Ali, seorang pemuda berusia 23 tahun, terjebak dalam kebuntuan hidup—menganggur dan bermimpi membangun bisnis, tetapi tak memiliki modal. Namun, segalanya berubah ketika tanpa sengaja ia membangkitkan kekuatan untuk menjelajahi dunia paralel. Di sana, ia menemukan teknologi canggih, harta tanpa batas, serta buku-buku seni bela diri yang dapat ia bawa kembali ke dunia nyata. Dengan kecerdasan dan tekadnya, Ali memanfaatkan semua yang ia peroleh untuk menaklukkan dunia. Uang, teknologi, dan keterampilan bertarung kini ada di tangannya. Inilah kisah seorang pemuda yang melangkah dari nol menuju kejayaan—mengubah takdir dan menapaki jalan menuju puncak dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 UJIAN MASUK
langkah Baru
Cahaya matahari pagi menembus kaca jendela apartemen Ali, menerangi ruangannya yang sederhana namun nyaman. Di balkon, ia berdiri dengan secangkir kopi di tangan kanan dan sebatang rokok di tangan kiri.
Ia menghirup aroma kopi yang masih mengepul, lalu menyesapnya perlahan.
"Pagi yang cerah, kopi yang nikmat, dan rokok yang menemani… Sempurna," gumamnya sambil menatap langit Jakarta yang mulai sibuk dengan aktivitas pagi.
Tiba-tiba, suara dering telepon memecah keheningan. Ali melirik layar ponselnya.
Alana menelepon.
"Hah? Alana? Kenapa dia menelepon sepagi ini?" pikirnya sebelum mengangkat panggilan itu.
“Halo, Alana? Ada apa?”
“Kak, sibuk nggak? Nanti kita keluar yuk!” suara ceria Alana terdengar dari seberang telepon.
Ali menghela napas ringan. “Aku nggak bisa, Alana.”
“Hah? Kenapa? Masih marah soal kemarin?”
“Bukan itu. Jam sembilan nanti aku harus ke Universitas Nasional. Aku mau ikut ujian masuk kuliah.”
Sejenak, Alana terdiam. “Tunggu… Kamu baru mau kuliah? Aku kira kamu udah lulus kuliah.”
Ali tersenyum kecil. “Iya, baru mau mulai.”
“Tapi kenapa di UN? Kenapa nggak masuk Universitas Indonesia aja? Kan kita bisa satu kampus.”
“Nggak bisa. UI ada batas umur, dan aku udah lewat. Jadi aku pilih UN. Gitu, ngerti?”
Alana terkekeh. “Iya, ngerti. Yaudah, aku antar ke UN, ya.”
“Oke. Jemput aku jam 8 di apartemen.”
“Siap, bos!” jawab Alana dengan nada bercanda sebelum menutup telepon.
Ali tersenyum tipis, lalu kembali menikmati kopinya sambil menatap langit.
Menuju Ujian
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, tapi Alana belum juga datang.
Ali melirik jam tangannya, lalu mendesah pelan. “Kemana sih Alana? Kok lama banget?” gumamnya.
Tepat saat itu—
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar.
Ali segera membuka pintu, dan di hadapannya sudah berdiri Alana dengan wajah santai.
“Ayo, kita berangkat.”
Ali mengunci pintu apartemennya sambil menatap Alana dengan curiga. “Kamu dari mana aja? Lama banget!”
Alana cengengesan. “Maaf, tadi mampir isi bensin dulu.”
Ali hanya menggeleng pasrah. Mereka pun berjalan menyusuri lorong apartemen, lalu turun ke parkiran di mana mobil Alana terparkir.
Begitu masuk ke dalam mobil, Alana langsung menekan pedal gas, melaju menuju Universitas Nasional yang terletak di Jakarta Selatan, dekat Pasar Minggu.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sampai di kampus tujuan.
Ali melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil. “Makasih ya, Alana, udah nganterin.”
“Jangan lupa telepon aku kalau udah selesai, biar aku jemput.”
Ali tersenyum kecil. “Nggak usah. Aku naik taksi aja nanti.”
Alana memutar bola matanya. “Gak apa-apa, sekalian kita makan siang bareng nanti.”
Ali berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Oke, kalau gitu aku masuk dulu. Udah mau jam 9.”
“Iya, semangat ujiannya!” kata Alana sambil melambaikan tangan.
Ali melangkah masuk ke kampus, matanya menyapu gedung-gedung tinggi yang berdiri megah.
Hari ini, langkah barunya akan dimulai.
Ujian Masuk
Ali mencari ruang ujian dan segera masuk ke dalam. Ruangan itu sudah dipenuhi calon mahasiswa baru, semuanya tampak tegang menunggu dimulainya ujian.
Tak lama, lembar soal dibagikan.
Begitu ujian dimulai, suasana langsung berubah hening. Banyak peserta yang terlihat kebingungan menatap soal di hadapan mereka.
Namun, tidak dengan Ali.
Ia menatap soal pertama dengan tenang.
Apa yang dimaksud dengan ruang bisnis?
Ali tersenyum tipis. Soal ini sangat mudah.
Tanpa ragu, ia menulis jawabannya:
"Ruang bisnis adalah pernyataan formal dalam proposal usaha maupun rencana bisnis yang menjelaskan cakupan sektor kerja dari sebuah perusahaan."
Tangannya bergerak cepat. Setiap soal ia jawab dengan lancar, tanpa ragu sedikit pun.
Waktu berlalu, dan Ali menjadi orang pertama yang menyelesaikan ujian.
Ketika ia berjalan ke depan untuk mengumpulkan lembar jawaban, seluruh peserta menatapnya dengan ekspresi terkejut.
Ali tetap tenang. Ia menyerahkan kertas jawabannya, lalu keluar ruangan tanpa sepatah kata.
Tak Ada Jawaban
Begitu keluar dari gedung ujian, Ali langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon Alana.
Triiing… Triiing…
Tidak diangkat.
Ali mencoba lagi.
Triiing… Triiing…
Masih tidak diangkat.
Ali menghela napas. "Mungkin dia lagi sibuk. Ya sudahlah, nggak mau ganggu."
Tanpa berpikir panjang, ia membuka aplikasi ojek online dan memesan motor untuk pulang.
Beberapa menit kemudian, seorang pengemudi datang menghampirinya.
“Atas nama Ali?” tanya sang driver.
“Iya, saya Ali.”
“Baik, silakan naik, Mas.”
Ali naik ke motor itu dan segera melaju meninggalkan kampus.
Sambil menatap jalanan yang padat, ia tersenyum kecil.
Hari ini, ia telah menyelesaikan langkah pertamanya.
Namun, ini baru permulaan.
Perjalanan sebenarnya baru saja dimulai.
BELEUNG BELENG....