Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Gak bisa tidur
Romeo duduk di ruang tamu rumah neneknya, memainkan ponsel di tangannya. Ia membuka aplikasi Twitter, masuk ke akun privatnya, dan mulai mengetik sambil senyum-senyum kecil, mencoba menuangkan isi pikirannya.
@Reobukanoreo(akun privat)
"Gue kira nikah bakal santai aja, tapi ternyata istri gue itu kombinasi antara nyebelin dan bikin gue nggak bisa tidur nyenyak. Ada yang bisa relate?"
Ia menatap layar sebentar, lalu menambahkan:
"Tina, kalau lo baca ini suatu hari nanti, gue cuma bercanda... setengahnya."
Belum puas, Romeo mengetik lagi:
"BTW, kalau ada yang tau cara biar istri lo berhenti kabur tiap gue deketin, kasih tau dong. Gue butuh tips."
Setelah menekan tombol "tweet," Romeo terkekeh pelan, membayangkan bagaimana Tina akan bereaksi kalau dia tahu isi akun Twitternya ini.
Kemudian ia menambahkan satu tweet terakhir sebelum neneknya memanggil lagi:
"Btw, kamar gue waktu remaja ternyata bikin Tina nyaman banget. Tapi gue masih nggak ngerti, kenapa dia selalu pakai alasan ‘gue ngantuk’ buat kabur. Ada yang punya analisis?"
Romeo menyandarkan punggungnya ke sofa sambil tersenyum puas, membayangkan drama kecil ini sebagai hiburan pribadi.
...****************...
Kamar Romeo memang sederhana, dengan dinding yang masih dihiasi poster-poster band dan tokoh kartun favoritnya saat remaja. Sebuah meja belajar kecil berdiri di pojok ruangan, penuh dengan tumpukan buku yang terlihat sudah jarang disentuh. Tempat tidurnya tidak terlalu besar, cukup untuk satu orang dewasa dengan nyaman, namun kini harus menampung dua.
"Jadi, kita tidur di sini dulu ya, sayang..." suara Romeo tiba-tiba terdengar berat dan sedikit serak, membuat Tina menoleh cepat ke arahnya.
Tina merasa sedikit merinding mendengar nada suaranya. "Dimana aja gue oke," jawabnya cepat, mencoba terlihat santai meskipun hatinya sedikit gugup.
"Lo mau tidur di sini, kan? Jangan bilang mau kabur ke kamar nenek," godanya sambil duduk di sebelah Tina, matanya menatapnya dengan lekat.
Tina mencoba mengalihkan pandangan, tapi jantungnya terasa berdebar lebih cepat dari biasanya. "Ya udah, tidur aja. Jangan banyak ngomong."
Romeo tertawa kecil, lalu mengambil bantal di sisi lain tempat tidur. "Santai aja, Tin. Gue nggak bakal ganggu lo... kecuali lo mau diganggu."
"Kamar ini punya karakter, beda banget sama Lo yang nyebelin."
Romeo tersenyum nostalgia saat melihat sekeliling kamar. "Kamar ini terakhir gue tempati waktu lulus SMP," katanya sambil menunjuk ke poster-poster band favoritnya yang masih tergantung di dinding. "Bisa dibilang, ini adalah markas kecil saat itu."
Tina duduk di pinggir tempat tidur dan berkata, "Gue nggak masalah sama kamarnya. Tapi, kok rasanya panas ya?"
Romeo segera bangkit dan membuka jendela, membiarkan udara malam sejuk masuk ke dalam kamar. "Biasanya dulu gue buka jendela, karena memang panas disini."
“Nanti kalau ada demit gimana?”
“Nggak akan, mereka takut karena ada penghuni baru disini.” Romeo tertawa kecil melihat ekspresi wajah Tina yang sedikit kesal dengan jawabannya.
Ia kemudian melepas kaosnya dan menggantinya dengan baju oblong yang lebih nyaman. Tina berdiri terdiam sejenak di dekat jendela, menikmati hembusan angin malam yang menyegarkan.
Ketika Romeo menghampirinya sambil membawa tank top miliknya, ia tersenyum nakal dan berkata, “Mungkin ini bisa bantu.”
