Karena hutang pada mantan kekasihnya dan biaya kuliah yang nunggak, Fahira terpaksa mencari sampingan dengan menyamar sebagai peramal.
Akhirnya lapak jasa ramalnya didatangi pelanggan pertama, dia seorang duda ganteng yang kaya raya. Sudah lima tahun menduda. Ternyata duda itu merupakan tetangga sebelah rumah kos-kosan Fahira yang sudah lama Fahira taksir.
Fahira akhirnya merencanakan sesuatu. Dengan menyamar sebagai peramal, dia menjerat duda itu.
Apa yang dilakukan Fahira sebagai Peramal palsu pada sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Menikah
"Hira, apakah kamu masih memiliki orang tua?" tanya Gelora menatap Faheera dalam, terlihat jelas wajah Faheera begitu sedih saat ditanya seperti itu oleh Gelora.
"Heera masih punya Ibu, tapi Bapak Heera sudah meninggal. Ibu, sekarang sudah menikah lagi dan tinggal di pulau Sulawesi bersama suaminya." Faheera menerangkan perihal kedua orang tuanya.
Gelora mengangguk-angguk. "Lalu saudara kamu yang dekat di pulau Jawa siapa?" tanya Gelora lagi layaknya mengintrogasi penjahat.
"Uwanya dari Bapak, beliau tinggal di Bogor," sahut Faheera lagi.
"Baiklah kalau begitu, aku sudah tahu sedikit hal ihwal tentang kamu. Semoga kamu tidak menyembunyikan apa-apa dariku," tegas Gelora.
Faheera tidak paham dengan maksud kalimat Gelora barusan. Jangan-jangan Gelora sudah tahu profesinya sebagai tukang ramal palsu sehingga dia berbicara seperti itu. Berbagai dugaan menyelinap dalam dada Faheera.
***
Beberapa hari kemudian, Gelora sengaja mengumpulkan keluarganya, termasuk suami Wisna. Untuk membicarakan rencana lamarannya terhadap Faheera.
Gelora menceritakan sedikit tentang Faheera di depan keluarganya.
"Jadi kata si Faheera, Bapaknya sudah meninggal?" kejut Bu Nora dengan mata mengerling.
"Lalu Ibunya di mana sekarang?" lanjutnya lagi.
"Ibunya menikah lagi dan tinggal sekarang tinggal dengan suami barunya di Sulawesi," cerita Gelora.
"Terus bagaimana langkah kamu selanjutnya?" tanya Pak Barka menatap Gelora.
"Aku akan menikahinya, Pah. Aku juga sedikit tertarik pada Faheera, terlebih setelah peramal itu membaca kartu TARJOD yang aku pilih."
"Kamu masih percaya saja sama ramalan palsu itu. Peramal itu cuma tebak-tebakkan dan mengada-ngada. Kamu sebaiknya jangan dengarkan. Nanti kamu nyesal," sergah Bu Nora.
"Aku tetap akan menikahi. Aku harap dia memang betul jodoh terakhirku dan mencintaiku," tegas Gelora lagi.
"Boleh saja Mas Lora mau menikahinya. Tapi aku dan Mama sepakat, pernikahan Mas Lora sama si Faheera cewek matre itu harus dilaksanakan secara sederhana. Didandanin biasa tanpa mengundang banyak tamu undangan. Aku dan Mama khawatir kalau dia justru ngasih bekas sama Mas Lora," papar Wisna, sedikitnya membuat Gelora tersentak.
"Iya, alangkah lebih baiknya kamu menikahi gadis itu secara sederhana saja. Mama juga takut kalau dia sudah tidak perawan lagi. Nanti kalau pesta besar-besaran, kamu yang akan rugi," tekan Bu Nora lagi.
"Baiklah." Gelora setuju.
Dua minggu kemudian,
"Saya terima nikah dan kawinnya Faheera Indah dengan mas kawin seperangkat alat sholat, TUNAI." Dengan lancar Gelora mengucap ijab kabul. Dan kini dia dan Faheera sudah resmi menjadi suami istri.
Faheera didandani alakadarnya. Make up tipis dan kebaya bekas Bu Nora yang jadul. Walau demikian, Faheera nampak sangat cantik dan mempesona. Gelora berulang kali menatap Faheera dengan decakan kagum.
Gelora menyematkan cincin emas perkawinannya dengan Faheera, ke jari manisnya. Cincin emas yang memiliki berat hanya dua gram itu, kini tersemat di jari manis Faheera. Padahal Gelora mampu membelikan cincin emas 10 gram jika dia mau, sayangnya Gelora terlalu mendengarkan semua ucapan adik dan ibunya yang menaruh curiga kalau Faheera bukan gadis perawan lagi.
