NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma dari Masa Lalu yang Tercecer

Malam di penginapan itu turun dengan keanggunan yang sunyi.

Senja baru saja menyelesaikan tumpukan dokumen digital di laptopnya—sebuah tugas yang didelegasikan sang papa karena kesibukan di lokasi proyek yang cukup jauh.

Papanya memutuskan untuk menginap di sana demi mengejar tenggat waktu yang mencekik, sementara Senja diminta kembali lebih awal untuk merapikan berkas-berkas pendukung.

Setelah mandi dan berganti pakaian dengan kemeja flanel yang rapi, Senja merasa butuh menghirup oksigen yang tidak bercampur dengan radiasi layar komputer.

Ia melangkah keluar kamar sekitar pukul delapan malam.

Lorong penginapan yang terbuat dari kayu jati tua itu mengeluarkan bunyi berderit yang ritmis, seolah menyapa langkah kakinya yang ragu.

Ketika pintu lobi terbuka, pemandangan di halaman depan langsung menyita perhatiannya.

Di bawah pendar lampu lampion bertiang tinggi yang cahayanya kuning keemasan—mirip kunang-kunang raksasa yang terjebak di dalam kaca—seorang gadis sedang duduk termenung.

Itu Arunika.

Ia duduk di kursi kayu panjang, membelakangi pintu masuk, membiarkan rambutnya sedikit dipermainkan oleh angin malam yang berembus pelan namun menusuk tulang.

Senja mendekat.

Langkahnya pelan, tidak ingin mengejutkan kesunyian yang sedang dinikmati gadis itu. "Belum tidur, Arunika?" suara Senja rendah, beradu dengan gesekan daun-daun di kejauhan.

Arunika menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang hanya terlihat lewat sudut matanya. "Belum. Lagi ingin menikmati angin malam saja. Rasanya hari ini cukup melelahkan untuk pikiran."

"Hati-hati, nanti masuk angin lho. Udara jam segini sudah tidak ramah bagi paru-paru," ujar Senja sembari mengambil posisi duduk di ujung kursi yang sama, memberikan jarak yang sopan di antara mereka.

Arunika tidak menjawab.Ia hanya menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan yang hanya diterangi oleh lampion-lampion tinggi penginapan. Suasana hening sejenak, hanya ada suara napas yang teratur dan gemerisik alam.

Senja berdeham pelan, ia merasa ini adalah momen yang tepat untuk membersihkan kerikil di dalam sepatunya—rasa bersalah yang mengganjal.

"Arunika," panggil Senja lembut. "Aku ingin minta maaf. Tentang kejadian tadi siang... saat ada Arkala. Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu.

Spontan, ketus, dan mungkin terlihat tidak sopan. Siapa pun Arkala bagimu, entah teman dekat atau lebih dari itu, aku tidak punya hak untuk menunjukkan emosi yang tidak perlu."

Arunika akhirnya memutar tubuhnya menghadap Senja. Di bawah cahaya kuning lampion, wajahnya tampak seperti lukisan klasik yang tenang.

"Iya, gapapa. Santai saja, Adit. Aku tidak memasukkannya ke hati." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Tapi, kalau kamu memang merasa bersalah, seharusnya kamu bicara langsung pada Arkala. Dia orangnya sederhana, dia akan mengerti kalau kamu bicara baik-baik."

Dalam hati, Senja mendengus pelan.

Dih, malas banget sebenarnya harus minta maaf pada laki-laki itu, batinnya. Namun, sisi kedewasaannya segera menepis pikiran kekanak-kanakan itu.

Ia sadar, jika ingin tetap berada di lingkungan ini dengan tenang, ia harus berdamai dengan siapa pun yang ada di sekitar Arunika.

"Iya, kamu benar. Nanti kalau ada kesempatan, aku akan bicara padanya," jawab Senja dengan nada yang jauh lebih kalem.

Saat itulah, indra penciuman Senja menangkap sesuatu.

Sebuah aroma yang tidak biasa. Ia menunduk dan melihat sebuah lilin kecil di dalam wadah keramik yang diletakkan di samping tempat duduk Arunika.

Api kecilnya menari-nari ditiup angin, mengeluarkan asap tipis yang membawa aroma magis.

"Ini... lilin aromaterapi?" tanya Senja, merasa aroma itu sangat familiar di hidungnya.

Arunika mengangguk, matanya berbinar kecil. "Iya. Aku suka sekali aromaterapi. Dan yang ini... ini buatanku sendiri lho."

