Di bawah rembulan yang dingin, seorang jenderal berdiri tegak, pedangnya berkilauan memantulkan cahaya. Bukan hanya musuh di medan perang yang harus ia hadapi, tetapi juga takdir yang telah digariskan untuknya. Terjebak antara kehormatan dan cinta, antara tugas dan keinginan, ia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya—dan mungkin juga seluruh kerajaannya. Siapakah sebenarnya sosok jenderal ini, dan pengorbanan apa yang bersedia ia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Fha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Senja merayap di langit desa Luoyang, mewarnai lembah dengan gradasi jingga dan ungu. Setelah menderita di bawah cengkeraman Mo Hui, desa Luoyang akhirnya bangkit dari abu. Rumah-rumah yang hancur telah dibangun kembali, ladang-ladang yang rusak kembali menghijau, dan senyum kembali menghiasi wajah para penduduk.
Di pusat desa, berdiri kokoh sebuah altar leluhur yang baru. Altar itu dibangun dengan kerja keras dan gotong royong seluruh warga, sebagai simbol penghormatan kepada para leluhur dan Para penduduk desa yang gugur dalam pertempuran melawan mo Hui saat itu. Aroma dupa memenuhi udara, bercampur dengan wangi bunga-bunga liar yang diletakkan di sekitar altar.
Para penduduk desa berkumpul di sekitar altar, mengenakan pakaian Duka mereka. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semua bersatu dalam doa. Suara mereka menggema di lembah, memohon perlindungan dan keberkahan dari para leluhur.
Mereka juga meletakkan nama keluarga mereka yang telah gugur disana.
Mereka menundukkan kepala, merenungkan Kenangan yang begitu kelamnya dan berharap akan masa depan yang cerah.
Di antara kerumunan, Yu Zhang berdiri dengan tenang, mengamati pemandangan di sekitarnya. Ia merasakan kehangatan dan kedamaian yang terpancar dari para penduduk desa. Ia melihat harapan di mata mereka, harapan yang telah lama hilang.
Namun, pandangannya tertuju pada Xin Lan yang berdiri terpisah dari kerumunan. Xin Lan tertunduk dalam diam, wajahnya penuh penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Ia tampak seperti jiwa yang tersesat,
Yu Zhang mendekati Xin Lan dengan langkah pelan. "Kau tidak ikut berdoa?" tanyanya lembut.
Xin Lan mengangkat wajahnya, menatap Yu Zhang dengan mata berkaca-kaca. "Aku..., Aku tidak bisa melindungi mereka dengan baik, Aku tidak pantas mendapatkan pengampunan."
Yu Zhang meraih tangan Xin Lan, menggenggamnya erat. "Yun xiao," Panggil nya dengan tulus. "Kau sudah membuktikan bahwa kau berjuang demi mereka, Kau pantas mendapatkannya."Sambil menghapus air mata gadis itu.
"Sebenarnya bukan itu yang aku takutkan" tanya Xin Lan dengan suara bergetar.
"Hei tenanglah, memang apa yang kau takutkan?"Yu zhang menenangkan Xin lan.
"Aku takut, jika suatu saat ingatanku kembali, aku akan berubah menjadi orang lain, yang kemungkinan besar buruknya aku menjadi orang yang paling dibenci oleh mereka."Jelas Xin lan khawatir.
"Hei, tenanglah, Kau tidak perlu seperti itu, aku yakin ,mereka akan menerimamu, jika seandainya kau kembali menjadi orang terpuruk di masa lalu sekalipun," jawab Yu Zhang. "Kau bisa menjadikannya sebagai pelajaran untuk menjadi orang yang lebih baik. Kau bisa menggunakan pengalamanmu untuk membantu orang lain dan mencegah tragedi serupa terjadi lagi."
Yu Zhang tersenyum lembut pada Xin Lan. "Lihatlah para penduduk desa ini," katanya, menunjuk ke arah kerumunan yang sedang berdoa. "Jangan sia-siakan kesempatan ini, Yun Xiao. Kau akan tetap menjadi bagian dari mereka, dan menjadi bagian dari desa ini."
Xin Lan menatap Yu Zhang dengan tatapan penuh terima kasih. Ia merasakan kehangatan dan harapan yang telah lama hilang kembali menyala di dalam hatinya. Ia tahu bahwa ia masih memiliki jalan panjang untuk ditempuh, tetapi ia tidak lagi merasa sendirian. Ia memiliki Yu Zhang di sisinya, dan ia memiliki para penduduk desa Luo Yang yang telah menerimanya dengan tangan terbuka.
