Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.
Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.
Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.
Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.
Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi
penjahat keji.
Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.
Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Raja Kota Liu Yaoshan
Dua orang muda itu mengendap-endap mencari posisi yang tepat untuk melepaskan serangan jarak jauh untuk memancing para penjaga gerbang.
"Sepertinya dari jarak dari sini sudah cukup bagi kita untuk kembali ke tempat tadi." Yunzhi segera mengumpulkan energi ke telapak tangan kanannya dan menembakkannya ke arah tembok pagar di dekat sebuah rumah.
Boom
Walau hanya serangan ringan tapi suara dentumannya sudah cukup nyaring untuk didengar hingga gerbang kota.
"Sepertinya ada yang bertarung di dekat sana, ayo cepat kita tangkap mereka. Adik Ha kau tetap berjaga
Disini" perintah kepala penjaga.
Yunzhi dan Feng Yan sudah kembali ke posisi awal mereka.
Sial, mereka meninggalkan satu orang untuk berjaga. Sekarang apa yang harus kita lakukan Kak?" Baru saja Feng Yan bertanya Yunzhi sudah melesat ke arah belakang penjaga dan memukul tengkuknya hingga pingsan.
Feng Yan langsung berlari setelah melihat Yunzhi pergi keluar dari gerbang setelah membekuk penjaga.
Tak berapa lama dua orang muda mudi itu berhenti berlari setelah merasa tidak ada yang mengejar mereka.
"Kakak mengapa kau langsung pergi sendiri" tanya Feng Yan yang masih terengah-engah.
"Haaah, sejak kapan kita jadi sebuah tim?" Gadis itu melotot sambil berkacak pinggang menatap Feng Yan.
Selagi berdebat tanpa mereka sadari seseorang sedang berdiri tidak jauh di hadapan mereka berdua.
"Ehem"
"Siapa?" tanya mereka serempak sambil mencabut pedang dari warangkanya.
"Sudah selesai berdebatnya anak muda?" tanya pria yang dari suaranya terdengar sangat berwibawa.
"Siapapun tuan kami tidak ingin mencari masalah denganmu, kuharap tuan tidak menyulitkan kami berdua." Ucap Yunzhi sedikit mengintimidasi.
"Hahaha"
"Kau sungguh gadis yang
Pemberani, aku cukup kagum pada keberanianmu. Aku tidak ingin menyulitkan kalian tapi kalianlah yang sudah menyulitkanku." Pria ini berbicara sambil terus mendekat pada dua muda mudi yang sudah mulai dihinggapi kecemasan.
Mereka sangat paham kalau orang di hadapan mereka sangat kuat hanya dengan merasakan auranya saja.
"Apa maksud tuan? Kita sepertinya belum pernah bertemu sebelumnya bagaimana mungkin kami menyinggung tuan pendekar." Yunzhi mulai menguatkan pegangan pada genggaman pedangnya.
Sementara itu Feng Yan terlihat gemetaran memegang pedang dan melangkah mundur perlahan.
"Kakak, Tidak mungkin kita berdua bisa melawan orang ini." Bisik Feng Yan
Pelan memperingatkan Yunzhi.
"Apa kau pikir kita berdua bisa kabur dari orang ini? Ia bisa dengan mudah menangkap kita".
"Hahaha, rencana apa yang kalian bicarakan? Jangan harap kalian bisa meninggalkan kota Pintu Angin setelah kalian berani membuat kekacauan di kotaku."
"Anak muda, sepertinya kalian harus tinggal lebih lama dikota ini hingga kalian membayar segala kerusakan yang kalian sebabkan. Atau kalian tinggal dan menjadi pelayan hingga waktu yang ditentukan oleh hakim kota." Pria itu menjelaskan hukuman yang akan mereka terima.
"Lebih baik aku mati daripada harus jadi pelayan di kotamu" ucap Yunzhi dengan angkuh karena tidak terima bila dihukum menjadi pelayan.
"Kakak, sepertinya orang ini raja kota Pintu Angin" bisik Feng Yan lagi.
"Hoo, gadis ini cukup pemberani rupanya. Dari keluarga atau sekte mana kau berasal?."
Baru saja Liu Yaoshan berbicara Yunzhi sudah menerjang dengan menyabetkan pedang ke arah leher pria itu.
Tapi dengan mudah dihindari dengan mundur selangkah kebelakang.
Namun Yunzhi ternyata cukup cekatan memainkan pedangnya.
Wutt, wutt
Beberapa kali ia menebaskan pedang namun semua serangannya bisa dihindari dengan mudah oleh Liu Yaoshan.
ZHAO YUNZHI!!
"Wow, berkah nama yang kuat" ucap raja kota mengagumi kekuatan berkah nama Yunzhi.
"Tapi itu tidak akan cukup untuk melawanku". Raja kota seperti bermain-main menghadapi semua serangan gadis yang menyerangnya.
"Sepertinya aku harus menggunakan jurus level tinggi untuk mengalihkan perhatian orang ini untuk mencoba kabur" pikir Yunzhi.
