Risti adalah anak yang dikucilkan di keluarganya, hanya ada ayah dan satu saudara laki-laki yang menganggapnya. Risti adalah anak pertama ibunya yang merupakan istri kedua ayahnya. Sedangkan ibu tiri Risti memiliki 4 orang anak.
Indriana yaitu ibu Risti sudah meninggal saat melahirkan Risti, Risti pun dibesarkan oleh seorang pembantu karena ibu tirinya yang bernama Bu Dewi tidak sudi membesarkan Risti.
***
Suatu hari,
Windi yang merupakan anak sulung Bu Dewi dijodohkan oleh seorang laki-laki yang kabarnya sudah tua, penyakitan dan juga tidak bisa diandalkan. Akhirnya saat hari pernikahan Windi kabur dari rumah, tanpa sepengetahuan Risti tiba-tiba dia yang menggantikan pernikahan kakaknya itu.
Dan ternyata pria yang dinikahkan dengannya adalah seorang mafia
Apakah mereka akan berakhir bahagia?
Simak terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fera Aisha Syaidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Windi
Jesi dan Leon melongo sangat lama sembari melihat dua pasangan yang sedang berpelukan di depannya itu, Rama kaget tapi tidak bisa melongo akhirnya dia hanya kaget saja.
“Udah jangan nangis, malu diliatin sodara kamu sampai melongo gitu.” Vino menyeka air mata Risti.
“Iya, mas sih nggak pakai masker tadi,” kata Risti sesenggukan.
“Lupa, kamu juga nggak ingetin mas sih,” kata Vino sembari tersenyum. Jesi mengucek-ucek matanya, apakah benar pria di depannya saat ini adalah kakak iparnya, orang yang hampir menikah dengan kak Windi.
Tau gini aku aja yang gantiin pernikahannya dulu. (Batin Jesi)
“Kak Rama, ngomong dong jangan bikin Risti takut.” Risti mendekat ke arah Rama.
“Dia belum bisa ngomong,” sahut Jesi. Rama tersenyum menandakan jika perkataan Jesi memang benar adanya.
***
Sementara itu...
Pak Rian membawa Windi pulang ke rumah, Bu Dewi juga ikut di sana untuk mendengar kesaksian dari Windi. Tubuh Windi dihempaskan ke sofa oleh Pak Rian.
“Cepat katakan! apa yang sudah kamu lakukan!” bentak Pak Rian. Windi diam saja enggan menjawab.
“Cepat bilang Windi, kalau kamu memang tidak bersalah jangan takut,” bujuk Bu Dewi. Windi tetap diam saja.
“Jawab!” Pak Rian semakin emosi melihat sikap Windi yang tidak sesuai ekspektasinya.
Plakk!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Windi, Windi hanya bisa menangis dan memegangi pipinya yang sudah bercap tangan.
“Jangan kasar begitu pah sama Windi,” Bu Dewi tidak tega melihat anaknya disakiti oleh ayahnya sendiri.
“Kamu masih membelanya?! biar kutunjukkan kepadamu agar kau bisa mengerti betapa berdosanya anak ini.” Pak Rian mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah vidio berdurasi 10 menit yang memperlihatkan kejadian kemarin saat di hotel termasuk saat Leon dan Rama dibius.
Bu Dewi syok, bagai disambar petir di siang bolong, kakinya terasa berat pikirannya bercampur aduk, anak yang sangat Ia banggakan ternyata mempunyai kebiasaan seperti itu. Dadanya terasa sakit dan sangat sesak.
Brukk
Bu Dewi pingsan kembali,
“Ibu!” teriak Windi, dia hendak mendekat kepada ibunya...
“Jangan sentuh ibumu! kau anak yang tidak tau malu!” bentak pak Rian, seketika Windi mundur kembali. Pak Rian bersiul dan datang 2 orang lelaki.
“Bawa istri saya ke rumah sakit sekarang juga!”
“Baik bos,” jawab mereka berdua. Mereka kemudian mengangkat Bu Dewi dan segera membawanya ke rumah sakit.
“Sekarang juga kamu kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini! aib keluarga sepertimu tidak bisa tinggal di sini lagi! mulai sekarang, tidak ada keluarga Hermawan yang memiliki anak bernama Windi! kamu ayah coret dari kartu keluarga!” Pak Rian melemparkan 1 tiket pesawat yang ditujukan ke luar negri, dan juga 1 buah kartu debit yang sudah dilabeli pin untuk penarikan.
Pak Rian langsung keluar dari rumah dan menyusul Bu Dewi ke rumah sakit, Windi kembali ke kamarnya dan mengemasi semua pakaiannya.
