Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 1,5 triliun
Tak perlu waktu lama, akhirnya mobil yang di kendarai mereka sampai di sebuah toko yang terlihat cukup ramai dan megah.
Mereka semua turun, beberapa orang langsung menyambut Aruna sambil menunduk hormat.
“Apa itu kekasihnya non Aruna?” bisik salah satu pegawai kepada teman di sebelahnya.
“Sstt! Udah diem aja kamu,” sahut teman di sebelahnya.
Aruna melangkah ke dalam toko dengan tenang, di ikuti oleh Nova. Sementara sopir Aruna menunggunya di dalam mobil.
“Silahkan non, duduk,” ucap si manajer toko sambil memperhatikan ke arah Nova dengan tatapan yang menyelidik.
“Nova ayo duduk,” ajak Aruna.
Nova pun duduk di sofa khusus tamu VIP itu, keduanya di suguhi beberapa cemilan dan minuman segar. Tak lama setelah itu, pintu toko kembali terbuka muncul dua orang berjas hitam membawa koper menghampiri Aruna dan Nova.
“Selamat siang Nona Aruna,” sapa dua orang pria yang baru saja datang itu.
Keduanya duduk di kursi sebrang Aruna dan Nova, lalu salah satunya membuka suara lebih dulu dan menatap Nova dan Aruna secara bergantian.
“Baiklah, apakah pemuda ini yang nona ceritakan?” tanya pria berjas hitam itu.
Aruna mengangguk pelan, seraya menoleh ke arah Nova sekilas lalu menatap kembali pria di hadapannya itu.
“Benar, Jack. Ini temanku, yang akan menjual berlian yang ku ceritakan tadi,” jawabnya.
Jack mengulurkan tangannya ke arah Nova sambil tersenyum.
“Namaku, Jack senang bertemu dengan mu tuan muda Nova.”
Kemudian pria di sebelahnya melakukan hal yang sama.
“Namaku, Andreas, asisten pribadi nona Aruna.”
Mendengar itu Nova sedikit terkejut, wajar saja karena Aruna adalah seorang putri konglomerat yang terkenal, yaitu tuan Arga Pratama.
“Baiklah, tuam muda. Mana berlian yang di maksud, biar aku periksa,” ucap Jack.
Semua karyawan toko mendengarkan itu, mereka terkejut saat tahu pemuda yang datang bersama Aruna akan menjual sebuah berlian.
Begitu, Nova mengeluarkannya semua orang dibuat terdiam dan membelalakan matanya. Jack dan Andreas dibuat menelan ludah berkali-kali, karena berlian yang mereka lihat sebesar kepalan tangan dewasa.
“Ya ampun!” ucap Andreas saat melihat berliannya.
Jack segera menggunakan sarung tangan karet, begitupun dengan Andreas. Keduanya mengeluarkan alat-alat untuk menguji keaslian dan kemurnian berlian yang di bawa Nova itu.
Sebelum keduanya menguji keaslian berlian itu, Jack terlebih dulu menimbang berat dari berlian itu. Semua orang di buat terkejut saat mengetahui berat berliat itu sebesar 2.492 karat atau setara dengan 498,4 gram.
Jack kembali menelan ludahnya berkali-kali, dan terus memastikan bahwa berat berlian itu benar-benar apa yang di lihatnya dari layar digital kecil timbangan khusus yang di bawanya.
“I-ini... darimana kau mendapatkan ini, tuan muda?” tanya Jack mencoba memastikan.
Nova terdiam sejenak lalu, menjawab dengan tenang. Ia sudah menyiapkan semua jawaban yang pasti datang kepadanya.
“Itu peninggalan kakek ku, dia meninggalkannya untuk ayahku. Dan sebelum dia sempat menjualnya, ayahku meninggal,” jawab Nova.
Terdengar masuk akal memang, tapi hal ini akan menjadi sesuatu yang sensitive jika di dengar publik dan pemerintah. Maka dari itu, tanpa perintah Andreas langsung menutup penuh toko perhiasan milik keluarga pratama itu.
“Semua yang ada disini, di larang memberitahukan kepada siapapun apa yang sudah kalian lihat dan kalian ketahui, jika ada yang melanggar maka kalian akan menerima akibatnya,” ucap Andreas dengan nada yang terdengar tegas dan penuh ancaman.
