NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Pengintip

Makan malam di rumah Oma terasa lebih ramai. Berbagai pertanyaan di tanyakan pada Adam. Oma nyaris tersadak ketika tahu Adam bukan warga pribumi asli, tapi campuran dua etnis. Sama dengan jawaban yang di berikannya pada papa dan mama. Sedikit banyak Adam juga menceritakan perjalanan hidupnya. Bagaimana orang tuanya meninggal, hingga dia mengenal Islam dan terpanggil untuk memeluk agama yang di yakininya benar.

"Oh, berarti benar dugaan Oma kalau Adam ini bukan warga pribumi asli. Ndak apa-apa Adam, ndak pa-pa. Yang terpenting sekarang,  Adam sudah punya keluarga di sini. Yang sudah berlalu biarkan berlalu. Ikhlas dan doakan semoga kedua orang tua Adam di tempatkan di siniNya." Oma membujuk walaupun Adam pintar menyembunyikan perasaan sedihnya.

"Gimana ceritanya Abang Adam bisa kenal Winda? Ya lah, dulu kan Winda 3 tahun tinggal di London, baru juga kembali tahun ini. Dan tadi bang Adam bilang baru kembali juga ke Indonesia. Aneh aja secepat itu Abang kenal dengan Winda, memutuskan menikah lagi,"

Sarah yang sejak tadi sibuk memperhatikan Adam malah kini menanyakan hak yang memojokan.

Dia pikir aku tidak tahu kalau dia iri denganku.

Huh!

"Kalau di pikir-pikir, memang tidak masuk akal. Tapi itulah takdir Tuhan," jawab Adam dengan pembawaannya yang tenang. Sedikit pun ia tidak terpancing dengan pertanyaan itu. Kemudian Adam menoleh padaku yang duduk di sebelahnya dan tersenyum, "jodoh, rizki, ajal, itu kuasa Tuhan. Dan Dia pertemukan saya dengan Winda pada waktu yang Dia tetapkan. Pertemuan pertama kami biasa saja, tidak ada yang istimewa. Kami bertemu melalui seorang sahabat. Dan tidak lama setelah pertemuan itu, saya beranikan untuk melamarnya," terang Adam sedikit menceritakan menurut karangannya sendiri.

Pertemuan biasa, melalui seorang sahabat? Pintar sekali dia merangkai kata. Karna setahuku, pertemuan pertama kami sungguh luar biasa di banding apa yang di ceritakannya. Rehan yang di bilangnya sahabat, menurutku tidak layak di panggilnya sahabat. Kalau teman biasa masih oke lah.

"Berarti Abang belum lama dong kenal dengan Winda? Tapi kok nekat mau menikahinya? Kesannya kaya dadakan gitu." Sarah kembali bertanya, bibi Ria di sebelahnya sampai membulatkan mata ke arahnya.

"Sarah. Rasanya pertanyaan itu tidak perlu Sarah tanya," desis bibi Ria cukup keras.

"Eh, apa salahnya? Kan biasanya kalau orang terburu-buru menikah itu pasti ada sebab."

Kalimat Sarah kali ini seperti berujung makna lain dan sekilas dia melihat padaku sebelum kembali memandang Adam dengan senyum kecentilannya.

Mualku tiba-tiba datang. Aku menunduk, coba mengontrol reaksi tidak enak ini.

"Tidak apa-apa, Bik," jawab Adam sambil tersenyum kearah bibi Ria dan kembali memandang Sarah, "Sarah, baru atau lama mengenal seseorang bukan menjamin apa-apa. Tapi yang terpenting kita tahu hati kita dan yakin. Itulah yang saya rasa waktu pertama melihat Winda, saya yakin dia jodoh saya. Mungkin dengan keyakinan itu Tuhan lansung mengabulkan." Adam menolah lagi padaku dan menyisipkan rambutku ke belakang telinga.

"Nah, benar yang Adam bilang. Dulu Oma juga ndak kenal tuh sama Opa kalian, kami lansung nikah aja. Dan sekarang hidup bahagia sampai akhir hanyatnya dan di karunia dua orang anak." Oma menyeka sambil tersenyum bahagia.

Kulanjutkan makan, coba bersikap biasa. Makan malam yang terhidang ini adalah makanan kesukaanku. Ikan bakar nila dengan bumbu khas racikan Oma.

"Enak kan ikan bakarnya? Itu Sarah yang bikin loh."  Sarah kembali bicara dengan mengatakan yang aku makan masakan dia.

Aku tersedak. Mulut kututup dengan telapak tangan, lalu aku berdiri dan berlari ke kamar mandi. Memuntahkan semua yang telah aku telah.

Aku tidak mau masakan Sarah berada di perutku dan menjadi darah daging.

Adam sudah berada di sebelahku. Dia mengusap tengkukku. Rambutku di genggamnya kebelakang agar tidak terkena muntah.

Tubuhku terasa lemah setelah beberapa menit muntah-muntah. Mulut kubilas dengan air dan Adam mengusap kepalaku.

"Winda, ayo ke klinik."

Aku menggeleng cepat. "Gak usah lah. Aku gak kenapa-napa kok. Cuma mabuk perjalanan tadi masih terasa sedikit. Nanti setelah istrhat juga baikan."

Aku tahu Adam ingin memaksaku, tapi melihat keadaaku yang lemah, dia pun mengalah.

