NovelToon NovelToon
ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

ISTRI SALIHAH TITIPAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengantin Pengganti
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Uswatun Kh@

Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.

Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.

Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Rumah Baru

"Sekarang kamu adalah istri cucuku. Arlan Pramaditya, cucu tunggal keluarga Kusuma," tutur Tuan Wijaya.

Tuan Kusuma melangkah ke arah nakas. Ia menarik laci dan mengeluarkan sebuah foto. "Dia adalah Arlan suamimu. Aku baru saja mewakilkan ijab kabulnya. Jadi suamimu adalah dia, bukannya kakek, Safa."

Senyum Tuan Wijaya mengembang tat kala melihat rona merah di pipi cucu menantunya itu.

"Dia tidak bisa hadir hari ini karena masih ada urusan di luar negeri. Tapi kamu tenang. Sebentar lagi dia pasti pulang, jadi kamu bisa segera bertemu dengannya," ujar sang kakek.

Entah mengapa hati Safa menjadi lega. Ternyata bukan kakek tua yang menikahinya. Namun, ia tetap saja cemas, cemas bagaimana sikap sang suami nantinya.

Pernikahan ini jelas diatur. Bahkan saat ijab kabul hanya diwakilkan. Rasa takut dengan penolakan, sikap kasar tiba-tiba membayanginya.

Melihat ada keraguan di wajah Safa, Tuan Wijaya mendekat.

"Kamu kenapa? Kamu jangan takut, kalau anak itu berani bersikap kasar padamu, maka kakek yang akan memberinya pelajaran, ya?"

Dengan hati yang lebih tenang Safa mengangguk. Tersentuh dengan perhatian itu, ia meraih dan mencium punggung tangan sang kakek.

"Terima kasih, kek. Safa sangat senang, sebelumnya Safa gak pernah merasa diperhatiin seperti ini," ucapnya dengan mata yang berlinang.

Sang kakek menggenggam erat tangannya dan menepuk-nepuk pelan tangan punggung Safa.

"Mulai sekarang kamu bisa tenang. Di rumah ini, kamu bisa melakukan apapun yang Safa mau. Pelayan di sini akan melayani mu dengan sepenuh hati. Kamu tinggal bilang, mereka akan laksanakan."

Ucapan sang kakek mampu meluluhkan hati Safa. Rasanya hangat dan menyenangkan saat ada seseorang yang begitu memperhatikan.

Namun, ada sesuatu yang membuat Safa gundah. Ia meremas kain bajunya. Bibirnya ragu untuk berucap.

"Ada, apa? Katakan saja sama kakek." Mata sang kakek menatapnya dengan penasaran.

"Itu ... anu, saya kan masih kuliah," ucapnya terbata.

"Oh!"

Safa sontak terdiam.

"Tentang kuliah mu. Kamu tetap harus kuliah, Safa. Menuntut ilmu itu penting, bahkan jika kamu ingin melanjutkan hingga jenjang yang lebih tinggi, kakek akan mendukungmu sepenuhnya," ujar sang kakek.

Seketika senyum Safa merekah. Awalnya ia takut jika harus putus kuliah. Safa yang terlalu senang meraih tangan sang kakek menyentaknya berkali-kali.

"Makasih, Kek. Makasih banget!"

Tuan Wijaya meringis sambil menahan sakit. "Iya tentu. Tapi bisa lepas tangan kakek, gak? Nanti tangan kakek bisa copot loh."

"Eh, maaf Kek. Aku terlalu senang," ucap Safa sambil melepas tangan kakeknya.

"Iya ... iya kakek paham. Ya sudah sekarang lebih baik kamu istirahat, atau kamu mau keliling melihat-lihat?"

Safa hanya mengangguk. Tuan Wijaya berjalan pelan ke arah pintu.

"Luna!" panggilnya lantang.

Tak butuh waktu lama, Luna dengan pakaian rapinya datang. "Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"

Luna juga lantas menunduk ke arah Safa.

"Tolong kamu ajak Non Safa keliling agar dia tahu tempat ini. Dan juga segera siapkan makan siang dan segala keperluannya."

Luna mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya pasti akan melayani Non Safa dengan baik."

"Ha ... ha ... ha .... Bagus-bagus. Safa pergilah jalan-jalan dengannya, ya."

Safa mengangguk-angguk. "Baiklah, Kakek."

Tuan Wijaya segera meninggalkan mereka dengan langkah pelannya. Tak lama seorang lelaki menghampirinya dan membantunya berjalan.

Setelah Tuan Wijaya pergi Safa kembali masuk ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang dengan pikiran yang masih campur aduk.

"Tiba-tiba aja aku sekarang sudah jadi seorang istri," gumamnya lirih. Namun, Luna masih bisa mendengarnya.

"Selamat Non Safa. Sekarang Anda sudah resmi jadi Nyonya di rumah ini. Mungkin beberapa hari lagi, Tuan Arlan akan segera pulang," ungkapnya. Luna berjalan menuju lemari dan mengambil satu stel pakaian untuk Safa kenakan.

Ia mengangkat dan memperlihatkan ke arah Nona barunya. "Bagaimana, apa Anda suka pakaian ini? Kalau ia silahkan Non Safa ganti pakaian dulu baru setelah itu saya antar untuk lihat-lihat rumah ini."

Pakaian itu di ambil. Luna memutuskan untuk menunggu di luar. Setelah beberapa menit Safa keluar dengan pakaian barunya.

"Wah, cantik. Sangat cocok dengan Non Safa," pujinya, sorot matanya begitu tulus.

Safa berputar dengan bahagia. "Benarkah? Apa aku cantik?"