Para karyawan toko mengangguk paham, mereka tahu bagaimana sifat asisten nona muda Aruna itu, tidak memiliki toleransi pada siapapun yang melakukan kesalahan.
Nova yang melihat itu mengerti, ia paham bahwa benda yang ia bawa akan memicu kejahatan terjadi. Karena harga berlian itu dapat di pastikan akan menyentuh harga triliunan.
“Baiklah, jika tuan muda ingin menjualnya, harga yang pasti untuk berlian mentah ini bisa mencapai satu koma lima triliun, itu cukup untuk membuat seseorang berusaha mencurinya darimu, terlalu beresiko,” jelas Jack.
Nova mengangguk paham.
“Aku mengerti paman, aku tetap ingin menjualnya.”
Jack mengangguk, kemudian ia berdiri dan meraih ponselnya untuk menelpon seseorang.
Aruna yang sedari tadi diam, dan hanya bereaksi sewajarnya memperhatikan sosok Nova, yang ternyata menyimpan sesuatu yang mengejutkannya. Ia tak menyangka jika Nova memiliki berlian itu, berlian yang paling besar dan pernah ia lihat hanya seukuran kelereng, dan itupun di simpan di brangkas pribadi milik ayahnya Arga Pratama.
“Aku tidak menyangka, ternyata kamu memiliki sesuatu yang membuat siapa saja akan mencoba membunuhmu,” ucap Aruna sambil mencondongkan sedikit tubuhnya kesamping.
Nova hanya terkekeh pelan, sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Itu hanya peninggalan kakekku, lagi pula jika di simpan terus di rumah tidak membuatku menjadi kaya,” ucap Nova di iringi candaan khasnya.
Aruna tertawa renyah, ia tidak menyangka bahwa pemuda di hadapannya itu bisa bersikap seperti itu. Padahal, Nova yang ia kenal dulu, sangatlah pendiam.
Tak berselang lama, Jack kembali dengan senyum yang merekah di wajahnya.
“Tuan Arga sudah menyetujuinya, dan ia meminta tuan muda Nova untuk menemuinya langsung. Dan masalah uang, akan di transfer ke rekening khusus yang di buatkan perusahaan kami,” ucap Jack.
Nova mengangguk paham, sementar Aruna tersenyum puas, akhirnya ia tak perlu meminta izin ayahnya untuk membawa Nova masuk ke dalam rumahnya.
“Baiklah, paman. Terimakasih,” ucap Nova sekaligus mengakhiri pertemuan itu.
Dalam waktu sekejap, Nova menjadi pemuda yang kaya setelah menjual berlian seukuran kepalan tangan itu. Ia senang kehidupan dia akhirnya bisa berubah.
***
Saat sampai di depan rumah Aruna, Nova di buat terkejut dengan pemandangan yang luar biasa itu. Rumah besar tiga lantai bergaya italy klasik dengan halaman depan yang cukup luas serta air mancur di tengah taman membuat penampilan rumah itu sangatlah megah.
Nova terkesan dengan penampilan rumah milik Aruna itu, ternyata ia berteman dengan seorang gadis yang sangat kaya. Terlihat, saat reaksi Aruna melihat berlian milik Nova, ia tak menunjukan reaksi berlebihan menandakan bahwa Aruna memang sudah terbiasa melihat hal-hal seperti itu.
“Ayo, kita turun. Ayahku sudah menunggu,” ajak Aruna.
Nova mengangguk pelan, ia tak berhenti berdecak kagum saat melihat semua detail kediaman bergaya italy itu.
“Luar biasa, dengan uang itu mungkin aku bisa membuat rumah yang lebih besar untuk ibu.”
Saat memasuki, rumah beberapa maid menyambut kedatangan keduanya. Nova mengikuti Aruna dan berjalan di sampingnya, begitu sampai di ruang tamu yang sangat luas itu. Seorang pria dengan rambut yang sudah memutih, langsung menyimpan koran bacaannya dan berdiri.
Arga Pratama.
Ia tersenyum saat melihat ke arah Nova.
“Selamat datang di rumah kami, anak muda.”