Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presentasi
Semua berjalan dengan cepat. Kiran tak pernah sempat menyapa Amel sejak hari di mana mereka bertemu Radit. Kiran terlalu sibuk. Sibuk meladeni Ari yang selalu ingin menempel padanya, salah satu dari kesibukan itu.
Sementara Radit masih sibuk dengan agenda yang menggunung. Ditambah jadwal meeting dengan calon pemasok bahan baku untuk perusahaan Ari. Meskipun beberapa dari mereka sudah berhubungan langsung dengan Ari atas permintaannya.
Posisi Radit sebagai Dewan Komisaris sebenarnya tidak layak turun gunung untuk mengurus pertemuan itu secara langsung, namun ia ingin memastikan bahwa semua berjalan dengan tepat sesuai apa yang sudah ia rencanakan.
Sementara bagi Ari, waktu seakan melambat. Sebelas hari bagaikan setahun untuknya. Hubungannya dengan Kiran juga tidak ada yang berubah. Cicilan sentuhan yang diharapkannya, tak pernah dihiraukan Kiran.
Jika pun ada yang berubah, aktivitasnya kini bertambah dengan mengantar jemput Kiran menggantikan Rangga. Salah satu tujuannya selain ingin selalu berdekatan dengan gadis itu, pastinya untuk menjauhkannya dari Rangga.
Ari bahkan sudah menempatkan beberapa orang suruhan untuk mengawasi Kiran. Orang suruhan itu bekerjasama dengan orang suruhan Radit. Kerjasama itu tidak diketahui oleh Ari namun dibolehkan oleh Radit. Sebenarnya, mereka semua orang-orangnya Radit. Jika Rangga datang, maka orang suruhan itu langsung menghadang dan mengusirnya pulang. Ketika bersama Ari, Rangga seperti tahu diri dan tidak berani mendekati.
Waktu presentasi yang diminta Radit akhirnya tiba. Semua bahan sudah selesai Kiran kerjakan. Ia selesaikan dengan penuh ketelitian. Paham bagaimana tipe Radit, ia tak ingin ada sedikitpun kekurangan.
Kiran juga sudah menyiapkan beberapa kemungkinan pertanyaan-pertanyaan plus jawaban dari pertanyaan tersebut. Ari juga sudah diberitahu bagaimana cara menjelaskan. Namun mata pria itu masih menunjukkan keraguan.
Radit sudah hampir tiba, Kiran segera mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan. Laptop dan proyektor sudah dinyalakan. Mereka duduk menunggu kehadiran Radit. Ari mengambil nafas sebanyak-banyaknya dan menghela nafas panjang.
"Kenapa? Grogi?" tanya Kiran menyadari tingkah laku ganjil Ari. Keraguan masih tampak dalam kedua manik mata pria itu.
"Sedikit. Hehe," Ari nyengir.
"Kakakku itu perfeksionis. Mata jelinya itu selalu saja bisa melihat kekurangan yang kuperbuat. Aku takut tidak siap dengan pertanyaannya," lanjutnya.
"Aku sudah mempersiapkannya dengan sempurna. Percaya padaku. Kali ini dia akan bangga padamu." yakin Kiran sungguh-sungguh.
"Aku percaya padamu. Kan sudah aku katakan, jika Kau itu mirip Kakakku. Aku hanya tidak percaya pada diriku sendiri," ucap Ari lirih.
"Kau pasti bisa. Percayalah pada dirimu sendiri. Kau hanya perlu latihan dan hari ini adalah latihan pertamamu. Seorang motivator sukses sekalipun pasti sudah latihan memotivasi diri sebelumnya. Latihan kehidupan sudah pasti dirasakannya sebagai bentuk proses pembentukan itu. Sekarang ini adalah prosesmu. Maka jalani saja. Jikapun ada hambatan dan tantangan maka nikmati. Karena itu bagian dari proses latihan yang membentukmu lebih baik dari sebelumnya," jelas Kiran panjang lebar.
Ari hanya mematung menatapnya. Ia merasa takjub akan cara pemikiran Kiran. Namun sejurus kemudian ia menggeleng pelan, "Tapi Kau tidak tahu bagaimana tajam dan pedasnya kata-kata Kakakku."