Awas saja kau Rian! aku akan membalasmu suatu hari nanti! (Batin Windi)
***
Di rumah sakit,
“Dokter tolong!” teriak kedua lelaki yang membawa bu Dewi ke rumah sakit. Dokter membawa bu Lastri ke dalam ruang ICU. Entah apa yang terjadi di dalam tapi dokter terdengar panik.
20 menit kemudian,
Dokter keluar dari ruang ICU,
“Ada apa dengan istri saya dokter?” tanya Pak Rian khawatir.
“Istri anda mengalami serangan jantung pak, untungnya bapak segera membawanya ke rumah sakit, kalau tidak sedikit lagi mungkin nyawa istri anda tidak akan tertolong,” kata dokter.
“Kalau begitu saya permisi.” dokter melangkah menjauh.
Pak Rian langsung berjongkok.
Kenapa masalah selalu datang bertubi-tubi. (Batin Rian)
“Bos,” kedua lelaku itu khawatir melihat Pak Rian yang tiba-tiba berjongkok.
“Tidak apa-apa, hanya sedang merenungkan nasib saja,” kata Pak Rian.
“Aku akan ke ruangan Leon dan Rama, kalian di sini saja, jaga istri saya, jika ada apa-apa langsung hubungi saya,” kata Pak Rian.
“Siap bos,” jawab mereka berdua bersamaan.
Pak Rian pergi ke bangsal Minna Arofah untuk menemani Leon dan Rama, Pak Rian tau Jesi anaknya bosanan.
***
“Ayah dan ibu kemana Jes?” tanya Risti.
“Ayah dan Ibu sedang memberi hukuman pada kak Windi, mereka pergi ke mana aku juga tidak tau,” jawab Jesi, Jesi sekarang terlihat ramah karena ada Vino, akan tetapi Vino malah merasa jijik, dia sebenarnya sudah tau sifat asli Jesi tapi hanya pura-pura tidak tau saja.
Tugasku hanya pura-pura percaya dengan kebohonganmu. (Batin Vino)
Ada seseorang yang berjalan mendekat dan masuk, tidak salah lagi itu adalah Pak Rian,
“Ayah,”
“Risti.” Pak Rian berlari dan memeluk Risti.
“Ayah rindu sekali padamu, kenapa kamu tidak pernah pulang ke rumah?” tanya Pak Rian.
“Iya aku juga rindu denganmu ayah,” kata Risti.
“Ehem, pulang juga buat apa? toh bapak juga nggak ada di rumah,” timpal Vino. Pak Rian melepaskan pelukannya dan berjabat tangan dengan Vino.
“Ehh, ada Vino, iya juga ya semenjak kalian menikah aku berada di luar kota,” Pak Rian merasa malu dengan perkataannya tadi.
“Ayah, dia benar-benar Vino? yang dulu ingin dijodohkan dengan kak Windi?” tanya Jesi.
“Jangan sebut nama itu lagi, iya dia adalah Vino orang yang ingin ayah jodohkan dengan kakakmu,” kata Pak Rian.
“Hah! tapi kata kak Windi Vino itu sudah tua, penyakitan dan tidak bisa apa-apa, nah ini...ini malah kebalikannya,” Jesi tambah kaget.
Jika saja aku bisa bicara, aku tidak akan menjadi nyamuk di sini. (Batin Leon dan Rama)
“Ohh, jadi itu alasan dia kabur malam itu? ayah sengaja berbohong karena ingin menguji kakakmu ini juga atas keinginan Vino sendiri,” kata Pak Rian.
“Iya, aku tidak mau jika ada seseorang yang memandang fisik,” sahut Vino.
“Kenapa harus Risti yang menggantikan kenapa bukan aku saja ayah? jelas-jelas aku lebih cantik dari Risti.” sesal Jesi.
PD sekali, muka kaya pantat panci gitu mau dibandingin sama muka Risti yang sebening kaca. (Batin Rama)
“Kamu saja tidak mau sudah ditawari,” jawab Pak Rian dengan muka datarnya.
“Aku juga tidak mau denganmu, kamu itu kaya kedondong, mulus di luar saja, dalemnya kasar, aku hanya ingin Risti seorang.” Vino merangkul Risti yang berada di depannya.
“Dengar sendiri kan apa kata Vino?” tanya Pak Rian membuat Jesi cemberut, Leon dan Rama ingin tertawa tapi tidak punya tenaga, alhasil mereka hanya tersenyum saja.
“Tidak kusangka kamu akan tetap memilihku,” kata Risti terharu.
“Iya dong sayang, kan hanya ada kamu di hati aku.” Vino ingin mencium Risti...
“Ehem, aku hanya sebuah patung di sini, jangan pedulikan aku,” kata Pak Rian menyela.
“Hehehe maaf pak,” kata Vino, dia mengurungkan niatnya untuk mencium Risti.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca 🌺
Dukung karya Author:)
Tbc.