Xin Lan menarik napas dalam-dalam, menguatkan dirinya. Ia menggenggam tangan Yu Zhang lebih erat, dan bersama-sama mereka bergabung dengan kerumunan yang sedang berdoa. Xin Lan menundukkan kepalanya, memohon ampunan dan bimbingan dari para leluhur. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan segala yang ia bisa untuk menebus dosa-dosanya dan menjadi orang yang lebih baik.
Di bawah langit senja yang indah, para penduduk desa Luo Yang berdoa bersama-sama, menyatukan hati dan pikiran mereka dalam harapan akan masa depan yang lebih baik. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh dengan tantangan, tetapi mereka tidak akan menyerah. Mereka akan terus berjuang, bersama-sama, untuk membangun desa yang aman, damai, dan sejahtera. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri Yu Zhang dan Xin Lan, dua jiwa yang terluka yang menemukan harapan dan penebusan di desa yang telah bangkit dari abu.
...
Mentari pagi menyinari desa Luo Yang, menghangatkan tanah dan membangkitkan semangat baru setelah malam yang penuh doa. Yu Zhang dan Xin Lan berdiri di gerbang desa, siap melanjutkan perjalanan mereka. Xin Lan menatap desa yang telah menjadi rumahnya selama beberapa waktu, hatinya dipenuhi rasa haru dan terima kasih.
Para penduduk desa berkumpul di sekitar mereka, wajah mereka penuh ketidakrelaraan melepaskan Xin Lan atau Yun xiao.
Ibu yun mendekati Xin Lan ,ia memeluk tubuh gadis itu.
"Yun xiao,Apa kau benar benar harus pergi?!"Ucap ibu Yun sambil memegang erat kedua lengan gadis itu.
Xin Lan hanya terdiam sambil melepaskan genggaman tangan ibu Yun dengan lembut.
"Nona Yun, aku tidak tahu harus memberikanmu apa sebagai hadiah perpisahan,tapi..., temanku yang berasal dari ibukota bilang, biasanya mereka akan memberikan saputangan dengan rajutan."Sambil menyerahkan sapu tangan dengan rajutan dengan gambar awan kecil berwarna ungu.
"Terimakasih, Jaga diri kalian ya! "Ucap Xin Lan.
"Kau juga nona!, jangan lupa untuk kembali!"Sahut kepala desa.
Yu Zhang dan Xin Lan mulai melangkah pergi, Xin Lan berhenti sejenak. Ia berbalik menghadap para penduduk desa dan membungkuk dalam-dalam, sebagai tanda hormat dan terima kasih yang tulus.
"Terima kasih atas kebaikan kalian," ucapnya dengan suara bergetar. "Aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah kalian lakukan untukku."
Xin Lan melambaikan tangannya, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Saat itulah, Yun Ban Xia, Yun Zhao, dan Yun Ling Shan, ketiga putra keluarga Yun, berlari menghampirinya. Bibi Yun, ibu mereka, mengikuti dari belakang dengan langkah tergesa.
"Yun xiao!" seru Yun Ban Xia, yang paling tua di antara mereka. "Jangan pergi!"
Ketiga bersaudara itu memeluk Xin Lan erat-erat, seolah tidak rela melepaskannya. ibu Yun menghampiri mereka dan memeluk Xin Lan juga, air mata membasahi pipinya.
"Jangan lupakan kami, Nak," kata ibu Yun dengan suara serak. "Kapan pun kau ingin kembali, Kediaman keluarga Yun akan senantiasa terbuka untukmu."
Yun Ban Xia melepaskan pelukannya dan menatap Xin Lan dengan tatapan serius. "Jangan lupa untuk kembali."
Yun Zhao, yang pendiam dan pemalu, memberanikan diri untuk berbicara. "Kakak!" gumamnya. "Siapa lagi yang akan menemaniku bermain catur? Mendongeng kanku sebelum tidur? "
Yun Ling, yang biasanya terlihat paling ceria, menatap Xin Lan dengan mata berkaca-kaca. "Jangan lupa untuk mengirim surat kepada kami," pintanya. "Dan jangan lupa untuk menceritakan semua petualanganmu!"
