NovelToon NovelToon
Jodohku Pak CEO DUDA

Jodohku Pak CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO
Popularitas:54.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.

Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Begitu Kenan selesai membereskan alat medisnya, ia berdiri dan menatap Vana serta Leo.

“Obat penurun panasnya udah gue campur di air. Kalau dua jam lagi masih panas, baru dikompres ulang,” ujarnya pelan.

Vana mengangguk sopan. “Iya, terima kasih.”

Kenan tersenyum tipis. “Istirahat aja di sini dulu, Van. Kalau ada apa-apa, panggil gue, ya.”

Tatapannya berpindah pada Aska yang mulai terlelap di pelukan Vana. Setelah menepuk bahu Leo pelan, ia berbalik menuju pintu, disusul Agam yang ikut keluar.

Suasana mendadak hening.

Vana menatap Aksa yang masih berdiri di sisi ranjang.

“Abang sebaiknya juga istirahat, Nak. Lukanya masih sakit, kan?” ucapnya lembut.

Aksa menunduk, lalu mengangguk kecil. “Iya, Mi. Abang di kamar sebelah aja, ya? Kalau Aska bangun, Mami panggil Abang.”

Vana tersenyum hangat, menatapnya penuh kasih.

“Iya, Sayang. Nanti Mami panggil. Tapi mandi dulu, ya, baru tidur.”

“Iya, Mi.” Aksa tersenyum tipis lalu melangkah keluar perlahan.

Begitu pintu tertutup, kamar itu tenggelam dalam keheningan.

Lampu temaram memantul lembut di wajah Aska yang tertidur pulas, sementara aroma lavender dari diffuser masih memenuhi udara.

Leo berdiri di sisi ranjang, kedua tangannya bertaut di depan dada. Pandangannya bergantian antara wajah tenang Aska dan sosok Vana yang duduk di tepi ranjang, jemarinya mengusap rambut anak itu dengan penuh kelembutan.

Beberapa saat mereka hanya diam. Sampai akhirnya, Leo membuka suara — pelan namun dalam.

“Terima kasih.”ucapnya.

Vana menoleh, sedikit terkejut mendengar nada suaranya yang begitu lembut.

“Tidak perlu berterima kasih, Pak. Saya juga senang bisa bantu Aksa dan Aska.”Balas Vana.

Leo menggeleng pelan, pandangannya masih tertuju pada wajah kecil Aska yang kini tidur dengan napas teratur.

“Bukan cuma soal bantu mereka, Van,” ucapnya lirih. “Tapi juga… karena kamu udah bikin mereka tersenyum lagi.”

Vana terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa — apalagi menatap mata pria itu yang kini tampak jauh lebih hangat dari biasanya.

Ia hanya menunduk, menatap jari kecil Aska yang masih menggenggam ujung bajunya.

Leo menghela napas pelan.

“Kalau kamu capek, istirahat aja di sini malam ini. Saya akan suruh pelayan untuk siapin kamar untuk kamu.”Kata Leo mengalihkan pembicaraan. Leo tau, kalau Aska tidak akan melepaskan Vana.

Vana menggeleng lembut. “Nggak usah, Pak. Saya di sini aja… nemenin Aska.”

Leo mengangguk, tidak memaksa. “Baiklah. Aku di luar. Kalau butuh sesuatu, panggil aku, ya.”

Ia melangkah menuju pintu, tapi sebelum benar-benar keluar, langkahnya terhenti.

“Vana…” panggilnya pelan.

Vana menatapnya. “Iya, Pak?”

Leo menoleh setengah, lalu tersenyum kecil — senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya.

“Terima kasih sudah datang.”Ucap Leo.

Vana membalas dengan senyum lembut dan anggukan kecil.

Begitu pintu tertutup di belakang Leo, ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.

Vana menatap Aska yang tidur pulas di pelukannya. Ia mengusap rambut anak itu perlahan, lalu berbisik lembut, suaranya hampir tak terdengar.

“Tidurlah, Sayang… Mami di sini. Mami nggak akan pergi ke mana pun.”

🍁🍁🍁

Di ruang tamu, suasana terasa tenang, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan. Agam duduk bersandar di sofa, sementara Kenan masih sibuk membereskan tas medisnya di meja kecil di depannya.

“Gimana pendapat lo soal perempuan tadi?” tanya Agam tiba-tiba, memecah keheningan.

Kenan tersenyum samar, lalu bersandar ke sandaran sofa. “Gue nggak tau soal itu. Tapi yang jelas, perempuan itu… baik. Dia punya aura keibuan yang kuat.”

Agam mengangkat alisnya, tertarik. “Aura keibuan?”