Keluar dari kamar mandi, Oma sudah berdiri di depan pintu bmdengan segelas air di tangannya.

"Winda kanapa? Ndak sehat ya? Nah, minum dulu air hangat ini." Oma mengulurkan gelas itu dan kuteguk habis membasahi tenggorokanku yang kering.

"Iya, Oma. Winda memang kurang sehat." Adam yang menjawab.

"Kalau ndak sehat, Winda isyarat aja dulu. Besok-besok kita cerita lagi." Oma mengusap pipiku dan mengambil gelas yang sudah kosong dari tanganku.

"Maaf ya, Oma. Winda ke kamar dulu," ucapku yang di balas Oma dengan anggukan kepala.

Adam mengiringiku dan kami berjalan menuju kamar.

"Lihat tuh, jangan-jangan sudah berisi."

Suara Sarah sayup-sayup masuk ke gendang telingaku, saat melewati meja makan.

Aku menoleh pada Adam, wajahnya biasa saja, seolah tak mendengar suara tadi, tapi aku yakin Adam juga mendengarnya.

Beberapa menit Adam menemankan aku di dalam kamar, tapi kemudian aku menyuruhnya kembali kemeja makan. "Adam kamu keluarlah, aku mau istrahat. Lagian sepertinya Oma juga belim puas mengobrol denganmu."

Adam mengangguk pelan, sebelum bangun dari tempat tidur. Setelah dia keluar keluar, kupejamkan mata yang memang butuh istrahat ini. Bangun-bangun tak tahu jam berapa, tapi azan subuh telah berkumandang di mesjid dekat rumah.

Adam baru saja masuk ke dalam kamar dengan wajah yang masih basah.

"Susah bangh! Mau subuh jamaah dengan saya?" ajaknya setelah duduk di sebelahku.

Aku mengangguk dan bangun. Kepala masih terasa berat. Pandangan seakan berputar. Badan masih juga belum fit.

Setelah menguatkan diri bangun dan sholat subuh dengan Adam, aku kembali berbaring. Adam memeriksa keningku.

"Ya, Allah. Kamu masih demam, Winda. Kita kerumah sakit ya?"

"Kamu tuh bawel banget sih! Aku bilang enggak ya enggak! Aku cuma butuh obat sakit kepala. Tolong mintain obat sakit kepala pada Oma," tolakku bersikeras tidak mau diajak ke klinik atau pun rumah sakit.

Cukup lama Adam memandangku, mungkin dia ragu jika ingin mendesakku kerumah sakit. Tapi akhirnya dia mengalah, menuruti kemauanku.

Adam keluar dan kembali lagi membawa obat yang kuminta dan segelas air putih.

Setelah meminum obat, Adam menemaniku sampai aku tertidur.

***

Menjelang siang aku bangun. Adam ada meninggalkan pesan di kertas. Dia bilang, dia ikut Oma ke kebun sayur di belekang rumah.

Aku lanjutkan tidur karna kepala masih terasa berat.

Bangun-bangun hari sudah mau sore. Handuk basah juga ada di dahiku. Tidak lama kemudian Oma masuk membawa semangkuk bubur.

Di bandung mama dan Adam, Oma lebih memaksa. Habis semangkuk bubur itu di suapkannya. Dan entah dia apa yang di bacanya, aku pun tidak ada merasa muntah.

"Oma, Adam mana?" tanyaku setelah meminum air hangat.

"Ada di luar, main sama anak-anak kampung sini. Cucu menantu Oma yang satu itu sudah populer di kampung ini. Berduyun-duyun remaja datang mau berkenalan dengan dia," jawab Oma dan tertawa kecil.

Aku tahu, Adam memang memiliki daya pikat yang kuat hingga orang-orang senang padanya. Mungkin, termasuk aku. Winda gadis kepala batu.

"Oma, Winda minta maaf karna udah repotin Oma. Gak nyangka kedatangan Winda malah bawa penyakit. Merepotkan Oma lagi. Harusnya kan Winda pulang kampung senang senang dengan Oma," ucapku pelan.

"Hust! Kamu ngomong apa sih, Nduk? Datang kesini mau jenguk Oma saja, Oma udah senang.

Winda tau kan, dari dulu Oma udah biasa menjaga Winda, jadi jangan bicara seperti itu lagi," balas Oma lalu mencium kedua pipiku.

.

.

.

Menjelang Maghrib, Adam baru masuk ke kamar. Bajunya basah oleh keringat. Entah apa yang dia lakukan di luar sana Dangan anak-anak kampung sini.

"Winda, bagaimana badan Winda sekarang? Sudah baikan?" tanyanya setelah berlabuh di sebelahku.

"Udah mendingan, tadi Oma juga suapkan aku bubur. Kamu dari mana?" Aku mengalihkan topik. Ingin tahu apa yang di lakukannya tadi.

"Oohh.... Itu, tadi anak-anak kampung sini datang. Awalnya cuma mau berkenalan, setelah itu mereka ajak saya main futsal di lapangan." Adam tertawa kecil saat bercerita. Dia terlihat begitu senang.

"Baguslah. Jadinya kamu gak bosan melihat muka saya di kampung ini, kan?" Senagaja aku memprovokasi.

"Itulah. Bosan juga kalau melihat kamu terus. Kamu tahu kenapa?" balas Adam sambil mendekatkan wajahnya ke mukaku.

