Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Suasana di dalam kamar utama masih terasa sunyi saat Humairah melangkah masuk kembali.
Di atas ranjang, Fathan masih tampak gelisah, membelakangi sisi tempat tidur istrinya dengan napas yang kentara berat.
Humairah menarik napas sedalam-dalamnya, memantapkan niat di dalam hati untuk menepis segala sisa keraguan.
Humairah membuka lemari pakaiannya dan segera mengambil sebuah gaun tidur.
Dengan langkah tenang namun berdebar, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Di depan cermin kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya yang kini berbalut gaun tidur yang lembut.
"Baiklah, aku akan menunaikan kewajibanku malam ini," bisik Humairah pada dirinya sendiri.
Mengingat kembali wejangan dari Abi Sasongko, ada rasa takut yang tebal menyelinap di benaknya jika suaminya sampai tidak bisa tidur menahan gejolak tubuh akibat egonya sendiri, dan ia tidak ingin malaikat akan melaknatnya hingga fajar menyingsing karena menolak kebutuhan sang imam.
Rasa cinta dan kepatuhannya sebagai seorang istri alimah akhirnya mengalahkan seluruh rasa canggung.
Setelah selesai bersiap, Humairah membuka pintu kamar mandi.
Ia melangkah perlahan mendekati ranjang, lalu mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar untuk menepuk pundak suaminya yang masih berbaring gelisah membelakanginya.
"Mas, ayo. Aku sudah siap," ucap Humairah dengan suara yang sangat tegas namun lembut.
Fathan yang sejak tadi bergelut dengan rasa panas yang menyiksa sekujur tubuhnya seketika tersentak.
Ia membalikkan badannya dengan cepat. "Siap kemana, Sayang?" tanyanya parau, dilingkupi rasa bingung.
Namun, kalimat Fathan langsung tertahan di tenggorokan.
Fathan membelalakkan matanya saat melihat istrinya yang sudah berganti pakaian dengan gaun tidur di hadapannya.
Keremangan lampu tidur seolah menambah keanggunan dan pesona Humairah malam itu, meruntuhkan sisa-sisa pertahanan Fathan.
"Kamu, yakin, Humairah?" tanya Fathan memastikan, suaranya bergetar hebat antara tidak percaya dan rasa hormat yang mendalam atas kesiapan istrinya.
Humairah menganggukkan kepalanya dengan pasti, sepasang matanya menatap Fathan dengan ketulusan penuh.
"Mas tidak bisa tidur, kan?"
Fathan menelan ludah, lalu mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.
"Iya, Humairah, rasanya panas semuanya," aku Fathan jujur, tidak bisa lagi menyembunyikan gejolak gulai kambing yang membakar pembuluh darahnya.
Mendengar pengakuan jujur itu, Humairah perlahan naik ke atas kasur.
Tangan lembutnya meraih guling yang sejak siang menjadi pembatas di antara mereka, lalu memindahkannya ke tepi ranjang.
Tindakan nyata itu menjadi lampu hijau yang paling benderang bagi Fathan.
Dengan rasa syukur yang membuncah hingga ke lubuk hati terdalam, Fathan merangkak mendekati istrinya.
Ia menggenggam jemari Humairah, menatap wajah ayu itu dengan tatapan penuh takzim dan cinta yang suci.
Sebelum melangkah lebih jauh menuju penyatuan jiwa mereka, Fathan mendekatkan bibirnya ke dahi Humairah, mengecupnya lama, kemudian Fathan membaca doa sebelum melakukan hubungan suami istri dengan khusyuk:
"Bismillah, Allahumma jannibnas-syaithana wa jannibis-syaithana ma razaqtana."
Di bawah naungan rida Allah dan keikhlasan hati yang utuh, malam itu menjadi saksi runtuhnya seluruh dinding pembatas di antara mereka.
Kehangatan yang tulus menggantikan dinginnya luka masa lalu, sampai akhirnya mereka berdua hanyut dalam pemenuhan janji suci pernikahan yang seutuhnya, memulai lembaran hidup yang benar-benar baru dari titik nol.
Keesokan paginya, suasana di sekitar pasar kota masih dilingkupi kesunyian yang pekat.
Hawa dingin khas fajar perlahan menembus celah jendela kamar utama, namun kehangatan di atas ranjang itu tetap terjaga utuh.
