"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah menunggu beberapa menit dalam kedinginan subuh, suara deru motor terdengar mendekat. Mbak Selfi dan Fais baru saja sampai. Aku segera menarik napas dalam-dalam, mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan, berusaha menghapus sisa-isanya keletihan yang mungkin masih tertinggal. Aku harus kuat. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan, aku tidak boleh terlihat hancur.
"Eh, Aira? Tumben banget jam segini sudah sampai? Semangat banget mau buka toko," sapa Mbak Selfi sembari melepas helmnya. Ia menatapku dengan heran, namun syukurlah cahanya pagi yang masih temaram membantu menyembunyikan mataku yang sembap.
Aku memasang senyum terbaikku, senyum yang selama ini kukembangkan di depan cermin agar terlihat alami. "Iya, Mbak. Tadi terbangun kepagian, daripada bengong di rumah mending langsung ke sini saja," jawabku berusaha terdengar ceria, meski hatiku rasanya sedang diperas hebat.
"Wah, harusnya semua karyawan kayak kamu nih, Ra. Rajin!" celetuk Fais sembari membuka gembok pintu kaca toko. "Tapi kamu nggak apa-apa kan? Kok mukanya agak pucat?"
"Nggak apa-apa, Fais. Mungkin cuma karena belum sarapan saja," sahutku cepat, segera melangkah masuk mengikuti mereka begitu pintu terbuka.
Aku langsung menuju loker karyawan, meletakkan tas dan segera mengenakan rompi seragam. Di depan cermin kecil di dalam loker, aku menatap bayanganku sekali lagi. Tahan, Aira. Sedikit lagi, bisikku menyemangati diri sendiri. Aku menyisir rambut dan merapikan hijabku, memastikan tidak ada yang terlihat aneh. Aku harus memastikan perutku tertutupi sempurna oleh meja kasir nanti.
Kegiatan pagi di toko dimulai seperti biasa. Suara mesin kasir yang menyala, bunyi gesekan sapu di lantai, dan aroma pembersih lantai yang tajam biasanya membuatku tenang, tapi tidak hari ini. Setiap kali pintu otomatis toko terbuka dan mengeluarkan bunyi ding-dong, jantungku melonjak. Aku merasa seolah-olah setiap orang yang masuk tahu rahasiaku, seolah mereka bisa melihat dosa yang kusimpan di balik seragam ini.
Mbak Selly sesekali melirik ke arahku saat kami sedang menata barang di rak dekat kasir. "Kamu kalau sakit bilang ya, Ra. Jangan dipaksakan. Nanti sore kamu juga ada acara keluarga kan? Ibu kamu tadi sempat kirim pesan ke aku lewat Alina, titip pesan supaya kamu jangan pulang terlalu malam."
Aku tersentak. Jadi Ibu sampai menghubungi teman-temanku? "Iya, Mbak. Nanti sore Bapak pulang merantau, jadi harus kumpul di rumah," jawabku sembari berusaha tetap fokus menata minuman kaleng.
Mendengar kata "Bapak pulang", tanganku mendadak gemetar hebat. Satu botol minuman hampir saja terjatuh dari genggamanku. Aku tahu, jam terus berdetak. Sore hari yang paling menakutkan dalam hidupku kian mendekat. Di balik senyum ramahku kepada setiap pelanggan yang datang, batin sedang menjerit ketakutan, membayangkan wajah Bapak yang akan berubah kecewa dan marah dalam beberapa jam lagi.
Waktu seolah berlari meninggalkan aku yang masih terpaku pada rasa takut. Jam berputar begitu cepat, atau mungkin aku yang terlalu menyibukkan diriku dengan memajang barang dan membersihkan rak agar tidak ada ruang untuk berpikir. Aku bahkan tidak menyadari kapan tepatnya Ali dan Reni datang untuk memulai shift mereka. Suasana toko yang mulai ramai oleh pelanggan sedikit membantuku untuk tetap tenggelam dalam kesibukan.
"Ra, melamun terus. Nih, tadi pas berangkat aku lihat ada yang jual jus strawberry kesukaan kamu. Minum dulu, mukamu pucat banget," ucap Ali yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku, menyodorkan segelas jus dingin yang tampak segar.
Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan pemindai harga di tanganku. Aku menatap jus itu, lalu menatap Ali yang tersenyum tulus. Ada rasa hangat sekaligus perih yang menyelinap. Ali selalu tahu hal-hal kecil tentangku, bahkan di saat aku berusaha menjadi orang yang paling tidak terlihat di toko ini.
"Makasih, Al," jawabku singkat sembari menerima gelas itu. Aku berusaha tersenyum, meski rasanya sangat sulit untuk menggerakkan otot wajahku.
"Ehem! Minimal konfess dulu lah, Al! Mendekati dari lama tapi nggak konfess-konfess, cuma dikasih jus doang mah anak SD juga bisa," celetuk Mbak Selfi yang baru saja lewat sembari membawa tumpukan dokumen serah terima. Ia mengerling nakal ke arah Ali, membuat suasana yang tadinya canggung menjadi penuh godaan.
"Apaan sih, Mbak! Gangguin melulu," ucap Ali malu-malu, wajahnya mendadak memerah. Ia segera berpaling, pura-pura sibuk merapikan tatanan cokelat di dekat meja kasir.
Reni yang sedang menghitung stok rokok ikut tertawa. "Iya nih, Ali. Keburu dipatok orang nanti kalau cuma main kode-kodean terus. Iya kan, Kak Aira?"
Aku hanya bisa tersenyum getir mendengar gurauan mereka. Mereka tidak tahu bahwa "orang lama" yang dimaksud Reni tempo hari bukan hanya sekadar pacar, tapi sudah menjadi bagian dari hidup dan masalah terbesarku. Aku menyesap jus strawberry itu perlahan. Rasanya manis dan asam, namun tidak sanggup menghilangkan rasa pahit di pangkal tenggorokanku.
Setiap tawa yang mereka lontarkan terasa seperti pisau yang mengiris hatiku. Mereka membicarakan masa depan, tentang cinta, dan tentang perasaan yang belum tersampaikan. Sementara aku? Aku sedang menghitung mundur jam menuju kehancuranku sendiri. Aku menatap Ali sekilas; dia laki-laki yang sangat baik, dan aku merasa sangat berdosa karena telah memberikan harapan palsu melalui kebaikanku, padahal aku membawa beban yang mungkin akan membuatnya jijik jika ia mengetahuinya.
"Al, makasih ya jusnya. Segar banget," ucapku pelan sebelum kembali berbalik menuju layar komputer kasir.
Ali hanya mengangguk sembari tetap menunduk, masih berusaha menyembunyikan rasa malunya. Aku tahu, perhatian Ali adalah hal terakhir yang aku butuhkan saat ini, karena semakin dia baik padaku, semakin aku merasa menjadi manusia paling hina di dunia ini. Pukul dua siang nanti aku harus pulang, dan saat itulah sandiwara di toko ini berakhir, digantikan oleh realita pahit di hadapan Bapak.