Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - Serangan Halus
Sore itu, rumah keluarga Wijaya kembali dipersiapkan untuk menyambut tamu penting, seolah rutinitas kemewahan harus terus berjalan tanpa terpengaruh apa pun yang terjadi sebelumnya. Para pelayan bergerak lebih cepat dari biasanya, langkah mereka teratur dan nyaris tanpa suara, memastikan setiap sudut terlihat sempurna di mata siapa pun yang datang. Meja di ruang tamu ditata ulang dengan presisi, bunga lama diganti dengan yang lebih segar, dan aroma ruangan diatur sedemikian rupa agar terasa hangat sekaligus berkelas.
Tidak ada yang tampak berubah dari luar, tetapi bagi Alyssa, suasana itu terasa berbeda. Ia bisa merasakan ketegangan yang tidak terlihat, seperti sesuatu yang sengaja disembunyikan di balik semua kesempurnaan itu. Rumah ini tetap megah, tetapi kehangatan yang seharusnya ada terasa semakin menjauh darinya.
Alyssa berdiri di dapur dengan apron yang sudah mulai terasa seperti bagian dari dirinya. Tangannya sibuk menata cangkir dan teko dengan rapi, tetapi pikirannya melayang jauh dari apa yang sedang ia kerjakan. Ia sudah mulai terbiasa dengan peran barunya, melayani tanpa banyak bicara, bergerak tanpa menarik perhatian, dan menerima tanpa bertanya.
Sejak aturan itu diberlakukan, tidak ada lagi ruang untuknya sebagai bagian dari keluarga. Setiap sudut rumah ini terasa seperti tempat yang hanya boleh ia lewati, bukan ia miliki. Hari ini, ia hanya bagian dari sistem yang berjalan rapi, tanpa benar-benar dianggap ada.
“Nona, tamunya sudah datang,” kata salah satu pelayan dari belakang.
Alyssa mengangguk pelan tanpa menoleh, tetap menyelesaikan susunan terakhir di atas nampan.
“Siapa?” tanyanya, lebih karena kebiasaan daripada rasa ingin tahu.
Pelayan itu tampak ragu sejenak sebelum menjawab, seolah memahami bahwa jawaban yang ia berikan bisa membawa makna lebih dari sekadar informasi.
“Nona Cassandra.”
Alyssa berhenti sejenak. Tangannya tetap berada di atas nampan, tetapi gerakannya tertahan seolah ada sesuatu yang menariknya untuk diam lebih lama. Perasaan yang familiar kembali muncul, tidak lagi mengejutkan, tetapi tetap meninggalkan jejak yang tidak nyaman.
Namun kali ini, ia tidak menunjukkan apa pun di wajahnya.
“Baik,” jawabnya singkat.
Ia mengangkat nampan berisi teh dan makanan ringan dengan hati-hati, memastikan semuanya tetap stabil sebelum melangkah keluar dari dapur. Langkahnya terukur, tidak terburu-buru, seolah ia sedang menyiapkan dirinya untuk sesuatu yang sudah bisa ia prediksi.
Begitu sampai di ruang tamu, suasana yang ia lihat langsung terasa berbeda. Bukan hanya karena kehadiran tamu, tetapi karena interaksi yang terjadi di dalamnya.
Daren sudah duduk di sana.
Di sampingnya, Cassandra.
Wanita itu mengenakan gaun berwarna putih gading yang sederhana namun tetap memancarkan kesan elegan. Rambutnya ditata rapi, dan senyum di wajahnya terlihat lembut saat ia berbicara, menciptakan kesan yang hampir sempurna di mata siapa pun yang melihat.
“Sudah lama kita tidak bicara seperti ini,” kata Cassandra dengan nada ringan.
Daren mengangguk.
“Kamu sibuk.”
“Kamu juga,” balasnya, masih dengan nada yang sama.
Percakapan mereka mengalir dengan mudah, tanpa jeda canggung, tanpa jarak yang terlihat. Ada kenyamanan di antara mereka yang tidak bisa disangkal, sesuatu yang membuat Alyssa yang berdiri di kejauhan merasakan perbedaan itu dengan jelas.
Terlalu nyaman.
Alyssa berdiri beberapa langkah dari sana, menunggu momen yang tepat untuk masuk tanpa mengganggu. Ia menahan dirinya untuk tidak terlalu lama memperhatikan, meskipun sulit untuk tidak menyadari bagaimana keduanya terlihat begitu serasi dalam suasana itu.
“Masuk,” kata ibu Daren dari kursinya tanpa menoleh.