Aroma keringatnya begitu menusuk hidungku. Dan seperti biasa aroma itu selalu membangkitkan gairahku. Sekuat hati aku tahan gejolak dalam diri yang tiba datang menuntut untuk kutuntaskan.

Hanya gara-gara keringatnya.

Ah, bagaimana kalau dengan yang lain? Masih bisakah aku menahannya?

"A-Adam. Ka-kamu jangan macam-macam ya?" Aku memperingatkan, tapi Adam seperti tidak ambil pusing dengan peringatan ku itu. Dia malah tertawa dan mencium puncak hidungku.

"Bila melihat kamu, saya merasa harus berlari untuk mengejar kamu. Dan kalau saya kejar kamu, saya yang lelah."

Keningku berkerut coba memahami apa yang dia maksud.

"Hmm....maksudmu apa?" tanyaku karna tak juga menemukan jawaban dari kata-katanya barusan.

Adam tertawa kecil dan menggelengkan kepala.

"Tidak ada apa-apa. Oke lah, saya mandi dulu." Adam membelai pipiku dan keluar setalah mengambil handuk.

Sore tadi, Oma mengajak Adam ke mesjid dekat rumah. Di karnakan vuralnya Adan di kampung ini.

Aku tidak tahu, apa yang membuat Adam bisa seviral itu di kampung ini, tapi tadi Oma bilang akan membawa Adam untuk di kenalkannya pada orang-orang sebagai cucu menantunya. Tadi Oma juga mengajakku, jika keadaanku agak mendingan.

Merasa sedikit bertenaga, perlahan aku bangun dan mengambil handuk. Aku tidak mau di tinggal sendiri, jadi aku memutuskan akan ikut mereka ke mesjid malam ini.

Baru saja tiba di depan pintu dapur, aku melihat sesuatu yang membuat darahku mendidih.

Sarah, dia berdiri di dekat pintu kamar mandi, menempelkan wajah di sana.

"Sarah! Lo ngapain, hah?" Aku teriaki namanya. Emosi yang tiba-tiba datang ini tak dapat lagi aku bendung. Kaki kuhentak kuat ke arahnya.

Sarah sudah menjauh dari pintu kamar mandi, karna tubuhnya tadi terlonjak saat aku berteriak. Wajahnya pucat dan terlihat gugup.

"Wi-Winda."

"Apa? Lo mau jelasin apa? Lo ngintip suami gue mandi kan?" bentakku sambil mendorongnya hingga dia terduduk di lantai.

"Ma-mana ada Sarah mengintip Abang Adam. Ta-tadi Sa-Sarah cuma menggantungkan handuk Abang Adam yang hampir jatuh," balasnya memberi alasan.

Alasan bodoh kalau menurutku. Jelas-jalas aku melihat sendiri apa yang dia lakukan tadi.

"Lo gak usah berdalih! Gue punya mata! Gue lihat sendiri apa yang Lo lakuin tadi! Sebenarnya apa sih, yang Lo belum puas hati dengan gue, hah?" teriakku lagi. Ingin sakali aku menarik rambutnya dan menampar wajahnya, tapi pintu kamar mandi lebih dulu terbuka dan Adam keluar di sana.

"Winda, ada apa sayang?" tanya Adan keheranan. Dan pada saat itu, Sarah menangis terisak-isak memulai aktingnya.

"Ada orang gak tau malu mengintip kamu mandi," jawabku. Mataku memandang sinis pada akting Sarah yang semakin terisak menangis.

"Nggak. Itu gak benar. Sarah gak melakukan itu, Bang. Tadi Sarah cuma mau menggantung handuk Abang yang hampir jatuh. Itu saja."

Wajah Adam masih keheranan. Handuk yang di maksud Sarah sudah terpasang rapi di pinggangnya.

Oma yang muncul di pintu dapur, hanya diam menyaksikan.

"Eh, Lo kalau ngasih alasan, yang pintar dikit napa. Lo kira gue buta, hah? Gue lihat sendiri Lo ngintip suami gue dari calah pintu ini!" Sebenarnya aku belum puas, masih ingin bertengkar dan memakainya, tapi Adam, lebih dulu menyela dan menahan tanganku

"Winda, mungkin. Kamu salah lihat. Kamu kan belum begitu sehat."

Aku pandang dia setajam yang aku bisa, lalu menghantakkan kami ke kamar.

***

Sejak kejadian itu, aku mogok, tidak mau keluar kamar. Adam dan Oma tetap pergi kemesjid dan aku yakin perempuan tidak tahu malu itu pun ikut sekali. Setelah pulang dari mesjid, beberapa orang ada yang datang kerumah, melanjutkan mengobrol di ruang tamu. Aku pura-pura tidur waktu Adam masuk kamar.

Pagi tadi, Adam membangunkan aku untuk Sholat Subuh, tapi untuk pertama kalinya, permintaannta itu tidak aku turuti.

Sama seperti pagi sebelumnya, Adam ikut Oma ke kebun. Sedang aku masih berkurang di dalam kamar.

Kira-kira pukul 11, bibi Ria masuk ke kamar menemuiku.

"Winda, masih demam?" sapanya sambil berlabuh di sisi ranjang. Entah kenapa aku malah sedikit menjauh, tidak ingin berdekatan dengannya.

"Bibi kesini ngapain?" tanyaku tanpa melihat padanya.

