NovelToon NovelToon
Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Status: tamat
Genre:Fantasi / Barat / Tamat
Popularitas:20.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Marlia

Tidak ada seorang raja dan seorang ratu, mereka hanyalah keturunan dan pewaris leluhur.

Tidak ada kerajaan, mereka tinggal dan hidup bersama beberapa manusia lainnya.

Tetapi tetua akan selalu ada sebagai penengah dari semuanya dan mereka terbagi menjadi beberapa golongan yaitu Ducis, Feroces, Civitas.
Sampai suatu waktu, warna bulu menjadi masalah besar bagi Tetua G, mereka akan mencari 'mereka yang berbeda dari yang lainnya' yang hidup bersama para golongan.

(Up 1 kali dalam 2/3 hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Marlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Perjanjian Orance

Di perjalanan menuju rumahnya, Lyra menyampaikan kepada Sean tentang rencananya yang lain karena memikirkan soal hari esok. Hari Pemisahan itu selalu muncul di alam pikirannya, bergentayangan seperti hantu yang selalu muncul di waktu-waktu yang tidak dapat diperkirakan.

"Bagaimana menurutmu kalau aku meminta tolong Orance untuk menunjukkan arah dimana orang tua ku tinggal. Lagipula, aku juga akan terpisah dari mereka." tanyanya, sedikit menyesali perbuatannya yang akan meninggalkan dua orang asing itu.

Sean nampak berpikir keras di dalam mobil yang dipenuhi alunan musik balada, jemarinya bergerak mengikuti alunan lagu, tetapi wajahnya tetap saja serius.

"Kau bisa saja langsung pergi dari rumah dan mencari mereka. Tetapi sepertinya aku akan kehilanganmu, jadi bagaimana kalau aku juga ikut pergi?"

"Tidak, Sean, aku bukannya tidak mengizinkanmu, kau tahu bahwa situasi sedang bahaya."

"Dan bagaimana aku bisa membiarkanmu pergi sendirian dalam situasi bahaya seperti ini, Lyra!" sergahnya, sepertinya Sean tidak bisa benar-benar dibantah kali ini.

Sean ada benar, dia tidak akan mungkin bisa pergi sendirian seperti ini. Terlalu berbahaya untuknya karena pasukan Exchanges semakin bergerak cepat tanpa menunda-nunda lagi. Tadinya Lyra mengira mereka akan pergi dari sana, ternyata tidak, mereka mungkin mencari tahu tentang sesuatu.

"Lalu, soal nanti malam. Kuakui rencana mu memang bagus, tapi apakah kau tidak takut kalau Rick membawa pasukan juga dan melawan kawanan Epile. Salah satu dari mereka sudah cedera kau tahu? Dan kau menaruh mereka dalam bahaya lagi."

Seketika Lyra lemas, dia menyandarkan bahunya dan membawa mobil menepi ke pinggir jalan. Lyra tidak bisa melanjutkan menyetir kalau terlalu banyak pikiran seperti itu. Bagaimana bisa Lyra tidak menyadari kalau dia menaruh para Kawanan Epile dalam bahaya? Apakah tindakannya termasuk membunuh?

Dia menghirup napas panjang kemudian menghembusnya perlahan, mencoba menenangkan diri. "Akhirnya, kau yang membuatku menambah beban pikiran. Tunggu, aku tidak menyalahkan mu, tetapi memang benar. Aku menempatkan mereka dalam bahaya. Lagipula kita tidak tahu apakah Rick memang benar-benar salah satu pasukan Exchanges, atau dia cuma Alpha dari pasukan lain."

Wajah Sean seperti menyesal mengatakan hal itu barusan, menyadari Lyra sudah lemas di tempatnya. "Bagaimana kalau nanti malam aku ikut juga? Maksudku, ya, untuk berjaga-jaga. Aku penasaran, bagaimana dia bersikap kepadamu." dia menyengir diakhir katanya.

Sean membuat Lyra menyadari satu hal, bahwa sebenarnya rencananya bukan ingin menculik Rick, tetapi membuktikan tentang suatu kebenaran iya atau tidak kalau Rick adalah Alpha dari pasukan Exchanges.

"Itu artinya sore nanti kita ajak mereka bertemu dulu dan merencanakannya. Dan soal kemarin juga, mereka tidak bilang soal apa-apa atau mereka lupa." ujar Lyra.

Akhirnya mereka melaju lagi, menuju rumahnya untuk mengatakan soal hari Pemisahan besok kepada Orance.