"Dan jangan lupa dengan latihanmu ya!"Balas Xin Lan sambil menjitak kepala Ling pelan.
Ling mengangguk disertai senyum sambil menggosok kepalanya yang sebenarnya tidak terasa sakit.
Xin Lan tersenyum haru, air matanya semakin deras mengalir. Ia membalas pelukan mereka dengan erat, merasakan kehangatan dan cinta yang terpancar dari keluarga Yun.
"Aku tidak akan pernah melupakan kalian," janjinya. "karena Kalian semua adalah keluargaku."
Melihat pemandangan yang mengharukan itu, para penduduk desa yang awalnya diam mulai mencair. Mereka berkumpul di sekitar Xin Lan dan Yu Zhang, memberikan dukungan dan ucapan perpisahan.
"Jangan lupakan kami, Nona Yun!" seru seorang wanita tua. "Kau sudah menjadi bagian dari desa ini."
"Terima kasih sudah menyelamatkan kami dari bandit!" teriak seorang gadis muda. "Kau adalah pahlawan kami!"
"Jangan lupa untuk membawa oleh-oleh saat kau kembali!" canda seorang anak kecil, membuat semua orang tertawa.
"Semoga perjalananmu lancar dan sukses!" seru seorang tetua desa. "Dan jangan lupa untuk selalu berbuat baik di mana pun kau berada!"
Xin Lan tersenyum haru, melambaikan tangannya kepada para penduduk desa. Ia merasakan kehangatan dan cinta yang terpancar dari mereka, dan ia tahu bahwa ia akan selalu merindukan tempat ini.
Yu Zhang dan Xin Lan berbalik dan mulai melangkah pergi, meninggalkan desa Luo Yang di belakang mereka. air mata terus mengalir di pipinya.
Saat mereka berjalan menyusuri jalan setapak, Yu Zhang menatap Xin Lan dengan tatapan lembut. "Kau masih tidak rela ya?," katanya, "aku belum pernah melihatmu Sebahagia ini sebelumnya."
Xin Lan tersenyum, air matanya masih membasahi pipinya. "Itu karena di Desa Luo yang, Aku merasa seperti telah menemukan keluarga yang selama ini kucari."
"Keluarga ya...,"Gumam yu Zhang.
...
Hari sudah menjelang malam. Api unggun yang mereka buat menari-nari, menjilat udara dingin dengan lidah-lidah apinya yang hangat. Bayangan pepohonan di sekitar mereka tampak seperti penari misterius yang bergerak mengikuti irama angin malam,keheningan hutan yang sesekali dipecah oleh suara burung hantu atau derit ranting yang patah.
Xin Lan sudah memposisikan tubuhnya bersandar pada sebuah pohon,ketika Yu Zhang kembali, membawa seikat kayu bakar di tangannya.
Yu Zhang meletakkan kayu bakar di dekat api unggun, lalu memperhatikan Xin Lan yang cekatan. "Kau benar-benar akan tidur disana?," komentarnya.
"Ya? apa ada yang salah?"Ucap Xin Lan dingin.
"Ah..., ti tidak...ya.., kalau kau memang suka menyiksa diri ,aku tidak akan menghalangimu."Ucap Yu zhang.
Yu zhang membuka pakaiannya dihadapan Xin Lan, ia berharap dapat melihat reaksi menarik dari Xin Lan namun ...
"Udaranya terasa dingin apa karena kita berjalan ke Utara..., apakah Perbatasan sudah mengalami musim dingin?"
Ekspresi Xin Lan datar..
"Udaranya terasa dingin karena sudah kita sudah di pertengahan musim gugur yang mulia."Ucap Xin Lan datar.
Yu zhang diam diam kecewa dengan reaksi Xin Lan.
"Di...dia..., tidak bereaksi meski aku melepaskan hanfuku? Ah..., mungkin hanya kurang godaan."Batinnya.
"Nona Yun, bisakah kau membantuku mengoleskan ini? Pada punggungku?"
Yu zhang menyodorkan salep kepada Xin Lan.
Xin Lan dengan malas mengambil dan mengoleskannya tanpa ada reaksi sekalipun yang membuat yu zhang kecewa dengan reaksi Xin Lan.
"Ti...tidak mungkin..., dia mengoleskan salep dengan sungguh-sungguh?"