"Kau berkata pada orang yang salah. Dua kali Aku bertemu dengannya dan dua kali itu pula dia mengancamku." Kiran terkekeh.
"Tapi percayalah, Ari. Apapun yang dikatakan Kakakmu, Kau tetap harus percaya padanya, jika yang dilakukannya itu demi kebaikanmu." Ari membenarkan kata-kata Kiran dalam hati. Ia memang percaya dari dulu jika Radit sangat menyayanginya.
"Bersemangatlah. Kau pasti bisa!" Kiran mengepalkan tangannya dan menunjukkannya kepada Ari. Pria itu tersenyum kecut.
"Masih grogi juga, ya?" tanya Kiran tersenyum geli. Ari terkesima.
Demi Allah! Bagi Ari, senyum Kiran sangatlah manis. Bibirnya membentuk sebuah senyuman yang memancarkan kelembutan dan kemanisan. Semanis jika tersentuh dengan bibir. Ahh! Jantung Ari jadi berdebar tak karuan.
"Lho, jadi malah tambah grogi?!" ledek Kiran. Melihat keringat dingin bermunculan di dahi Ari. Ari jadi salah tingkah.
Bibirmu terlalu menggoda makanya aku jadi keringat dingin!
"Kalau kamu kasi aku kecupan, mungkin saja grogiku akan hilang," celetuknya. Kiran melengos. Otak Ari memang gak jauh-jauh dari itu, pikirnya. Seperti biasanya, Ari nyengir melihat perubahan wajah Kiran. Terbersit pemikiran gila dalam kepalanya.
Kalau aku cium paksa, gimana ya?
Menyadari di dalam ruangan rapat itu hanya ada mereka berdua. Pria itu menggeleng pelan, menyingkirkan ide gila yang berdesakan di kepalanya. Ari terdiam beberapa saat.
"Kalau kamu saja yang jelaskan, bagaimana?" tanyanya kemudian.
Kiran membeliakkan kedua matanya kemudian menghela nafas panjang. "Aku mau aja. Tapi Kakakmu itu pasti tidak akan setuju. Kamu tahu sendiri, dia sangat membenciku."
"Ya juga, sih. Tapi...," Ari merasa pias. Minimal ia ingin melihat dulu bagaimana Kiran presentasi. Setidaknya dengan begitu, bisa mengurangi kadar grogi dalam dirinya.
"Sebenarnya aku tahu maksud Kakakmu. Dia menyuruhmu begini agar Kau nanti tidak canggung lagi ketika RUPS. Karena jadwalnya kan sebentar lagi." Ari mendelikkan matanya. Mendengar kata RUPS saja, ia sudah merasa canggung.
"Tapi jika boleh, please.... Kamu dulu yang persentasi setelah itu baru aku." mengatupkan kedua tangannya dengan tampang memelas.
Kiran berpikir sesaat. Tidak ada ruginya sih, baginya. Tapi tentu saja kata-kata tajam Radit yang akan menjadi pertimbangan. Biarlah, ia akan merelakan dirinya mendapatkan itu hari ini.
"Ya sudah. Tapi jika Radit melarangku, maka aku tidak akan bisa membantahnya."
Ari bersorak dalam hati. "Oke. Itu akan jadi urusanku nanti," sahutnya yakin.
Ari merasa sangat senang. Seketika itu juga rasa grogi dalam dirinya hilang. Ia sudah bisa bernafas seperti biasa dan tidak merasa sesak lagi. Jantungnya juga sudah berdetak secara teratur.
Ari menatap Kiran dalam. Ia sangat berterima kasih pada gadis itu. Ia yakin, gadis itu sudah tahu konsekuensi jika menggantikannya. Namun ia membiarkannya, demi dirinya.
"Terima kasih ya, cantik...." mengedipkan kedua matanya berulang kali.
Kiran tersenyum manis. Ari sudah kembali seperti sedia kala. Ia juga merasa lega. Ia ingin membalas pria itu. Biar tidak merasa canggung.