“Hmm,” Kenan mengangguk mantap. “Dia memperlakukan Aska kayak anaknya sendiri. Lembut, sabar, dan penuh kasih. Gue jarang lihat seseorang bisa bikin anak kayak Aska tenang secepat itu. Terlebih lo tau sendiri betapa keras kepalanya Aska dan Aksa,mereka persis seperti Leo”

Agam terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. Memang benar yang dikatakan oleh Kenan. “Iya, gue juga liat tadi. Aska biasanya butuh waktu lama buat percaya sama orang baru. Tapi sama dia…” Ia menggeleng kecil. “Kayak udah kenal lama aja.”

Kenan tersenyum tipis. “Mungkin karena hatinya tulus.”

Agam meliriknya dari ujung mata. “Lo ngomongnya kayak dokter cinta aja, bukan dokter anak.”

Kenan terkekeh kecil. “Gue cuma ngomong fakta aja.”

Belum sempat Agam menimpali, suara berat tiba-tiba terdengar dari arah tangga.

“Fakta apa?”

Keduanya langsung menoleh. Leo baru saja turun, masih mengenakan kemeja yang digulung separuh lengan, wajahnya tampak lelah tapi tatapannya tetap tajam. Ia segera menghampiri kedua sahabatnya itu.

Agam langsung menyeringai, menegakkan tubuhnya di sofa. “Fakta tentang anak lo yang akhirnya ketemu pawangnya.”jawabnya.

Alis Leo terangkat pelan. “Pawang?”ulang nya.

Kenan menahan senyum, mencoba menetralkan suasana. “Maksud Agam, Aska kelihatan jauh lebih tenang waktu sama Vana. Bahkan bisa tidur tanpa histeris.”jelas Kenan. Ia juga sedikit mengetahui tentang Vana, karena Agam sudah menceritakan beberapa kejadian belakangan ini yang membuat kedua anak Leo dekat dengan Vana.

Leo diam sejenak, pandangannya melunak tanpa sadar. “Hmm…” gumamnya pelan. “Iya, gue juga liat.”

Agam menatapnya penuh arti. “Lo sadar nggak, Le? Dua anak lo itu baru bener-bener bisa ketawa lepas setelah perempuan itu datang.”

Leo tak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap ke arah tangga — arah kamar tempat Vana dan Aska berada. Bibirnya menegang, tapi di matanya ada sesuatu yang berbeda: tenang… dan hangat.

Kenan memperhatikan perubahan ekspresi sahabatnya itu dan tersenyum kecil. “Kadang, seseorang datang bukan cuma buat bantu… tapi buat nyembuhin, Le.”Ucap Kenan.

Leo tidak menjawabnya. Ia memilih duduk di dekat Kenan.

Agam menatap Leo yang kini duduk di sofa, terlihat sedikit termenung. Ia menyandarkan tubuhnya, menatap sahabat lamanya itu dengan ekspresi sulit ditebak.

“Gue nggak pernah liat lo setenang ini, Le,” ucap Agam akhirnya, pelan tapi penuh makna. “Biasanya lo selalu pasang tembok setinggi langit setiap kali ada orang baru deket sama anak-anak. Apalagi kalau yang dateng itu perempuan.”

Leo menatap kosong ke meja di depannya, menarik napas dalam sebelum berbicara.

“Gue nggak tau apa yang terjadi sama gue, Gam. Tapi… gue ngerasa nggak bisa nolak kehadiran Vana.”

Agam mengerutkan kening, memperhatikannya dengan seksama. Leo jarang bicara sejujur seperti ini.

Leo melanjutkan, suaranya berat namun jujur.

“Lo liat sendiri semalam. Gimana gampangnya gue ngasih izin Aksa sama Aska nginep di rumahnya. Padahal, kita baru kenal beberapa jam yang lalu. Biasanya gue bakal mikir seribu kali buat hal kayak gitu. Bahkan Gue nggak ngizinin mereka untuk nginep seharipun di rumah keluarga gue sendiri.”

Kenan yang sedari tadi diam, langsung menoleh cepat. “Tunggu, lo bilang apa? … Aksa sama Aska nginep di rumah Vana?”tanya nya tak percaya.

Agam mengangguk santai, tapi nada suaranya terdengar serius. “Iya. Semalam. Dan lo tau yang lebih gila lagi, Ken? Hari ini waktu Aksa kena masalah di sekolah, orang pertama yang dia hubungin bukan bapaknya lagi, tapi Vana.”

“Yang bener lo, Gam?”tanya Kenan terkejut. I

Agam kembali mengangguk.“ Iya. Lo sendiri liat tadi, kan? Anak itu bonyok, tapi yang pertama kali dia cari cuma Vana. Bukan sahabat lo ini.”ucap Agam menunjuk Leo.

Hening sejenak.

Leo terdiam lama. Ia menunduk, memijit pelipisnya, lalu berucap lirih, “Gue nggak ngerti, Gam… Ken. Dua bocah itu biasanya butuh waktu lama buat percaya sama orang. Aska aja kalau ada orang baru deketin dia, bisa langsung tantrum. Tapi sama Vana…” Ia menggeleng pelan. “Kayak udah kenal lama.”

