NovelToon NovelToon
Avonturir Dua Deputi

Avonturir Dua Deputi

Status: tamat
Genre:Mafia / Dunia Lain / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Teriablackwhite

Ellena Celestia Baskara adalah gadis pewaris tahta keluarga Jarzam, pemilik perusahaan berlian terbesar di negara itu. Tetapi dia harus mengalami peristiwa buruk saat para mafia merampas seluruh hartanya, dan membunuh kedua orangtuanya, dia melarikan diri dan tenggelam di lautan tempat tinggalnya dewa laut, sang dewa menolongnya dan membalik kehidupan Ellena menjadi seorang bayi lagi yang kemudian ditemukan oleh seorang wanita tua.

Para Mafia itu mengejarnya sampai menemukan sebuah kristal biru sumber kekuatan terbesar seluruh lautan di muka bumi ini, dan mereka merampasnya juga, sang dewa murka dan mengirim titisan setengah kekuatannya dalam kristal kapsul kecil bersamaan dengan Ellena yang juga sengaja di masukkan ke dalam sebuah kapsul kristal, lalu apakah yang akan terjadi dengan kedua kristal itu?

Saksikan kisah selanjutnya hanya di sini, happy reading semuanya ...

Jika membaca tolong tinggalkan jejak ya ges, like, komen, dan vote-nya, thankyouu---haturnuhun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ADD Eps 12

...•...

...•...

...•...

...•...

...•...

    Dalam cahaya lampu yang meremang, seorang lelaki bertubuh tinggi nan kekar, pembuluhnya mengeras di area punggung tangan dan kakinya, lelaki itu menahan kenop pintu kamar inap kedua gadis cantik itu, tatapannya menajam dalam beberapa detik.

    Cklek!

    Setelah pintu terbuka tanpa perlu menggunakan kunci, lelaki itu melenggang masuk ke dalam kamar kecil itu yang hanya berisikan tempat tidur, sofa kecil dan sebuah kamar mandi, di sudut kanan kirinya dilengkapi oleh hiasan ruangan sederhana yang menambahkan kesan minimalis yang manis.

    Mereka harus melupakan apa yang mereka lihat hari ini.

   Lelaki bertubuh tinggi itu berayun ke dekat kedua gadis yang tengah terlelap, rasa lelah menjerat kedua gadis itu sehingga mereka begitu terlelap sampai tidak menyadari jika ada seorang pria yang menyusup kamarnya.

    Lelaki itu meletakkan telapak tangannya di atas dahi Kalea, seketika sebuah sinar yang menyilaukan keluar dari telapak tangan lelaki itu. "Kamu tidak pernah melihat apapun malam ini, kembalilah dalam ingatan terakhir kali sebelum ke danau," urai lelaki itu lirih.

    Setelah itu dia melepaskan tangannya dari dahi Kalea, lantas dia beralih pada Ellena yang tengah bergerak mengubah posisi tidurnya. Tak sangka gadis bermata merah muda itu malah membuka bola matanya dan mendapati sosok lelaki gagah itu ada di depan matanya.

    "Aaa–p, eeeuuh ...." Spontan gadis itu berteriak, lalu terkatup.

    Namun, dengan sigap lelaki itu membungkam mulut Ellena dengan bibirnya, dia selukkan satu tangannya ke tengkuk Ellena, lantas dia menekannya dan mengakibatkan bibirnya menempel dengan bibir lembut dari gadis cantik itu.

    Satu tangannya tertidur di samping kanan kepala Ellena, lelaki itu terus menekan ci*m*annya sampai Ellena menahan napasnya karena mulutnya terbungkam, bola matanya melebar, sementara kedua tangannya yang berusaha mendorong dada bidang lelaki itu nampak kehabisan tenaganya.

    Detik berikutnya lelaki itu melepaskan ci*m*nnya, lekas dia tarik jari telunjuknya dan dia letakkan di atas bibirnya, sebagai perintah agar Ellena tidak bersuara. "Ssttt!" desis lelaki itu lembut, hidungnya yang saling menempel membuat embusan napas lelaki itu menyerbu wajah Ellena dengan hangat.