Kalau dipikir-pikir lagi, Lyra memang sudah seharusnya menemui mereka dan mengajak mereka bertemu Tefra, mengatakan padanya bahwa pasukan Exchanges berulah lagi tapi kali ini dengan sangat hati-hati. Di bandingkan dengan beberapa dekade lalu, kali ini mereka cukup pintar, tidak langsung menyerang tetapi mencari solusi atau sesuatu. Dia mencurigai bahwa mereka sedang menginterupsi pasukan lainnya untuk melihat-lihat situasi sekeliling. Walau bagaimanapun, kawasan Tetua G tetap dijaga ketat, dan kudengar mereka sudah menambah jumlah penjaganya, beberapa dari Pemburu Feroces. Bisa dibayangkan bagaimana seramnya wajah mereka, bahkan saat diam pun, Pemburu Feroces tidak memiliki kerutan di samping bibir mereka.

Lyra dan Sean tiba di rumah pukul dua belas lewat tiga puluh tiga dan mendapati Orance sedang duduk di beranda sendirian dengan buku terbuka di pangkuannya. Apa yang Lyra pikirkan dari jarak kurang 1 mil itu dapat dibaca olehnya dan Orance sudah mengangkat wajahnya mengarah ke arah mereka berdua, Orance menyunggingkan senyum tipis tanpa paksaan.

Mereka duduk di sebelah Orance dan Orance langsung bicara. "Oh ya, akan ku ambilkan es limun, tunggu sebentar." Orance berangkat dari duduknya dan menaruh buku yang tadi dia baca.

"Aku lapar." ujar Lyra sebelum Orance benar-benar pergi ke dalam.

Orance menatapnya, dia tersenyum lagi, "kalau begitu ayo masuk, aku sudah masak." kemudian dia berjalan masuk kembali.

Lyra menarik tangan Sean untuk ikut bersamanya, setidaknya dia punya teman untuk menemaninya jika sesuatu terjadi pada Orance, alih-alih takut dia akan kehilangan kendali.

Aroma Black Pudding menguap diambang ketika Orance mengangkat wajan dari kompor, itu makanan yang jarang di masak Orance sejak kematian Octo. Perut Lyra berseru ingin mencicipi gigitan demi gigitan Black Pudding yang dibuat Orance. Orance memang pintar memasak.

"Kesempatan macam apa ini? Akhirnya aku bisa makan Black Pudding lagi." Sean terdengar semangat di samping Lyra lalu buru-buru mendekat ke arah meja makan, duduk di tempat dimana Lyra biasa duduk.

"Aku akan bawakan es limun-nya." lalu Lyra menuju ke arah lemari es di sebelah kompor.

Lyra dan Sean melahapnya begitu cepat karena mereka benar-benar sudah kelaparan, sementara Orance hanya melihat mereka berdua. Sebelum bicara dengan Orance, Lyra menuangkan es limun yang sudah dia siapkan sejak tadi di meja. Dia meneguknya bersamaan dengan sisa sosis dari Black Pudding yang mungkin tersangkut di sela-sela giginya, es limun-nya mengalir lewat tenggorokannya, rasanya benar-benar nikmat.

Lyra berdeham setelahnya untuk menarik perhatian Orance tetapi tidak disangka Sean juga ikut menoleh ke arahnya. Jadi, dia memulai pembicaraannya. "Aku yakin, kau sudah mendengar soal hari Pemisahan besok dan kita pernah membahas hal itu sebelumnya."

Orance mengangguk sambil tersenyum, Lyra sempat mengira kalau Orance tidak akan melakukan hal itu.

"Kau tahu, semua orang akan merubah dirinya menjadi serigala dan menunjukan warna asli bulu mereka." kata Lyra melanjutkan.

Lagi-lagi, Orance hanya mengangguk dan mendengarkan Lyra berbicara tanpa memotong sepatah katapun.

Lyra berusaha menjaga agar suaranya tetap terdengar jelas hingga sesuatu ingin keluar dari sudut matanya. Namun, dia terus menahan, rasanya berat tapi hal itu harus dilakukan.

"Mereka akan menarik ku, berpisah dengan kalian berdua dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Aku tidak akan punya teman, tidak punya siapa-siapa dan aku benar-benar sendirian." Lyra terus menahan diri. "Aku tahu, kau tidak rela dengan kepergian ku karena ibu sudah menitipkan ku padamu, dia percaya padamu." Dia berhenti bicara.

Tidak disangka akan sesulit ini mengontrol emosi, Lyra sudah tidak paham lagi. Dia ingin menangis tetapi rasanya dia tidak perlu melakukannya. Lagipula untuk apa? Jikalau Orance memang tidak memberikannya petunjuk satu persen pun, dia akan tetap pergi tanpa tujuan yang pasti, hanya berharap bisa berkomunikasi dengan Larry lewat mimpi. Hal itu sungguh tidak ironis.

"Kalau kau tidak keberatan, aku ingin kau memberikanku sebuah petunjuk."

