Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Pencuri
Gao Rui dan Bai Kai akhirnya benar-benar meninggalkan toko pakaian itu. Begitu melangkah keluar, suasana langsung berubah. Jika di dalam toko terasa tenang dan tertata, maka di luar justru sebaliknya, hidup, bising, dan penuh warna.
Mereka berjalan santai menyusuri kompleks pertokoan itu sambil menunggu Lan Suya yang masih sibuk berbelanja.
Di luar, keadaan sangatlah ramai. Pengunjung berlalu-lalang tanpa henti. Ada yang datang berkelompok, ada pula yang berjalan sendiri sambil membawa barang belanjaan. Suara tawar-menawar terdengar dari berbagai arah, bercampur dengan teriakan para pedagang yang menawarkan dagangan mereka.
Terlebih lagi, banyak pedagang kaki lima yang turut meramaikan suasana. Gerobak-gerobak kecil berjejer di sepanjang jalan, menjual berbagai macam barang, dari aksesoris sederhana, mainan anak-anak, hingga makanan yang mengeluarkan aroma menggoda.
Gao Rui memperhatikan semuanya dengan penuh rasa ingin tahu. Matanya bergerak ke sana kemari, mengamati apa saja yang dijual oleh para pedagang itu. Sesekali ia berhenti. Jika ada yang menarik perhatiannya, ia akan mendekat, melihat-lihat, bahkan membelinya tanpa banyak berpikir.
Bai Kai hanya mengikuti dari samping, sesekali tersenyum melihat tingkah tuan mudanya itu.
Hingga akhirnya, langkah Gao Rui melambat saat ia berhenti di sebuah lapak makanan. Uap hangat mengepul dari panci besar. Aroma gurih langsung menyeruak di udara, membuat perut siapa pun yang lewat terasa tergoda.
Gao Rui sedikit mencondongkan tubuhnya, memperhatikan makanan yang dijual. Namun di saat itulah matanya menangkap sesuatu.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, di tengah kerumunan orang, seorang pemuda tampak bergerak mencurigakan. Gerakannya cepat, matanya tajam mengamati sekitar.
Sebelum Gao Rui sempat berpikir lebih jauh, pemuda itu sudah beraksi. Dengan gerakan cepat, ia meraih sebuah tas kecil dari tangan seorang nenek tua.
Gerakan itu begitu tiba-tiba. Nenek itu baru menyadarinya sesaat kemudian.
“Pencuri! Pencuri!!” teriaknya panik.
Suaranya menggema di antara keramaian. Beberapa orang langsung menoleh. Ada yang mencoba menghadang, ada pula yang hanya terkejut.
Namun pemuda itu bergerak sangat lincah. Ia menyelinap di antara kerumunan seperti bayangan. Setiap orang yang mencoba mendekat langsung ia hadapi dengan ancaman sebuah pisau kecil yang sudah berada di tangannya. Kilatan logam itu membuat orang-orang ragu.
Tak ada yang benar-benar berani mendekat. Dalam sekejap, ia sudah menjauh dari lokasi itu.
Gao Rui yang melihat semuanya hanya terdiam sepersekian detik. Lalu ia bergerak. Tanpa berpikir panjang, tubuhnya langsung melesat ke depan.
“Aku kejar dia!” serunya singkat.
Namun situasi tidak semudah yang ia bayangkan. Lorong di kompleks itu sempit. Orang-orang terlalu banyak. Ia tidak punya ruang untuk menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Gao Rui hanya bisa berlari sekuat tenaga.
“Permisi! Permisi!” teriaknya sambil berusaha menerobos kerumunan.
Tubuhnya bergerak cepat, berkelit di antara orang-orang, sesekali hampir menabrak mereka.
Namun meski begitu jarak antara dirinya dan si pencuri terus bertambah jauh. Pemuda itu jelas sangat mengenal medan. Ia memilih jalur-jalur sempit, berbelok tanpa ragu, menghilang di antara gang-gang kecil.
Di belakang, Bai Kai tampak sedikit terkejut melihat aksi spontan Gao Rui. Namun ia tidak tinggal diam. Ia segera menyusul.
