NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan Azan

Suara itu datang dari masjid desa yang tak jauh dari rumahnya. Suara yang dulu selalu membuatnya bergegas mengambil air wudhu.

Suara yang dulu selalu membuat hatinya tenang, membuat dadanya lapang, membuat seluruh tubuhnya merasa ringan seperti sedang melayang. Suara yang dulu baginya adalah panggilan paling indah yang pernah diciptakan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar...

Rafiq merasakan sesuatu di dadanya.

Bukan ketenangan. Bukan kelapangan. Bukan rasa ringan yang dulu.

Sakit yang tiba-tiba menusuk dari dalam dadanya, seperti ada tangan yang mencengkeram jantungnya dan meremasnya perlahan. Ia merasakan napasnya tersengal.

Dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya, meskipun pagi itu tidak dingin.

Asyhadu alla ilaha illallah...

Tulisan di dahinya terasa panas. Bukan hangat seperti biasanya. Panas. Panas yang menyengat, seperti ada besi membara yang ditempelkan di kulitnya. Rafiq mengerang pelan.

Tangannya naik ke dahi, mencoba menekan rasa panas itu, tapi tangannya sendiri terasa dingin di kulitnya yang membara.

Ia menutup matanya. Berusaha mengabaikan rasa itu. Berusaha mengabaikan suara azan yang terus mengalun dari kejauhan.

Tapi suara itu tidak bisa diabaikan. Suara itu masuk ke telinganya, merambat ke dalam kepalanya, menusuk ke setiap sudut pikirannya. Dan setiap kali suara itu menyentuh kesadarannya, rasa panas di dahinya bertambah.

Seperti ada perang yang terjadi di dalam dirinya. Perang antara suara yang dulu ia cintai dan stempel hitam yang kini mengakar di kulitnya.

Ashhadu anna Muhammadar Rasulullah...

Rafiq membuka matanya. Napasnya terengah-engah. Ia menatap cermin di depannya, menatap wajahnya sendiri yang pucat dengan keringat membasahi dahi.

Tulisan hitam di tengah dahinya kini terlihat menyala. Bukan menyala dalam arti sebenarnya, tapi ada cahaya merah samar di tepi-tepi huruf itu. Cahaya yang berdenyut mengikuti detak jantungnya yang semakin cepat.

Hayya 'alash shalah... Hayya 'alal falah...

Rafiq merasakan kakinya bergerak. Bukan karena ia ingin bergerak. Kakinya bergerak dengan sendirinya, membawanya menjauh dari jendela, menjauh dari suara azan yang semakin keras. Ia mundur, mundur hingga punggungnya membentur dinding kamar. Ia bersandar di sana, menekan dadanya yang terasa seperti akan meledak.

"Apa yang terjadi padaku?" bisiknya dengan suara parau.

Ia merasakan sesuatu yang aneh. Di dalam dirinya, ada dua kekuatan yang bertarung.

Satu sisa dari dirinya yang dulu—ingin berlari mengambil air wudhu, ingin menghadap kiblat, ingin menjawab panggilan yang selama 32 tahun ia penuhi tanpa pernah terlewat.

Tapi yang lain—yang baru, yang hitam, yang tertulis di dahinya—menahannya. Menahannya dengan rasa sakit. Menahannya dengan panas yang membakar. Menahannya dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari keinginannya sendiri.

Allahu Akbar, Allahu Akbar...

Azan berakhir.

Rafiq terduduk lemas di lantai kamar. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat. Kemeja putihnya yang baru ia kenakan pagi itu sudah basah menempel di punggung dan dadanya. Napasnya masih terengah-engah, seperti baru saja berlari jauh.

Ia mengangkat tangannya, menatap telapak tangannya yang gemetar. Tangannya sendiri. Tangannya yang dulu selalu terangkat dalam doa setelah sholat. Tangannya yang dulu selalu dinaikkan ketika mengamini doa imam di masjid.

Sekarang tangannya gemetar bukan karena takut pada Tuhan. Tapi karena takut pada suara panggilan-Nya.

Rafiq menunduk. Ia tidak menangis. Air matanya sudah habis sejak malam Fatih meninggal. Yang tersisa hanya kekosongan.

Dan di dalam kekosongan itu, perlahan, sesuatu mulai tumbuh. Bukan iman. Bukan ketakwaan. Tapi kesadaran. Kesadaran bahwa ia telah melangkah terlalu jauh.

Bahwa pintu yang ia buka tidak akan pernah bisa ia tutup kembali. Bahwa stempel di dahinya bukan sekadar tanda—itu adalah belenggu.

La ilaha illallah...

Bisikan itu keluar dari mulutnya tanpa ia sadari. Kalimat yang dulu menjadi pegangan hidupnya. Kalimat yang ia ajarkan pada Fatih ketika anak itu baru bisa bicara. Kalimat yang ia ucapkan ribuan kali dalam sehari.