"Feng Yan jangan diam saja, cepat bantu aku bodoh! Bentak Yunzhi pada Feng Yan yang sedari tadi hanya memperhatikan pertarungan.
"Apa yang harus kulakukan? Mengalahkan orang ini tidak mungkin. Satu-satunya cara adalah mengalihkan perhatiannya lalu berlari ke dalam hutan. Semoga saja bisa bersembunyi di dalam sana" Feng yang berusaha
Memikirkan cara untuk kabur.
"Sebaiknya kucoba menggunakan salah satu jurus pedang yang sudah kupelajari." Lalu Feng Yan mengangkat pedang lurus diatas kepala dengan tangan kanannya. Mengalirkan energi berwarna hijau hingga terpancar dari bilah pedang dengan sangat terang.
"Ini?! awalan jurus pedang Cahaya Bintang." ucap Raja kota Liu kagum.
Lalu hanya dalam satu kedipan ia sudah berada di depan Feng Yan yang terkejut melihat lawan sudah di depannya.
"Huang Kai?" Ucap raja kota setelah melihat wajah dari pemuda belia yang ia hadang.
Feng Yan tertegun setelah mengenali sosok hebat yang menjadi lawannya.
"Paman Liu" Feng Yan tak percaya kalau ternyata raja kota Pintu Angin adalah orang yang cukup ia kenal.
"Feng Yan, menjauhlah dari orang itu!" teriak Yunzhi memperingatkan setelah ia mempersiapkan teknik terkuat yang iya miliki.
Sebuah rune sihir besar berwarna biru muncul di atas kepala gadis itu dan sebuah pedang dari elemen air muncul dari tengah-tengah rune tersebut.
"Hoo, gadis ini benar-benar mengejutkanku. Di usianya yang masih remaja sudah bisa menggunakan teknik tingkat tinggi." Raja kota Liu hanya tersenyum melihat Yunzhi yang akan menyerang.
"Kakak tenanglah, paman Liu bukan orang jahat!" Feng Yan mencoba meredakan pertikaian.
"Paman Liu? Jadi kalian saling kenal?" tanya Yunzhi.
Feng Yan mengangguk sebagai balasan.
Hahaha
"Huang Kai, aku benar-benar kagum. Baru sehari kau keluar tapi sudah berhasil mendapatkan seorang gadis." Ucap raja kota menggoda pemuda di dekatnya.
"Paman bukan seperti itu" Feng Yan terlihat sangat kesal dengan ucapan orang yang dia sebut paman.
"Aku bukan gadis rubah kecil itu" Yungzhi marah sambil mengacungkan pedang.
"Hahaha, kalian berdua terlihat cukup akrab"
"Huang Kai aku sudah dengar berita
Tentangmu hari ini, bagaimana keadaanmu?." tanya Raja kota Liu sambil memperhatikan pedang yang di genggam pemuda itu.
"Feng Yan, kenapa ia memanggilmu Huang Kai?" bisik Yunzhi setelah mendekat pada Feng Yan.
Orang yang ditanya hanya menatap balik terlihat bingung bagaimana harus menjawabnya.
"Jadi benar kalau kau bocah buangan yang diberitakan itu" Yunzhi menutup mulutnya karena tak percaya.
Yunzhi memberi salam pada raja kota " Tuan raja kota, kami benar-benar minta maaf sudah membuat gaduh di kotamu. Tapi kami hanya membela diri dari orang orang picik itu" Yunzhi berusaha membela diri di hadapan raja kota.
Raja kota akan berbicara namun sudah didahului oleh Feng Yan.
"Paman mengenali pedang ini?" tanyanya penasaran.
"Ya, tentu saja aku mengenali pedang dan jurus yang kau gunakan. Itu pedang Peri Teratai Hijau milik mendiang ibumu dan jurus yang kau gunakan Pedang Cahaya Bintang" Raja kota menjelaskan.
"Pedang Peri Teratai Hijau?" Feng Yan akhirnya mengetahui nama pedang itu yang ternyata milik ibunya dulu.
"Tunggu dulu! Bagaimana mungkin rubah kecil ini bocah buangan yang baru berkultivasi? Sementara ia sudah di ranah pemurnian tubuh tahap akhir" Yunzhi masih terlihat belum sepenuhnya percaya.
Mendengar ucapan gadis itu Liu
Yaoshan terperanjat, ia sebelumnya tidak memperhatikan karena terkejut mengenali pedang yang digunakan Feng Yan.
Ia lalu mengamati tubuh pemuda kecil itu.
"hahaha, Huang Kai kau benar-benar mengejutkanku. Orang-orang tua itu pasti akan menyesali keputusan yang mereka buat. Baru kali ini aku melihat ada yang memasuki dunia kultivasi langsung ke tahap akhir di pemurnian tubuh"
Mendengar itu Yunzhi benar-benar tidak tahu harus berkata apa.