Agam menatapnya sambil tersenyum kecil, nada suaranya lebih lembut. “Mungkin karena Vana nggak pernah berusaha buat deketin mereka. Dia cuma bersikap apa adanya. Nggak maksa, nggak banyak ngomong, tapi bisa bikin anak-anak lo ngerasa aman.”kata Agam.

Kenan mengangguk setuju, menatap Leo dengan pandangan tenang. “Bisa bikin mereka nyaman dalam waktu sesingkat itu? Itu bukan kebetulan, Le. Itu hati yang tulus.”

Leo terdiam, menatap kosong ke arah tangga, tempat Vana dan anak-anaknya berada. Di matanya, ada sesuatu yang baru bercampur bingung, tenang, dan hangat yang belum pernah muncul sebelumnya.

Agam memperhatikan perubahan itu dengan tatapan penuh arti. Ia mengenal Leo sudah sangat lama, tahu kapan sahabatnya sedang menolak sesuatu yang sebenarnya sudah jelas di depan mata.

“Le…” panggil Agam, suaranya pelan tapi menusuk. “Lo sadar nggak, cara lo liat Vana?nggak kayak biasanya?.”

Leo memalingkan pandangan cepat, berusaha menutupi sesuatu yang jelas-jelas terbaca di wajahnya. “Lo mulai ngawur, Gam,” ujarnya singkat, mencoba mengalihkan topik dengan nada datar.

Kenan tersenyum kecil, menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Nggak, dia nggak ngawur. Gue juga liat. Lo tadi ngomong tentang Vana, tapi nada lo… beda, Le. Lembut.”

Leo menghela napas panjang, lalu bersandar ke sofa. Tangannya memijit pelipis lagi, seolah ingin menenangkan pikirannya yang kusut. “Gue cuma… ngerasa bersyukur, itu aja. Vana dateng di waktu yang tepat. Anak-anak gue butuh seseorang yang bisa mereka percaya. Dan dia berhasil ngelakuin hal yang bahkan gue aja susah buat lakuin. ”

Agam menatapnya dalam, lalu berkata dengan nada setengah bercanda tapi penuh makna, “Tapi lo lupa satu hal, Le. Kadang, yang bisa nyembuhin luka anak-anak… juga bisa nyembuhin luka bapaknya.”

Leo menoleh, menatap Agam tajam. Tapi tatapan itu tidak dingin justru ada kebingungan di dalamnya. “Jangan mulai, Gam. Kita aja belum sampai sehari kenal dia. ” katanya pelan.

“Benar. Kita belum sehari mengenalnya,tapi lo udah tau banyak tentang kehidupannya,” jawab Agam sambil tersenyum samar. “Gue cuma bilang, mungkin ini saatnya lo berhenti nyalahin diri lo sendiri. Dan biarin seseorang masuk. Jangan biarkan dia tertutup.”

 Ruangan seketika hening. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan. Leo memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang. Ia tak menyangkal… tapi juga tak membenarkan.

Leo akhirnya berucap lirih, hampir seperti gumaman, “Gue… nggak tau, Gam. Gue takut.”

“Takut apa?” tanya Kenan pelan.

Leo menatap tangannya sendiri. “Takut ngulang kesalahan yang sama. Takut bikin anak-anak gue terluka lagi.”

Agam tersenyum kecil, nadanya kini lebih lembut dari sebelumnya. “Lo lupa, Le. Vana bukan orang yang bakal nyakitin mereka. Dan kalau lo jujur sama diri lo sendiri… lo juga tau, dia bukan orang yang bakal nyakitin lo.”

Leo menatap kosong ke depan. Hening. Tapi di sudut bibirnya, ada senyum samar yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Kenan dan Agam saling bertukar pandang — keduanya tahu persis, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Leo Pradipta mulai membuka hatinya lagi.

Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,,

1
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Farah HakimKapau Farah Hakim
Ending nya gi mana ini...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Masih menunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Kapan up episode baru ni... Lama dah tunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
👍👍👍👍👍
Farah HakimKapau Farah Hakim
😍😍😍😍😍
Azarrna
maaf ya say,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊
Farah HakimKapau Farah Hakim
Jangan lama2 up episode nya darlings.. Makin penasaran ini
Azarrna
/Bye-Bye/🤭
Farah HakimKapau Farah Hakim
Still waiting...
Azarrna: thank you for waiting🤭
total 1 replies
Farah HakimKapau Farah Hakim
Makin penasaran aja
Azarrna
makasih kk😍
falea sezi
ngakak q/Curse//Curse/
falea sezi
cie aska Aksa cmburu mami nya meluk anak lain/Chuckle/
falea sezi
ceritanya bagus q suka
falea sezi
SMP seumuran anak ku anak ku. tidur aja kagak. mau deh di. kelonin malu katanya
Azarrna
oke kk😍
Farah HakimKapau Farah Hakim
Terima kasih... Tunggu update seterusnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!