"Dengan begitu terpaksa Lyra, aku memberikannya padamu. Aku dan Peal sudah membahas ini sebelumnya, dan, kami," dia berhenti sejenak, "kami khawatir tentangmu."

"Aku pergi bersamanya, aku akan menjaganya." Sean angkat bicara. "Jika kau tidak keberatan juga, besok kami akan langsung berangkat." katanya.

Orance menunduk, sementara jemarinya bergerak tak karuan, Peal tidak ada di sini untuk membantunya berpikir. Dan Lyra yakin, sebenarnya Orance sangat ragu melepaskannya dari wilayah ini. Dia tahu bagaimana Orance keliru dengan pilihannya sendirinya, sebab ibu Lyra begitu percaya padanya dan tidak diperbolehkan melepaskan Lyra, tetapi keadaan membuatnya harus melepaskan anak itu ketimbang memberikan seluruh hidupnya yang akan dia habiskan entah sebagai apa setelah hari Pemisahan usai.

"Kau yakin? Kau bisa menjaganya dengan baik?" tanya Orance menyelidik. "Aku bisa saja menahan mu disini dan menyembunyikan mu dengan sihir ku, Lyra. Tapi Peal berkata lain."

"Apa yang Peal katakan?" sergah Lyra langsung tanpa memberi jeda sedikitpun kepada Orance untuk berpikir.

"Dia bilang bahwa kau memang harus bertemu dengan keluargamu sebelum kau akan kehilangan kesempatan, atau kau kehilangan mereka." suaranya sedikit serak.

Apakah dia merasa bersalah? Tanya Lyra di dalam hati.

"Lalu apa yang dia ingin kulakukan?"

"Pergi mencari mereka." balasnya pelan alih-alih tidak ingin terdengar sedih.

"Orance, aku tahu kau orang baik dan mungkin ibuku tidak akan benar-benar memarahi mu. Kau seorang ibu juga, kau tahu kalau berada dekat dengan anaknya adalah suatu keinginan yang kuat dari seorang ibu." sahut Lyra untuk meyakinkannya, "jika aku sudah bertemu dengannya nanti, aku akan menjelaskan mengapa kau bisa melepaskan ku dari pengawasan mu."

"Berjanjilah padaku bahwa kau akan terus baik-baik saja Lyra. Berjanjilah!" Orance menarik tangan Lyra dan memohon, matanya berkilat menjadi kuning dalam sekejap dan kemudian kembali normal lagi menjadi hitam, tiba-tiba dia merasa seperti tersihir oleh sesuatu.

Apakah Orance baru saja menyihirnya? Apa dia sudah tidak waras? Lyra membatin. Dia berharap Orance tidak bisa mendengar ucapannya itu.

"Karena aku sudah berjanji pada ibumu, tidak akan meninggalkan mu bagaimanapun kondisinya. Jadi mungkin dengan sedikit sihir aku bisa mengawasi mu dari kejauhan." Orance menjelaskan tanpa diminta seolah tahu apa yang benar-benar Lyra butuhkan.

Lyra pikir karena Orance sudah menjadi ibu yang terbaik untuknya, sudah berusaha semampunya mendidik Lyra hingga sebaik ini, dan berupaya agar Lyra tetap aman, dia sudah hebat sekali untuk ukuran manusia normal. Namun, sebagai penyihir, dia sedikit buruk terutama dalam hal memanipulasi mimpi Lyra. Bahkan hingga sekarang, Orance tidak menjelaskan sisanya. Lyra tahu dia tidak dapat tidur dengan nyenyak malam ini.

"Perjanjian ku kepada ibumu mungkin tidak akan pernah dia lupakan. Dia pasti sangat merindukan mu setiap waktu, Lyra, seperti aku merindukan Octo. Takdir memang berkata lain tentang sesuatu yang tidak kita harapkan, tetapi hidup akan terus berlanjut 'kan?" Orance mengusap ekor matanya, Lyra tahu sesuatu telah menitik di sana secara diam-diam. "Tetapi kupikir kau sudah besar, kau sudah tahu kenyataannya, aku tak percaya kau tumbuh begitu cepat seiring waktu. Kutanyakan kepada Peal dan dia bilang bahwa serigala berdarah murni memang tumbuh dengan cepat bahkan usia mereka hanyalah sebuah angka." Dia tersenyum.

Sementara Sean hanya menyimak ditempatnya seraya menyuapi Black Pudding ke dalam mulutnya. "Aku tidak pernah merasakan sedih yang seperti ini." ujarnya tiba-tiba sambil mengunyah suapan sosis yang terakhir.

"Kalau begitu, kau harus berjanji padaku, ya, karena kehilangan itu menyakitkan, Lyra, aku tak ingin melukai perasaan ibumu, dia benar-benar wanita yang kuat."

