar semua pakaian yang bernoda darah di dalam tong sampah belakang rumah, memastikan tidak ada bukti apa pun yang tertinggal.
Setelah mandi dengan air dingin untuk menghilangkan bau amis darah, Luis merebahkan diri. Ia menatap langit-langit kamar. Saldo 15,4 Miliar. Ia aman untuk sementara. Pikirannya kosong, namun matanya tetap tajam, waspada akan suara sekecil apa pun dari luar rumah.
Keesokan paginya, Luis berjalan melewati gerbang sekolah dengan aura yang benar-benar berbeda. Jika dulu ia berjalan dengan bahu merosot, sekarang ia melangkah dengan tegap. Setiap langkahnya terasa mantap dan penuh kendali.
Seragam yang ia kenakan tampak pas, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang atletis hasil dari latihan neraka di sasana The Den.
Wajahnya yang biasanya tertutup rambut acak-acakan kini terlihat bersih, memperlihatkan garis rahang yang tegas. Tatapannya dingin, seperti kaca yang tidak memantulkan apa pun.
Siswa-siswa yang berpapasan dengannya berhenti bicara. Mereka yang biasanya mengabaikan Luis, kini menoleh dengan tatapan penasaran. Beberapa siswi berbisik-bisik, wajah mereka memerah saat Luis lewat tanpa memedulikan mereka sama sekali.
"Itu Luis? Kok... kok dia jadi ganteng banget?" bisik salah satu siswi dari kelas sebelah.
"Iya, badannya bagus banget. Aura dia jadi kayak... kayak orang berbahaya, tapi malah bikin penasaran," sahut temannya.
Luis tidak peduli. Baginya, sekolah hanyalah tempat untuk membuang waktu agar ia tidak terlihat mencurigakan. Ia hanya fokus untuk menunggu notifikasi sistem selanjutnya.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Saat Luis sedang berjalan di koridor menuju kantin, seorang gadis bernama Bella menghampirinya.
Bella dikenal sebagai gadis yang sangat agresif dalam mendekati cowok-cowok populer. Ia memakai rok yang sengaja dibuat pendek dan parfum yang baunya menyengat hidung.
"Hai, Luis!" sapa Bella dengan suara manja yang dibuat-buat. Ia langsung merangkul lengan Luis tanpa permisi.
Luis berhenti mendadak. Ia menatap lengan Bella yang memeluk lengannya, lalu menatap wajah Bella dengan tatapan datar. Dingin sekali.
"Lepas," ucap Luis pendek.
"Ih, kok galak banget sih? Kan aku cuma mau nemenin kamu. Kamu hari ini keren banget, tahu. Mau nggak pulang sekolah nanti kita jalan?" Bella tidak melepaskan rangkulannya, malah semakin menempelkan tubuhnya ke lengan Luis. Ia mencoba memamerkan lekuk tubuhnya dengan sengaja.
Luis menarik lengannya dengan kasar, membuat Bella hampir kehilangan keseimbangan. "Aku sibuk. Jangan ikuti aku."
Luis terus berjalan, tapi Bella tidak menyerah. Gadis itu terus mengejar di belakang Luis, langkahnya berisik karena sepatu haknya yang mengetuk-ngetuk lantai koridor.
"Luis! Tunggu dulu! Jangan sombong gitu lah. Aku tahu kamu jomblo. Aku bisa kok jadi pacar yang baik buat kamu. Kamu mau apa? Aku bisa beliin atau lakuin apa saja!" Bella terus meracau, suaranya yang cempreng mulai menarik perhatian banyak siswa.
Luis merasa kepalanya mulai sakit. Ia baru saja membantai kelompok pembunuh semalam, dan sekarang ia harus berurusan dengan gadis manja yang tidak tahu bahaya. Luis merasa Bella seperti lalat yang terus berdengung di telinganya.
Luis berhenti di dekat perpustakaan yang sepi. Ia berbalik dan menatap Bella tepat di matanya. Tatapan Luis bukan tatapan cowok yang sedang digoda oleh gadis cantik; itu adalah tatapan seorang algojo yang sedang melihat target yang tidak berguna.
"Bella," suara Luis rendah, berat, dan tanpa emosi.
"Ya, Luis?" Bella tersenyum senang, mengira Luis akhirnya luluh.
"Kau berisik. Kau mengganggu ruang pribadiku. Dan sejujurnya, kau tidak menarik sama sekali di mataku."
Wajah Bella yang tadinya penuh senyum langsung memucat. Ia terpaku mendengar kata-kata pedas itu. Luis tidak berhenti di situ. Ia melangkah maju satu langkah, menekan Bella dengan aura dominasinya yang membuat gadis itu refleks mundur ketakutan.
"Jangan pernah sentuh aku lagi. Kalau kau masih ingin punya kehidupan sekolah yang tenang, menjauhlah dari pandanganku," bisik Luis dingin.
Luis berbalik dan meninggalkan Bella yang mematung di tengah koridor dengan mata berkaca-kaca. Teman-teman yang tadi menonton dari jauh langsung membubarkan diri, takut jika mereka juga menjadi sasaran tatapan dingin Luis.
Luis berjalan ke taman belakang sekolah yang sepi. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya.
"Orang-orang ini... mereka pikir hidup adalah tentang pacaran dan popularitas," gumam Luis.