Kudengar helaan nafas bibii Ria, cukup berat.

"Bibi mau bicara tentang kejadian kemarin sore. Apa benar yang Winda lihat?"

Kepalaku reflek menoleh padanya dengan wajah ketat. "Winda memang lagi demam, tapi Winda gak  buta, Bik!" ucapku tajam.

"Apa Winda yakin, tuduhan itu bukan berdasarkan emosi?"

Suara bibi Ria tetap tenang, tapi aku yang mendengar bertambah emosi. Lantas aku sedang berbaring merubah posisi jadi duduk.

"Bik, mata Winda ini masih normal. Gak usah deh persoalkan masalah ini lagi. Karna Winda tau, Sarah masih menyimpan dendam pada Winda. Begitu Winda, sangat benci dia!"

"Mungkin Sarah masih dendam, mungkin juga tidak. Tapi tuduhan Sarah pada Winda dulu memang terbukti.  Kalau tuduhan Winda ini, apa ada bukti?"

Suara bibi Ria semakin membuat aku emosi.

"Bik, Winda tau Sarah anak tunggal bibi. Tapi apakah menurut bibi yang dia lakukan itu benar? Mata Winda gak salah, mata Winda yang jadi saksi." Suaraku semakin naik. Sakit di kepala tidak lagi kupedulikan.

"Winda! Sarah memang satu-satunya anak bibi, dan bibi kenal siapa anak bibi. Dia tidak mungkin melakukan hal ini. Selagi tidak ada bukti, bibi anggap tuduhan Winda itu hanya sebuah fitnah!"

Setelah mengucapkan itu bibi Ria berdiri dan terus keluar.

Tidak lama setelah bibi Ria pergi, kudengar suara Adam dan Oma yang baru saja datang, aku pun segera keluar menemui mereka untuk mengatakan keinginanku pulang ke Jakarta.

"Kenapa buru-buru, Winda. Baru juga kemarin datang. Lagian Adam juga masih betah disini," ucap Oma memprotes keinginanku. Wajahnya berubah kaget mendengar keinginanku akan balik ke Jakarta.

Adam pun mendekatiku. Tanganku di raihnya. "Ada apa, Winda? Papa dan Mama baik-baik saja kan?" tanyanya. Mungkin dalam pikirannya alasanku ingin pulang ke Jakarta di karnakan ada berita buruk dari papa atau mama.

"Aku gak mau tinggal di kampung ini lagi. Aku yakin bibi Ria dan Sarah pun ingin aku cepat pergi dari sini," balasku mengalihkan pandangan dari wajah sedih Oma.

"Winda, kenapa bicara seperti itu. Apa ada Bibi Ria atau pun Sarah bicara sesuatu?" Oma mendakat dan menyentuh lenganku, tapi aku masih mengalek untkm melihat wajahnya.

"Winda tau kok Oma. Oma juga gak percaya apa yang Winda katakan tentang Sarah dan mungkin semua orang juga begitu. Udahlah, Winda mau balik ke Jakarta besok," jawabku dengan nanahan intonasi suara agar tidak kurang ajar pada Oma. Jujur, aku kecewa karna Oma juga tidak percaya padaku. Dan mungkin semua orang juga tidak akan percaya apa yang kulihat kemarin itu. Bahkan Adam pun tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Meraka semua mengira aku salah paham.

"Winda, bukan Oma tidak percaya. Tapi yang di katakan bibi-mu mungkin bernar, tuduhan Winda itu tidak ada bukti. Mungkin ini hanya kesalah pahaman saja."

Lantas kupandang wajah Oma yang masih membela Sarah.

"Winda tau kok Oma, sebenarnya Winda bukan lagi cucu kesayanan Oma, kan? Winda juga tau, setelah kejadian dulu, Oma jadi tahu pada Winda. Sekarang Oma lebih percaya pada Sarah dan orang  lain dari pada cucu yang Oma bilang cucu kesayangan ini, kan?" Kuhamburkan kata-kata itu bersama air mata mulai mengalir.

"Demi Tuhan, sedikitpun Winda gak ada niat buat merebut Anuar dari Sarah. Winda hanya gak ingin Sarah di permainkan oleh nyata darat seperti si Anuar itu! Tapi nyatanya niat Winda di salah artikan. Winda malah terjebak sendiri. Dan yang paling menyakitkan, Oma pun gak percaya sama Winda. Jadi untuk apa lagi Winda disini?" Aku menambahkan lagi, lalu kuseka air mata di pipi. "Pokoknya besok Winda akan pulang ke Jakarta."

Kemudian kaki kuhentak menuju kamar. Kukamasi semua pakaianku dan Adam ke dalam koper. Adam masih di ruang tamu, mungkin sedang membujuk Oma.

Belum siap mengemsi semua pakaian, aku berbaring karna kepala ini terasa semakin berat dan berputar. Air mata yang masih mengalir ku-seka dengan selimut, hingga aku tertidur, Adam belum juga masuk kemar.

***

Suara Isak tangis membangunkanku. Kubuka mata, cahaya ruangan tidak seterang tadi. Lampu di kamar susah menyala menandakan hari yang sudah malam. Lama juga ternyata aku tidur.

Pandangan kini tertuju pada sosok tubuh yang duduk di sudut ranjang, dekat kakiku.

