NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Suasana pagi di ruang makan utama Mansion Mahendra terasa seperti sebuah panggung teater yang diatur dengan sangat kaku. Di atas meja panjang yang tertutup taplak linen putih salju, tersedia berbagai hidangan sarapan mewah. Namun bagi Adelard, ruang ini lebih terasa seperti ruang interogasi daripada tempat makan keluarga.

"Punggungmu, Adel! Tegak!" suara Nyonya Siska menggelegar, meskipun volumenya tetap dijaga agar terdengar elegan.

Adel tersentak. Ia sedang memegang pisau perak untuk mengoleskan mentega pada rotinya, namun Nyonya Siska segera memukul pelan tangannya dengan kipas lipat.

"Kau adalah bagian dari keluarga Mahendra sekarang, meskipun hanya sebagai anak angkat. Aku tidak akan membiarkanmu mempermalukan namaku dengan cara makan seperti orang kelaparan di pinggir jalan!" lanjut Siska dengan tatapan menghina.

Clarissa, yang duduk di seberang Adel, menyesap jus jeruknya dengan anggun. Ia mengenakan gaun pagi berbahan sutra lembut, tampak seperti seorang putri sejati. "Ibu, sabarlah. Dia kan baru beberapa hari di sini. Otot-ototnya mungkin masih kaku karena terbiasa membungkuk saat mengepel lantai dulu," ejek Clarissa sambil melirik Adel dengan senyum meremehkan.

Tuan Mahendra hanya diam, sibuk dengan koran bisnisnya. Ia seolah-olah menutup mata dan telinga terhadap intimidasi terang-terangan yang dilakukan istri dan "putrinya" kepada darah dagingnya sendiri. Baginya, asalkan rumah tangga terlihat tenang dari luar, penderitaan batin Adel adalah harga yang pantas dibayar untuk sebuah reputasi.

"Mulai hari ini," Nyonya Siska meletakkan serbetnya di atas meja dengan gerakan tegas. "Adel akan mengikuti pelatihan etiket khusus bersamaku dan Madam Rose. Tidak ada sekolah setelah jam dua siang. Kau harus pulang dan belajar bagaimana cara berjalan, bicara, dan menjamu tamu yang benar."

"Tapi Ibu, saya punya ujian tambahan untuk olimpiade sains minggu depan," sela Adel pelan namun tegas.

Siska tertawa sinis. "Olimpiade? Untuk apa? Kau hanya anak angkat, Adel. Tugasmu adalah menjadi pajangan yang manis saat kolega Ayahmu datang. Prestasi akademik tidak akan menutupi asal-usulmu yang rendah jika kau tidak bisa memegang cangkir teh dengan benar."

"Biarkan dia belajar, Siska," sahut Tuan Mahendra tanpa menoleh. "Reputasi kita lebih penting daripada nilai ujiannya."

Adel mengepalkan tangannya di bawah meja. Peraturan di rumah ini benar-benar tidak adil. Clarissa dibebaskan melakukan apa saja, bahkan sering membolos sekolah untuk berbelanja, sementara Adel dikurung dalam aturan-aturan kuno yang tujuannya hanya satu: mematahkan semangatnya.

---

Sore harinya, ruang dansa mansion diubah menjadi ruang penyiksaan bagi Adel. Madam Rose, seorang wanita tua yang kaku dengan penggaris kayu di tangannya, terus menerus mengoreksi setiap langkah Adel.

"Jalan! Jangan menyeret kakimu! Bayangkan ada mahkota di kepalamu!" teriak Madam Rose.

Adel berjalan dengan tumpukan buku di atas kepalanya. Kakinya yang masih lecet akibat luka lama terasa sangat sakit saat dipaksa memakai sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter. Ia sudah melakukannya selama empat jam tanpa istirahat.

Di sudut ruangan, Clarissa duduk santai di sofa beludru sambil menikmati macaron dan menonton penderitaan Adel. "Ayo, Adel! Lebih cepat sedikit! Kalau kau jatuh, Ibu akan sangat kecewa."

Tiba-tiba, Adel tersandung. Buku-buku di kepalanya terjatuh berantakan di lantai marmer. Suaranya bergema di ruangan yang luas itu.

"Bodoh! Ulangi dari awal!" bentak Madam Rose sambil memukul lantai dengan penggaris kayunya.

Adel mengatur napasnya yang tersengal. Ia menatap Madam Rose, lalu melirik Clarissa yang tertawa puas. Rasa lelahnya mendadak berganti menjadi dingin yang tajam. Ia tidak lagi melihat ini sebagai latihan etiket, melainkan sebagai perang psikologis.

"Madam Rose," Adel bicara dengan suara yang tenang namun memiliki otoritas yang membuat wanita tua itu terdiam. "Saya sudah melakukan ini sepuluh kali tanpa kesalahan sebelum saya jatuh tadi. Saya jatuh karena lantai ini baru saja dipoles dengan lilin berlebih di bagian tengah, sengaja agar saya terpeleset."

