Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJEBAK DI LIFT DENGAN SI KEMBAR KEDUA
Dari keempat kembar De Calvi, Marc adalah sosok yang paling jarang menghabiskan waktu berdua saja dengan Alya Putri dalam konteks kasual. Bukan karena sang dewa siber tidak mencintai istrinya, melainkan karena dunianya berputar di antara baris kode enkripsi, server kuantum, dan analisis algoritma makro yang menuntut fokus penuh selama dua puluh empat jam. Jika Lucien adalah tameng fisik dan Etienne adalah peluru psikologis, maka Marc adalah otak tak terlihat yang memastikan seluruh ekosistem klan De Calvi tetap beroperasi tanpa cacat di bawah radar interpol.
Namun, takdir domestik di Jakarta selalu memiliki cara yang aneh untuk menguji batasan logika sang genius.
Hari itu, Kamis siang yang terik, ruko Palmerah mendadak mengalami gangguan sistem kelistrikan akibat trafo utama di jalur jalan raya meledak karena kelebihan beban. Di saat yang sama, Marc harus mengambil hard disk eksternal cadangan berisi enkripsi data manifestasi pelabuhan Tanjung Priok yang dia simpan di dalam brankas digital lantai bawah tanah ( basement ) sebuah gedung perkantoran modern di kawasan Slipi—gedung yang sebenarnya merupakan salah satu aset investasi properti rahasia milik Aegis.
Alya, yang bosan karena AC ruko mati dan ingin mencari udara segar ber-AC, bersikeras ikut menyusul. Maka di sinilah mereka sekarang: di dalam lift baja berkapasitas sepuluh orang yang bergerak turun menuju lantai basement dua.
Marc berdiri tegak dengan setelan kemeja abu-abu gelapnya yang rapi, kacamata minus bertengger kokoh di pangkal hidungnya, sementara tangannya memegang sebuah tablet militer berpelindung baja. Di sampingnya, Alya tampil kontras dengan daster batik motif parang warna biru muda favoritnya, tas rajut selempang, dan kipas sate anyaman bambu yang terus dia kibaskan ke arah wajahnya.
KRETEK... JEDUG!
Tepat saat indikator digital lift menunjukkan angka minus satu, lampu indikator mendadak berkedip merah. Lift berguncang hebat selama dua detik sebelum akhirnya berhenti beroperasi secara total dengan sentakan kasar yang membuat tubuh Alya limbung ke samping.
BZZZ... KLIK.
Sistem pencahayaan utama lift mati, digantikan oleh pendaran lampu darurat ( emergency light ) berwarna kuning temaram yang redup di sudut langit-langit baja. Lift itu terjebak di antara lantai dasar dan basement satu.
"Eh, ayam-ayam! Astaga, ini liftnya mogok ya, Bang Marc?!" seru Alya refleks, tangannya langsung mencengkeram lengan kemeja Marc dengan erat.
Marc tidak menunjukkan tanda-tanti panik secara fisik. Wajah ketampanannya tetap sedatar permukaan es, namun jemarinya langsung menari di atas layar tablet militernya. Dia berdehem pelan untuk menstabilkan frekuensi suaranya.
"Analisis sistem," ucap Marc dengan nada baritonnya yang konstan dan dingin. "Terjadi pemutusan arus sekunder pada motor penggerak lift akibat lonjakan daya balik dari generator gedung. Sistem pengereman magnetik darurat telah aktif dengan sempurna. Kita berada di posisi statis yang aman secara struktural. Probabilitas lift jatuh bebas: nol persen."
Alya menghela napas panjang, mengusap dadanya yang berdegup kencang. "Aduh, untung deh kalau nggak bakal merosot ke bawah. Tapi masalahnya ini panas banget, Bang! AC-nya mati total, ventilasinya juga kayaknya nggak jalan."
"Persediaan oksigen di dalam kabin berukuran dua kali dua meter ini cukup untuk dua orang selama tiga puluh enam jam," lanjut Marc, masih menatap layarnya yang kini menampilkan diagram sirkuit internal gedung. "Namun, peningkatan suhu tubuh akibat kelembapan udara tropis Jakarta akan mempercepat dehidrasi. Aku sedang meretas sistem kendali gerbang utama ( mainframe ) gedung ini dari jarak jauh untuk mengaktifkan kipas sirkulasi darurat."
Satu menit berlalu dalam keheningan yang canggung. Marc terus fokus pada tabletnya, sementara Alya mulai merasa gerah yang luar biasa. Keringat tipis mulai membasahi pelipis dan leher Alya, membuat daster batiknya sedikit menempel di punggung.
Melihat istrinya yang mulai gelisah, Marc perlahan menurunkan tabletnya. Dia menatap Alya dari balik lensa kacamatanya yang sedikit berembun karena hawa hangat kabin. Pria genius yang biasanya menguasai seluruh data siber dunia itu mendadak merasa kikuk. Dia tidak terbiasa menghadapi situasi domestik intim yang terisolasi seperti ini dengan wanita yang sangat dia cintai.
