NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:639
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kayla — Adik Rio yang Berbahaya

Jam istirahat. Aku tidak bisa diam.

Pikiran tentang Kayla—tentang ucapan terakhirnya—terus berputar di kepalaku seperti rekaman rusak.

"Aku adalah adik Rio."

Rio punya adik? Di kehidupan sebelumnya, aku tidak pernah tahu. Rio selalu terlihat sendirian. Tidak ada keluarga yang datang saat dia ditangkap dulu. Tidak ada saudara yang membelanya.

Tapi sekarang, di kehidupan ini, dia punya adik. Dan adik itu ada di depanku.

"Nay, kamu pucet banget," Sasha menyentuh keningku. "Demam?"

"Aku nggak demam."

"Muka kamu kayak abis liat hantu."

Aku menatap Kayla yang sedang asyik mengobrol dengan teman-teman barunya di seberang kantin. Dia tertawa, bercerita, bergaul dengan mulus—seperti dia tidak punya niat jahat sama sekali.

Penampilan bisa menipu.

"Aku harus cerita ke Rasya," kataku.

"Aku ikut?"

"Nggak usah. Jagain meja aja."

Sasha mengangguk. Aku berjalan meninggalkan kantin, menuju perpustakaan—tempat Rasya biasa menghabiskan waktu istirahat.

---

Di Perpustakaan

Rasya sedang membaca buku di pojokan favoritnya. Begitu melihatku masuk, dia mengangkat kepala—langsung tahu ada yang tidak beres.

"Kenapa?"

Aku duduk di seberangnya.

"Kayla."

"Ada apa dengan dia?"

"Dia adik Rio."

Rasya meletakkan bukunya. Matanya menyipit.

"Apa?"

"Aku tahu kedengarannya gila. Tapi dia sendiri yang bilang. Waktu pertama kali duduk di sampingku, dia berbisik, 'Halo, Nayla. Senang bertemu denganmu lagi.' Lalu dia bilang dia adik Rio."

Rasya diam beberapa saat.

"Di kehidupan sebelumnya, Rio tidak punya adik."

"Aku juga tahu. Tapi mungkin, di kehidupan ini, takdir mengubah segalanya."

"Atau mungkin..." Rasya menggigit bibir, "Rio tidak sendirian dari awal. Mungkin dia memang punya adik, tapi kita tidak pernah tahu."

"Terus gimana?"

"Kita pantau. Kita cari tahu kelemahannya. Dan kita jaga jarak."

"Kayla duduk di sebelahku, Rasya. Di kelas. Setiap hari."

Rasya menghela napas. "Itu masalah."

"Bisa banget."

---

Di Kelas — Pelajaran Terakhir

Kayla duduk di sampingku dengan tenang. Dia menggambar di buku catatannya—bunga-bunga kecil dengan pena warna-warni. Tidak terlihat mengancam sama sekali.

Tapi mataku tidak bisa berhenti memperhatikan gerak-geriknya.

"Nayla," bisik Kayla, tanpa menoleh.

"Apa?"

"Kamu nggak usah tegang kayak gitu. Aku nggak bakal gigit."

"Aku nggak tegang."

"Bohong." Kayla tersenyum kecil. "Tangan kamu gemeteran megang pulpen."

Aku menengok. Benar. Pulpenku bergetar di tanganku.

"Aku nggak takut sama kamu," kataku, berusaha terdengar tenang.

"Harusnya kamu takut." Kayla berbalik—matanya bertemu mataku. "Karena aku di sini bukan untuk berteman, Nayla. Aku di sini untuk menghancurkan hidupmu. Sedikit demi sedikit. Sama seperti kakakku dulu—tapi aku lebih sabar. Dan lebih pintar."

Dia kembali menggambar.

"Aku akan menikmati prosesnya."

---

Pulang Sekolah

"Rasya, kita harus lapor polisi," kataku di perjalanan pulang.

"Lapor apa? Kayla belum melakukan apa-apa. Dia cuma ancam."

"Tapi—"

"Kita tidak punya bukti, Nayla. Tanpa bukti, polisi tidak bisa bertindak."

Aku menghela napas frustrasi. "Jadi kita cuma bisa diem aja?"

"Tidak." Rasya menggenggam tanganku. "Kita bisa bersiap. Kita bisa memantau. Dan kita bisa berjaga-jaga."

"Aku capek, Rasya. Baru aja selesai sama Rio, sekarang datang Kayla. Kapan ini berakhir?"

Rasya tidak menjawab.

Dia hanya menggenggam tanganku lebih erat.

---

Malam Itu — Chat Log

Sasha (20.15): "Aku udah mulai nyari info soal Kayla."

Nayla (20.16): "Dapet apa?"

Sasha (20.16): "Dia pindahan dari Surabaya, tapi sebelumnya tinggal di Bandung. Sekolahnya pindah-pindah terus. Kayaknya keluarganya suka pindah rumah."

Rasya (20.17): "Kenapa pindah terus?"

Sasha (20.17): "Belum tau. Lagi gali."

Nayla (20.18): "Hati-hati, Sha. Jangan sampai dia sadar lo ngintip."

Sasha (20.18): "Tenang. Aku kecil. Susah diliat."

Rasya (20.19): "Besok kita cari tahu lebih dalam. Mungkin kita bisa ke rumahnya."

Nayla (20.19): "Ke rumahnya? Gila?"

Rasya (20.20): "Bukan main-main. Cuma lewat. Lihat-lihat."

Sasha (20.20): "Aku ikut!"

Nayla (20.21): "Sha, ini bisa bahaya."

Sasha (20.21): "Semua yang kamu lakuin belakangan ini bahaya. Tapi kamu tetep lakuin. Jadi kenapa aku nggak boleh?"

Aku menghela napas.

Nayla (20.22): "Oke. Tapi kamu ikut perintah aku. Kalau aku bilang kabur, kamu kabur. Janji?"

Sasha (20.22): "Janji."

Rasya (20.23): "Besok setelah pulang sekolah. Kita ketemu di perempatan lampu merah."

Nayla (20.23): "Oke."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!