Adel menatap Clarissa yang mendadak berhenti tertawa. "Benar kan, Clarissa? Aku melihatmu membisikkan sesuatu pada pelayan yang mengepel tadi."

"Apa katamu? Jangan menuduhku!" tantang Clarissa.

Adel mengabaikannya dan beralih kembali ke Madam Rose. "Etiket bukan hanya tentang cara berjalan, tapi tentang bagaimana tetap tenang di bawah tekanan. Jika Anda ingin saya menjadi seorang Mahendra yang sesungguhnya, maka ajarkan saya bagaimana cara menghadapi lawan yang licik, bukan hanya cara berjalan seperti manekin."

Madam Rose tertegun. Ia telah mengajar banyak anak bangsawan, tapi ia belum pernah melihat sorot mata sekuat dan secerdas ini dari seorang gadis tujuh belas tahun.

---

Malam harinya, saat mansion sudah mulai sepi, Adel kembali ke paviliunnya. Tubuhnya terasa remuk, namun pikirannya sangat tajam. Ia membuka laptopnya dan memeriksa email dari Pak Hardi.

Data transaksi yang ia minta telah tiba. Adel mulai mencocokkan angka-angka yang ia temukan kemarin dengan pengeluaran pribadi Clarissa. Ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: Clarissa telah menggunakan dana operasional yayasan pendidikan Mahendra untuk membeli tas-tas mewah edisi terbatas yang kemudian ia jual kembali untuk membiayai "geng" sekolahnya.

"Gadis bodoh," bisik Adel. "Kau mencuri dari piring Ayahmu sendiri hanya untuk mendapatkan pujian dari teman-teman palsumu."

Tiba-tiba, jendela kamarnya diketuk pelan. Adel waspada dan mengambil sebuah gunting dari mejanya. Saat ia membuka tirai sedikit, ia melihat Devan berdiri di luar, mengenakan jaket kulit hitam, tampak sangat kontras dengan kegelapan malam.

Adel membuka jendela. "Devan? Kau gila? Ini lantai dua paviliun!"

Devan melompat masuk dengan lincah, seolah gravitasi bukan masalah baginya. "Aku melihat lampu kamarmu masih menyala. Aku membawakanmu sesuatu."

Devan meletakkan sebuah kantong plastik berisi obat oles untuk luka memar dan beberapa roti lapis hangat. "Aku tahu Siska tidak memberimu makan malam karena kau menjatuhkan buku tadi sore."

Adel terdiam melihat perhatian Devan. "Bagaimana kau tahu?"

"Aku punya telinga di mana-mana di rumah ini," Devan duduk di pinggiran tempat tidur Adel, menatap laptop yang masih terbuka. "Kau sudah menemukan sesuatu tentang dana yayasan itu?"

"Ya. Clarissa bekerja sama dengan pamannya. Mereka mencuci uang itu lewat perusahaan cangkang di Singapura," Adel menunjukkan layar laptopnya. "Jika aku memberikan ini pada Ayah sekarang, apakah dia akan percaya?"

Devan menggeleng. "Belum. Siska akan melindunginya dengan alasan Clarissa hanya 'salah kelola'. Tunggulah sampai pesta ulang tahun pernikahan mereka bulan depan. Saat itulah semua investor besar berkumpul. Jika kau ingin menghancurkan seseorang, lakukanlah di panggung yang paling besar."

Devan mendekati Adel, tangannya terangkat untuk mengusap rambut Adel yang berantakan. "Latihan etiket itu... jangan biarkan mereka mematahkanmu. Gunakan itu untuk menjadi lebih elegan daripada Clarissa. Jadilah Mahendra yang lebih asli daripada si palsu itu."

Adel menatap mata Devan yang dalam. Di tengah kegelapan dan ketidakadilan rumah ini, Devan adalah satu-satunya cahaya yang memberinya harapan.

"Aku tidak akan patah, Devan," ucap Adel mantap. "Aku akan belajar setiap gerakan yang mereka ajarkan, aku akan menelan setiap hinaan mereka, dan aku akan menyimpannya sebagai bahan bakar. Saat waktunya tiba, aku tidak hanya akan mengambil kembali namaku, tapi aku akan memastikan mereka tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi."

Devan tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan kebanggaan. "Itulah gadis yang aku kenal."

Sebelum pergi melewati jendela lagi, Devan berbisik, "Berhati-hatilah besok. Siska merencanakan sesuatu yang lebih berat untukmu. Dia ingin kau gagal di depan instruktur dansa internasional yang akan datang. Jangan beri mereka celah."

Adel mengangguk. Setelah Devan menghilang dalam kegelapan, Adel kembali duduk di depan laptopnya. Ia mengoleskan obat dari Devan ke kakinya yang memar, lalu kembali bekerja. Di rumah ini, ia mungkin diperlakukan tidak adil, namun ia tahu satu hal yang tidak mereka ketahui: Seorang pelayan yang tahu rahasia majikannya jauh lebih kuat daripada majikan itu sendiri. Dan Adel, dia tahu semua rahasia kotor keluarga Mahendra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!