"Terimakasih Orance, aku tidak akan melupakanmu, kau juga berjanji padaku, bahwa kita akan bertemu lagi. Jaga Peal baik-baik, bagaimanapun, kalian adalah orang tuaku juga." Lyra meremas kedua tangan ibu asuhnya itu, rasanya dia ingin memeluk Orance tapi situasinya tidak mendukung. Lagipula tidak ada Peal yang akan mendengar semuanya, dia seharusnya di sini bersama mereka.

Lyra tidak bisa membayangkan bagaimana mereka hidup berdua tanpa adanya seorang anak yang akan menengahi, pergi dan pulang, menemani Orance saat sedang libur sekolah dan menghabiskan waktu bersama ke pusat Kota. Lyra yakin, dia akan sangat merindukan aroma kopi dan seduhan teh herbal hangat di musim gugur kelak setelah dia berpisah dengan mereka. Tidak ada lagi permainan kecil yang membuat mereka bertiga lupa bahwa mereka bukan manusia normal. Dia akan sangat merindukan pemandangan luar kamarnya, Lyra benar-benar akan merindukan semuanya. Namun, rindu yang paling berat baginya adalah rasa rindu kepada keluarganya yang sesungguhnya.

Lyra ingin hari ini cepat berakhir.[]

1
Uti Dewi
suka ceritanya👍👍
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
IntanhayadiPutri
Hy, aku udah mampir lagi nambah like dan jangan lupa mampir pake novel baruku 🙏

RAEL BELLA

Termiakasih🙏
IntanhayadiPutri
Aku mampir nih kak, udah 5 like dan 5 rate juga.. jangan lupa mampir ya ke ceritaku

TERJEBAK PERNIKAHAN SMA

makasih 🙏🙏
Auriell Zeta
Bagus kak❤❤

Maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya
Nureti
Hai kak 👋
Sukses iya untuk karyanya.

Jangan lupa mampir di karya pertamaku, yang menceritakan seorang cowok letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.

Terimakasih 🙏
Helena Samuel
Unik ceritanya ...bagus
IndahNC: Permisi kak, numpang promo ya♡ mari buat kakak2 semua yang suka novel bergenre romance and teen. Bisa singgah ke karya saya, baik yang judul 'Kamu Tidak Sendiri' ataupun 'Benci Jadi Cinta'😉 kritik dan saran dari kalian adalah apresiasi untuk saya. Buat kakak2 semua yang berkenan jangan lupa mampir♡ di tunggu kak. Mksh
total 1 replies
Ai
next up! semangat nulisnya thorr🤗
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
Ulva Dillah
hai kak aku mampir nih bawa boom like+rate+comment. oh iya kak cerita kak bagus banget👍😍. di tungguh yah kak up selanjutnya. boleh nih mampir di lapak aku"antara cinta dan pengorbanan". makasih kak🤗🤗
Yelda Artika Saputri
hai kakak author , aku mampir nih bawa 36 like + rate+comment .Ceritanya bagus banget , penulisan nya juga rapi .Enak dibaca .Semangat terus ya kak up nya .Ditunggu up selanjutnya .Boleh nih mampir di lapak aku" Dendam atau cinta" .Makasih kakak🤗🤗🤗🤗🤗
Author Vanda: izin promo Thor

mampir yuk di novelku The president daughter and mafia

terima kasih 🌹
total 2 replies
Auriell Zeta
Bagus kak❤

Maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya...
Nalika Junaedi
Ditunggu kelanjutannya
PROMISE🌺
Hallo kk aku mampir membawa like rate fav untukmu 🤗 semangat terus kk feedback karya aku yuk ditunggu kedatangannya 🤗
Nalika Junaedi
Semangat Lyra
fleurlovin
Duhhh kemana aja aku nih! Seseru ini ceritanya~
☁️ ▸ ℝℂℍ ⋆ ࣪. ⩇⩇ || Hiatus
Hai kak,jangan lupa feedback nya "Terlahir menjadi ratu Antagonis" aku tunggu ya!
.
Oh ya cerita nya bagus kos 😆
Nalika Junaedi
Serasa nonton film
dia_
TEMPERATUR OF LOVE 🍁 (18+) dan JEBAKAN UNTUK PERNIKAHAN 🌵 (18+) izin memberikan boom like..

terus semangat berkarya Author terkece 🤩
Pratiwi Rahmadani: izin promosi kak saya baru saja membuat novel tentang cinta & benci mari kak mampir kenovel saya
total 3 replies
Nalika Junaedi
Semangat thor
Nalika Junaedi
Semangat thor...
keren novelnya
Rina Marlia: terimakasihhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!