NovelToon NovelToon
GAMAN JULANG DAN SERIBU TIRAKAT

GAMAN JULANG DAN SERIBU TIRAKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Spiritual / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:99.5k
Nilai: 5
Nama Author: bungdadan

Perjalanan hidup Gaman julang yang tidak pernah tuntas menyelesaikan pendidikan di sekolah maupun di pesantren.

Ia tidak bisa mengimbangi waktu dengan hobinya bermain musik, sehingga sekolahnya terbengkalai.

Meski demikian, dia seorang yang cerdas. Dia selalu punya sejuta akal untuk menghadapi setiap masalah yang datang.

Hingga suatu ketika dia harus bergelut dengan problematika hidup dan beban moral, menghadapi gunjingan keluarga dan tetangga.

Semua sepupunya terbilang telah hidup sukses dan sudah punya keluarga sendiri, tinggal ia seorang yang masa depannya tak tentu arah.

Ditengah kehidupannya yang relatif carut marut secara ekonomi, dia jatuh cinta dengan putri seorang Kyai besar pengasuh pondok pesantren.

Tantangan terberatnya harus bersaing dengan dua orang lain yang juga ingin melamar putri sang Kyai.

Keduanya mapan secara ekonomi dan punya gelar akademik S2 lulusan Universitas Al-azhar Kairo, Mesir.

Upaya apa yang akan dilakukan Jul untuk menghadapi tantangan tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bungdadan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 : PERJALANAN PULANG

Ku pandangi kaca jendela Bis yang dipenuhi embun, samar-samar wajah terpantul.

Yang kulihat bukan wajahku, tetapi wajahnya. Iya... hanya wajahnya.

Ada harapan, ada keresahan, ada rasa takut, namun langkah kaki tak pernah surut menuju stasiun, tempat kereta api menjemput. 

Suara mesin menderu, bis melaju membelah jalanan kota, menuju tuju.

Di dalam bis, hiruk pikuk menjadi satu, doa-doa terucap, semoga selamat sampai tujuan tentu.

Jalanan ramai, kendaraan silih berganti, mata menerawang, mencari secercah arti.

Di balik kaca, pemandangan silih berganti harapan dan impian, berpadu dalam satu hati.

Stasiun sebentar lagi, bis semakin mendekat pintu terbuka, penumpang mulai berhamburan keluar.

Turun dari bis, ada abang becak ber caping anyaman bambu, dengan senyum ramah dia datang menghampiriku. "Badhe teng stasiun njih? monggo monggo, Mase...!"

"Nggih pak." Aku harus naik becak lagi untuk menuju stasiun.

Berharap menemukan jalan yang tepat menuju kereta api, membawa angan dan harap.

Ku duduk di kursi tunggu, menanti kedatangan kereta Kahuripan jurusan Blitar-Bandung.

Tak lupa ku nikmati sebatang rokok. Tukang kopi pun lewat. Aku memesan satu gelas kopi hitam.

Di stasiun ini, waktu berhenti sejenak. Menanti sang kereta, membawa angan dan jejak.

Bangku-bangku panjang berbaris, menyaksikan pertemuan, atau perpisahan yang menyisakan kenangan. 

Lampu-lampu kuning, remang menyinari peron. Bayang-bayang panjang, menari dalam lamunan.

Suara gemuruh roda besi, semakin mendekat, pertanda sang kereta, segera tiba di tempat. 

Derap langkah kaki, riuh rendah suara, tanda-tanda kehidupan, dalam suasana.

Aku menunggu di sini, dengan hati berdebar, menanti kereta, yang akan membawaku terbang jauh ke luar.

Angin sore berhembus, membawa aroma kenangan, seakan kereta ini, membawa impian.

Di stasiun Kediri, aku merangkai asa, menanti kereta, membawa bahagia.

Bunyi klakson kereta Kahuripan dari Blitar terdengar nyaring.

Puntung rokok ku injak, kopi ku teguk habis. Lalu, aku berdiri meregangkan badan dan bersiap-siap.

Kaki melangkah, hati berdebar kencang, pintu terbuka, asa mulai membentang. Tangan merengkuh, kursi jadi incaran, siapa cepat, dia dapat, begitu tradisinya.

Bahu bersentuhan, desak-desakan ramai. Suara klakson kereta mulai mendengung diantara desak.

Ada yang terlewat, ada yang lelah tersenyum getir terhambat.

Tak peduli sesak, tak hiraukan panas yang penting sampai tujuan kan terbalas.