    "Kamu akan lupa, kejadian tadi ataupun baru saja yang terjadi."

    Lelaki itu mengusapkan telapak tangannya di atas dahi Ellena, membuat gadis yang tengah menahan debur jantungnya yang berhamburan menyipit heran dengan apa yang tengah dilakukan lelaki itu.

    Setelah urusannya selesai, lelaki itu melenggang begitu saja keluar dari kamar inap kecil itu dan mengunci pintu kamar tersebut seperti sedia kala, seperti tidak ada yang terjadi.

    Ellena yang dirundung kekesalan segera membantun tubuhnya untuk segera berdiri dari ranjangnya. Dia hentakkan kedua kakinya geram dengan tindakan lelaki itu, pasalnya dia telah merebut ci*m*n pertama yang selalu dia jaga untuk suaminya di masa depan.

   Hidungnya mengerut naik pitam. "Aish! Sialan! Siapa sih tuh cowok," gerutu Ellena mengayuh langkahnya untuk mengikuti lelaki itu.

    Dia membuka pintu itu dengan cepat menggunakan kunci yang menggantung di sana.

    Di luar, Ellena mendapati sosok lelaki itu masih berada di sana tengah memeriksa ponselnya, cahaya layar pintar di sana menyoroti paras tampan lelaki itu bersamaan dengan sinar rembulan malam ini yang menyoroti bumi dengan penuh antusias.

    Gadis bertubuh proporsional itu memburu langkahnya sampai mendekati lelaki itu, tanpa segan dia menjambak rambut lelaki yang tengah membelakangi dirinya, dia tarik rambut side bangs lelaki itu tanpa ampun hingga hidungnya mengerut berang.

    "Dasar lelaki mesuk! Awas aja ya, kamu gak akan lepas," berang Ellena menarik rambut lelaki itu sampai tubuhnya memutar dan mengaduh kesakitan.

    "Aargh ...," ringis lelaki itu sehingga ponsel yang ada dalam genggamannya terlempar dan terkapar di tanah kecoklatan.

    "Sembarangan banget sih masuk ke kamar orang lain," sambung Ellena menokok punggung lelaki itu berulang kali sambil dia terus menjambak.

    "Aargh-Aargh ...." Lelaki itu masih meringis.

    "Kembalikan cepet! Kembalikan!"

    Rasa panas mulai menjalari kepalanya, lelaki itu menarik tubuhnya dan mengakibatkan Ellena terpental ke belakang dan melanggar tanah kecoklatan yang ada di sana.

    "Aaah ...," ringis Ellena.

    Lelaki itu mengusap-usap kepalanya yang terasa perih, kemudian menegakkan tubuhnya dan memutar tubuhnya mengarah pada Ellena yang masih bergeming di atas tanah dengan deru napas yang menggebu-gebu, kemarahan masih menyelimuti diri gadis itu.

    Betapa terkejutnya Ellena, bola matanya membeliak kala melihat siapa sosok lelaki yang tengah merebut ci*m*n pertamanya, dia adalan Kano. Pimpinan Atlantis Aodra yang sangat dia takuti, gadis itu membuka mulutnya, dia terperangah bukan main.

    "Ka-kamu ...," tunjuk Ellena tak percaya, jika dirinya sedari tadi sudah menjambak dan memukul lelaki berjiwa dingin nan kejam itu.

    Lekas Ellena menyeret bokongnya ke belakang, tubuhnya bergetar ketakutan, tetapi dia berusaha untuk kembali berdiri dan menguatkan dirinya menghadapi lelaki itu.

    "Ah gila!" raung Kano, tatapannya memanas. "Dasar cewek gila!" sambung Kano masih mencibir.

    Mendengar hal itu Ellena bukannya takut, tetapi semakin menumbuhkan rasa kekesalan yang membuncah di dalam dadanya, dengan keberanian gadis berambut panjang bergelombang itu mengayuh langkahnya mendekati Kano.

Plak!

