"Jangan bermimpi aku akan jatuh hati pada mu, kau hanya anak kecil yang tidak mengerti apa-apa tentang pahit manisnya kehidupan. Aku terpaksa menikah dengan mu lantaran tidak ingin membuat malu keluarga ku di hari pernikahan ku yang batal bersama kakak mu Galang Saputra Dermawan. Aku benci dengan keadaan ini! Aku benci!" pekik Nada ketika dirinya menyadari kini ia telah sah menjadi istri dari berondong manis yang usianya 5 tahun lebih muda darinya.
"Aku akan membuat mu jatuh hati padaku Nada Rindu Kinandita! aku yakin kau akan bisa melupakan saudara kandung ku Galang Saputra Dermawan yang telah mengkhianati mu!" sahut Gilang Prasetya Dermawan ketika dirinya berada di kamar pengantin bersama sosok wanita dewasa yang telah berumur darinya.
Yuk ikuti terus kisah cinta beda usia antara Nada Rindu Kinandita dosen cantik berusia 25 tahun dengan mahasiswanya Gilang Prasetya Dermawan yang berusia 20 tahun, yang menjadi pengantin pengganti untuknya dalam novel Pengantin Pengganti Bu Dosen!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alinatasya21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Sentuhan Tipis-tipis
Gilang semakin mendekatkan wajahnya pada bibir ranum Sang Istri. Nada yang mendadak blank atas tindakan Gilang yang membuat dadanya berdesir hebat, sejenak terhipnotis terhadap makhluk Tuhan paling tampan di hadapannya.
Cuppp, Gilang refleks ingin mencium bibir seksi milik Nada yang entah kenapa pesona Nada Rindu pagi ini begitu sangat menghipnotisnya. Namun, bersamaan dengan itu, dosen cantik itu menutup wajahnya dengan pasmina. Hingga ciuman itupun terhalang oleh hijab.
Akan tetapi, sentuhan tipis-tipis itu mampu menggetarkan hati keduanya. Entah getaran apa namanya hanya Gilang dan Nada Rindu saja yang bisa merasakannya.
"Maaf," ucap Gilang tidak enak hati dengan apa yang barusan ia lakukan.
Nada memalingkan wajahnya, ia merasa begitu sangat gugup. Hampir saja Gilang mengambil ciuman pertamanya, jika saja dirinya tidak segera menghindar dari serangan mendadak yang tanpa aba-aba dari suami berondongnya.
Cukup egois bukan? Ya, begitulah Nada, ia tetap dengan pendiriannya. Bagaimana pun caranya ia tetap ingin bercerai dari Gilang.
''Tolong baca surat perjanjian kontrak ini baik-baik! dan jangan coba-coba untuk melanggar apa yang tertuang di dalamnya. Termasuk poin nomor 4 tidak ada kontak fisik diantara kita! hampir saja kau mencuri ciuman pertamaku!" sengit Nada dengan ekspresi wajah dingin, namun jangan ditanya saat menyebut poin nomor 4 tubuh Nada berasa panas dingin.
Gilang mengambil secarik kertas yang dituliskan oleh Nada dengan begitu elegannya. Raut wajah Gilang berubah masam kala netranya membaca surat perjanjian kontrak yang diberikan oleh Nada.
Gilang ingin marah saat ini juga, akan tetapi sebagai sosok laki-laki ia berusaha untuk meredam emosinya jangan sampai ia melakukan kesalahan yang fatal hingga membuat dosen cantik itu semakin membenci dirinya.
"Kau yakin dengan poin number one, jika pihak satu dan pihak kedua bebas berkomunikasi dengan wanita atau pria manapun yang memang dia inginkan? pasangan istimewa misalnya? apa sebagai seorang istri kau tidak cemburu jika suamimu bersama wanita lain? jika itu sampai terjadi, hatimu perlu dipertanyakan Bu Nada Rindu Kinandita?" Gilang Prasetya menatap lekat wajah sang istri, membuat Nada sedikit tergagap.
"Tentu saja aku tidak keberatan dan aku tidak cemburu? mengapa aku harus cemburu sedangkan kita tidak memiliki rasa apa-apa? pernikahan inipun terjadi dengan terpaksa dan tanpa rasa cinta diantara kita, jadi aku pikir tidak ada hal yang membuat aku ragu untuk membiarkanmu bersama wanita yang kau cintai?" tandas Nada penuh rasa percaya diri.
"Baiklah jika itu memang menjadi keinginanmu akan aku turuti sampai di mana batas rasa tidak cemburumu terhadapku sebagai suamimu?" tantang Gilang dengan raut wajah yang terlihat tenang.
Kali ini, ia tidak ingin gegabah untuk menghukum Nada seperti tadi. Ada saatnya ia akan memiliki Nada sepenuhnya, akan tetapi tidak untuk sekarang. Iapun sedang memikirkan cara untuk melumpuhkan hati dosen kampusnya itu agar suatu saat nanti berbalik arah untuk mencintai dan menerima dirinya setulus hati sebagai suami.