Kelopak mata Humairah bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Kesadaran wanita itu langsung pulih seketika saat merasakan sebuah lengan kekar melingkar posesif di pinggangnya.
Humairah menoleh ke samping, menatap wajah Fathan yang tertidur begitu damai tanpa ada lagi guratan gelisah seperti semalam.
Humairah melirik ke arah nakas. Ia melihat jam dinding digital sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
Menyadari waktu subuh yang kian mendekat dan status mereka yang masih memiliki hadas besar, Humairah perlahan menggerakkan tubuhnya.
Ia menepuk lembut lengan suaminya yang masih setia memeluknya.
"Mas, ayo bangun. Kita belum mandi besar dan setelah itu kita sholat tahajud dulu," ucap Humairah, suaranya terdengar sangat lembut memecah keheningan sepertiga malam.
Mendengar bisikan merdu yang begitu dekat di telinganya, Fathan perlahan melenguh.
Pria itu membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan temaram lampu tidur.
Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah senyum manis sang istri yang menyambutnya di fajar pertama mereka di rumah baru ini.
Sebuah pemandangan indah yang selama ini hanya bisa ia impikan.
Hati Fathan membuncah oleh rasa syukur. Alih-alih langsung beranjak, ia justru semakin mengeratkan pelukannya sejenak.
"Kemarilah, Sayang..." bisik Fathan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Fathan menarik tubuh Humairah sedikit lebih dekat, lalu mengecup kening istrinya dengan sangat lama dan penuh takzim.
Sebuah kecupan yang menyalurkan seluruh rasa cinta, rasa hormat, dan janji untuk tidak akan pernah menyakitinya lagi.
"Terima kasih atas semalam, Humairah. Terima kasih sudah bersedia menjadi penyejuk untukku," ucap Fathan tulus, menatap lekat sepasang mata bening di hadapannya.
Mendengar ucapan blak-blakan suaminya tentang momen penyatuan mereka semalam, ingatan Humairah seketika berputar pada kejadian beberapa jam lalu.
Humairah menganggukkan kepala kecil dengan pipinya yang seketika memerah sempurna bagai buah tomat.
Ia menyembunyikan wajah malunya di dada bidang Fathan, membuat pria itu terkekeh pelan melihat tingkah menggemaskan makmumnya yang kini telah sepenuhnya kembali ke pelukannya.
Hawa dingin sepertiga malam itu tidak lagi terasa menyiksa saat Fathan dan Humairah melangkah bersama menuju kamar mandi di dalam kamar mereka.
Di bawah guyuran air hangat yang membasuh seluruh hadas, mereka mandi bersama dengan penuh takzim—sebuah aktivitas sunnah yang kian mempererat ikatan batin yang sempat renggang.
Tidak ada lagi kecanggungan yang berarti, yang ada hanyalah rasa syukur dan kesucian yang kembali mereka rajut.
Setelah selesai membersihkan diri dan berwudhu, mereka mengenakan pakaian terbaik.
Humairah dengan mukena putih bersihnya segera mengambil tempat di belakang Fathan, yang sudah berdiri tegak mengenakan koko putih dan sarung di atas sajadah mushola kecil rumah mereka.
Di bawah temaram lampu mushola dan gemercik air kolam ikan yang syahdu, Fathan memimpin shalat tahajjud dengan sangat khusyuk.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang keluar dari lisan Fathan terdengar begitu bergetar, meresap ke dalam dada Humairah yang mendengarkannya dengan penuh kekhidmatan.
Usai salam terakhir diucapkan, Fathan mengangkat kedua tangannya tinggi-high.
Pria itu mulai melafalkan doa dengan suara yang rendah dan bergetar hebat karena menahan gejolak emosi di dadanya.
"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim. Ampunilah dosa-dosa hamba yang telah zalim terhadap amanah-Mu," ucap Fathan, suaranya mulai serak terpeleset isak tangis yang tertahan.
"Hamba memohon kepada-Mu, jagalah malaikat kecil yang kini berada di hadapanku. Jauhkanl ah ia dari rasa sakit, dari air mata kekecewaan, dan dari segala kezaliman yang pernah hamba timbulkan atas kebodohan hamba di masa lalu. Jadikanlah hamba imam yang mampu memuliakannya, membahagiakannya, dan membimbingnya hingga ke jannah-Mu..."