    Satu tamparan keras mendarat di pipi Kano, sehingga wajah lelaki itu terlempar ke samping, beberapa detik lelaki itu terdiam sampai akhirnya dia menarik wajahnya mengarah pada Ellena lagi, tatapannya semakin mengeras sambil dia mengusap rasa panas yang menjalari pipinya.

    "Dan kamu cocok mesum!" bentak Ellena, nada suaranya meninggi. "Jangan mentang-mentang kamu kuat dan kamu bisa melakukan segala hal tanpa tahu konsekuensinya." Ellena mendorong dada lelaki itu dengan kasar dan wajahnya tertunduk.

    Karena sebetulnya gadis itu tengah didekap oleh rasa takut yang tak bisa dia kendalikan.

    "Kamu itu penjahat! Pembunuh harusnya ada di penjara bukannya malah merebut ci*m*n pertama seorang gadis, dasar gila! Mesum! Cowok sialan! Aku benci! Benci! Kembalikan ...," cecar Ellena tak henti-hentinya mendorong dan memukul dada Kano yang kuat.

    Sementara Kano masih menelisik apa yang sedang terjadi, dia tadahkan kedua telapak tangannya, dahinya mengerut heran, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kekuatannya kali ini tidak berfungsi, sebelumnya tak pernah terjadi hal seperti ini.

    "Tunggu!" Kano menahan kedua tangan Ellena dan menggenggamnya dengan erat.

    Ellena bergeming, tatapannya mematung yang perlahan meroket sampai mempertemukan bola mata indahnya dengan tatapan serius yang dimiliki oleh Kano saat ini, ada kelimpungan yang mengendap di dalam dirinya.

    "Kenapa kamu masih mengingat semua hal itu?" serunya.

    "Ya ingatlah gila!" Ellena tarik kedua tangannya dari genggaman Kano sehingga terlepas. "Kamu pikir semua orang yang kamu perlakukan buruk bisa lupa begitu saja, di dunia ini ada tuhan dan dewa, jangan semena-mena!" pekik Ellena masih geram, dia katupkan bibirnya.

    Dalam keadaan yang masih gamam, Kano segera mengabaikan pertanyaan mengapa kekuatannya tidak berfungsi saat ini, embusannya terlempar kasar keluar. "Ssstt!" Kano letakkan jari telunjuknya di atas bibir Ellena sehingga gadis itu membeku di sana dengan bola mata yang berkelintaran tak karuan.

    Tubuh lelaki itu condong ke depan, wajahnya memiring. Bola matanya terus menghunus ke area bibir Ellena membuat gadis itu menelan ludahnya kasar, bahunya pun ikut mengeras, gadis itu tidak tahu harus melakukan apa dalam situasi seperti ini.

    Gadis ini sungguh cantik, dia seperti keturunan kerajaan, bola mata merah mudanya sungguh indah, kulit seputih susu dan garis-garis di wajahnya benar-benar lembut, pantas sana mereka menginginkan dia saat itu.

    Batin Kano terus memuji kecantikan yang dimiliki oleh Ellena.

    "Kamu mau aku kembalikan apa?" ucapnya kemudian seraya dia menegakkan tubuhnya.

    Tak ada jawaban dari Ellena, gadis pemilik hidung lancip itu terus mengatupkan bibirnya, dia masih merasakan sentuhan manis nan lembut tadi, sebuah ci*m*n yang tak pernah terbayangkan olehnya, jika hal itu akan diambil oleh orang asing.

    Geram menyeruak menjelajahi diri Kano, lelaki itu memicing sembari tersenyum miring.

    Lantas tanpa aba-aba dia tarik pinggang Ellena dan menguncinya erat. Lalu dia lokap bibir Ellena sekali lagi dengan ci*um*annya, sehingga Ellena membeliak dan berontak untuk melepaskan dirinya.

    Namun, semuanya adalah usaha yang sia-sia, Kano pejamkan matanya dan menikmati apa yang sedang dia lakukan. Tangan yang menempel dipunggung Ellena lekas dia tekan, telapak tangannya yang lebar bisa membuat tubuh gadis itu bergeming.

