NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Purwodadi jadi saksi

Mbah Sidik menarik napas panjang, sorot matanya yang tadinya penuh ketegangan berubah menjadi penuh hormat dan takzim. Ia memegang pundak Ahmad dengan mantap, seolah ingin menyalurkan energi leluhur yang mengalir di darahnya.

"Ahmad... Malam itu di bawah pohon pisang, Mbah Pupus membongkar rahasia yang selama ini tertutup kabut," ucap Mbah Sidik dengan suara yang bergetar hebat.

Kakek tua itu mendekat, menatap dalam ke mata Sodik. "Jangan heran jika kau sampai ke sini, Sidik. Kau tidak tersesat. Kau hanya sedang pulang ke pangkuan leluhurmu," bisik Mbah Pupus.

Mbah Pupus menjelaskan bahwa ia bukan orang asing. Beliau adalah Canggah (buyut dari kakek) Mbah Sidik sendiri yang selama ini mengawasi dari alam sunyi. Lebih jauh lagi, makam yang diziarahi Sidik, yakni Ki Ageng Selo, adalah Wareng (leluhur di atas canggah) Sidik dari garis keturunan laki-laki.

"Pantas saja kau punya nyali bertarung, Sidik. Di darahmu mengalir keberanian Sang Penakluk Petir dari jalur Bapakmu," lanjut Mbah Pupus. "Namun ingat, di jalur Ibu, kau mewarisi kelembutan dan kebijaksanaan dari Kanjeng Sunan Kalijaga."

Mbah Sidik kemudian mengajak Ahmad menggambar di tanah, menjelaskan urutan leluhur dalam tradisi Jawa agar Ahmad tidak lupa dari mana asalnya.

"Dengarkan dan hafalkan, Ahmad. Ini adalah akar berdirimu:"

Bapak (Orang tua langsung)

Mbah (Kakek)

Buyut (Ayah dari kakek)

Canggah (Inilah sosok Mbah Pupus)

Wareng (Inilah sosok Ki Ageng Selo)

Udek-udek Siwur (Leluhur yang lebih tinggi lagi)

"Bapak baru sadar hari itu, Ahmad. Perjalanannya ke Kalimantan, fitnah dari Jenderal itu, hingga pelariannya ke Purwodadi, semuanya sudah diatur oleh sang Pencipta, agar Bapak kembali belajar ilmu agama dan kebatinan. Bapak tidak boleh hanya jadi tentara yang pandai membunuh, tapi harus jadi manusia yang pandai menjaga kehidupan."

Mbah Pupus memberikan wejangan terakhir di malam itu: "Kau punya 'besi' dari Ki Ageng Selo dan punya 'jalan' dari Sunan Kalijaga. Jika keduanya menyatu, fitnah apa pun takkan sanggup membakarmu."

Sejak saat itu, Mbah Sidik tidak lagi merasa sebagai buronan yang malang. Ia merasa sebagai ksatria yang sedang ditempa. Ia mulai menjalani tirakat yang berat di bawah bimbingan Mbah Pupus, menyatukan ketegasan militer dengan kelembutan spiritual para wali.

Bukan sekadar debu yang ditiup angin,

Kau adalah sungai yang mengalir dari hulu yang dingin.

Dari garis laki-laki, kau warisi guntur dan api,

Dari garis wanita, kau warisi doa yang tak pernah sepi.

Mbah Pupus menuntun,

Ki Ageng Selo menjaga,

Sunan Kalijaga menyelimuti dengan rida yang bersahaja.

Silsilah ini bukan untuk kau sombongkan di depan mata,

Tapi untuk kau pikul sebagai amanah bagi semesta.

Ahmad, kau memang bukan anak dari darahku yang mengalir,

Tapi kau adalah anak dari doaku yang terus menghilir.

Kau adalah Udek-udek Siwur bagi masa depan yang baru,

Membawa nama besar ini dalam langkah yang satu.

Mbah Sidik menatap Ahmad dengan bangga. "Sekarang kau paham, Ahmad? Kenapa Bapak tidak takut pada Genderuwo atau Jenderal pengkhianat itu? Karena di belakang Bapak, ada barisan raksasa yang sudah menjaga tanah ini selama ratusan tahun."

Ahmad mengangguk takjub, merasa seolah tubuhnya ikut menjadi kuat. "Lalu, setelah tahu silsilah itu, apa yang Mbah Pupus perintahkan kepada Bapak selanjutnya, Pak?"

Mbah Sidik tersenyum, kilatan petir seolah muncul di matanya. "Bapak disuruh masuk ke dalam goa di tengah hutan tanpa membawa makanan selama empat puluh hari, Ahmad."

*

Udara Purwodadi yang kering dan berdebu tak lagi terasa menyengat bagi Sidik. Di sebuah sudut desa yang tenang, ia dan sisa anak buahnya telah menanggalkan seragam tempur mereka. Sekarang, tangan-tangan yang dulu mahir merakit jebakan dan mengatur strategi perang itu, kini bergelut dengan lumpur tanah liat.