Mendengar isi doa Fathan yang begitu tulus, yang terus mengagungkan namanya dan memohon ampunan atas luka-luka lama, air mata Humairah menetes tanpa bisa dibendung lagi.
Dada wanita itu bergemuruh hebat. Air mata yang keluar kali ini bukan lagi karena rasa sakit, melainkan karena rasa haru melihat ketulusan taubat suaminya.
Fathan mengakhiri doanya dengan usapan kedua tangan di wajah.
Masih dengan sisa-sisa air mata di pipinya, Fathan membalikkan tubuhnya menghadap sang istri. Ia menatap wajah Humairah yang kini basah oleh air mata di balik mukenanya.
Fathan beringsut mendekat, meraih kedua tangan Humairah lalu menggenggamnya erat-erat.
"Maafkan suamimu ini, jika dulu aku melukaimu, mengabaikanmu, bahkan membiarkanmu menangis sendirian di dapur itu, Humairah," ucap Fathan dengan suara yang tersendat oleh tangis.
Ia menundukkan kepalanya, mencium punggung tangan istrinya dengan takzim.
"Aku benar-benar menyesal. Demi Allah, aku berjanji akan menghabiskan sisa hidupku untuk menebus semua kesalahan itu dan membahagiakanmu di rumah ini."
Isak tangis Humairah pecah seketika. Bahunya terguncang hebat, membiarkan pertahanan yang ia bangun selama ini runtuh sepenuhnya di hadapan imamnya.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia menarik tangannya dari genggaman Fathan, lalu dengan gerakan lembut namun penuh emosi, Humairah mencium punggung tangan suaminya dengan lama.
"Kita mulai dari nol ya, Abi," ucap Humairah di sela sesenggukannya.
Panggilan 'Abi' yang ia sematkan terasa begitu sakral, sebuah tanda bahwa ia telah sepenuhnya menerima Fathan bukan hanya sebagai suami, melainkan sebagai sosok pemimpin rumah tangga yang ia harapkan untuk membimbingnya hingga ke surga.
Mendengar panggilan 'Abi' yang lembut namun penuh makna itu, hati Fathan seolah tersiram air sejuk.
Pria itu menganggukkan kepalanya dengan cepat, matanya yang berkaca-kaca menatap penuh kasih pada sang istri.
Fathan segera mengulurkan tangannya, menghapus jejak air mata di pipi Humairah dengan ibu jarinya, lalu membelai lembut pucuk mukena istrinya.
"Terima kasih, Humairah. Terima kasih telah memberiku kesempatan kedua," bisik Fathan dengan suara yang lebih stabil, penuh kelegaan.
Ruangan mushola kecil itu kembali hening, namun suasananya kini jauh berbeda—tidak ada lagi beban yang mengganjal di antara mereka.
Untuk menenangkan suasana hati mereka yang masih diliputi sisa rasa haru, Fathan mengambil Al-Qur'an kecil dari rak di sampingnya, lalu menyodorkannya kepada Humairah.
"Sambil menunggu adzan subuh, bolehkah aku mendengar lantunan ayat-ayatmu? Aku ingin hatiku ditenangkan oleh suaramu," pinta Fathan lembut.
Humairah menerima kitab suci itu dengan takzim.
Ia mulai membuka lembaran-lembaran Al-Qur'an, lalu melantunkan surah Ar-Rahman dengan suaranya yang begitu merdu, tenang, dan tajwid yang sempurna.
Ayat demi ayat meluncur dari bibirnya, menghantarkan kedamaian yang luar biasa di dalam rumah kecil tersebut.
Fathan duduk diam di atas sajadahnya, menatap wajah istrinya yang terlihat begitu bercahaya dalam balutan mukena putih.
Ia tidak mengedipkan matanya sama sekali, terbuai oleh setiap irama dan makna yang dibacakan oleh Humairah.
Di sana, di antara lantunan ayat suci itu, Fathan merasa bahwa rumah ini benar-benar telah menjadi benteng cinta mereka yang sesungguhnya.
Fajar yang sebentar lagi menyingsing di luar sana terasa seperti simbol kehidupan baru yang siap mereka jemput dengan penuh berkah.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