Alyssa segera berjalan mendekat, menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk sopan santun.
“Tehnya, Bu.”
Ia mulai menyajikan satu per satu dengan gerakan yang terlatih, menjaga setiap langkahnya tetap tenang dan tidak mencolok. Ketika ia sampai di depan Cassandra, wanita itu menoleh dan tersenyum.
“Terima kasih,” katanya lembut.
Nada suaranya hangat, sopan, dan terdengar tulus di telinga siapa pun yang mendengar. Alyssa mengangguk kecil sebagai jawaban, tetapi tidak membiarkan dirinya terpengaruh oleh nada itu.
Namun saat ia hendak berbalik, Cassandra kembali berbicara, kali ini dengan suara yang sedikit lebih pelan.
“Pelayan baru di sini sangat terlatih ya.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian biasa, tetapi maknanya terlalu jelas untuk disalahartikan. Alyssa berhenti sejenak, merasakan kata-kata itu jatuh tepat pada tempat yang ingin disasar.
Ia tidak menjawab.
Ia hanya melanjutkan langkahnya.
Daren tidak bereaksi. Ia mengambil cangkir tehnya dengan tenang, seolah tidak ada yang perlu diperhatikan dari kalimat itu. Sikapnya yang tetap datar membuat suasana terasa semakin jelas bagi Alyssa.
Percakapan kembali berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang baru saja terjadi.
Cassandra mulai bercerita tentang proyek-proyek yang sedang ia tangani, tentang perjalanan bisnisnya ke luar negeri, dan relasi yang ia bangun dengan berbagai pihak. Setiap kata yang ia ucapkan terdengar meyakinkan, menunjukkan bahwa ia berada di dunia yang sama dengan keluarga ini, bahkan mungkin lebih.
Ibu Daren mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk dengan ekspresi yang menunjukkan ketertarikan.
“Kalau saja dulu rencana itu berjalan sesuai yang diharapkan,” katanya, “kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini.”
Cassandra tersenyum tipis, tidak terlihat terkejut dengan pernyataan itu.
“Beberapa hal memang tidak bisa dipaksakan,” jawabnya dengan tenang.
Nada suaranya tetap halus, tetapi tatapannya sempat bergeser ke arah Alyssa yang berdiri tidak jauh dari sana. Alyssa menyadari itu, tetapi ia tidak bereaksi, tetap berdiri di posisinya seolah ia tidak mendengar apa pun.
“Aku tidak menyesal,” lanjut Cassandra. “Karena sekarang aku bisa melihat semuanya lebih jelas.”
“Lebih jelas?” ulang ibu Daren.
“Ya,” katanya. “Siapa yang benar-benar cocok, dan siapa yang hanya kebetulan ada.”
Ruangan itu tetap tenang, tetapi makna dari kalimat itu menggantung di udara. Alyssa menunduk sedikit, merasakan tangannya yang menggenggam ujung apron semakin mengencang tanpa ia sadari.
Daren masih diam.
Tidak ada bantahan.
Tidak ada penjelasan.
Seolah kalimat itu memang tidak ditujukan pada siapa pun secara langsung.
“Tambahkan teh,” kata ibu Daren tiba-tiba.
Alyssa langsung bergerak, membawa teko mendekat dan menuangkan teh dengan hati-hati. Gerakannya tetap stabil, meskipun ia bisa merasakan perhatian yang tertuju padanya.
Saat ia berdiri di dekat Cassandra, wanita itu kembali berbicara dengan suara yang sangat pelan.
“Kamu tidak lelah?” tanyanya.
Alyssa berhenti sejenak.
“Apa maksudnya?”
“Berpura-pura,” jawab Cassandra.
Suaranya cukup pelan sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Alyssa menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu sebelum menjawab, memastikan tidak ada satu pun gerakan yang terlihat terganggu.
“Saya tidak berpura-pura,” katanya.
Cassandra tersenyum kecil.
“Kalau begitu kamu memang lebih kuat dari yang kukira.”
Alyssa menatapnya sekilas, menangkap sesuatu di balik tatapan itu. Bukan hanya ejekan, tetapi juga perhitungan yang lebih dalam, seolah setiap reaksi Alyssa sedang dinilai.
Setelah selesai, Alyssa mundur kembali ke tempatnya. Ia berdiri dengan tenang, menjaga jarak, sementara percakapan di ruang tamu terus berlanjut tanpa melibatkannya lagi.
Beberapa saat kemudian, Daren berdiri.
