NovelToon NovelToon
OH YES MY SUGAR DOCTOR!

OH YES MY SUGAR DOCTOR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Cerai / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:38.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dara85

“Kamu bukan mandul, Jani... Dia aja yang nggak ngerti caranya bikin anak.”
Pandu berbisik di telinga Anjani—tepat setelah tubuhnya gemetar dalam pelukan pria yang benar-benar tahu letak gairah dan luka.

Anjani duakan dan dicerai di hari anniversary pernikahan. Ditampar kenyataan pahit: suaminya berselingkuh dengan mantan dan mertuanya menyalahkan rahimnya yang dianggap “kosong”.
Padahal yang kosong... bukan rahimnya, tapi hati suaminya.

Datanglah Pandu—teman suaminya, seorang dokter kandungan, dan lelaki yang diam-diam sudah jatuh cinta sejak lima tahun lalu.

Dan malam itu, di bawah cahaya temaram dan bisikan lembut, Pandu membuktikan semuanya,
Bahwa tubuh Anjani subur.
Bahwa luka Anjani bisa sembuh.
Dan bahwa cinta yang dalam bisa mengisi tempat yang selama ini tak pernah disentuh dengan benar.

Satu kali disentuh Pandu... dua garis merah muncul. Dan hidup Anjani tak akan pernah sama lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara85, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIUSIR MERTUA, KABUR KERUMAH PANDU.

Mendengar ucapan dari Tati, Anjani merasa tak tenang. Ia pun segera mandi dan mengganti pakaiannya.

Artha dan suaminya baru saja kembali dari kegiatan olahraga pagi.

“Tati, apa dia udah balik?” tanya Artha.

“Udah, Nyonya.”

“Bagus.”

Artha kemudian berjalan menuju kamar Anjani dan mengetuk pintu.

“Iya, Ma. Masuk,” ucap Anjani sambil tersenyum.

“Enak banget santai-santai di kamar... berasa gadis singel?” sindir Artha tajam.

“Emm... bukan, Ma. Cuma istirahat bentar...”

“Enak jadi istri Tian?” tanya Artha sambil melirik seisi kamar mewah itu.

“Maksudnya, Ma...?”

“Enak! Enak nggak, ngerti kamu?!”

“Anu... maaf, Ma...” jawab Anjani dengan nada tertekan.

“Saya nggak butuh basa-basi. Kamu sudah tahu kan, Bastian kasih talak?”

“Tapi... apa kesalahan Jani, Ma?”

“Bukan urusan saya! Yang jelas, kamu bukan bagian keluarga kita lagi. Kamu asing! Silakan kamu pergi dari rumah ini, dan Bastian akan datang ke rumah orang tuamu setelah dia pulang dari Singapura.”

“Tapi...”

“Tidak ada ‘tapi’! Bawa barang kamu. Barang yang memang milikmu dari rumah orang tuamu, bukan dari Tian. Pergilah! Lagian buat apa mempertahankan wanita mandul yang lima tahun tanpa anak? Ini tuh gila! Kelewatan namanya. Nanti kamu malah bawa penyakit buat Tian!”

“Jani nggak mandul!” tegas Anjani sambil menitihkan air mata.

“Hahaha... buktinya?! Kasih anak satu aja nggak bisa! Buktikan dong! Perempuan cantik di luar sana tuh banyak, bukan kamu aja. Tapi yang bisa kasih anak? Ternyata langka,” sindir Artha pedas.

“Jani nggak mandul! Jani bisa buktiin sama kalian!”

“Sama siapa? Apa ada yang mau sama kamu? Selain Bastian yang dulu bodoh, kepincut sama kamu? