NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jubah Sang Kaisar

Pelayan Paviliun Kain Surga itu berjalan mondar-mandir dengan sangat cekatan di lantai tiga toko yang megah itu.

​Tangannya yang mengenakan sarung tangan sutra putih dengan hati-hati mengambil beberapa helai jubah dari dalam lemari kaca khusus.

​"Tuan Agung, ini adalah koleksi terbaik kami," ucap pelayan itu dengan nada suara yang bergetar karena kagum sekaligus takut.

​"Jubah ini ditenun menggunakan sutra es dari pegunungan utara," lanjutnya sambil membentangkan sebuah jubah putih bersih.

​"Benangnya mengandung serat energi spiritual murni yang bisa menahan serangan fisik dari senjata tajam tingkat fana," tambahnya lagi dengan bangga.

​Ling Chen melirik jubah putih itu sekilas, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.

​"Terlalu mencolok dan potongannya terlalu longgar," kritik Ling Chen tajam.

​"Aku butuh pakaian yang pas di tubuh, tidak mengganggu pergerakan tanganku saat mengayunkan pedang," jelas Ling Chen datar.

​Mu Rong'er yang duduk di kursi rotan sambil mengelus Kuro ikut angkat bicara.

​"Tuan Muda Ling, bagaimana kalau yang warna hitam di sudut sana itu?" tanya Mu Rong'er sambil menunjuk ke arah sudut ruangan.

​"Koleksi hitam itu kelihatan sangat gagah dan cocok dengan pedang karatmu," lanjut gadis itu memberikan saran.

​Pelayan toko buru-buru mengambil jubah hitam yang ditunjuk oleh Mu Rong'er.

​"Nona ini memiliki selera yang sangat luar biasa," puji pelayan itu mencoba mengambil hati.

​"Ini adalah Jubah Naga Hitam Tanpa Batas," jelas si pelayan dengan mata berbinar.

​"Dibuat khusus oleh master penenun dari wilayah luar kota Jombang."

​"Bahannya sangat ringan, namun memiliki formasi pertahanan tak kasat mata di bagian dadanya," urai pelayan itu panjang lebar.

​Ling Chen berjalan mendekat, lalu menyentuh permukaan kain jubah hitam tersebut dengan ujung jarinya.

​Begitu kulitnya bersentuhan dengan kain, aliran energi Tulang Dewa di dalam tubuhnya memberikan respons yang positif.

​"Lumayan. Bahan ini bisa menyerap hawa panas dari darah musuh dengan baik," ucap Ling Chen puas.

​"Berapa harga jubah hitam ini?" tanya Ling Chen tanpa basa-basi lagi.

​"Harganya... harganya sekitar sepuluh batu roh tingkat murni, Tuan Agung," jawab pelayan itu agak ragu-ragu karena harganya yang selangit.

​"Ambil ini. Sisanya buat kamu karena sudah melayani dengan benar," kata Ling Chen sambil melempar lima belas batu roh lagi ke atas meja.

​Pelayan itu langsung membungkuk dalam-dalam sampai jidatnya hampir menyentuh lantai kayu.

​"Terima kasih banyak, Tuan Agung! Anda adalah tamu paling dermawan yang pernah datang ke toko kami!" seru pelayan itu kegirangan.

​"Aku akan langsung mengganti pakaianku di dalam ruang ganti," ucap Ling Chen sambil mengambil jubah hitam tersebut.

​"Baik, Tuan! Silakan gunakan ruangan di sebelah kanan," sahut pelayan itu dengan takzim.

​Mu Rong'er menunggu di luar sambil terus bermain dengan ekor kecil Kuro yang menggemaskan.

​"Kuro, menurutmu Tuan Muda bakal kelihatan lebih seram tidak pakai baju hitam itu?" bisik Mu Rong'er pelan.

​"Kyuu~!" Kuro menyahut pendek, seolah-olah mengiyakan ucapan majikannya.

​Tak lama kemudian, tirai ruang ganti berbahan beludru merah itu perlahan terbuka kembali.

​Ling Chen melangkah keluar dari dalam ruangan dengan penampilan yang benar-benar berubah total dari sebelumnya.

​Jubah naga hitam itu melekat dengan sangat pas di tubuhnya yang tegap dan atletis.

​Aksen sulaman perak di bagian kerah dan ujung lengannya memberikan kesan mewah namun tetap misterius.

​Pedang hitam karatan yang diikatkan di pinggang kirinya justru membuat penampilannya malam ini kelihatan makin berbahaya.

​Matanya yang berwarna biru safir menyala kontras di bawah bayangan jubah hitamnya yang gelap.

​Mu Rong'er sampai terpaku beberapa detik melihat transformasi penampilan dari pemuda misterius di depannya itu.

​"Bagaimana? Apa penampilanku ini terlihat aneh?" tanya Ling Chen sambil merapikan pelindung pergelangan tangannya.

​"N-nggak kok! Sama sekali nggak aneh, Tuan Muda!" jawab Mu Rong'er dengan wajah yang agak memerah karena salah tingkah.

​"Kamu beneran kelihatan kayak seorang pangeran dari klan besar sekarang," puji Mu Rong'er jujur.

​"Kyuu~!" Kuro ikut melompat ke pundak jubah baru Ling Chen, merasa nyaman dengan bahan sutra mahal tersebut.

​"Baguslah kalau begitu. Sekarang urusan pakaian sudah selesai," ucap Ling Chen dingin.

​Ling Chen berjalan menuju jendela besar Paviliun Kain Surga yang menghadap langsung ke arah kompleks istana inti.