"Kenapa ia terlihat santai dan tenang? seharusnya ia marah-marah dan segera mengatakan jika ia akan menceraikanku sebagaimana yang tertera pada poin nomor 7, dalam waktu 3 bulan kami harus segera mengakhiri pernikahan ini!" Nada berbicara lirih dalam hati.
"Jadi, hanya ini yang kau minta? pihak kesatu atau pun pihak kedua bebas untuk bergaul dengan wanita atau pria manapun yang disukai, tidak boleh mencampuri urusan satu sama lain, tidak boleh tidur dalam satu ranjang yang sama, tidak boleh terjadi sentuhan fisik, di dalam kampus bersikaplah seperti dosen dan mahasiswa, dilarang untuk jatuh hati antara kedua belah pihak, dalam waktu 3 bulan pernikahan harus segera di akhiri. Apa masih ada yang lain poin 8 misalnya?" tandas Gilang sambil tersenyum menawan, dirinya masih sempat-sempatnya melakukan penawaran.
Degh! jantung hati Nada Rindu tetiba saja berdetak tak karuan kala manik matanya tanpa sengaja melihat senyuman Gilang yang menawan hatinya.
"Subhanallah, sebagaimana poin number six di larang jatuh hati satu sama lain. Artinya, aku tidak boleh terhipnotis dengan senyuman manisnya!" Nada memalingkan wajahnya sambil menyimpan surat perjanjian kontrak itu di map khusus mengalahkan dokumen penting yang ada di kampus.
"Kenapa diam Bu Nada? dosen cantikku! maaf, aku melanggar perjanjian kontrak yang kau buat. Poin number four aku tidak bisa untuk tidak menyentuhmu!"
Cupppp, satu kecupan hangat mendarat sempurna di kening Nada. Membuat wanita berwajah bulat tersebut sangat terkejut atas tingkah absurd Gilang barusan.
"Gilang Prasetya Dermawan! kau melanggar perjanjian kita!" sengit Nada dengan menatap nyalang kearah Gilang yang kini telah menjaga jarak darinya karena khawatir mendapat amukan dari Nada atas apa yang baru ia lakukan.
"Aku tidak pernah membuat surat perjanjian denganmu Bu Nada, kecuali janji suci pernikahan yang ku ucapkan didepan penghulu dan semua saksi yang hadir di sana bahwa aku menikahimu karena Allah semata berdasarkan apa yang telah dituntunkan oleh syari'at Islam. Jadi, aku mohon pada Bu Nada berusahalah untuk menjadi istri yang patuh, sayang! agar malaikat pun mencatat sebagai awal yang baik untukmu karena ketaatanmu pada suamimu akan memudahkanmu masuk ke syurga melewati pintu manapun yang kau inginkan di akhirat nanti!" cetus Gilang dengan kembali mendekati Nada.
Satu usapan lembut di kepala Nada yang masih terhalang hijab, entah kenapa mampu menenangkan hati Nada yang semula dirundung kesedihan dan emosi tingkat dewa. Sejenak ia melupakan masalahnya saat ditinggal pergi oleh Galang Saputra ketika proses ijab qobul mereka akan segera di mulai.
"Alhamdulillah, hanya dalam waktu 5 detik kau telah bisa menjadi istri yang patuh! aku pergi dulu sayang, hari ini aku ada kuis di kampus. Aku harus kuliah dengan benar agar bisa menyelesaikan S1-ku demi dirimu Nada Rindu Kinandita! jaga dirimu baik-baik, dan jangan keluar hotel sebelum aku kembali!" pesan Gilang dengan menatap wajah Nada Rindu dengan penuh kasih dan ketulusan.
Gilang mencoba untuk menerima pernikahannya dan memantapkan hatinya untuk Nada serta menguburkan rasa yang sempat tersemat dihatinya untuk Inayah Kasih Ramadhan, gadis cantik yang dulu kerap kali ia sebutkan dalam do'anya.
"Assalamu'alaikum," ucap Gilang sebelum beranjak pergi meninggalkan Nada Rindu yang masih terpaku atas perlakuan manis Gilang barusan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi!" sentuhan tipis-tipis dari mahasiswanya membuat Nada hampir kehilangan kata-kata.
Nada memang sengaja cuti satu Minggu setelah menikah, jadi ia bebas untuk menghabiskan waktu bersama suaminya yang ia kira Galang Saputra satu-satunya laki-laki dalam hidupnya. Namun, sekarang semua berubah, kekasih hati yang diimpikannya kini pergi entah kemana, menyisakan luka yang teramat dalam dihati Nada.
"Ya Allah, anak itu? ia benar-benar membuatku tidak bisa berkutik. Bagaimana lagi aku menjelaskan padanya jika pernikahan ini hanya untuk sementara saja dan kami harus segera bercerai! Aku tidak mungkin terus-menerus berada dalam satu atap dengan laki-laki yang tidak kucintai sama sekali!" celoteh yang teruntai dari lisan Nada, namun anehnya hati seolah berkata lain.
"Ya Allah, aku bisa gila jika terus seperti ini!" sontak Nada menyentuh dahinya sendiri bekas kecupan hangat Sang suami berondongnya.
semangat ya.
semangat ya
Lanjut thor. 5 like mendarat buatmu thor.
semangat ya