Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
POV: Devandra
Setelah mendengar pembicaraan Keanu dan Nara, tentang Leon yang ternyata diam-diam masih memikirkan Nara—aku langsung berpikir untuk menutup semua pintu agar tidak ada siapapun lagi yang mencoba masuk, selain diriku.
Aku masuk ke kamar Nara tanpa mengetuk, ia berdiri dekat jendela, memandang keluar.
“Nara.”
Ia menoleh, wajahnya terlihat lebih tenang daripada tadi. Tapi aku tahu ada sesuatu yang bergerak di dalam kepalanya.
“Bersiaplah,” kataku.
“Untuk apa?”
“Kita keluar.”
Ia mengernyit. “Sekarang?”
“Iya.”
“Kita mau kemana?"
“Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat."
Ia terlihat ragu, tapi tidak membantah, mungkin karena suasana setelah kedatangan Keanu masih menggantung.
Kami tiba di sebuah butik mewah di pusat kota.
Begitu masuk, beberapa pelayan langsung menyambut. “Selamat sore, Pak Devandra,” sapa salah satu dari mereka.
Aku mengangguk. “Saya ingin gaun putih terbaik kalian.”
Nara menoleh padaku. “Dev… kenapa kita kesini?, bisiknya padaku.
“Kamu akan tahu nanti.”
Pelayan membawa beberapa pilihan gaun, aku menunjuk satu—Gaun putih panjang, sederhana tapi elegan, potongannya lembut mengikuti tubuh.
“Tolong kenakan ini pada dia.”
Nara terlihat semakin bingung. “Dev, untuk apa gaun putih?”
“Aku hanya ingin melihatmu memakainya.”
Ia ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengikuti pelayan ke ruang ganti. Aku menunggu di luar. Dan ketika tirai terbuka—aku terdiam.
Ia berdiri di depan cermin, gaun putih itu membingkai tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya terurai, wajahnya tanpa riasan berlebihan—Cantik, bukan sekadar cantik, ia sangat enakjubkan.
Aku mendekat perlahan. “Kamu sangat cantik.” kataku jujur.
Ia menatapku melalui pantulan cermin, wajahnya terlihat bingung dan gelisah. Aku membayar tanpa banyak bicara. “Kita pakai gaun itu sekarang,” kataku.
“Kenapa pakai baju seperti ini? Kita mau kemana?" suaranya terdengar serak, wajahnya terlihat memerah, dan aku tahu ia sedang menahan tangis.
"Nurut aja sih, Nara." Aku menarik tangannya mengikutiku menuju mobil. Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali menoleh padaku.
“Kita mau ke mana?”
“Kenapa harus pakai gaun seperti ini?”
"Surprise," aku tersenyum tipis. “Aku hanya ingin kamu tampil istimewa.”
“Dev…” Nada suaranya berubah. “Aku tidak suka kejutan seperti ini.”
“Kamu akan menyukainya.” Aku menggenggam setir lebih erat. Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Jika ia mulai goyah, jika Leon masih mengawasi. Maka aku butuh satu hal—Ikatan. Sesuatu yang membuatnya tetap di sisiku.
Mobil berhenti di depan sebuah villa. Bangunan putih dengan taman yang tertata rapi. Dekorasi putih elegan menghiasi halaman. Meja panjang dengan kain putih, bunga-bunga segar, lilin-lilin kecil. Beberapa orang sudah menunggu, seorang penghulu, dua saksi, dan beberapa orang kepercayaan yang kubayar untuk merahasiakan semuanya.
Nara turun perlahan dari mobil. Ia melihat sekeliling, wajahnya berubah. “Dev…”
Aku mendekatinya. “Kita akan menikah hari ini.”
Ia membeku. “Apa?”
“Kita menikah. Sekarang.”
“Dev, ini bercanda kan?”
“Tidak.”
Ia mundur selangkah. “Kamu tidak pernah membicarakan ini denganku.”
“Kita sudah lama bersama.”
“Itu bukan alasan!” Ia menggeleng cepat. “Aku tidak siap.”
“Kamu tidak perlu takut.”
“Bukan soal takut!”
