Cerita ini hanya khayalan Author semata ya...
Menerima kritik dan saran ya namun yang membangun bukan menjatuhkan.
Bercerita tentang Cinta Annisa (36 tahun) harus menikah dengan Rafael Ibrahim (27 tahun) karena sebuah keadaan.
Keadaan seperti apa yang mengharuskan mereka menikah?.
Apa saja yang harus mereka lalui untuk bisa hidup bahagia bersama?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Fia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Episode 13
Hasan dan Husein baru saja tidur usai menghabiskan dua botol susu berukuran 120 ml. Malam ini mereka kembali tidur bersama Mama Nur. Sengaja Mama Nur melakukan video call bersama Nesha, menujukkan kedua jagoannya asyik dan betah tidur bersama nenek mereka.
Sementara di kamar seberang, terjadi perdebatan kecil antara Annisa dan Rafael. Annisa cukup terganggu dengan sikap Rafael yang menurutnya berlebihan mengenai dokter Faisal.
"Kamu tadi menemui Faisal?." Rafael sangat yakin atas tuduhannya terhadap Annisa. Ia duduk di sofa menatap Annisa yang duduk di tepi tempat tidur.
"Rina." Annisa meluruskan masih dalam nada pelan.
"Kalau Rina pasti masuk, pasti senang dengan kabar baik Nesha yang sudah sadar. Tidak mungkin Rina tidak masuk menemui Nesha."
"Kamu punya nomer Rina kan? Coba saja kamu telepon dan tanyakan langsung padanya." Annisa masih meluruskan.
Rafael bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Annisa. Annisa mencoba menghindar dari Rafael yang semakin mendekat, namun begitu cepat pergerakan tangan Rafael sehingga berhasil menahan Annisa supaya berada di tempatnya.
"Kenapa kamu menutupi kalau sebenarnya kamu punya kekasih? seorang dokter pula. Kenapa juga kamu harus bohong kalau yang tadi kamu temui itu Faisal?." Rafael masih melayangkan tuduhan-tuduhan yang sudah ditepis Annisa. Namun ia tetap tidak mempercayainya.
"Saya sudah jujur sama kamu, kalau kamu tidak percaya itu bukan masalah saya."
"Apa setelah kita berpisah kamu akan bersama Faisal?."
Annisa mengerutkan keningnya lalu menjawab pertanyaan Faisal, "Itu urusan saya."
"Itu menjadi urusan saya juga!." Rafael mengeluarkan nada suara yang mengintimidasi terhadap Annisa.
Annisa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian berkata dengan nada lembut pada Rafael. "Lebih baik sekarang kamu fokus pada kesembuhan Nesha. Bawa secepatnya Nesha pulang, kasihan anak-anak sudah sangat merindukan Mama nya."
"Kenapa? Kamu mau secepatnya mengeluarkan saya dari hidup kamu? Lalu kamu membawa dokter itu ke dalam hidup kamu?."
Entah setan apa yang membuat Rafael berani begini. Dengan begitu berani ia memegang pinggang Annisa, sampai-sampai Annisa menahan nafasnya karena begitu kaget.
"Jangan sentuh saya!" secara refleks kata-kata tajam bak silet itu keluar dari mulut Annisa. Sanggup memancing sisi lain dari seorang Rafael yang belum dilihat Annisa.
"Kamu lupa kalau kamu istri saya, hah? Jangankan menyentuh ini." Rafael menarik pinggang Annisa hingga tubuh mereka menempel tanpa jarak. "Menyentuh seluruh yang ada padamu saja itu halal bagi saya, kamu hak saya." Rafael melanjutkan kata-katanya lagi.
Rafael menatap manik indah milik Annisa, mengunci tatapan mereka berdua. Tangan Rafael menggantung di udara, hatinya mendorong ingin melepaskan cadar yang dikenakan Annisa. Hampir saja itu berhasil, kalau tidak ada suara mama Nur yang memanggil Anisa dan Rafael.
"Annisa...Rafael..."
Spontan Annisa mendorong tubuh Rafael menjauh, kemudian ia segera bergegas mendekati pintu dan membukanya lebar.
"Mama, ada apa?."
"Hasan Husein demam, Mama enggak tahu kenapa? Padahal tadi baik-baik aja." terdengar nada khawatir dari Mamah Nur.
"Iya, Ma. Mama tenang dulu, ayo sekarang kita ke kamar lihat mereka."
Mama Nur dan Annisa segera bergegas menuju kamar, dari belakang Rafael pun mengikuti mereka. Annisa sengaja membuka pintu kamar Mama Nur lebar-lebar karena tahu ada Rafael mengikuti.