"Alya," panggil Marc pendek.
"Ya, Bang?" Alya mendongak, menatap mata hitam Marc yang biasanya tampak dingin namun kini memancarkan aura kecemasan yang sangat halus.
Marc meletakkan tabletnya di atas lantai lift, lalu dengan gerakan tangan yang kaku namun sangat lembut, dia melepas kacamata minusnya dan menyekanya menggunakan ujung kemejanya. "Apakah kau... merasa takut? Berada di dalam ruang gelap yang sempit bersamaku?"
Alya tertegun sejenak, lalu tawa renyah khas gadis Jakarta-nya pecah, menggema di dalam kabin baja yang sunyi. Dia melangkah satu langkah lebih dekat, menggunakan kipas sate anyaman bambunya untuk mengipasi wajah Marc dengan ritme yang konstan.
"Ya ampun, Bang Marc... ngapain saya takut? Kan saya terjebak di liftnya sama suami sendiri, bukan sama hantu faksi Valois atau bule Prancis yang waktu itu," ujar Alya sambil tersenyum manis, matanya menyipit jenaka. "Malah saya kasihan liat Abang, mukanya serius banget sampai dahinya keriput begitu. Nih, saya kipasin biar otaknya nggak ikutan korsleting gara-gara mikirin baris kode."
Marc merasakan hembusan angin sepoi-sepoi dari kipas sate Alya menerpa wajahnya, membawa serta aroma wangi minyak telon dan bedak dingin tradisional yang selalu menjadi ciri khas istrinya. Perlahan, ketegangan di pundak kaku sang dewa siber itu mengendur. Sebuah perasaan damai yang sangat langka merayap masuk ke dalam hatinya yang selama belasan tahun ini selalu dipenuhi oleh angka dan logika pertahanan yang kaku.
"Terima kasih, Alya," bisik Marc, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat tulus dan menawan. Dia mengambil kipas sate itu dari tangan Alya. "Biar aku saja yang mengipasimu. Energi kinetik tubuhmu harus dihemat agar suhu internalmu tidak naik."
Kini giliran Marc yang mengipasi Alya dengan gerakan tangan yang sangat ritmis, persis seperti perhitungan presisi mesin. Alya tersenyum geli melihat seorang pria asing bertubuh kekar dengan aura akademisi militer Eropa sedang dengan sangat serius mengoperasikan sebuah kipas sate bambu tradisional di dalam lift rusak.
"Bang Marc," panggil Alya lagi, menyandarkan punggungnya di dinding lift baja yang terasa agak dingin.
"Ya, permaisuriku?"
"Abang itu... kenapa sih jarang banget ngomong kalau di ruko? Kadang saya mikir, apa Bang Marc bosen ya dengerin saya ngomongin soal resep masakan atau gosip sama Ibu RT?"
Marc menghentikan gerakan kipasnya selama setengah detik, menatap lurus ke dalam manik mata Alya dengan intensitas emosional yang mendalam. Dia meletakkan kembali kipas bambu itu di pangkuannya, lalu menggenggam kedua telapak tangan mungil Alya dengan jemarinya yang panjang dan hangat.
"Aku tidak pernah bosan, Alya," ucap Marc, suaranya melembut, kehilangan seluruh aksen mekanisnya. "Logika di dalam kepalaku ini bekerja dengan sangat cepat, mengolah jutaan data setiap detiknya. Itu adalah kutukan yang membuat duniaku terasa sangat bising dan melelahkan. Tapi... saat aku duduk di ruang tengah ruko, mendengarkan suaramu yang sedang mengomel tentang harga cabai, atau melihatmu berjalan mondar-mandir mengenakan daster... seluruh kebisingan di dalam otakku mendadak mati. Suaramu adalah satu-satunya frekuensi yang mampu menenangkan jiwaku."
Marc menundukkan kepalanya, mengecup punggung tangan Alya dengan kelembutan yang sangat dalam, membuat pipi Alya seketika merona merah di bawah pendaran lampu darurat yang kuning. "Aku jarang bicara karena aku lebih suka menggunakan waktuku untuk merekam setiap bait suaramu ke dalam memori permanenku. Kau adalah satu-satunya variabel acak yang tidak ingin kuhitung probabilitasnya, karena aku hanya ingin menikmatinya tanpa syarat."
Alya merasa hatinya meleleh mendengar untaian kalimat puitis berbasis sains yang keluar dari mulut suaminya yang paling genius ini. Dia membalas genggaman tangan Marc, menatap wajah suaminya itu dengan penuh rasa sayang yang mendalam.
"Bang Marc... romantisnya kok pake istilah matematika sih," goda Alya dengan mata berkaca-kaca haru. "Tapi makasih ya, Bang. Alya juga seneng kok nemenin Bang Marc di ruko, biarpun Abang sering diem, tapi Alya tahu Abang selalu jagain sistem keamanan ruko biar saya bisa tidur nyenyak tiap malem."