"Padahal para prajurit yang melihatku bilang, kalau Tubuh ku bisa membuat para wanita tergila-gila. Tapi, apa hanya laki laki saja yang beranggapan begitu? Ah..., Selama ini aku hanya fokus untuk merencanakan penglengseran permaisuri dan hidup dimedan perang, aku belum pernah memperlihatkan tubuhku didepan wanita."Batinnya.
"Yu zhang?! Tuan yu zhang!" Panggilan Xin Lan membuyarkan lamunannya.
"Kau melamun terus, apa ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?" Tanya Xin Lan.
"Hatiku Rasanya kurang nyaman sih..."Gumamnya.
"Ha?"Xin Lan merasa mendengar sesuatu.
"Lupakan!"Ucap yu zhang mengalihkan pembicaraan.
"Dasar Aneh!" Xin Lan kebingungan dengan tingkah pria dihadapannya.
Brugh!
yu zhang membaringkan tubuhnya di rerumputan menggunakan tangannya sebagai bantal.
" Kau yakin tidur seperti itu? Bukankah itu sangat tidak nyaman?" Tanyanya.
Xin Lan menghela nafasnya sambil menatap langit berbintang.
"Sehari hari aku sudah terbiasa tidur seperti ini, bahkan tidur ditempat seperti ini termasuk mewah bagiku."Ucap Xin Lan.
"Coba ceritakan apa yang kau ingat tentang dirimu sejauh ini."Ucap yu zhang.
"Ya?, ah..., Yang kuingat,aku adalah seorang pendekar bebas yang tidak terikat apapun, aku berasal dari wilayah kekaisaran bernama Tiandou, Aku memiliki beberapa orang yang kusayangi dibunuh oleh organisasi Mo hui, sejauh ini, itulah yang kuingat."Jelas Xin Lan bohong.
"Kau juga seharusnya menceritakan tentang dirimu bukan?"Ucap Xin Lan.
"Ah.., sepertinya begitu."
"Jadi, siapa kau? Dan kenapa kau membuat kesepakatan denganku?" Tanya Xin Lan.
Pada dasarnya Xin Lan sudah tahu identitas yu zhang,namun, demi keamanannya yang berpura pura hilang ingatan,ia harus bersikap seperti itu.
"Aku adalah pangeran mahkota dari kekaisaran Qingshui, Permaisuri Ning memfitnahku yang membuat jabatanku diturunkan menjadi seorang Marquis, ayahku juga bukan orang yang baik, dia hanya peduli dengan citranya!"
"Apa permaisuri Ning itu ibumu?"Tanya Xin Lan polos.
"Bukan! Dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi ibuku, dia hanya seorang selir bahkan bisa kubilang dia itu lebih bagus dipanggil binatang!"Umpat yu zhang dengan penuh dendam yang membuat Xin Lan langsung dapat merasakannya.
"Ah, sudahlah..., kita ganti topik saja!"
"Yah..,kau benar,ini terlalu berat untuk dijadikan dongeng penghantar tidur ."Ucap yu Zhang.
"Ah, Kau bilang berasal dari kekaisaran Tiandou bukan? Apa kau tahu kisah Jenderal Gila Liu Zhong?"
Xin Lan menggelengkan kepalanya.
"Ah, sudah kuduga, kau pasti belum mengingatnya ya, sudahlah biar kuceritakan.
"Siapa yang tidak mendengar kisah sang Jenderal Gila ,Sang Marquis liu zhong."Batin Xin lan.
"Marquis Liu zhong adalah salah satu jenderal yang ku kagumi, awalnya ia adalah orang kekaisaran Qingshui, Namun ayahku, yang pada saat itu menjabat sebagai kaisar diusia 18 tahun , menjebaknya, dan menempatkannya di wilayah Exteritorial dengan tujuan untuk membunuhnya, yang biasa orang orang yang dikirim ke wilayah itu , tidak akan bertahan lama, kemudian lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya,Marquis Liu zhong sebenarnya tahu tujuan sang kaisar , tapi entah kenapa aku merasa bersyukur saat wilayah itu kini berada di kekaisaran Tiandou.Katanya wilayah itu jadi makmur ya?..? Yun xiao?"
Saat Yu zhang menoleh,ia mendapati Xin Lan sudah tertidur pulas.
"Ah..., astaga, Sudahlah."
....
lanjut thor