Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan yang Harus Dipilih
Setelah Bu Onik pergi, Auna kembali ke kamar Uti Yaya dengan perasaan campur aduk. Kata-kata Bu Onik terus terngiang di kepalanya. Ia merasa seperti bidak catur yang digerakkan oleh orang lain, tanpa memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
"Auna, kenapa wajahmu murung begitu?" tanya Uti Yaya, yang memperhatikan perubahan ekspresi Auna sejak kembali dari berbicara dengan Bu Onik.
Auna mencoba tersenyum, tapi gagal. "Tidak apa-apa, ibu. Hanya sedikit lelah," jawabnya, berusaha menutupi kegelisahannya.
Zifa, yang sedang asyik bermain dengan boneka barunya, tidak menyadari ketegangan yang terjadi di antara Auna dan Uti Yaya. Ia terus berceloteh tentang boneka barunya, menunjukkan betapa senangnya ia mendapatkan hadiah itu.
"Mama, lihat! Bonekanya lucu banget, kan?" kata Zifa sambil memeluk boneka beruangnya.
Auna mengangguk dan memaksakan senyum. "Iya, sayang. Lucu sekali. Zifa suka?"
"Suka banget! Zifa mau kasih nama Bobo," jawab Zifa dengan riang.
Uti Yaya tersenyum melihat cucunya bahagia. Namun, ia tidak bisa mengabaikan perasaan tidak enak yang dirasakannya. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Auna, dan ia merasa khawatir.
"Auna, nanti malam kita bicara ya, setelah Zifa tidur," kata Uti Yaya dengan nada lembut.
Auna mengangguk. Ia tahu ia tidak bisa terus menunda untuk mengungkapkan kebenaran pada Uti Yaya. Ia harus menceritakan semuanya, meskipun ia takut akan reaksi Uti Yaya.
Malam itu, setelah Zifa tertidur lelap, Auna duduk berhadapan dengan Uti Yaya di kamar uti Yaya, kamar rawat inap. Suasana hening dan tegang. Auna menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian.
"Ibu, Auna ingin cerita sesuatu," kata Auna memulai pembicaraan.
Uti Yaya menatap Auna dengan penuh perhatian. "Iya, Nak. Ibu mendengarkan."
Auna mulai menceritakan semuanya. Tentang pertemuannya dengan Zhafran di masa lalu, tentang kehamilan Zifa, tentang perjanjiannya dengan keluarga Zhafran, dan tentang pertemuannya dengan Fauzan hari ini. Ia tidak menyembunyikan apa pun.
Uti Yaya mendengarkan dengan seksama, tanpa menyela. Wajahnya menunjukkan keterkejutan, kesedihan, dan kekecewaan.
"Jadi, selama ini Zifa bukan anak Fauzan?" tanya Uti Yaya dengan suara lirih setelah Auna selesai bercerita.
Auna menggelengkan kepala. "Bukan, ibu. Zifa anak Zhafran."
Uti Yaya terdiam sejenak, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja didengarnya. Ia merasa sangat terpukul dan kecewa. Ia merasa dibohongi oleh Auna selama ini.
"Kenapa kamu tidak cerita dari dulu, Auna?" tanya Uti Yaya dengan nada kecewa. "Kenapa kamu menyimpan rahasia sebesar ini dari ibu?"
Auna menunduk, air mata mulai membasahi pipinya. "Auna takut, ibu. Auna takut ibu marah dan kecewa sama Auna. Auna takut ibu tidak bisa menerima Zifa kalau tahu yang sebenarnya."
Uti Yaya menghela napas panjang. Ia meraih tangan Auna dan menggenggamnya erat. "Ibu memang kecewa, Auna. Tapi ibu lebih kecewa karena kamu tidak mempercayai ibu. Ibu selalu menyayangimu dan Zifa, apa pun yang terjadi. Kamu seharusnya cerita sama ibu dari dulu."
Auna menangis tersedu-sedu. Ia merasa sangat bersalah dan menyesal. "Maafin Auna, ibu. Auna janji tidak akan menyembunyikan apa pun lagi dari ibu."
Uti Yaya mengangguk. "Ibu memaafkanmu, Nak. Tapi kamu harus ingat, kejujuran itu penting. Jangan pernah berbohong lagi, terutama pada orang-orang yang kamu sayangi."
Auna mengangguk dan memeluk Uti Yaya erat. Ia merasa lega bisa mengungkapkan kebenaran pada Uti Yaya. Meskipun ia tahu masih banyak masalah yang harus dihadapi, setidaknya ia tidak lagi harus memikul beban rahasia sendirian.
Setelah itu, Auna dan Uti Yaya berbicara panjang lebar tentang masa depan Zifa. Mereka sepakat untuk tetap merahasiakan identitas ayah kandung Zifa dari Zifa sendiri, setidaknya sampai ia cukup dewasa untuk memahami semuanya. Mereka juga sepakat untuk pindah ke rumah yang disediakan oleh keluarga Zhafran, demi kebaikan Zifa dan menghindari masalah dengan Fauzan.
"Kita akan mulai hidup baru, Auna," kata Uti Yaya dengan nada penuh semangat. "Kita akan buktikan bahwa kita bisa bahagia, meskipun banyak rintangan yang menghadang."
Auna tersenyum dan mengangguk. Ia merasa lebih kuat dan lebih optimis dari sebelumnya. Ia tahu jalan yang harus ditempuhnya tidak akan mudah, tapi ia siap menghadapinya bersama Uti Yaya dan Zifa.