"Adam." Kupanggil namanya dan Isak tangis yang kudengar tadi pun terhenti, tapi Adam masih belum menoleh kearahku. Aku pun duduk dan mendekatinya.

Kutarik bahunya yang sedang menyeka mata agar menoleh padaku,

"Kamu kenapa?" tanyaku keheranan, karna dugaanku benar. Adam sedang menangis. Matanya terlihat jelas berkaca, membuktikan dia baru saja menangis.

"Maaf. Saya membuat kamu bangun ya?" Suara Adam masih serak. Da juga tidak melihatku, malah sengaja mengalihkan wajahnya kearah lain.

"Kamu nangis?" tanyaku tanpa menjawab tanyanya. Hatiku turut sedih melihat dia seperti ini.

Adam melap hidungnya yang beringsus sebelum menoleh padaku.

"Kamu sudah baikan, kan? Barang barang yang akan di bawa besok sudah saya siapkan."

Sama dengan aku, Adam juga tidak menjawab apa yang kutanyakan, dia malah mengalihkan topik sambil tersenyum, senyum untuk menyembunyikan rasa sedihnya.

Hatiku semakin bertanya-tanya.

Apa yang menyebabkan dia menangis?

"Adam. Apa kamu gak mau memberitahuku apa yang baru saja terjadi?" tanyaku mendesak jawaban darinya.

Adam menundukkan wajah, helaan nafasnya juga terdengar nyaring di telingaku. Tiba-tiba aku teringat akan bibi Ria dan Sarah. Jangan-jangan ada hubungannya dengan mereka.

"Adam, apa ini ada kaitannya dengan bibi Ria ataupun Sarah? Apa mereka mengatakan sesuatu?" Aku terus mendesakmya menduga dengan pikiran yang terlintas di kepalaku.

Adam menggeleng pelan, wajahnya diangkat memandangku.

"Bukan, Winda. Tidak ada hubungan dengan mereka. Serius, saya baik-baik saja." Adam berdalih, lalu berdiri, tapi dengan capat kutarik tangannya agar duduk lagi.

"Terus apa? Jangan buat saya penasaran. Aku ingin tahu, apa yang membuat kamu menangis?"

Adam meraup nafas dalam-dalam-dalam sebelum kembali duduk. Aku dapat rasakan, dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk bercerita padaku.

"Saya...." Adam mulai membuka cerita, tapi berhenti lagi. Kugeser duduk semakin mendekat dan mengambil tangannya.

"Saya rindu kampung saya." Adam melanjutkan, wajahnya masih di palingkan dariku. "Saya rindu tempat di mana saya di lahirkan. Suasana di kampung ini mengingatkan saya pada suasana disana." Adam tersenyum getir.

"Oma. Oma begitu baik pada saya, membuat saya semakin rindu pada nenek saya. Kami Setu keluarga tinggal berdekatan, sama seperti bibi Ria dan Oma. Dan hubungan kami begitu dekat karna hidup bersama." Adam memandangku sekilas dan tersenyum. Senyum untuk menutupi kesedihannya.

"Diantara semua anak nenek, hanya Mae-- ibu saya yang menikah dengan orang  asing di luar suku kami. Di tempat kami, ada sebuah kepercayaan; Jika menikah di luar ethnis akan mengundang kesialan atau kemudhoratan pada keluarga itu sendiri. Dan yang membawa kesialan itu adalah anak pertama." Suara Adam makin bergetar. Menjeda sejenak sebelum kembali melanjutkan. Aku hanya menyimak ceritanya sambil memandang wajah sedihnya.

"Sewaktu Mae hamil saya. Dipanggillah seorang biksu untuk mendoakan. Tapi biksu itu malah memperingatkan agar Mae menggugurkan kandungan, karna Jika anak dalam kandungan Mae lahir, maka kesialan demi kesialan akan menimpa keluarga, di sebebakan Mae hamil di luar nikah." Suara Adam semakin serak. Aku tahu, dia sedang berusaha menahan tangis.

"Tapi...." Adam mulai terisak. "Tapi Mae berkeras dan menentang keluarga agar tetap melahirkan saya. Sampai lah saya lahir. Awalnya semua baik-baik saja dan bisa menerima kehadiaran saya." Air mata Adam semakin deras menuruni pipi. Aku turut terenyuh.

"Awalnya semua keluarga besar Mae menyayangi saya. Tapi samua berubah dalam sekalipun mata." Isak tangis Adam semakin deras terdengar. Kedua tangan kini di tutup kan ke wajah. Bahunya bergetar menahan isakan.

"Karna kecelakaan itu?" Anggukan kecil Adam membenarkan tarkaanku itu.

"Mereka menganggap saya lah penyebab semua musibah itu, kecuali nenek saya. Dan ketika paman dan bibi saya mengusir saya keluar dari kampung karna menganggap saya pembawa sial, neneklah yanv memasang bada menghangi mereka. Tapi..." Adam menjeda lagi. Mata di pejam kuat seolah sulit untuknya mengenang semua itu.

"Dia pun....?" tanyaku yang juga menggantung kalimat. Rasanya tak sanggup melanjutkan kata meninggal.

Adam mengangguk seolah tau apa yang aku maksud.

"Ya, nenek terkena serangan jantung." Suara Adam semakin lirih terdengar.

"Jadi itu sebabnya kamu meninggalkan kampung?" tanyaku, coba menerka lagi dan Adam mengangguk membenarkan..