"Iya, tampan...," balasnya tak mau kalah.
Eh? Dia balas.
"Manisnya... Cium dulu donk...." Ari memonyongkan mulutnya. Kiran melototkan kedua matanya.
Pintu ruangan terbuka. Radit masuk diikuti Bara. Tanpa senyum dan sapa, pria itu langsung duduk.
Penataan pola tempat duduk dalam ruangan itu membentuk huruf U. Paling depan dialokasikan menjadi tempat beberapa elemen seperti laptop, speaker, proyektor dan pointer. Ari dan Kiran duduk di posisi sebelah kanan. Sementara Radit duduk di ujung, berhadapan dengan layar. Posisi visual yang mengarah ke seluruh peserta rapat. Pria itu duduk dengan posisi kaki menyilang. Bara duduk satu kursi di sebelah kirinya, berhadapan dengan barisan kursi Ari dan Kiran.
Kiran berusaha mengatasi debaran jantungnya. Ia bangkit dan menegakkan tubuhnya, tidak menyisakan sedikit pun ruang pada ketakutan yang sedari tadi menyembul ingin keluar.
Radit menatapnya dengan tajam. Aura yang ia keluarkan sangat menyeramkan membuat suasana ruangan rapat makin mencekam.
Kiran mulai membuka presentasinya dengan piawai. Ari menatap kagum. Radit diam di tempatnya mendengarkan. Begitu ia memaparkan bagian dari slide yang sudah tampil pada layar proyektor, Radit menghentikannya. Ia mengangkat satu tangannya.
"Tugasmu sudah selesai. Biarkan Ari yang menjelaskan bagiannya," ucapnya datar.
Meski Kiran sudah bisa membaca tindakan Radit sebelumnya, tetap saja Kiran merasa terkesiap mendengar Radit menghentikannya.
"Jika boleh, saya akan menjelaskan bagian awalnya, Pak. Berikutnya akan dijelaskan oleh Pak Ari," ucap Kiran memberanikan diri.
Radit tak mengacuhkannya, ia melirik Ari. Menatapnya tajam. Tatapannya mengatakan, Bangkit dari tempat dudukmu dan jelaskan ke depan, jika tidak, akan kuanggap kau gagal! Ari tersenyum kecut.
"Baiklah, Kak. Tapi Ari minta Kiran tetap di sini ya, Kak. Semua data ini Kiran yang buat. Nanti kalau Kakak tanya, Ari takutnya tidak bisa menjelaskan." Ari menyerah. Lebih baik jujur daripada bohong, pikirnya.
Radit bergeming. Tak mengangguk namun juga tidak membantah. Ari anggap bahwa Kakaknya itu setuju. Ia pun melangkah ke depan. Mempersilalan Kiran duduk di tempatnya.
"Maaf ya," bisik Ari pelan ketika Kiran berjalan melewatinya. Kiran menganggukkan kepalanya sedikit.
Ari berdehem sebentar, membaca bismillah, kemudian mulai menggerakkan laser pointernya pada layar. Menjelaskan secara detail data serta grafik yang terpampang di layar. Radit mendengarkan dengan seksama. Ia pun mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian dijawab cepat oleh Ari.
Ari sekilas memandang Kiran ketika ada kesempatan. Menatapnya penuh kekaguman. Ia seperti sedang ujian, namun seakan sudah mengetahui soal yang diberikan beserta jawabannya. Semuanya menjadi mudah.
Dan benar saja, si Tuan Perfeksionis selalu saja dapat mencari kelemahan. Ia mengajukan pertanyaan yang membutuhkan kejelian jawaban. Kiran langsung ambil peran. Ia memberikan jawaban yang membuat Radit diam. Meskipun ia seperti tak mendengarkan jawaban Kiran karena pandangannya fokus ke depan, menatap Ari. Namun ia juga tidak melarang Kiran berbicara.
Tatapan puas memancar dari kedua mata elang Radit. Meski ia tahu, semua yang dilakukan Ari banyak dibantu oleh Kiran, setidaknya ia bisa lega sekarang. Karena perusahaan sudah bisa dihandle adiknya dengan baik.