“Aku harus ke ruang kerja,” katanya singkat.
Cassandra mengangguk.
“Tentu.”
Ia ikut berdiri, merapikan pakaiannya dengan gerakan ringan.
“Aku akan menyusul nanti.”
Daren tidak menjawab, hanya berjalan pergi tanpa melihat ke belakang. Langkahnya tetap tenang seperti biasa, meninggalkan suasana yang perlahan berubah setelah kepergiannya.
Begitu ia menghilang dari pandangan, ruangan itu terasa berbeda. Lebih sepi, tetapi juga lebih jujur, seolah tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Cassandra meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu menoleh ke arah Alyssa.
“Kamu bisa pergi,” katanya pada pelayan lain.
Mereka langsung mengangguk dan keluar dari ruangan tanpa banyak bicara. Dalam hitungan detik, jumlah orang di ruangan itu berkurang drastis.
Sekarang hanya tersisa tiga orang.
Ibu Daren, Cassandra, dan Alyssa.
Namun beberapa detik kemudian, ibu Daren berdiri.
“Aku ke atas dulu,” katanya. “Lanjutkan saja.”
Ia pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan pintu yang tertutup perlahan di belakangnya. Keheningan yang tersisa terasa lebih berat, seperti ruang yang tiba-tiba kehilangan penyeimbangnya.
Alyssa tetap berdiri di tempatnya.
Tidak bergerak.
Cassandra bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mendekat. Langkahnya pelan dan terukur, seolah ia menikmati setiap detik dari jarak yang semakin mengecil di antara mereka.
Ia berhenti tepat di depan Alyssa.
Jarak mereka sangat dekat.
“Aku harus mengakui sesuatu,” katanya pelan.
Alyssa tidak menjawab. Ia menatap lurus ke depan, menjaga ekspresinya tetap tenang.
“Kamu bertahan lebih lama dari yang kuduga,” lanjut Cassandra.
Nada suaranya berubah, tidak lagi manis dan tidak lagi lembut seperti di depan orang lain. Kali ini lebih tajam, lebih jujur, dan tanpa lapisan apa pun.
“Tapi itu tidak akan berlangsung lama.”
Alyssa mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke mata Cassandra. Tidak ada lagi usaha untuk menghindar, tidak juga keinginan untuk menunduk.
“Kenapa kamu begitu yakin?” tanyanya.
Cassandra tersenyum, senyum yang tidak lagi disembunyikan.
“Karena aku tahu posisi semua orang di rumah ini,” katanya. “Dan posisimu paling mudah digeser.”
Alyssa merasakan sesuatu di dalam dirinya menegang, tetapi ia tidak mundur. Ia tetap berdiri tegak, mempertahankan tatapannya.
“Aku tidak akan pergi,” katanya pelan.
Cassandra tertawa kecil, seolah mendengar sesuatu yang menghibur.
“Bukan kamu yang menentukan,” balasnya.
Ia melangkah sedikit lebih dekat, suaranya hampir seperti bisikan.
“Aku akan membuatmu pergi dari rumah ini.”
Kalimat itu diucapkan dengan sangat tenang, tanpa nada tinggi, tetapi penuh kepastian yang tidak bisa diabaikan. Alyssa terdiam, bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena ia memilih untuk tidak memberikannya.
Tatapannya tetap tidak goyah.
Cassandra memperhatikannya selama beberapa detik, lalu tersenyum tipis seolah sudah mendapatkan apa yang ia inginkan dari momen itu.
“Siapkan dirimu,” katanya.
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu dengan langkah yang tetap anggun. Setiap gerakannya terlihat terkontrol, seolah ia baru saja menyelesaikan sesuatu yang penting baginya.
Pintu terbuka.
Lalu tertutup kembali.
Alyssa tetap berdiri di tempatnya, sendirian di tengah ruangan yang kembali sunyi. Namun kali ini, perasaannya tidak lagi sama seperti sebelumnya, karena ada sesuatu yang berubah secara perlahan di dalam dirinya.
Bukan hanya rasa sakit yang ia tahan.
Tetapi juga kesadaran yang semakin jelas.
Bahwa apa yang akan datang setelah ini tidak akan mudah, dan apa yang ia hadapi bukan sekadar perlakuan dingin atau hinaan yang bisa ia abaikan begitu saja. Ia menarik napas perlahan, menenangkan dirinya sebelum akhirnya menundukkan pandangan.
Namun kali ini, bukan karena menyerah.
Melainkan karena ia mulai bersiap.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