Terharu, sedih, itulah yang aku rasakan setelah mendengar kisah hidup Adam. Tak pernah kuduga, lelaki yang dulu kumusuhi dan sekarang menjadi suamiku, ternyata memiliki sejarah hidup yang begitu kelam. Kisah hidupnya lebih menyedihkan dari aku yang hanya merasa di abaikan mama dan papa setelah perceraian mereka dulu. Tapi kisah hidup Adam?

Kehilangan keluarga yang harusnya menjadi tempat dia menerima kasih sayang dan di tuduh sebagai anak pembawa sial, hingga terpaksa meninggalkan kampung halama. Bukan kah itu lebih tragus dari secuil kesedihan yang pernah aku alami? Rasanya, membayangkan hidup sepertinya aku tak sanggup.

"Maaf, saya tidak bermaksud membuatmu bosan dengan cerita itu. Saya hanya merindukan keluarga saya." Adam kembali menundukan wajah dan terisak. "Saya tidak punya siapa-siapa lagi, Winda. Saya hanya ada kamu."

Aku tak dapat menahan air mata mendengar pernyataannya itu. Kepalanya aku tarik ke bahu dan keningnya aku kecup. Punggungnya aku usap, membiarkannya melepaskan kesedihan.

Kedua tangan Adam meremas belakang bajuku. Tangisnya semakin menjadi. Sekali-kali kukecuo dahinya, seperti yang sering dia lakukan padaku.

Beberapa menit berselang, tangis Adam reda. Gangganan tangannya di bajuku pun telah di lepaskan. Semantara tanganku masih mengusap punggungnya.

Kemudian, Adam telah berbaring. Kepalanya di letakkan diatas pangkuanku. Tanganku berpindah mengusap kepalanya. Matanya yang masih basah di pejam.

"Kamu pernah mandi air terjun gak?" tanyaku memecah keheningan yang menemani kami hampir setengah jam lamanya.

Adam membuka matanya, memandang tepat wajahku. Kemudian mengangguk kecil.

"Di kampung ini ada air terjun, lho. Air jernih banget. Dulu waktu masih kecil, aku dan Sarah sering pergi kesana, setelah itu Oma marah-marah karna kami pulang dengan baju yang basah kuyup." Aku tersenyum mengingat kenangan itu, waktu itu hubunganku dengan Sarah masih dekat.

"Mau kesana gak?" tanyaku.

"Kapan?"

"Besok."

"Besok?" tanyanya dengan kening berkerut.

Aku tersenyum dan mengangguk. "Iya, besok. Aku juga sudah lama gak kesana. Nanti aku tunjukin tempat yang bagus."

"Terimakasih, Winda." Adam berbisik pelan, lalu mencium perutku.

Aku tertawa kecil, melihat Adam yang kembali tersenyum. Rencana ingin pulang ke Jakarta, kulupakan. Mungkin dengan ini bisa sedikit mengobati kerinduan Adam pada kampungnya.

***

Bukan hanya Adam, Oma pun merasa senang dengan keputusanku. Malam itu masih sempat kami makan malam bersama, di lanjutkan mengobrol santai di ruang tamu.

Oma begitu semangat bercerita, bahkan cerita masa lalunya pun di ceritakan pada kami.

"Adam jangan main main sama  Winda. Dia itu nekat. Oma masih ingat waktu dia umur 13 tahun. Anak-anak sini menantang dia memakan kodok. Eh, benaran dia makan." Oma mengganti topik cerita, menganang masa lalu tentang aku. Kami benar-benar larut dalam candaan dan tawa. Bahkan Adam sampai memegang perut saat Oma menceritakan kejadian yang lebih lucu.

Malam itu, bibi Ria dan Sarah datang. Suasana yang tadinya hangat dengan canda tawa berubah tegang.

Aku pindah duduk di sebelah Adam, sengaja menghindari mereka. Mungkin, karna Adam menyadari perubahan moodku, dia mengambil tanganku dan menggenggamnya.

"Winda, bibi minta maaf ya, atas kejadian siang tadi. Bibi harap Winda tidak dendam pada Bibi." Bi Ria membuka suara.

"Sarah juga minta maaf, jika perbuatan mencurigakan Sarah kemarin membuat Winda marah. Tapi sungguh, Sarah gak seperti itu." Sarah juga bersuara.

Kupaksa menarik senyum, karna aku tidak mau keributan dengan mereka merusak kebahagian Adam selama di kampungku.

"Besok Winda dan Adam mau ke air terjun. Sarah ikutlah sekali, biar bisa menunjukkan jalan baru pada meraka, kan Winda taunya jalan yang lama, sekarang jalan itu sudah di tutup," ucap Oma.

"Sarah juga sudah lama gak pergi ke air terjun bersama Winda," balas Sarah tersenyum lebar. Entah ikhlas entah tidak.

Bukan aku mau berpikir jelek tentang dia, tapi sejujurnya aku belum bisa melupakan kejadian 4 tahun silam yang membuat hubunganku dengannya jadi renggang.

***

Seperti yang kami rencanakan, keesokan harinya aku, Adam dan Sarah pergi ke air terjun yang berada di perbatasan kampung ini.

Oma benar, jalan yang dulu sering aku lewati kalau ingin pergi ke air terjun, kini telah di tutup.