Tapi kali ini, ketika kalimat itu keluar, tulisan di dahinya menyala. Panas. Menyakitkan. Seperti ada yang membakar kulitnya dari dalam.

Rafiq mengatupkan mulutnya. Ia tidak mengucapkan kalimat itu lagi. Ia tidak bisa.

Stempel itu tidak mengizinkannya.

Ia bangkit perlahan, kakinya masih terasa lemas. Ia berjalan ke jendela, menatap ke luar. Masjid desa terlihat di kejauhan, kubah hijaunya berkilat terkena sinar matahari pagi.

Beberapa warga sudah mulai berjalan menuju masjid, mengenakan sarung dan peci, membawa sajadah di pundak.

Pemandangan yang dulu membuatnya tersenyum. Pemandangan yang dulu membuatnya ingin segera bergabung. Kini hanya membuat dadanya sesak.

Ia menarik tirai jendela. Menutupnya rapat-rapat.

Rafiq berjalan keluar kamar, menuju ruang tamu. Di atas meja kayu kecil, Al-Qur'an usang milik ayahnya masih terbaring di tempat yang sama sejak tiga hari lalu.

Sampulnya yang berwarna hijau tua sudah lusuh di tepi-tepinya. Halaman-halamannya menguning karena usia. Ayahnya dulu selalu membaca kitab ini setiap malam setelah Isya, dengan suara yang merdu dan lirih.

Rafiq berdiri di depan meja itu. Ia menatap Al-Qur'an yang terbaring di sana. Terjangkau. Sangat terjangkau. Hanya sejengkal tangannya. Ia hanya perlu mengulurkan tangan, membuka sampulnya, dan membaca.

Ia mengulurkan tangannya.

Tangannya berhenti di udara, beberapa senti dari sampul kitab itu.

Tulisan di dahinya terasa panas. Membara. Menyala. Rafiq menarik tangannya kembali.

Ia tidak bisa. Ia tidak bisa menyentuhnya. Setiap kali ia mendekat, ada sesuatu yang menahannya.

Bukan sesuatu dari luar. Tapi dari dalam. Dari dirinya sendiri. Atau dari stempel yang kini menjadi bagian dari dirinya.

Ia berbalik. Meninggalkan Al-Qur'an itu di atas meja. Meninggalkan satu-satunya sisa dari ayahnya yang masih ia miliki. Meninggalkan satu-satunya hal yang dulu bisa menenangkannya.

Ia berjalan ke teras rumah. Udara pagi menyambutnya dengan segar, tapi ia tidak merasakan kesegaran itu. Yang ia rasakan hanya hampa. Hampa yang semakin dalam. Hampa yang semakin gelap.

Ia duduk di kursi bambu yang sudah lapuk, menatap ke arah pohon beringin di belakang rumah. Di bawah sinar matahari pagi, pohon itu terlihat biasa saja.

Daun-daunnya hijau segar, akar-akarnya yang menjalar tampak kokoh mencengkeram tanah. Tidak ada bayangan hitam. Tidak ada mata merah. Tapi Rafiq tahu mereka ada di sana. Menunggu. Mengawasi. Menyambutnya.

Ia merasakan sesuatu di saku celananya. Botol kecil yang diberikan Mbah Jaya kemarin—isinya cairan hitam yang harus ia minum setiap pagi. Rafiq mengeluarkannya, membuka tutupnya, dan menenggak isinya dalam satu tegukan.

Pahit. Selalu pahit.

Tapi setelahnya, selalu ada kehangatan yang menyebar dari perutnya ke seluruh tubuh. Kehangatan yang membuatnya lupa. Lupa pada suara azan yang masih mengiang di telinganya.

Lupa pada Al-Qur'an yang ia tinggalkan di atas meja. Lupa pada tangannya yang gemetar ketika hendak menyentuh kitab suci itu.

Kehangatan yang membuat segalanya terasa... baik-baik saja. Rafiq menutup matanya. Angin pagi membelai wajahnya yang pucat, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Di kejauhan, suara warga yang baru selesai sholat Subuh mulai terdengar. Suara salam-salaman, suara tawa kecil, suara kehidupan yang normal.

Ia tidak lagi menjadi bagian dari itu.

Ia memilih jalannya sendiri. Jalannya yang gelap. Jalannya yang tidak akan pernah lagi bersentuhan dengan cahaya.

Ia membuka matanya. Menatap tangannya yang kini sudah tidak lagi gemetar. Tangannya mantap. Pasti.

"Sudah tidak ada jalan kembali," bisiknya pada

dirinya sendiri.

Dan di dalam hatinya yang hancur, di dalam stempel hitam di dahinya yang terus menyala, di dalam kekosongan yang menggantikan imannya, Rafiq Al Farisi berdiri di persimpangan yang hanya memiliki satu jalan.

Jalan menuju balas dendam.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!