    "Euuuh ...." Ellena mengerang, dia tak bisa melepaskan dirinya.

    Kedua tangannya yang sedari tadi mendorong dada bidang lelaki itu perlahan memudar dan terjatuh ke bawah, pikirnya percuma saja dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyingkirkan lelaki itu, yang habis hanya tenaganya sedangkan Kano semakin menikmati ci*um*n itu.

    Kano menjalari setiap sentuhan yang terasa manis nan hangat di area bibirnya, dia buka mulutnya sedikit dan kembali melahap bibir Ellena sampai tubuh gadis itu melemah. Perlahan dia gerakkan tangannya ke area pundak gadis itu lalu dia menekannya dan akhirnya Ellena pingsan dalam pelukannya.

    Dia melepaskan bibirnya dari atas bibir Ellena sembari dia menjilati bibirnya yang sudah merasakan hasrat yang begitu menggairahkan, dekapannya pada Ellena semakin menguat.

    "Sialan!" Kano menggelengkan kepalanya kuat, "kenapa dia bisa membuatku nyaman sampai rasanya aku tidak bisa melepaskannya," sambungnya.

    Kano menggendong Ellena di atas kedua lengan kekarnya, lantas langkahnya berayun kembali ke dalam kamar inap Ellena dengan, pintu itu masih terbuka. Lalu dia letakkan tubuh Ellena ke atas ranjang kecil itu.

    "Siapa wanita ini?" Dahinya mengerut. "Kenapa dia tidak bisa terpengaruh dengan kekuatan yang aku miliki," sambung Kano masih keheranan.

...***...

    Cahaya matahari menggeliat dari singgasananya, ia melangkah lamban dan menerobos masuk ke dalam celah-celah jendela rumah-rumah manusia yang berderet di bawah sana, angin pagi yang menggiring awan perlahan bergerak sesuai arahan dari sang semesta.

    Dalam kamar inap kecil kedua gadis cantik itu, Kalea menggeliat terbangun dari tidurnya, sepertinya gadis itu tertidur nyenyak tidak seperti Ellena, wajah gadis cantik itu tak bercahaya seperti biasanya, waktu tidurnya benar-benar terganggu.

    "Ini anak tumben banget tidurnya lama, bukannya kita tidur lebih awal kan tadi malam, tidur di sofa," ujar Kalea mengingat kejadian apa yang semalam terjadi.

    Kalea melenggang dari ranjang, membuka menyeringaikan gorden jendela kecil di sana, lantas dia membuka jendela itu, membiarkan sorot matahari yang menghangatkan seluruh muka bumi pagi ini.

    Kalea menghirup udara pagi seraya dia memejamkan matanya. "Perasaan tadi malam tidur di sofa, kenapa pagi-pagi udah ada di kasur ya? Apa aku lupa suatu hal? Tapi kayaknya enggak deh," ucap Kalea masih berusaha mengingat kejadian tadi malam.

    Namun, ingatan tentang pembantaian lelaki tua itu sudah menghilang sepenuhnya dari ingatan Kalea, satu pun sketsa tentang kejadian mengerikan malam tadi telah meninggalkan ingatan Kalea. Ingatan mengerikan itu hanya ada diingatan Ellena, kekuatan yang dimiliki oleh Kano tidak bisa menembus gadis cantik itu.

...----------------...

1
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ditunggu novel baru nya kak
Teriablackwhite: Terima kasih telah membaca Kak 🥰 ditunggu ya ...
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
fighting kak 💪
Teriablackwhite: Terima kasih 🥰 semangat juga ya
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
semangat kak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
makin seru kak cayoooo 😁 💪
Teriablackwhite: Terima kasih akak 🥰🥰
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
seru banget kak

jangan lupa mampir di novel pertama qu


🙏
Teriablackwhite
Selamat membaca ya semuanya, semoga suka, jika ada kekurangan silakan berkomentar /Smile/
La
Semangat thorr
Qy ࿐
Tulisan nya rapih, dan bikin baper nih
Qy ࿐
luar biasa, jangan lupa mampir juga ya kak "Dibalik Pesona Dahlia"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!