​Di kejauhan, langit di atas istana Pangeran Agung mulai terlihat dipenuhi oleh kilatan cahaya formasi pertahanan yang diaktifkan.

​Tampaknya Yan Mu sudah berhasil menyampaikan paket mayat gurunya dengan selamat sampai ke tujuan.

​"Tuan Muda, istana di sana kelihatan sangat ramai malam ini," ujar Mu Rong'er yang ikut berdiri di samping Ling Chen.

​"Mereka pasti sedang mempersiapkan jebakan terbaik untuk menyambut kedatangan kita besok," lanjut gadis itu dengan nada khawatir.

​Ling Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat dingin hingga sanggup membuat suhu di dalam ruangan mendadak turun.

​"Jebakan mereka cuma mainan anak kecil yang membosankan," kata Ling Chen dengan nada meremehkan.

​"Biarkan mereka mengumpulkan seluruh pasukan terbaik yang ada di kota Jakarta ini."

​"Besok malam, jubah hitam baru ini akan menjadi saksi bagaimana aku meratakan istana sombong itu menjadi tanah," ucap Ling Chen tegas.

​"Tapi Tuan Muda, apakah kita tidak perlu menyusun rencana?" tanya Mu Rong'er lagi, memecah keheningan malam yang mulai turun.

​"Rencana?" Ling Chen menOleh sedikit.

​"Bagi orang lemah, rencana adalah dinding pelindung," jawab Ling Chen dengan nada datar.

​"Bagi orang kuat, rencana hanyalah batasan yang tidak berguna," tambahnya lagi sambil menatap langit malam Jakarta.

​Mu Rong'er menarik napas dalam-dalam.

​Dia tahu, berdebat dengan mantan Kaisar Pedang ini tidak akan pernah ada ujungnya.

​"Lalu, apa yang harus kulakukan besok?" tanya Mu Rong'er menatap Ling Chen dengan serius.

​"Kamu?" Ling Chen meliriknya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

​"Cukup bawa Kuro dan berdiri sepuluh langkah di belakangku," jawab Ling Chen.

​"Pastikan saja jubah baruku ini tidak terkena cipratan darah yang kotor," lanjut Ling Chen setengah bercanda.

​Mu Rong'er mendengus pelan, namun ada rasa hangat di hatinya karena tahu Ling Chen akan selalu melindunginya.

​"Pelayan!" panggil Ling Chen tiba-tiba ke arah pintu.

​Pelayan toko yang sejak tadi berjaga di luar langsung membuka pintu dengan tergesa-gesa.

​"Iya, Tuan Agung! Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya pelayan itu dengan sikap super hormat.

​"Siapkan kereta kuda terbaik yang ada di kota ini untuk besok malam," perintah Ling Chen.

​"Kami akan pergi ke istana inti dengan gaya yang pantas," lanjut Ling Chen sambil melemparkan sekeping koin emas murni lagi.

​Pelayan itu menangkap koin emas dengan mata berbinar-binar.

​"Segera dilaksanakan, Tuan Agung! Kereta kuda kerajaan termahal akan siap di depan gerbang besok sore!" seru pelayan itu penuh semangat.

​"Bagus. Sekarang tinggalkan kami sendiri," usir Ling Chen lembut namun tegas.

​"Baik, Tuan. Selamat beristirahat," pamit pelayan itu lalu menutup pintu ruangan dengan sangat pelan.

​Mu Rong'er berjalan mendekati tempat tidur mewah yang ada di sudut ruangan lantai tiga tersebut.

​"Malam ini kita bisa tidur nyenyak di tempat yang layak," ucap Mu Rong'er dengan nada lega.

​"Gunakan waktumu untuk memulihkan energi fisikmu," kata Ling Chen sambil berjalan menuju teras luar ruangan.

​"Tuan Muda sendiri tidak tidur?" tanya Mu Rong'er menengok dari balik selimut sutra.

​"Kultivator sejati tidak butuh tidur fana jika dunianya belum damai," jawab Ling Chen filosofis.

​Ling Chen berdiri di bawah siraman cahaya bulan malam yang keperakan.

​Tangannya perlahan mengelus gagang pedang hitam karatan yang legendaris di pinggangnya.

​"Satu hari lagi..." bisik Ling Chen pada dirinya sendiri.

​"Satu hari lagi sebelum nama Ling Chen membuat seluruh Benua fana ini bergetar ketakutan," lanjutnya dengan mata yang menyala tajam.

​Malam makin larut, dan di bawah langit kota yang mencekam, sang mantan Kaisar Pedang sudah siap untuk memulai pembantaian sejatinya.

1
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Kenapa ada kata Kota Jakarta ... dan juga sering sebut Jombang🤣🤣🤣 mohon koreksi sebelum Up
HINATA SHOYO
sarann tor kalo bisa ling chen pakai cincing ruanglah buat nyimpan2 appun barang yg dia punya klo sllu di simpan di jubah kuramg srekkkk aj .klo ada cincin ruangkan kerennn tuh torr/Grin/👍👍
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Uang dan kekuatan itu Mutlak🤣🤣🤣
Nanik S
Minta ganti pintu yang rusak🤣🤣🤣
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Siti Hodijah: jadi sarannya gmnaa kaka
total 2 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
Nanik S
Shiiip
Nanik S
Sang Kapten yang mau menyetor Nyawa ke Lin Chen
Nanik S
Jelas Beda Jiwa Kaisar yang berada didalam tubuh Lin Chen
Nanik S
Maaantaap Poooool
Nanik S
IPasukan bayangan yang berkhianat di kekaisaran
Nanik S
Keluarga Kekaisaran...benua Tengah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!