"Ya, daripada kamu rugi dapat perawan bolong, lebih baik pernikahannya sederhana saja. Kamu tidak akan rugi-rugi banget," cetus Bu Nora sehari sebelum pernikahan itu digelar.
Kini giliran Faheera menyematkan cincin ke tangan Gelora, dia bahagia sekali saat mencium tangan Gelora, sampai matanya berkaca-kaca.
"Uwanya Faheera yang menjadi wali hakim dalam pernikahannya. Setelah makan, berpamitan karena ada hal lain yang harus dia urus. Alasan lain selain itu, Uwanya Faheera yang bernama Hasan itu sepertinya kurang nyaman berada lama di lingkungan keluarga suami Faheera.
"Uwa pulang dulu, kamu baik-baik di sini. Kamu sudah jadi istri orang. Maka dari itu, mulai saat ini kamu harus patuh sama suami kamu," nasihat Wak Hasan sebelum pergi.
Faheera mengantar kepergian Wak Hasan sampai pintu depan, sebelum pergi Faheera memberikan sebuah amplop yang isinya beberapa lembar uang merah hasil jerih payahnya menjadi peramal gadungan.
"Kenapa kamu memberi uang? Uwa tidak ingin ini," tampiknya sembari mengangkat tangannya. Tapi Faheera segera memasukkan amplop itu ke dalam saku kemeja Wak Hasan.
Wak Hasan tidak bisa menolak lagi uang yang dimasukkan ke dalam saku kemejanya, terpaksa ia terima walau berat. Dia tahu betapa berat perjuangan keponakannya itu setelah kepergian ayahnya atau adik dari Wak Hasan.
"Uwa pulang, ya. Assalamualaikum," pamitnya seraya menyalakan motor tuanya. Faheera menatap kepergian Wak Hasan bersama motor tuanya.
Faheera kembali menghampiri kursi di samping Gelora yang sedang terlibat obrolan dengan keluarganya. Faheera tidak berani mengganggu, dia hanya menjadi pendengar.
"Lalu setelah ini kamu mau bulan madu ke mana?" goda salah satu sepupu Gelora.
"Alah, tidak perlu ada bulan madu, orang si Gelora hanya dapat perawan bolong," celetuk Bu Nora membuat seisi ruangan di rumah itu saling mengarahkan tatap pada Bu Nora.
"Mama, apa-apaan sih?" tegur Gelora karena dia merasa tidak enak pada tamu yang masih hadir, meskipun itu saudara dekat semua.
"Mama kenapa bicara seperti itu?" Pak Barka ikut menimpali dan menegur Bu Nora. Pak Barka melihat sekilas menantunya menundukkan wajah dengan perasaan malu.
Acarapun telah usai, Faheera langsung dibawa ke rumah baru Gelora. Sebelum pergi kedua orang tua Gelora memberi nasihat pada keduanya.
Kini giliran Bu Nora yang menasehati Faheera. Faheera menyalami mertua yang sudah menyebalkan di hari pertama dia menjadi menantu.
"Awas, ya, jangan mentang-mentang anakku menikahi kamu, lantas kamu seenaknya tinggal di rumah anakku. Dan awas, jangan pernah mencuri apa-apa dari rumah anakku." Bu Nora berkata sangat ketus.
"Tadi aku sempat kamu memberikan amplop pada Uwamu itu, memangnya kamu punya uang dari mana? Moroton anak aku? Jangan coba-coba kamu porotin, kalau itu terjadi maka aku akan menyingkirkanmu," ancamnya seraya mendilak.
"Itu bukan uang curian, Bu. Itu saya masih punya sisa uang dari hasil kerja saya," jawab Faheera apa adanya.
Setelah Gelora dan Faheera berpamitan, Gelora segera membawa Faheera ke dalam mobilnya. Keduanya kini sudah berada di dalam, tapi wajah Faheera terlihat mendung dan suram. Gelora tahu, ini akibat dari ucapan mamanya tadi.
"Hira kamu menangis?" sapa Gelora menoleh ke arah Faheera. Faheera membalikkan tubuh dan tiba-tiba merangkul bahu Gelora dan menangis di sana.
"Apakah Heera salah menikah sama kamu, Mas? Sepertinya pernikahan ini memang tidak direstui keluarga Mas Lora," lirih Faheera diiringi isak tangis. Betapa sesaknya dada Faheera saat ini.
"Sudah, jangan dengarkan kata mamaku. Dia hanya takut kalau aku jatuh lagi ke lubang yang sama. Ibu dan Wisna seperti itu saking tidak ingin aku kecewa lagi dalam pernikahan. Kamu sabar saja, perlihatkan sikap yang baik. Mereka sebenarnya baik, tapi sekarang ini mereka memang tidak percaya sepenuhnya pada orang baru yang mendampingi aku." Gelora berusaha membujuk Faheera yang sedih.