“Lalu apa?”
“Kamu tidak bisa memutuskan sendiri seperti ini!”
Aku mendekat lagi. “Aku melakukan ini karena aku mencintaimu.”
“Kamu tidak bisa menyebut semuanya cinta!”
Suara itu memicu sesuatu di dalam diriku. “Apa kamu masih memikirkan Leon?” tanyaku tajam.
Ia terdiam.
“Jawab aku.”
“Itu tidak ada hubungannya.”
“Kamu bahkan masih bertanya tentang dia.”
“Itu cuma kabar biasa!”
Aku merasakan panas di kepala. “Kalau kamu tidak ingin kembali ke dia, buktikan.”
“Dev, ini gila!”
Tamparan itu terjadi lagi, suara keras memecah udara villa yang tadinya tenang. Ia terhuyung, beberapa orang menoleh, tapi tidak ada yang berani mendekat.
“Nikahi aku,” kataku pelan tapi tegas
Air matanya jatuh. “Aku tidak mau.”
Aku menarik napas dalam. “Kalau kamu tidak mau,” kataku lebih rendah, “aku akan mengakhiri hidupku hari ini.”
Ia menatapku terkejut. “Jangan gila, Dev."
“Aku gila karena mu, Nara."
“Dev, itu manipulatif.”
“Aku tidak peduli apa namanya. Aku tidak bisa kehilangan kamu.”
Ia menangis. “Kamu tidak bisa memaksaku seperti ini.”
“Aku tidak memaksamu. Aku memberimu pilihan.”
“Pilihan?” suaranya bergetar. “Pilihan antara menikah atau melihat kamu mati?”
Aku terdiam beberapa detik. “Ya.”
Hening panjang menyelimuti kami. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Aku tahu ini keras, aku tahu ini mungkin salah. Tapi bayangan ia pergi jauh lebih menakutkan daripada dosa apa pun yang mungkin kulakukan.
Aku meraih botol bir yang ada di meja, kemudian memecahkannya—menyisakan ujung kaca botol yang tajam. Nara terlihat terkejut dengan apa yang kulakukan. Aku mendekatkan kaca itu pada leherku, membuat kulitku tergores, darah mengalir pelan dari sana.
"Dev—" suaranya memekik, air matanya keluar lebih deras.
"Aku tidak main-main, Nara."
"Baiklah , aku akan melakukannya, kita akan menikah." katanya pelan—ia terlihat pasrah.
Dadaku terasa lega sekaligus berat. Prosesi dimulai, kami duduk berhadapan dengan penghulu, gaun putih itu masih melekat indah di tubuhnya, meski wajahnya pucat. Ijab qobul berlangsung singkat. Tanganku berjabat dengan wali yang sudah kubayar untuk menggantikan posisi yang seharusnya.
“Sah?”
“Sah.” Kata itu menggema.
Selesai—Pernikahan siri, tidak tercatat negara, tapi sah di mata agama. Setidaknya ada ikatan.
Aku menoleh padanya. “Kamu istriku sekarang.”
Ia tidak menjawab, matanya kosong, tapi ada cincin di jarinya, dan itu cukup, setidaknya untuk sekarang. Aku tahu ini tidak menjamin ia tidak akan pergi. Tapi kini, jika ia ingin pergi, ia harus melepaskan sesuatu yang lebih besar dari sekadar hubungan.
Ia harus memutus ikatan. Dan aku yakin, selama ia masih memiliki sedikit rasa padaku—Ia tidak akan mampu melakukannya.
Aku menggenggam tangannya. “Mulai hari ini, kamu milikku secara sah.”
Ia tidak membalas genggamanku, namun ia juga tidak menarik tangannya. Dan dalam kepalaku, satu pikiran terus berputar—Aku sudah melakukan langkah yang tepat, apa pun konsekuensinya nanti.
...***...
POV: Nara
Setelah kekacauan tadi—aku lebih senang menyebutnya kekacauan daripada sebuah pernikahan. Dan setelah semua orang pergi meninggalkan kami berdua di villa, aku mengobati luka yang ada di leher Dev.