Kereta mulai melaju, membawa mimpi dan harap. Dari stasiun Kediri, ceritaku terus tertulis.

Ini adalah kali kedua aku naik kereta api. Kali ini aku sendirian. Kawanku dari Purbalingga yang lain ada yang tidak pulang, ada juga yang pergi liburan tapi tidak pulang ke rumah.

Usiaku sekarang menginjak umar 19 tahun. Aku sudah tak sabar rasanya ingin bertemu dengan Ibu untuk menceritakan pengalamanku di pondok.

Di rel baja, kereta api berdendang, suara khasnya membelah senyuman semesta.

Gerbong berayun, irama mengalun, menyusuri bentang, waktu berputar dari stasiun satu ke stasiun lain.

Pandang mata menyusuri jendela, lanskap berubah, waktu berlalu. Ada yang pergi, ada yang datang, dalam dekapan kereta rasa menyatu. 

Suara gemuruh roda berputar, membawa harapan, menuju tujuan.

Di setiap henti, ada perpisahan, namun cinta tetap bersemi, takkan padam. Teruslah berlari, wahai kereta api ! Antar kami pada mimpi-mimpi indah.

Tak terasa sudah hampir setahun berlalu aku berpisah dengan keluarga.

Sama seperti dulu, waktu aku pertama berangkat ke pesantren, kembali lagi ku dengar rayuan para pedagang yang lewat.

Penjual buku, makanan, minuman, jajanan khas, menjajakkan dagangannya di tengah riuhnya perjalanan.

Aku sudah siapkan plastik untuk tempat sampah, sekira tragedi pop mi tak terulang kembali. Aku masih ingat betul kejadian itu. Akan tetapi, ku anggap itu tragedi membawa berkah.

Berkat kejadian yang ku alami waktu itu, aku jadi mengenal zian. Bagaimana kabarnya sekarang? Setahun tak jumpa, apakah dia masih mengingatku atau tidak? Entahlah.

Mungkin hanya diriku saja yang selalu teringat padanya. Sedangkan Zian, belum tentu dia merasakan hal yang sama.

Di sudut hati yang sepi kisah cinta kita terukir, namun kini bagai mimpi. Telah sirna, takdir memisahkan diri.

Bayangmu terus saja menghantui dalam setiap detak jantungku.

Namun sayang, waktu berlalu, cinta yang dulu begitu pilu, kini hanya abu.

Kenangan manis sesaat terukir indah di lembaran kalbu yang rapuh, namun kini hanya tersisa gundah, karena cinta telah jauh. 

Aku merindu, namun tak bisa bertemu. Kau telah pergi, menghilang dalam sendu, kisah kita kini hanya debu.

Cinta yang hilang, mungkinkah kembali utuh?

Senja menyisakan luka di dada, bayangmu hadir, namun semu belaka. Cinta yang pernah hadir, terhempas angin meninggalkan pilu.

Kisah kita bagai buku usang. Halaman terakhir hanya duka yang terbilang. Kau pergi membawa separuh jiwa, tinggal aku merangkai sisa-sisa.

Hanya sunyi yang menemani langkah. Rindu yang tak terucap, membeku dalam diam. Kenangan indah itu, kini hanya bayang. 

Namun, di reruntuhan hati yang hancur, ada setitik harapan, meski samar. Mungkin suatu saat, luka akan sembuh dan cinta yang hilang, akan kembali utuh. 

Semoga kau bahagia di sana, walau kini kita terpisah oleh jarak, doaku selalu menyertaimu.

Ditengah lamunan, tiba-tiba terdengar syair dan suara indah.

"Alun sebuah simfoni... kata hati disadari, merasuk sukma kalbuku... dalam hati ada satu. Manis lembut bisikanmu... merdu lirih suaramu... bagai pelita hidupku."

Suara pengamen menyanyikan lagu lama Bob tutupoly karya Robby lea, "Symphony yang indah."

Pengamen itu membuatku terhanyut dengan suaranya yang merdu. Ku dengarkan dia bernyanyi dengan seksama. Sang pengamen jadi membuatku berkhayal lebih jauh. Ku bayangkan saat ini ada zian di sampingku.

Sedang enak menikmati lagu, tiba-tiba ; "Misi mas..." Si pengamen mengulurkan plastik bekas bungkus permen, minta untuk di isi.

Berhubung aku tak ada uang receh, maka ku ambilkan sebatang rokok untuknya.

Namun, dia minta satu batang lagi. "Maaf mas, boleh minta satu lagi untuk temen saya itu di belakang, itu! ini kami ngamen berdua."