Mereka menjadi perajin celengan tanah liat berbentuk ayam dan gajah. Sederhana, namun di tangan seorang komandan perang, setiap celengan dibuat dengan presisi yang sempurna.

Siang itu, Sodik memikul tenggok (keranjang bambu besar) penuh celengan di pundaknya. Ia berjalan menyusuri pematang sawah menuju pasar desa. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan rombongan santriwati dari pondok pesantren setempat yang baru saja pulang mengaji.

Salah satu santriwati itu berhenti. Ia mengenakan kerudung putih yang sederhana, namun wajahnya memancarkan keteduhan yang membuat detak jantung Sodik mendadak tidak beraturan—sesuatu yang belum pernah ia rasakan bahkan saat berhadapan dengan meriam musuh.

Gadis itu adalah Maryam.

Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari dan menabrak tenggok Sodik. Celengan-celengan itu jatuh berhamburan. Beberapa pecah berkeping-keping.

"Astagfirullah," desah Sodik, refleks ingin mengumpat kasar dengan bahasa komandan, namun tertahan saat melihat Maryam ikut berjongkok untuk membantu memungut pecahan tanah liat tersebut.

"Maafkan saya, Kang," suara Maryam lembut, seperti alunan gamelan di tengah malam. Ia menatap mata Sidik, dan di sana, Sodik merasa pertahanannya runtuh.

Sodik terdiam sejenak, lalu tersenyum manis—bukan senyum preman pasar Sayung, melainkan senyum seorang pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Tidak apa-apa, Nduk. Tanah liat ini memang rapuh. Tapi celengan yang masih utuh ini... apakah boleh saya berikan satu untukmu? Sebagai tanda maaf karena saya yang tidak sigap berjalan," ucap Rosyid sambil menyodorkan celengan ayam yang paling bagus buatannya.

Maryam tersipu, pipinya merona merah muda. "Terima kasih, Kang. Tapi saya tidak punya uang untuk membelinya."

"Siapa yang meminta uang?" Sodik tertawa renyah. "Celengan ini bukan untuk uang, tapi untuk menyimpan doa. Kalau setiap kali kamu memasukkan koin, kamu berdoa untuk kebaikan orang lain, nanti kalau sudah penuh, doanya akan terkabul."

Maryam menerima celengan itu dengan malu-malu. "Siapa nama Akang?"

"Rosyid," jawabnya mantap. "Dan aku akan datang lagi minggu depan. Jika celengan itu belum penuh, akan ku bawakan satu lagi."

Sejak hari itu, pasar Purwodadi menjadi tempat paling dinanti bagi Sodik. Ia mulai mengukir celengan dengan motif-motif indah khusus untuk Maryam. Maryam pun mulai sering mencuri waktu di sela kegiatan pesantrennya hanya untuk sekadar membeli celengan—padahal ia tahu, ia hanya ingin mendengar cerita-cerita Rosyid yang selalu terdengar luar biasa, meski Rosyid selalu merahasiakan identitas aslinya sebagai veteran.

Sodik belajar bahwa meluluhkan hati seorang santri jauh lebih sulit daripada menaklukkan benteng Portugis. Ia harus belajar bicara lebih lembut, belajar sabar, dan belajar menata hatinya yang selama ini keras oleh peperangan.

Di bawah pohon trembesi yang rindang, di antara tumpukan tanah liat yang mengering, benih cinta itu tumbuh. Sodik yang dulu hanya mengenal bau mesiu, kini mulai mengenal harum bunga melati yang selalu dibawa Maryam di kerudungnya.

Bukan emas yang ku pahat di tanah liat,

Hanya rindu yang ku titipkan agar tak tersesat.

Purwodadi menjadi saksi pertemuan pertama,

Saat matamu menatapku, duniamu seolah berwarna.

Aku komandan yang lelah dengan peluru,

Kini menemukan rumah di antara santri yang baru.

Kau adalah bait-bait doa yang tak sempat terucap,

Dalam setiap celengan yang kini kau dekap.

Maryam, biarkan aku mengisi celengan itu dengan cinta,

Hingga nanti saat pecah, ia menjelma menjadi keluarga.

Tak perlu perang untuk membuktikan ketulusan,

Cukup dengan menunggumu di pasar, aku sudah merasa menang dari peperangan.

Sodik pulang ke gubuknya dengan langkah ringan. Anak buahnya yang melihat komandan mereka bersenandung riang hanya bisa saling lirik dan tertawa. Mereka tahu, sang veteran telah menemukan "medan perang" baru, yaitu medan hati seorang gadis yang akan menjadi penopang hidupnya kelak.

"Besok," gumam Sodik sambil menatap bulan sabit di langit Purwodadi, "aku akan membuatkan celengan paling indah untuknya. Celengan yang nanti akan jadi saksi pernikahan kita."

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!