Tina yang tadinya tenang langsung merasa canggung ketika melihat Romeo dengan santai merapikan pakaian dalamnya. Wajahnya memerah dan ia segera memalingkan pandangan sambil erat-erat memegang bajunya sendiri.
“Romeo!” seru Tina, suaranya setengah bercanda namun penuh rasa malu.
Romeo hanya tertawa kecil, tidak bisa menahan godaannya. "Kenapa? Kita kan sudah menikah. Nggak perlu malu, kan?" katanya dengan nada yang tetap menggoda.
Tina yang masih tersipu malu akhirnya tersenyum kecil. “Jangan aneh-aneh.”
Romeo mendekat dan memeluk Tina dari belakang dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Lo nggak perlu malu sama gue. Gue suami lo."
Tina akhirnya menghela napas tak karuan, merasakan jantungnya berdebar kencang. “Ya, makanya tadi bantuin rapi-rapi,” ujar Romeo sambil beranjak menuju kamar mandi. Romeo mengikuti dengan pandangan, sekaligus menghela napas seolah sedang protes.
Tina berhenti sejenak saat mendengar Romeo bertanya, "Eh, mau ke mana?"
"Ganti baju," jawab Tina sambil melirik sebentar ke arah Romeo, mencoba terlihat santai.
"Disini aja ganti bajunya, emang kenapa?" goda Romeo sambil tersenyum nakal, matanya terus mengikuti setiap gerakan istrinya.
Tina hanya memutar matanya tanpa menjawab, lalu dengan cepat masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya. Begitu pintu tertutup, Romeo tertawa terbahak-bahak.
“Aduh, ya ampun... Tina, lo lucu banget,” ucap Romeo sambil terus tertawa, suaranya terdengar jelas dari luar kamar mandi. Tina di dalam kamar juga tersenyum kecil meskipun masih merasa malu.
Setelah beberapa saat, Tina hanya bisa geleng-geleng kepala sambil bergumam sendiri, "Dasar Romeo...”
Romeo dan Tina kemudian mulai merapikan tempat tidur, bersiap untuk beristirahat setelah seharian penuh aktivitas. Ketika mereka selesai, Tina memandang jendela kamar yang masih terbuka lebar. Angin malam yang masuk membuat tirai putih berkibar perlahan, memberi suasana yang sedikit misterius.
"Lo gak takut ada demit gitu?" tanya Tina, suaranya terdengar serius namun ada nada penasaran di dalamnya. Dia menatap Romeo dengan harapan mendapatkan jawaban yang serius.
Romeo hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. "Enggak," jawabnya dengan santai sambil tersenyum.
Tina mengernyitkan dahinya. "Eh, tapi gue takut. Tutup aja jendelanya," desaknya dengan nada yang sedikit cemas.
Romeo hanya menggeleng pelan, masih dengan senyum di wajahnya. "Nanti kalau kepanasan lagi gimana? Tenang aja, gue udah temenan sama demit di sini," katanya dengan nada bercanda yang membuat suasana menjadi lebih ringan.
Tina mencubit lengan Romeo sambil tertawa kecil. "Jangan bercanda terus, ih! Tutup aja jendelanya, anginnya bikin merinding."
Romeo yang masih tertawa akhirnya mengikuti permintaannya dan menutup jendela. "Oke deh, demi istriku yang takut sama demit," katanya sambil mengedipkan mata. Tina tersenyum lega meski masih tetap memelototi Romeo yang terus menggoda.
"Eh..tapi gue punya kamar utama di bawah," kata Romeo sambil menyandarkan tubuhnya di tepi tempat tidur. "Besok kita pindahin barangnya aja, ya. Sekarang kita di sini dulu. Lagian, kasur ini juga muat, kok."
Tina menatap Romeo dengan sedikit ragu. "Lo yakin? Kamar di bawah pasti lebih nyaman. Kenapa nggak sekarang aja kita pindah ke sana?"
Romeo menggeleng sambil tersenyum. "Nggak usah ribet sekarang, Tin. Udah malem. Besok aja kita atur semua. Lagi pula, gue pengen lo ngerasain suasana kamar gue waktu remaja. Nostalgia gitu, lo ngerti kan?"