Sarah berjalan di depan sebagai penunjuk jalan baru ini. Aku sempat mengajak Adam berhanti di beberapa tempat, sekadar mengambil foto.

Kami juga membawa persediaan cemilan untuk kami makan di lokasi nanti. Bibi Ria yang menyiapkan semuanya. Dulu pun dia selalu menyiapkan bekal jika aku dan Sarah pergi ke air terjun.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan medan sedikit mendaki, akhirnya kami tiba di lokasi.

Air terjun ini masih sama seperti dulu, hanya aliran airnya yang terlihat lebih deras. Disini hanya ada kami bertiga, tidak kulihat ada orang lain di sekitar. Padahal dulu, sore-sore begini, tempat ini ramai di kunjungi pemuda kampung.

Adam membantuku menggelar dikar yang kami bawa, lalu kuletakkan cemilan yang kami bawa.

"Aku mandi dulu ya?" Setelah mengucapkan itu, Sarah lansung berlari masuk kedalam aliran air terjun yang deras. Aliran air terjun ini merupakan satu-satunya anak sungai di kampung ini.

Sarah yang susah berada di dalam air, berteriak kegirangan sambil memercik air yang mengalir.

"Ayo," ajak Adam sambil mengulurkan tangan padaku.

Kusambut tangannya itu dan kami bergandengan masuk kedalam air.

"Wow! Airnya dingin banget." Adam berteriak kecil ketika menjejakkan kaki kedalam air.

Aku tertawa, lalu menariknya agar ketengah. Adam menurut dan perlahan kami menapaki batu- batu licin di dalam air menuju ke sebuah batu besar yang berada di tengah sungai.

Niat isengku pun datang, kulepaskan tangan Adam, lalu memercikkan air ke badannya. "Ayo mandi!"

"Winda, sebentar. Tunggu dulu. Airnya begitu dingin. Biarkan saya menyesuaikan dulu," pinta Adam sambil tertawa. Tubuhnya sedikit menggigil kedinginan karna air di sini memang dingin.

"Ya udah, aku kesana duluan." Kutinggalkan Adam, laku berjalan ke atu besar dulu. Tanpa menunggunga, aku berdiri membelakangi batu besar itu menghadap tepat ke arus air terjun yang deras di depanku. Kemudian aku jongkok, membenamkan tubuh kedalam air. Kepala juga kubenamkan setelah menghirup nafas dalam-dalam. Hanya bunyi arus deras yang mengisi gendang telingaku.

Kutahan nafas sebisaku di dalam air dan kembali lagi mengulanginya sampai tubuhku kedinginan. Rambut yang menutupi wajah kusibakan setelah puas menyelam.

"Hai."

Adam tiba-tiba muncul di hadapanku. Seluruh tubuhnya sudah basah. Rambutnya yang lurus jatuhmenutupi sebagian kening. Air yang menetes di ujung rambut dan wajahnya begitu sexy di mataku.

"Hai juga," sahutku membakas sapaannya. Sekuat hati aku menahan hasrat melihat penampilannya yang menggoda. Tubuhnya yang menggoda, tercetak jelas di balik baju basah yang menempel di kulit badannya. Setiap lekuk otot di badannya terlihat begitu mempesona.

"Mau lomba tahan nafas dengan saya?" Adam menantang-ku sambil menahan tubuhnya agar tisak jatuh. Kedua kakinya bertumpu pada batu-butu kecil.

"Oke. Siapa takut." Aku pun Kemabli ketemoatku tadi, begitupun Adam masuk kedalam air. "Kita mulai pada hitungan ketiga ya?" ucapku memberi arahan.

Adam tersenyum dan mengangguk.

"Satu...dua...tiga!"

Aku kembali menyalam.  Jika tadi hanya menyelam karna keinginan saja, tapi kali ini aku ingin mengalahkan Adam.

Kutahan nafas salama yang kubisa, tapi degup jantung yang tidak memungkinkan membuat kepalaku refleks naik untuk menghirup nafas. Mungkin aku kalah karna terlebih dulu keluar. Rambut yang menutup wajah kuseka kebalakang, tapi mata ini tidak melihat keberadaan Adam.

"Oke. Aku mengaku kalah. Kamu menang," ucapku mengimumkan, tapi tidak ada respon. Aku panggil namanya lagi, tapi masih tak ada jawaban. Aku menoleh kebalang, di sana hanya ada Sarah yang masih bermain air. Di dalam air bayangannya juga tidak terlihat.

"Adam!" Namanya kuseru lagi, tapi kali ini lebih kuat.

"Adam. Kamu dimana? Jangan bercanda!" Aku mulai panik. Pandangan mengedar kesekeliling mencari kekibatnya yang tidak terlihat dan masih belum ketemukan.

Perlahan aku pun berdiri keluar dari dalam air sambil tangan menopang pada batu besar. Nama Adam terus kupanggil, tapi masih tak ada sahutan.

Kemana dia?

Baru saja memutar tubuh ke arah baru bersar, Adam muncul di sana mengagetkanku.

Sungguh aku kaget. Hingga tangan yang kutopang kebatu nyaris lepas. Tapi Adam malah tertawa dan memeluk pinggangku.

"Ini gak lucu Adam! Gak lucu sama sekali!" omelku. Nyaris aku menangis karna rasa takut kehilangan dia dan dalam waktu bersamaan ada rasa lega melihatnya muncul.