“Tuan Muda!” serunya sambil berlari mengejar dari belakang.
Kejar-kejaran itu berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya Gao Rui tiba di sebuah area yang lebih lapang. Langkahnya melambat lalu berhenti.
Dadanya naik turun, napasnya sedikit memburu. Matanya menyapu sekeliling. Kosong. Tidak ada tanda-tanda pemuda tadi. Jejaknya hilang begitu saja. Seolah ditelan oleh keramaian kota.
Gao Rui mengerutkan kening.
“…hilang…”
Tak lama kemudian, Bai Kai menyusul dan berhenti di sampingnya. Ia melihat sekeliling, lalu menghela napas ringan.
“Sepertinya… kau kehilangan jejaknya, Tuan Muda.”
Gao Rui terdiam sejenak. Tatapannya menyapu sekeliling sekali lagi, tajam dan penuh perhitungan. Keramaian masih terasa di kejauhan, namun area ini jauh lebih sepi dibanding sebelumnya.
“…tidak,” gumamnya pelan.
Tanpa peringatan, tubuhnya tiba-tiba bergerak.
Tap!
Gao Rui melompat ke atas atap sebuah toko di dekatnya. Gerakannya ringan dan bersih, mendarat tanpa suara seolah hanya sehelai daun yang jatuh.
Bai Kai sedikit terkejut, menengadah ke atas.
“Tuan Muda…?”
Di atas, Gao Rui berdiri tegak. Dari ketinggian itu, pandangannya menjadi jauh lebih luas. Ia memutar kepalanya perlahan, mengamati setiap sudut kompleks pertokoan tersebut.
Angin berhembus pelan, mengibaskan ujung pakaiannya. Kemudian kedua matanya menyipit. Aura halus seakan berkumpul di dalam pupilnya. Teknik Mata Dewa kembali ia gunakan dalam situasi seperti ini.
Pandangan Gao Rui berubah. Keramaian, dinding, bahkan bangunan seolah tidak lagi menjadi penghalang. Ia menembus lapisan-lapisan itu, mencari jejak yang tersembunyi dari mata biasa.
Beberapa detik berlalu. Lalu.....
“…ketemu.”
Senyum tipis terukir di bibirnya. Tidak jauh dari tempat itu, tersembunyi di balik jalur sempit yang berliku, ada sebuah gang buntu. Di sanalah targetnya berada. Pemuda pencuri itu.
Ia tidak sendirian. Ada beberapa orang lain bersamanya, berdiri santai seolah tempat itu memang markas mereka.
Tanpa membuang waktu, Gao Rui langsung melompat turun.
Drap!
Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung berlari.
“Permisi!”
Tubuhnya bergerak lincah, berkelok di antara orang-orang yang lalu-lalang. Ia menghindar dengan gesit, sesekali memutar badan untuk melewati celah sempit tanpa menyentuh siapa pun.
Langkahnya cepat. Tatapannya lurus ke depan. Tujuannya hanya satu. Gang buntu itu.
Beberapa saat kemudian, suasana mulai berubah. Keramaian berangsur-angsur berkurang. Bangunan di sekitarnya semakin rapat, dan jalan menjadi semakin sempit. Hingga akhirnya Gao Rui berhenti.
Di depannya, sebuah gang buntu terbentang. Beberapa pemuda berdiri di sana. Dan di antara mereka ada pemuda pencuri itu.
Gao Rui melangkah maju tanpa ragu.
“Hei!”
Suaranya menggema di dalam gang sempit itu.
“Kembalikan tas milik nenek tadi!”
Semua kepala langsung menoleh.
Pemuda pencuri itu tampak kaget. Matanya membesar sesaat, jelas tidak menyangka akan ada yang berhasil menemukan tempat ini.
Namun keterkejutan itu tidak berlangsung lama. Saat ia melihat siapa yang datang. Seorang bocah. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Orang-orang di sekitarnya ikut saling pandang, lalu…
“Tch…”
“Hahaha!”
