Naina..gadis penuh luka ditubuh dan hatinya...... Dipukul, dilukai, dikecewakan, dianggap murahan, dikasihani, sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi ia selalu bangkit. Bukan untuk menjadi Cinderella, tapi hanya untuk menjalani yang telah Tuhan gariskan.
Arkana...lelaki yang pernah terluka begitu dalam. Menganggap dirinya cacat dan hanya pentas dengan kesendirian.
Saat keduanya dipertemukan dalam ikatan pernikahan..... saat itulah mereka tidak bisa melawan yang Tuhan takdirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Yatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Cantik disiang hari
Jam 10 tepat sebuah mobil Mercedes berwarna hitam memasuki pekarangan rumah Arkana. Seorang laki-laki berseragam supir dengan wajah ramah turun dari mobil tersebut. Naina dan Bella sudah menunggu diteras.
"Permisi nyonya... saya Mang Barjo, saya ditugaskan mengantar nyonya kekantor tuan Arkana," ucapnya.
"Eh, tapi aku mau kerumah sakit Mang," ucap Naina.
"Betul nyonya, tadi tuan Arkana berpesan untuk membawa nyonya kekantor dulu, kerumah sakit nya bareng sama tuan," jelas mang Barjo.
"Baiklah kalau begitu," Naina senang karena Arkana mau mengantarnya.
Ia dan Bella langsung masuk ke dalam mobil yang membawa mereka menuju kantor Arkana.
Sementara itu di kantor Arkana...
"Kira-kira apa yang dipinta gadis itu untuk menikah dengan mu?" tanya Samuel dengan pandangan menerawang.
"Mana aku tahu,' Arkana tampak tidak perduli. Ia masih meneliti berkas-berkas didepannya.
"Kalau dia minta uang banyak kau akan memberikan tidak?"
"Aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk nya, awas saja kalau ia berani minta lagi."
"Tapi sepertinya ia bukan wanita semacam itu,"
"Sok tau. Kenal aja belum seminggu."
"Tapi perasaan ku mengatakan dia gadis baik."
"Perasaan sering kali salah. Stop talking about her. Jam berapa kita harus rapat."
"In Ten minutes."
"Oke, let's go."
"Tapi Naina mau kemari kan?"
"She can wait."
Arkana keluar dari ruangan diikuti Samuel yang menenteng tas laptop.
Saat sedang menunggu lift Arkana bertemu dengan teman ayahnya. Mereka pun berbincang sejenak seputar pekerjaan.
Ting!
Bunyi lift terbuka memotong pembicaraan mereka, namun yang lebih mengejutkan muncul seorang wanita cantik dari dalam lift yang membuat semuanya terdiam karena kagum.
"Wah...ada nyonya bos," Samuel yang pertama bereaksi. Senyumnya melebar melihat Arkana sampai tertegun begitu.
"Nyonya bos? Ini istri siapa Samuel?" rekan kerja ayah Arkana bertanya penasaran. Beruntungnya yang jadi suaminya, batinnya.
"Istriku," Arkana menarik tangan Naina keluar dari dalam lift. "Kami permisi dulu," tanpa menunggu jawaban ia membawa Naina yang kebingungan masuk ke kantornya. Samuel dan Bella mengikuti dari belakang.
"Kenapa pakai baju terbuka begitu, apa kamu enggak kedinginan?" tanya Arkana terdengar ketus seperti biasa begitu mereka ada didalam kantor.
"Tapi Bella yang belikan, semua bajunya tanpa lengan. Masa harus pakai baju tidur," jelas Naina. Arkana langsung melotot pada asisten sekretarisnya itu. Bella menunduk takut.
"Maaf tuan, kemarin langsung ambil karena terburu-buru."
"Kau ini kenapa sih Arka? Inikan siang-siang, gak papa lah pakai baju begini. Naina terlihat cantik kok," ucap Samuel membela. "Jangan posesif, jadi suami juga belum," sindirannya membuat Arkana tersadar ia sudah bersikap berlebihan. Dilepaskannya genggaman tangannya pada Naina.