Mata Senja membelalak kecil, ada kekaguman yang jujur muncul di wajahnya.

"Oh ya? Wah, keren kamu. Kemarin aku lihat kamu jago merajut, sekarang ternyata kamu bisa membuat yang seperti ini juga. Kamu punya banyak bakat tersembunyi ya?"

Arunika tertawa kecil, suara tawa yang bagi Senja terdengar seperti melodi paling merdu di malam yang sunyi ini.

"Biasa saja kok. Aku bisa bikin ini karena dari kecil aku sudah suka berkecimpung dengan sesuatu yang berhubungan dengan damar. Aku suka baunya, menurutku aromanya sangat menenangkan. Seperti membawa kita kembali ke rumah, ke tempat di mana tidak ada luka."

Kata "Damar" dan aroma yang menguar itu tiba-tiba menghantam ingatan Senja seperti ombak yang pecah di karang.

Ada memori sekelebat yang melintas di pikirannya—sebuah kilasan tentang tangan kecil yang memegang sesuatu yang lengket, serta tawa seseorang di masa lalu yang sangat jauh.

Senja memejamkan mata sejenak, mencoba menangkap fragmen ingatan itu, namun semuanya kabur seperti tulisan yang terkena air.

Apakah ini hanya perasaanku saja? pikirnya bingung.

Ia memang tidak terlalu ingat banyak hal tentang masa kecilnya sebelum keluarganya pindah ke kota besar. Baginya, masa lalu adalah sebuah lemari terkunci yang kuncinya telah hilang entah ke mana.

"Kamu kenapa, Dit" tanya Arunika, menyadari perubahan ekspresi pria di sampingnya.

"Ah, tidak apa-apa. Hanya... aromanya memang sangat enak. Benar katamu, sangat menenangkan," Senja menepis keraguannya.

Ia kembali menatap lilin itu, lalu beralih menatap Arunika.

Angin malam kembali berembus, kali ini sedikit lebih kencang, menggoyangkan lampion tinggi hingga bayangan mereka di atas tanah bergerak-gerak seperti tarian purba.

Senja merasa malam ini adalah salah satu malam terpanjang dalam hidupnya, di mana setiap detik terasa seperti baris puisi yang belum selesai ditulis.

"Arunika," Senja memulai lagi, suaranya kini lebih berat oleh rasa penasaran yang terpendam.

"Kenapa kamu memilih tinggal di sini? Maksudku, dengan bakatmu, kamu bisa melakukan banyak hal di luar sana. Di kota, misalnya."

Arunika menatap lilinnya yang hampir habis. "Kota itu bising, Senja. Di sana, orang-orang bicara tanpa mendengar, dan berjalan tanpa melihat. Di sini, meski sunyi, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Aku bisa mencium bau tanah setelah hujan tanpa tercampur asap knalpot. Bagiku, itulah kemewahan yang sebenarnya."

Senja tertegun. Jawaban itu menampar sisi "orang kota"-nya yang selama ini menganggap kesuksesan adalah tentang gedung tinggi dan hiruk-pikuk bisnis.

Ia menatap gadis di sampingnya ini dengan cara yang baru.

Arunika bukan sekadar gadis desa yang sederhana; ia adalah seseorang yang memiliki kedalaman jiwa yang mungkin tidak akan pernah habis ia selami.

"Mungkin aku mulai mengerti kenapa kamu begitu mencintai tempat ini," bisik Senja.

Mereka kembali terlarut dalam keheningan yang nyaman. Lampu lampion di atas mereka terus berpijar, menjadi satu-satunya saksi bagaimana dua jiwa yang berbeda latar belakang itu mulai saling menjajaki dinding-dinding hati masing-masing.

Di kejauhan, seekor burung malam berbunyi, menambah kesan melankolis pada babak kehidupan yang sedang mereka jalani.

Senja tahu, ia tidak akan bisa melupakan aroma damar malam ini, karena aroma itu kini telah memiliki wajah: wajah Arunika yang diterangi cahaya lampion.

Malam semakin larut, lilin aromaterapi itu perlahan padam, menyisakan asap tipis yang terbang bebas ke langit gelap.

Namun, bagi Senja, bau itu tetap tinggal, meresap ke dalam kemejanya, ke dalam ingatannya, dan barangkali, ke dalam hatinya yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

Ia bersiap untuk kembali ke dalam, namun ia tahu, besok pagi ia tidak akan lagi menjadi orang yang sama.

Ada sesuatu yang telah tumbuh, pelan dan pasti, seperti akar pohon damar yang menghujam bumi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!