Tawa mereka pecah hampir bersamaan.
“Lihat ini, bocah kecil tersesat ke tempat yang salah,” ejek salah satu dari mereka.
“Dan dia datang sendirian lagi,” sambung yang lain sambil menyeringai.
Pemuda pencuri itu memainkan pisau kecil di tangannya, memutar-mutarnya dengan santai.
“Bocah,” katanya dengan nada meremehkan, “kau mengejar kami sejauh ini hanya untuk itu?”
Ia mengangkat tas kecil yang tadi dicurinya, menggoyangkannya pelan di depan Gao Rui.
“Bagaimana kalau aku tidak mengembalikannya?”
Tawa kembali terdengar. Sementara itu, Gao Rui hanya berdiri diam. Tatapannya tetap tenang.
Namun di balik ketenangan itu ada kilatan dingin yang perlahan muncul di matanya.
Gao Rui melangkah satu langkah lagi ke depan. Wajahnya tetap tenang, namun tatapannya kini jauh lebih tajam.
“Kembalikan tas nenek itu,” ucapnya datar.
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang sama sekali tidak terdengar seperti ancaman kosong.
“…atau aku akan menghajar kalian.”
Sejenak suasana hening. Lalu....
“Hahahaha!!”
Tawa para pemuda itu kembali meledak, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Beberapa dari mereka sampai memegangi perut karena terlalu geli.
“Dia bilang… menghajar kita?” salah satu dari mereka berkata sambil menyeka air mata di sudut matanya.
“Bocah ini serius?” timpal yang lain.
Pemuda pencuri itu sendiri hanya menyeringai lebar, matanya penuh ejekan.
“Berani sekali kau, bocah,” katanya sambil memiringkan kepala. “Kau tahu tidak di mana kau berdiri sekarang?”
Ia melangkah maju satu langkah, memainkan pisaunya dengan lebih cepat.
“Pergi dari sini sekarang juga,” lanjutnya dingin, “atau aku akan membunuhmu.”
Ancaman itu diucapkan tanpa ragu sedikit pun.
Namun Gao Rui tidak bergerak. Tidak mundur. Tidak juga menunjukkan rasa takut. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap mereka satu per satu, seolah sedang menilai sesuatu yang tidak sepadan dengan waktunya.
Sikap itu membuat senyum di wajah para pemuda itu perlahan menghilang.
“...anak ini,” gumam salah satu dari mereka.
Melihat Gao Rui tidak kunjung pergi, beberapa dari rekan pencuri itu mulai bergerak. Langkah kaki mereka menggema pelan di gang sempit itu saat mereka maju mendekat, membentuk setengah lingkaran, mencoba mengepung.
“Sepertinya dia tidak mengerti bahasa manusia,” ujar seorang dengan nada dingin.
“Kalau begitu kita buat dia mengerti,” sahut yang lain sambil mengepalkan tangan.
Langkah mereka semakin dekat. Namun...
Tap.
Langkah itu tiba-tiba terhenti. Satu per satu dari mereka menghentikan gerakannya, seolah merasakan sesuatu yang tidak biasa. Dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki lain. Tenang. Teratur. Menggema pelan, namun jelas.
Semua mata spontan menoleh ke arah suara itu. Siluet seseorang perlahan muncul dari bayangan. Sosok pria dewasa berjalan santai memasuki gang sempit tersebut. Wajahnya tenang, langkahnya tidak terburu-buru, namun setiap pijakan kakinya seolah membawa tekanan yang tak kasat mata.
Angin tipis berhembus melewati lorong itu, mengibaskan ujung pakaiannya. Gao Rui tidak menoleh, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
Sementara itu, para pemuda di hadapannya mulai mengernyit. Entah mengapa, kehadiran pria itu membuat suasana yang tadinya santai berubah menjadi sedikit menekan.
Pria itu berhenti beberapa langkah di belakang Gao Rui. Tatapannya menyapu kelompok pemuda di depan dengan tenang.
“…Tuan Muda,” ucapnya ringan.
Itu adalah Bai Kai.