Pria gila... gumamku, sambil mengoleskan antiseptik. Tiba-tiba tangannya membelai rambutku, "kamu milikku sepenuhnya."
Kata itu lagi, kenapa dia sangat terobsesi denganku? Apakah cinta memang seperti itu? Tapi kenapa rasanya tidak nyaman?
"Aku sudah menutup lukanya," aku berdirinya dari duduk menuju ke kamar mandi. Ku buka gaun yang membuat dadaku terasa sesak sedari tadi, aku benci gaun ini.
Tetesan air mengalir dari shower, membasahi seluruh tubuhku. Aku menengadah ke atas, menutup mata, tapi tiba-tiba bayangan tentang pernikahan dan Dev yang mencoba melukai dirinya, muncul di kepalaku. Dadaku terasa sesak, aku tidak pernah menyangka jika Dev bisa bertindak sejauh ini.
Tiba-tiba suara pintu terbuka, aku merasakan sebuah tangan memeluk pinggangku. Punggungku terasa hangat. Dev—ia mematikan shower, memelukku lebih erat. Tangannya terangkat menyentuh bagian dadaku, meremasnya dengan lembut. Aku sedikit merintih.
"Dev, aku ingin mandi," kataku.
Ia tidak menjawab, tangannya mulai turun menyentuh bagian intimku, "Dev, aku tidak ingin melakukannya di sini."
Aku menyingkirkan tangannya, dan berbalik menghadapnya, seketika aku terkejut—ia tidak mengenakan sehelai benang pun. Dev memelukku lebih erat, tubuh kami saling bertemu, rasanya hangat walau air telah membasahi seluruh tubuh.
Tangannya membelai pipiku, wajahnya mendekati wajahku hingga kening kami saling menempel. "Aku mencintaimu, Nara," bisiknya lirih.
Ia menarikku keluar dari kamar mandi menuju toilet yang berada di samping. Ia duduk di atas toilet, lalu menyuruh untuk duduk di pangkuannya, namun aku menggeleng.
"Seorang istri tidak boleh membantah, Nara," ucapnya lirih. Ia kemudian menarik tanganku, aku pun duduk di pangkuannya.
"Kamu tahu, apa lagi hal yang membuatku sangat mencintaimu?"
Aku hanya terdiam menatap dadanya, saat ini aku terlalu takut untuk melihat matanya.
"Tubuh indah mu." Tangannya meremas dadaku.
Aku menelan ludah, aku tahu akan kemana arah pembicaraan ini, setelah kekacauan yang baru terjadi—rasanya aku tidak ingin untuk melakukannya.
Beberapa saat kemudian, tangannya mengangkat wajahku, bibirnya menyentuh bibirku dengan kasar. Aku berusaha melepaskan namun justru ia menarik tubuhku lebih dekat, membuat pergerakanku terbatas.
Aku reflek merintih saat ia tiba-tiba mendorong miliknya masuk. "Aku sudah melatih mu, tunjukkan padaku sekarang," ucapnya.
Aku terdiam sejenak, mengatur nafasku, mengusap air yang menetes dari rambutku yang mengalir membasahi wajah. Aku ingin menangis tapi sepertinya air mataku telah habis sejak beberapa waktu yang lalu.
"Nara," panggilnya. "Aku menunggu."
Aku hanya menurut dan kami melakukannya di sana, di tempat yang tidak kusukai.
Beberapa saat setelahnya, ia berdiri dari duduknya dan menyuruhku untuk sedikit membungkuk menghadap dinding yang terasa dingin. Ia memulainya lagi, kali ini dengan caranya, dengan kekuatannya—lebih tidak terkontrol dan lebih menyakitkan.
Aku hanya merintih tanpa benar-benar menikmati.
"Dev, cukup," ucapku memelas.
Tidak ada jawaban, ia semakin terhanyut dalam kenikmatannya sendiri. Hingga akhirnya—selesai.
Nafasnya terengah, ia memutar tubuhku menghadapnya. Aku melihat keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, wajahnya memerah.
"Aku minta maaf." Ia memelukku.
Kalimat itu lagi... kalimat yang selalu terucap di akhir perlakuan jahatnya.