Annisa segera mengecek keadaan Hasan dan Husein. Menempelkan punggung tangannya pada kening Hasan dan Husein secara bergantian. Tubuh kedua anak kecil itu pun tidak luput dari pemeriksaan Annisa. Dan ternyata mereka memang demam.
"Raf, coba tolong kamu ambil termometer di dalam tas anak-anak." Rafael segera balik badan dan mengambil termometer yang dibutuhkan Annisa.
Sambil menunggu Rafael, Annisa melepaskan pakaian tebal yang menempel pada Hasan dan Husein. Menggantinya dengan pakaian tipis.
"Ini, Nis, termometernya." Annisa segera mengambil termometer yang diberikan Rafael. Lalu terlebih dahulu ia menempelkannya pada ketiak Hasan untuk beberapa saat hingga didapatkan 38 derajat celcius. Kemudian Annisa berpindah pada Husein dan melakukan hal yang sama. Hasil yang sama pun didapatkan Annisa.
"Iya, mereka berdua demam. Annisa akan membawa mereka ke dalam kamar Annisa ya, Ma?."
Rafael sudah menggendong Hasan lalu membawanya lebih dulu.
"Iya, Nis, nggak apa-apa kamu bawa saja mereka. Apa nggak sebaiknya mereka dibawa ke dokter saja?." Mama Nur cukup merasa panik dengan demam Hasan dan Husein yang mencapai 38 derajat celcius.
Annisa menggeleng, "Kita coba saja dulu mah turunkan demam mereka di rumah. Kalau masih belum turun juga demamnya baru kita bawa ke dokter."
"Iya, Nis. Mama serahkan semuanya sama kamu."
Rafael yang masuk lagi langsung mengambil Husein dan segera memindahkannya ke kamar Annisa. Annisa segera menyusul setelah menutup pintu kamar Mama Nur.
Rafael segera meletakkan Husein di tempat yang berbeda. Annisa mengatur suhu di kamarnya supaya membuat nyaman Hasan Husein.
Minyak kayu putih sudah dibalurkan Annisa pada tubuh Hasan dan Husein. Lalu memberikan susu lagi kala mereka membuka mata. Berharap apa yang dilakukannya bisa menurunkan demam si kembar secara alami tanpa obat-obatan.
"Kamu tidur aja, anak-anak biar saya yang jaga." Annisa menoleh ke arah Rafael yang berdiri sambil menyilangkan tangan di dada.
Rafael segera menyahut, "Kita berdua yang akan menjaga anak-anak."
Annisa mengangguk, ia berdiri di sisi Husein sedangkan Rafael di sisi Hasan. Mereka berdua akan berjaga guna memastikan demam si kembar turun.
Rafael mengajak Annisa duduk di sofa yang diletakkan Rafael antara box Hasan dan box Husein. Perempuan bercadar itu menurutinya, mereka duduk berdampingan walau masih menyisakan jarak.
"Anak-anak tanpamu akan seperti apa? Kamu begitu sigap terhadap mereka. Kamu begitu sayang dan tulus sekali melakukan semuanya untuk anak-anak." Rafael menyadarkan tubuhnya pada sofa, menoleh ke arah Annisa yang duduk tegak beberapa centi di depannya.
"Mereka akan baik-baik saja tanpa saya, kasih sayang kedua orang tuanya yang akan membuat mereka tetap baik-baik bahkan bisa jauh lebih baik. Kamu jangan meragukan Nesha, pasti Nesha lebih tahu apa yang harus dilakukannya untuk Hasan Husein."
"Bagaimana kalau ternyata tidak? Apa kamu akan tetap ada untuk mereka? Atau kamu tetap akan pergi meninggalkan mereka?."
Pertanyaan Rafael sontak membuat Annisa menoleh ke belakang. Dimana pria itu sedang mengkhawatirkan banyak hal.
Annisa mengembalikan tatapannya pada si kembar yang terlelap. Ia bangkit dan berjalan menuju tempat tidur mereka. Menempelkan lagi punggung tangannya ke seluruh tubuh Husein lalu berpindah pada tubuh Hasan.
"Alhamdulillah, demamnya mulai turun." Seru Annisa memberitahu Rafael.
Rafael mengangguk lalu memejamkan matanya, kemudian bergumam lirih. "Sekarang tubuh saya yang demam."
Bersambung
uang Nesha kemana aja rekening nya 0 lho
entahlah
semangaat thor