Rokok yang tinggal tiga batang, ku berikan semua padanya. Hitung-hitung, lagi pula suaranya juga bagus, ditambah modal gitar lumayan bagus.

Daripada pengamen yang nggak modal apa-apa, cuma tepuk-tepuk tangan doang, nyanyinya ngaco lalu minta duit, yang model begitu juga banyak soalnya.

Males banget kalau nemuin yang model begitu. Masing mending kalau mau modal kecrekan kek, kendang kek, apa kek.

"Matur suwon, matur suwon, Mas..." Abang pengamen kelihatan sangat bahagia satu bungkus ku berikan semua, padahal cuma isi tiga batang, hihihi...

Mendekati stasiun Nganjuk, perut sudah mulai lapar, saatnya memesan pop mi.

Kali ini aku berhati-hati, mewanti-wanti diriku sendiri agar jangan sampai lupa, salah membuang bungkusnya seperti dulu.

Rel berderit kereta melaju, memori jingga menyapa. Ku nikmati pop mi hangat di tangan. Mie kuning kuah pedas, aroma rempah memanjakan jiwa.

Habis makan pengin ngerokok, tapi sudah habis tadi, sementara belum ada asongan rokok yang lewat. Tapi, katanya asongan rokok di kereta harganya mahal banget.

Tiba-tiba...

Alhamdulillah, rejeki anak shaleh mungkin.

Bapak-bapak di sebelah tempat dudukku mengeluarkan rokok dari sakunya. Beliau menawarkan kepadaku. "Monggo, Mas, nge ses!"

Dengan senang hati ku terima tawarannya, "Oh nggih... nggih, matur suwun pak." Aku mengambil sebatang.

"Koreknya ini, Mas!" Bapak itu mengulurkan tangannya.

"Koreknya udah ada ini, Pak, saya punya, cuman rokoknya yang nggak punya, he he..." jawabku.

Dan...

Perjalanan terus berlanjut, sejarah masih belum selesai ditulis.

1
allana
semangat thorrr💪
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
Wawan
Salam kenal Jul ✍️
Three Flowers
mb Salma bersikap tegas karena ingin yang terbaik buat Jul, karena Jul adalah anak laki-laki yang mempunyai tanggung jawab yang lebih besar.
Three Flowers
wkwkwk kalo ngomong sama Jul bawaannya mb Salma bete ya😅
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
beneran ya kalau bapak2 ngobrol sama junior itu kyk ilmunya keluar semua gitu. agak malaman lagi sampe subuh kyknya bakal keluar tuh obrolan teori konspirasi 😭🤌
Filan
kasihan, Jul. kamu ga kangen
ibu sih pasti kangen.
Aquarius97 🕊️
Ae lah Jul, trus ngapain pake nawarin segala.. kasih air putih aja 🤣😤
Aquarius97 🕊️
he Jul.. Ini nanti bakal ada kejadian tetiba Zian datang gak? kalau enggak bapaknya mungkin ..
-Thiea-
namanya juga anak perempuan pertama. sifatnya emang keras. tapi sebenarnya itu demi kebaikan kamu juga jul. biar kamu tanggung jawab dan jadi orang yang berguna
-Thiea-
emang benar kata mbak Rahma. kamu lalai dari tanggung jawab mu di pondok. masalah ibu kan sudah ada keluarga yang menjaga. jadi g salah juga emang sikap mbak Rahma.
Xlyzy
Laen lah dulu sama sekarang, jangan ingat masa lalu tapi lihat yang sekarang cantik kan iya lah kan udah bisa rawat diri udah perduli penampilan
Miu.Nuha
sabar bang, kalo abang mantep ngaji ayo yg serius... sambil doakin ibu di rumah supaya selalu diberi kesehatan sama Allaah 🤲
PrettyDuck
lah, gak baikan nih jadinya??
udah jul ngalah aja, buat mbak salma negor kamu tuh udah merendahkan ego banget pastii 🤣
PrettyDuck
kok malah ikutan ngambek sihh /Facepalm/
PrettyDuck
kamu main gitar sambil ngelamun tuh pasti jul 😂
MULIANA💦
kopi, agar semangat jul
MULIANA💦
mau gimana lagi, satu keras kepala satunya gengsi 😄
MULIANA💦
dia takut kamu gak ada masa depan. dia hanya gak ingin masa muda mu sia-sia jul
Cimol krispy
Potek hati adek bang!
Tapi jujur lebih baik, biar Wulan bisa cepetan move on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!