"Apa yang Non Safa katakan. Tentu saja Anda cantik. Bajunya juga pas banget," ungkapnya sambil merapikan beberapa yang terlihat kusut.

Safa menyentuh permukaan tuniknya. "Apa ini baru?"

Luna mengangguk. "Tentu saja. Semua pakaian di lemari itu baru. Apa Non Safa suka."

Sorot mata Safa berubah redup. Tak terasa netranya kembali tumpah.

"Loh, kok Non Safa nangis. Kenapa, Non? Saya salah ngomong, ya?

Cepat-cepat ia mengusap lelehan air mata itu. Dengan sekali hirupan, ingus yang hendak luruh masuk kembali.

"Eng ... gak. Aku cuma terharu aja. Ini kali pertama aku pakai pakaian baru setelah ayahku meninggal," ungkapnya. Sontak hal itu membuat Luna terenyuh.

"Oh, iya. Bagaimana aku memanggilmu?" timpal Safa.

Luna tersenyum. "Non Safa panggil saja saya Luna."

"Bagaimana mungkin saya manggil, nama. Lagian kamu lebih tua dari saya. Saya panggil Mbak saja, boleh?"

"Mana boleh, Non. Non Safa ini Nyonya saya, loh," sahut Luna.

Namun, Safa justru merengkuh dan memeluk erat lengan Luna. "Sudahlah Mbak. Aku lebih suka panggil Mbak. Biar lebih akrab, ya?"

Dengan hati ragu Luna mengangguk. Mereka mulai berjalan menyusuri halaman. Luna hanya merespon dengan senyuman. Mengiyakan permintaan Safa.

Safa tertegun, matanya menyapu setiap sudut kediaman keluarga Kusuma yang tampak megah sekaligus bersahaja. Alih-alih satu bangunan utuh, hunian ini lebih menyerupai sebuah kompleks kerajaan kecil yang tertata rapi.

Bangunan utama berdiri kokoh di pusat, sementara paviliun yang akan menjadi kamarnya terletak di sisi barat, dikelilingi oleh taman yang luas.

Udara di sana terasa asri, membawa ketenangan yang selama ini asing bagi Safa. Setiap kali berpapasan dengan pelayan, mereka membungkuk hormat dan menyapanya dengan senyum tulus, sebuah keramahan yang terasa begitu kontras dengan dinginnya perlakuan di rumah lamanya.

Langkahnya terhenti tepat di tengah jembatan kayu yang melintasi danau buatan.

Sambil menatap riak air yang tenang, ia bergumam lirih, "Sepertinya aku akan betah di sini. Mereka semua begitu baik ... semoga suamiku pun memiliki hati yang sama."

"Tentu saja, Non. Tuan Wijaya sangat memanjakan Anda karena Anda merupakan satu-satunya cucu menantu di keluarga ini," ungkap Luna bersemangat.

Safa menoleh. "Benarkah? Memangnya berapa anak kakek Wijaya?"

"Tuan Wijaya punya dua anak. Anak pertama adalah mertua, Non Safa. Yang kedua Nyonya Laksmi Kusuma, tapi beliau tidak punya anak, jadi Tuan Arlan cucu satu-satunya."

Dengan sorot mata penuh keyakinan, Luna berkata, "Saya juga yakin, Tuan Arlan pasti memperlakukan Non Safa dengan baik. Karena Tuan Arlan orang yang baik."

Namun, di balik kata-kata itu, ada sorot mata yang menerawang jauh, menyimpan keraguan pada takdir yang masih menjadi teka-teki.

1
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
siapa sih yg sering wa mas Arlan
Siti Anisa
bagus novelx suka
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
hahhahaha.. aku ngakak ngebayangin ekpresi nya si Arlan🤣🤣🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
ganjalannya pasti tentang perasaan masing-masing🥺🥺
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
nggak ada.. nggak punya/Tongue//Tongue/
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦Fhˢ⍣⃟ₛᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☠️⃝🦐
ya ampun, siapa itu😬😬😬😬
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
aq g absen hari di mana mana krn khusus buat baca novel🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: hok O di maratonin ma aunty🤭
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
safar cerita aja ttg hendra ke suami kamu ya
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
uhuk uhuk
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
idih gtau aja klo safa it istri bos kamu, klo sampe tau bs mati mendadadak riana😂
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
edgar sama farah aja thori, klo author g jodohin edgar sama farah, kalo gitu edgar sama aq aja gimana setujuh kan?
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: ihh aunty mah.. 🤣🤣
Berondong itu aunty, mau kah aunty🤭🤭
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
heronya safa dateng🫶😂
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
siapa ya
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
blm tau aja suami safa orang keyong
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
sampe trauma begitu
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
arlan klo kamu tau safa sprti apa di rumah nya pasti kamu kasian
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
adit ini bener bener mulutnya seperti omprengan
𝓐𝔂⃝❥ ⃟🥑⃟ Sᴇɴᷢᴀͥᴀͥ☠️⃝⠀
mampir thor 🤔
Shankara Senja
safa itu bodoh bngt ya..apa apa diem..lebih baik dihajar abis sm mama lo dari pd dihajar abis diranjang sm bpk tiri lo.masa depan lo hancur ..kabur ,kek,takut bngt ga nemu makan..apa pengen ngancurin masa depan lu di perkosa bapak tiri lo..lo hancur jg keluarga lo ga perduli
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©Luo Yi⧗⃟: Iya mungkin kabur lbih enak. Tapi ada sebagian orang gak akan berani kak. Mereka selalu memikirkan bakti dan takut akan hal-hal yang belum pasti. 🤧
total 1 replies
🏡⃟ªʸ SAKURA🌸
ingat safa selalu tutup pintu dan kunci klo perlu gembok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!