"Sorry." Adam masih tertawa.

Kubuat ekspresi merajuk sambil berusaha menyingkirkan tangannya yang memeluk pinggangku, tapi tidak berhasil karna sedikitpun Adam tidak melepaskan. Malah sebaliknya, tangannya semakin kuat memelukku.

"Aku belum mau jadi janda, tau! Kamu jangan macam-macam ya? Kamu tau arus sungai ini deras kan? Kalau kamu hanyut di bawa arus dan terjadi apa-apa denganmu, coba bayangkan bagaimana perasaanku?" Bukan niatku ingin mengomel panjang lebar begini, apalagi membayakan dia hanyut di bawa arus deras ini. Tapi, aku benar-benar cemas, hingga tak tahu harus bicara apa. Kulihat Adam malah tersenyum, saat itulah baru aku merasa malu.

"Khawatir juga kamu ternyata dengan saya," ucap Adam sambil mengangkat daguku "Sorry," katanya lagi dan kembali memelukku erat.

Kehangatan tubuhnya mempu menghangatkanku yang sedang kedinginan.

"Aku gak bisa beranang. Kalau terjadi apa-apa denganmu, jangan harap aku akan menolong," gumamku, lantas mengatup bibir menahan senyum.

Adam tertawa kecil mungkin dia sadar aku m sedang mengulum senyum.

"Iya, sayang."

Sayang! Dia memanggil aku sayang?

"Tolong! Tolong! Abang Adam! Tolong!"

Suara yang tiba-tiba hadir itu mengganggu kemesraanku. Adam yang juga mendengarnya tampak panik dan kepalanya reflek berputar menjadi arah sauara.

"Abang Adam! Tolong!"

Suara itu kembali terdengar, jauh di belakang kamu.

Adam melepaskan satu tangannya dari memelukku dan menolah ke sumber suara. .

"Sarah!" teriak Adam tiba-tiba, lalu memandangku dengan wajah panik. "Sayang. Sarah. Saya harus menolong dia. Kamu tunggu di sini dulu ya? Jangan kemana-mana." Masih sempat Adam mencium dahiku sebelum beranjak dan membiarkan tubuhnya di bawa arus deras.

"Adam!" panggilku. Rasa cemas yang tadi hilang kini datang lagi melihat tubuhnya di bawa arus sungai.

Jauh di ujung yang airnya lebih dalam, aku melihat Sarah sedang menggapai-gapaikan tangan, membuat cemasku semakin bertambah.

Apa yang terjadi pada Adamku jika ikut di bawa arus?

Aku di serang panik, hanya bisa menyaksikan Adam yang sedang bergayut pada akar pohon yang menjalar ke sungai. Perlahan dia mengulurkan tangan pada Sarah yang tenggelam dan timbul dari dalam air.

Nafasku serasa terhenti ketika Adam turut hilang di dalam air.

Aku tak bisa lagi menunggu.

Lantas kucoba berjalan ke tepi, menapaki batu-batu licin. Sesekali aku menoleh kearah Adam yang telah berhasil meraih tangan Sarah. Mata yang sibuk memperhatikannya hingga menyebabkan langkahku hilang kendali. Kakiku terpeleset ketika memijak batu licin hingga aku terduduk.

Tak memperdulikan rasa sakit, segera aku berdiri sebelum dibawa arus sungai yang perasaanku semakin deras.

Sesampainya di tepi, aku berlari kearah Adam dan Sarah. Disana aku melihat Adam yang sedang membopong Sarah ketepi. Kemudian membaringkan Sarah diatas batu besar.

Sarah seperti tidak sadarkan diri, Adam tarlihat cemas, lalu menekan kedua tapak tangannya ke dada Sarah. Mungkin membantu pernafasan Sarah. Beberapa kali Adam melakukan itu, tapi tubuh Sarah belum juga bereaksi.

Adam meraup wajah, mungkin dia makin cemas karna Sarah belum bangun juga. Aku seakan bisa menerka apa yang akan di lakukan Adam. Ketika dia menundukkan kapala, aku tahu, terkaanku tidak salah.

Adam memencet hidung Sarah, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Sarah.

Detik itu aku berpaling, tak sanggup melihatnya. Saat menolah lagi, Sarah sudah sadar. Dia terbatuk-batuk memuntahkan air dan Adam tampak mengusap punggung Sarah.

Adam sempat menoleh ke arah batu besar tempat dia meninggalkan aku tadi. Dan ketika dia menyadari aku yang telah berdiri beberapa meter saja darinya, riak wajahnya tampak legi dan juga sedikit tega. Dia tahu aku menyaksikan semuanya.

Tiba-tiba Sarah menangis dan memeluk Adam. Tampak wajah Adam serba salah dan matanya jelas meminta aku mengerti keadaannya.

Kemudian Adam membantu Sarah bangu, tapi Sarah malah mengaduh kasakitan sambil memegang kakinya, dan Adam terpaksa memapahnya berjalan.

"Sayang, tolong kemasi barang-barang," pinta Adam setelah nendekatiku.

Sekilas aku melihat tangan Sarah yang bergayut di bahu Adam, sedikitpun dia tidak menghiraukan kehadiranku.

Rasanya ingin sekali kuceburkan lagi dia ke sungai, biar hanyut sekalian. Menahan rasa itu, akupun menuruti yang di katakan Adam.

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!