The power of santri sekilas menceritakan perjuangan seorang santri putra bernama Ade firdaus atau biasa di panggil adef. terlahir dari seorang ayah yang pekerjaan nya hanya seorang petani.sedangkan ibunya telah meninggal saat ia masih berusia tiga belas tahun.
rasa syukur adef karena ayahnya sangat mendukung ia untuk bisa belajar di pesantren besar Sehingga ia selalu menggunakan waktunya untuk sungguh sungguh dalam belajar.
Saat sedang semangat mencari ilmu Adef harus menerima kenyataan pahit yang memaksa ia keluar dari pondok.
😊Semoga kisahnya Ada Manfaatnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurheti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasihat dari sang Kiyai
Malam hari setelah selesai shalat isya berjamaah, jadwal santri adalah belajar kepondokan, sedangkan kami para mudabir setelah selesai mengontrol seluruh asrama dan memastikan semua santri telah berangkat ke kelas, kami pun ada jadwal belajar bareng kiyai khusus untuk kelas dua Aliyah.
Seperti biasa aku berangkat bareng dengan ke empat teman-temanku.
Jadwal ngaji bareng kiyai hanya sekali dalam dua minggu, karena beliu punya kesibukan yang sangat padat, seperti mengisi acara pengajian majlis ta'lim di berbagai daerah dan sebagainya.
Setelah sampai di majlis kamipun segera duduk paling depan yang masih kosong.
semua santri telah berkumpul menunggu sang kiyai.
beberapa saat kemudian sang kiyai pun datang, beliu tersenyum kepada kami.
Setelah berdo'a pengajian tidak langsung dimulai kiyai menanyakan bagaimana kabar kami dan keadaan seluruh santri.
"Def santri kecil ada jadwal apa?" Tanya kiyai padaku.
"Jadwal mereka malam ini belajar kepondokan kiyai." Jawabku.
"Semuanya apa sudah berangkat?. Tanyanya lagi.
"Sudah kiyai." Jawabku.
"Fadli apakah santri ada yang sakit?" Tanya sang kiyai.
Fadli, yang di amanahkan menjadi qismu sihah atau bagian kesehatan.
"Tidak ada kiyai." Jawabnya.
"Alhamdulillah jika tidak ada yang sakit, obat obatan nya masih ada kan?" Tanya sang kiyai.
"Naam kiyai, masih ada." Jawab fadli.
"Obat harus tetep ada ya Fadli untuk persiapan jika ada santri yang sakit." Jelas kiyai.
"Naam kiyai." Jawab Fadli.
"Kiyai sangat berterima kasih pada kalian semua, untuk kebaikan kalian dalam menjaga dan mengajarkan disiplin kepada adek adek kelas kalian, teruslah berbuat baik agar semua adek kelas bisa mencontoh akhlak yang baik dari kalian, dan jadilah santri teladan bagi mereka." Ucap sang kiyai.
pengajian pun dimulai, kami memperhatikan sang kiyai dengan seksama kemudian menuliskan apa yang kiyai ucapkan di atas kertas.
Kama kola ustadz "Al ilmu soiydun wal kitaabahu qoyiduhu, qoyid suyuudaka bil hibaali wasikoti"
Ilmu ibarat binatang buruan sedanglan tulisan adalah pengikatnya, maka ikatlah buruanmu itu dengan tali yang kokoh.
Malam ini kiyai menceritakan keistimewaan para pencari ilmu dan pemilik ilmu.
" Imam syafi'i beliau Rahimahullah berkata dalam kitab diwan Al imam Asy syafi'i
Aku melihat pemilik ilmu hidupnya mulia walau ia dilahirkan dari orang tua terhina.
Ia terus menerus terangkat hingga pada derajat tinggi dan mulia, umat manusia mengikutinya dalam setiap keadaan laksana pengembala kambing kesana sini di ikuti hewan peliharaan, jikalau tanpa ilmu umat manusia tidak akan merasa bahagia dan tidak akan mengenal halal dan haram." Jelas sang kiyai.
Malam semakin larut namun kami semakin asik mendengarkan sang kiyai. Begitu juga denganku, aku memperhatikannya dengan sangat seksama dan menuliskan semua yang kiyai ucapkan tanpa ada yang tertinggal meski satu kata pun.
"Dalam sebuah hadist Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda bahwasannya Tidurnya orang yang berilmu lebik baik dari pada ibadahnya orang yang bodoh"
"Dalam hadist lain Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
Man khoroja fii tolabil ilmi fahua fii sabiililahi hatta yarji'a yang artinya Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali." Jelas sang kiyai.
Malam semakin larut, jam menunjukan pukul setengah dua belas, kiyai menutup pengajiannya dengan mengucapkan lafadz hamdalah, serta merta kami menyalami tangan lembut sang kiyai.
Malam yang sangat berharga dimana sang kiyai dengan sangat ikhlas memberikan ilmu ilmu nya pada kami.
Semoga suatu saat nanti kami seluruh santri bisa mengamalkan dan mengajarkan kembali seluruh ilmu yang sudah kami dapat di pesantren Darutakwa ini.
bersambung.......