Tina hanya mengangkat alis, lalu duduk di ujung tempat tidur sambil memeluk lututnya. "Nostalgia apaan? Gue nggak punya kenangan di kamar lo ini. Lo dulu nggak pernah ngajak gue ke sini pas SMP."
Romeo tertawa pelan. "Ya iyalah, kalau gue ajak waktu SMP bakal ribet. Nenek gue galak waktu itu. Tapi sekarang beda cerita." Ia mengedipkan mata iseng, membuat Tina menghela napas panjang.
"Ya udah, terserah lo deh," Tina akhirnya menyerah. "Tapi kalau gue nggak nyaman, gue langsung pindah ke bawah."
"Gue yakin lo bakal nyaman," balas Romeo sambil meraih bantalnya. "Sekarang coba deh tidur dulu. Lo bakal sadar, kamar kecil ini punya daya tarik sendiri."
Tina hanya menggeleng pelan sambil berbaring, sementara Romeo mulai mengatur posisi di sebelahnya. Suasana kamar yang sempit itu perlahan terasa hangat, meskipun Tina masih merasa aneh harus berbagi ruangan kecil dengan Romeo.
Tina berbaring sambil memandangi langit-langit kamar. Matanya sulit terpejam meskipun tubuhnya lelah. Ia mulai menggerak-gerakkan kakinya pelan, kebiasaan yang sering muncul saat ia gelisah.
"Romeo, gue nggak bisa tidur," gumam Tina sambil melirik pria di sebelahnya.
Romeo, yang sudah nyaman dengan posisi tidurnya, hanya berdehem pelan. "Hmm..."
Tina tahu kebiasaannya itu, jadi ia tak terlalu peduli dan mulai mengoceh, seperti biasanya saat ia merasa bosan atau gelisah. "Lo sadar nggak, Reo, kamar lo ini kecil banget. Gue heran gimana lo dulu bisa betah di sini. Terus, kenapa lo nggak pernah bawa temen lo ke sini? Apa lo dulu anak rumahan banget?"
Romeo tak langsung menjawab, hanya mendesah pelan. "Hmm... ngomong sendiri nggak cape, Tin?" tanyanya dengan suara yang sedikit serak, tapi jelas bercanda.
"Ya gimana, gue nggak bisa tidur. Kalo gue diem aja malah makin gelisah."
Romeo akhirnya membuka matanya sedikit dan menoleh ke Tina. "Lo tiap nggak bisa tidur emang begini? Oceh sana-sini kayak radio rusak?"
Tina menatap Romeo dengan kesal. "Iya, kenapa? Lo keberatan, Pak Suami?"
Romeo tertawa kecil, lalu duduk bersandar di kepala tempat tidur. "Nggak keberatan sih, gue udah kebal sama ocehan lo dari zaman SMP. Tapi, kalo lo terus begini, kapan tidurnya? Besok kita harus mindahin barang ke kamar bawah, kan?"
Tina meringis kecil. "Iya, gue tau. Tapi..." Ia tiba-tiba berhenti bicara, menyadari tatapan Romeo yang sekarang sepenuhnya fokus padanya.
"Tapi apa?" tanya Romeo, matanya menyipit seolah menantang.
"Tapi... gue nggak biasa tidur sama orang lain, Reo. Ini... aneh aja," jawab Tina akhirnya, jujur.
Romeo menghela napas, lalu tersenyum kecil. "Ya udah, kalau lo nggak biasa, gue tidur di sofa aja, gimana?"
Tina cepat-cepat menggeleng. "Nggak usah. Gue nggak mau lo nggak nyaman. Gue cuma... ya, butuh waktu buat adaptasi aja."
Romeo menatapnya sebentar, lalu mengusap rambut Tina dengan lembut. "Santai aja, Tin. Gue nggak bakal ganggu lo. Tidur aja, oke?"
Tina akhirnya mengangguk pelan, mencoba memejamkan mata meski masih merasa aneh. Tapi kali ini, ocehannya berhenti, digantikan oleh kehangatan yang terasa dari Romeo di sebelahnya.