"Kau sudah menunjukkan kinerja terbaikmu. Lanjutkan. Asisten pribadimu akan Kakak kirim setelah hari pernikahanmu. Kakak permisi dulu." Radit menepuk bahu Ari.
"Iya, Kak," sahut Ari. Radit berjalan diikuti Bara keluar dari ruangan.
Ari melirik Kiran. Jika boleh, ia ingin memeluk gadis itu sekarang. Kiran masih duduk di kursinya.
"Terima kasih, Kiran. Terima kasih atas kerja kerasmu. Belum pernah Aku melihat Kakak puas dengan hasil kerjaku sebelumnya. Semua ini karenamu..." ucapnya.
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum manis mengembang. Bibirnya berucap pelan, "Alhamdulillah."
❇❇❇❇
"Ari sudah banyak perubahan," ujar Bara tetap fokus mengemudi. Sekilas melirik Radit melalui rear-vision mirror. Melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu.
"Hemm...."
"Aku kira karena sekretarisnya itu."
"Ya, kau benar. Aku bisa melihatnya."
"Kau masih memata-matainya?"
"Aku hanya tidak ingin ia melewati batasnya,"
"Dia yang melewati batas atau adikmu yang melewati batas?" Bara terkekeh. Radit melayangkan tatapan tajam. Bara menghentikan kekehannya.
"Abangnya marah, woi," ledeknya.
"Bagaimana dengan pengganti Regan?" tanya Radit tak mengacuhkan ledekan Bara.
"Total yang akan kita dapat masih kurang. Kita butuh satu perusahaan lagi."
"Ada yang ingin kau rekomendasikan?"
"Jika kau tidak keberatan, kita bisa mengambil sisanya dari perusahaan Bagas."
"Bagas?"
"Iya. Dia membuka perusahaan baru. Tapi kekurangan dana. Dia mencari investor. Tapi tidak ada yang berniat berinvestasi di perusahaannya."
"Berapa yang dia butuhkan?"
"Dua puluh persen saham dari total keseluruhan."
"Kenapa tidak melantai saja perusahaannya? Jika cuma segitu, pasti bisa tercover."
"Perusahaannya masih baru. Belum kredibel untuk dicatatkan di BEI, mereka juga belum punya laba, maka mustahil. Satu-satunya cara, mengajak pengusaha yang dikenal untuk berinvestasi."
"Jika pun bisa, maka belum tentu sahamnya dibeli dengan segera. Sementara dia butuh dana cepat." lanjut Bara lagi.
"Apa kau yakin dia sanggup memenuhi bahan baku yang kita perlukan?"
"Aku sudah menghitungnya. Dan itu sesuai dengan yang kita butuhkan."
"Kalau begitu, kau tanya saja berapa nilai sahamnya lalu kirim padaku. Katakan padanya untuk menemuiku setelah pernikahan Ari. Tapi pastikan lagi jika ia bisa memenuhi kekurangan bahan baku kita."
"Baik."
Bara menambah kecepatannya membelah jalanan, menuju gedung Makarim Group, induk perusahaan dari perusahaan Ari.
❇❇❇❇
RUPS \= Rapat Umum Pemegang Saham
BEI \= Bursa Efek Indonesia ( Lebih detilnya lihat google aja ya)
rear-vision mirror \= Spion yang ada di dalam mobil untuk melihat ke belakang.
❤❤❤❤
Readerss tersayang, tercakep, tercinta... muah.. muahh.. muah..😘😘
Aku terlove-love pada kalian yang masih setia membaca tulisan ku yang tak seberapa ini. heheehe
Lebih love lagi jika kalian kasi like n komennya, Heheh..
Sekali lagi, Like n komen ya cinta....
Makin cemangad akunya atuh..😅😂
Mohon mahap jika masih kurang ngefill or kurang pas tata bahasanya ya..
Maklum sekali lagi, diriku ini masih pemula.
So, buat readers yang masih setia membaca dan menunggu up ku..
Aku doain umurnya berkah, sehat selalu, n rezekinya berlimpah. Aamiin...