Tepat ketika momen romantis di antara kembar kedua dan sang permaisuri mencapai puncaknya... dari arah langit-langit lift, suara Lucien memotong jalur komunikasi radio internal tablet Marc dengan nada panik yang sangat tinggi.
"Marc! Alya! Apakah kalian terhubung?!" teriak Lucien dari ruko Palmerah, suaranya pecah beraturan. "Julien dan Etienne sedang menuju ke lokasi gedung dengan unit taktis perimeter satu. Jangan lakukan tindakan nekat yang bisa memicu kegagalan sistem pengereman lift!"
Marc menghela napas pendek, mengambil tabletnya kembali dengan satu tangan tanpa melepaskan tangan Alya. Dia menekan tombol bicara dengan wajah yang kembali datar. "Lucien, kendalikan emosimu. Struktur lift berada pada tingkat keamanan seratus persen. Gangguan hanya terjadi pada sistem kelistrikan sekunder. Keadaan di dalam sini sangat... kondusif dan efisien."
"Kondusif dari mana!" giliran suara Etienne yang menyambar mic dengan histeris dari dalam mobil taktis yang sedang melaju kencang di jalanan Slipi. "Marc! Jangan coba-coba mengambil kesempatan di dalam kesempitan ya! Aku tahu lift itu gelap dan sempit! Jangan gunakan pesona genius kacamata-mu untuk merayu Alya manisku sendirian di sana!"
Alya langsung merebut tablet dari tangan Marc, lalu berteriak gemas ke arah speaker. "Bang Etienne! Berisik tahu! Ini kita lagi adem-ademan pake kipas sate kok, nggak usah heboh deh! Buruan benerin itu trafo gedung daripada ngedubruk di jalan raya!"
Mendengar suara Alya yang segar dan galak seperti biasanya, suara Etienne di seberang sana langsung melempem. "Eh... iya, manisku. Ini Julien sudah melompati pembatas jalan tol untuk mempercepat estimasi waktu tiba."
Dua puluh menit kemudian, terdengar suara hantaman besi yang keras dari arah luar pintu lift lantai basement satu. Julien menggunakan linggis hidrolik taktis miliknya untuk membongkar paksa gerbang baja luar dengan kekuatan fisiknya yang masif.
KREEEKKK... BRAK!
Cahaya terang dari luar koridor langsung menyeruak masuk ke dalam kabin lift yang gelap. Julien berdiri di sana dengan wajah dingin yang penuh peluh, di sampingnya Etienne langsung melompat masuk ke dalam kabin dan memeriksa seluruh tubuh Alya dengan pandangan panik.
"Alya! Kau terluka?! Apakah udara di dalam sini membuatmu pusing?!" tanya Etienne bertubi-tubi, langsung memberikan sebotol air mineral dingin yang dia bawa.
"Nggak apa-apa, Bang Etienne, astaga... saya aman sentosa!" jawab Alya sambil tertawa melihat kepanikan suaminya.
Marc melangkah keluar dari lift dengan tenang, membetulkan letak kacamatanya yang kini sudah bersih, lalu menatap Julien yang sedang merapikan alat beratnya. "Kerja yang bagus, Julien. Sinkronisasi waktu pembongkaran pintu melesat tiga belas detik lebih cepat dari kalkulasi awalku."
Julien hanya mengangguk pendek, namun matanya melirik ke arah kipas sate anyaman bambu yang kini dipegang erat oleh Marc seperti sebuah barang berharga tinggi yang tidak boleh hilang. "Marc... kenapa kau membawa peralatan dapur tradisional itu ke dalam misi taktis pengambilan hard disk?"
Marc tidak menjawab. Pria genius itu hanya berjalan melewati Julien dengan langkah kaki yang tegap, menuntun Alya dengan merangkul pinggangnya secara protektif menuju ke arah mobil limosin utama yang sudah menunggu di luar gedung.
"Itu bukan peralatan dapur, Julien," jawab Marc datar sebelum masuk ke dalam mobil. "Itu adalah perangkat pengatur suhu eksternal berbasis kearifan lokal yang memiliki nilai efisiensi emosional seratus persen bagi struktur rumah tangga kita."
Etienne dan Julien saling melempar pandangan bingung, sementara Alya yang sudah duduk nyaman di dalam mobil ber-AC hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah abstrak suaminya yang kedua. Dan petualangan terjebak di lift siang itu ditutup bukan dengan kepanikan taktis, melainkan dengan pemahaman baru bahwa di balik kaku-nya rumus logika seorang dewa siber klan De Calvi, terdapat ruang hangat yang sangat luas yang kini telah dipenuhi sepenuhnya oleh ketulusan cinta seorang gadis berpakaian daster dari Palmerah.