"Jadi istri ku tidak boleh berpenampilan sembarangan. Apa yang kau pakai mencerminkan diriku. Apalagi ini tempat kerja," untuk menutupi kesalahannya Arkana malah membuat Naina salah paham. Gadis itu menatapnya kesal.
"Bella... belikan pakaian lain yang lebih tertutup. Samuel...kau berangkat duluan keruang meeting. Nanti aku menyusul," perintahnya. Kedua bawahannya itu segera melaksanakan tanpa protes.
"Maaf kan aku, aku memang tidak pantas untukmu," ucap Naina sebelum melangkah meninggalkan Arkana. Langkahnya terhenti karena Arkana menahannya.
"Aku tidak bermaksud begitu," ucapnya.
"Aku sadar siapa diriku. Tidak perlu kau ingatkan terus," Naina menepis tangan Arkana.
"Nai..."
"Aku pulang saja. Aku tidak mau membuat mu malu."
Naina setengah berlari meninggalkan Arkana. Tapi belum sempat ia mencapai pintu dua lengan kokoh memeluknya dari belakang.
Naina terdiam merasakan kehangatan tubuh Arkana. Ia memejamkan mata dan menghirup aroma maskulin dari tubuh laki-laki itu. Dirasakannya Arkana mengecup kepalanya dengan lembut.
"Maaf," ucap Arkana pelan dan dalam. "Jangan marah." ucapnya lagi sambil membenamkan wajahnya di rambut harum calon istrinya. Wangi Jasmine.
"Kau yang selalu marah-marah," Naina masih kesal.
"Bukan marah. Hanya mengingatkan. Kalau karyawan ku melihatmu bisa-bisa mereka tidak fokus kerja."
"Karena istri bosnya yang jelek kan?"
"Karena istri bosnya yang terlalu cantik..." Arkana membalikkan tubuh Naina agar menghadap kearahnya. "Cantik dan sangat menggoda," tambahnya dengan suara yang semakin serak.
"Tapi..."Naina mau membantah lagi tapi Arkana menutup mulutnya dengan cepat menggunakan bibirnya sendiri.
Diciumnya bibir berwarna merah muda itu dengan sangat lembut. Manis. Karena Naina tidak menolak ia memperdalam ciumannya. Dikulumnya bibir atas dan bawah bergantian, dirangkum nya wajah Naina agar ia lebih leluasa menikmati rasa manis di bibirnya lagi....dan lagi.....
Bunyi ponsel Arkana menghentikan ciuman mereka. Naina berbalik karena malu tapi Arkana menarik tangan nya agar dia tidak kemana-mana.
"Aku segera kesana," ucap Arkana memutuskan hubungan telepon. Ditatapnya wajah Naina yang tersipu-sipu itu dengan pandangan sayang yang tidak ia sadari.
"Aku harus keruang meeting."
"Ehm...oke."
Gadis itu masih saja suka menunduk.
"Tidak apa-apa aku tinggal sebentar?"
"Ya.. pergilah..."
Arkana terlihat berpikir. Akhirnya ia memberikan ponsel pada Naina.
"Ini untuk apa?"
"Untuk mengusir kejenuhan mu. Perempuan biasanya suka nonton drama Korea kan? Ingatkan aku untuk membelikan mu ponsel. Jangan kemana-mana," tegasnya. Naina hanya mengangguk, masih gugup karena ciuman tadi.
"Nai...."Arkana memanggil sebelum membuka pintu.
"Ya?"
"Jangan panggil aku tuan...I'm not your master."
"Jadi panggil apa?"
"Terserah."
Arkanapun menghilang bersamaan dengan tertutupnya pintu kantor.
Naina cemberut selama dua detik sebelum tersenyum lagi. Ditatapnya ponsel Arkana.
Arkana salah. Tidak semua perempuan suka drama Korea. Naina tidak pernah menontonnya karena ia harus hemat dalam menggunakan apapun. Termasuk paket data.
Lebih baik mencari panggilan yang tepat untuk lelaki itu.
Naina pun langsung Googling dan mengetik.....
~ Panggilan untuk calon suami~
maaf ya thor itu cuma pendapat q 🙏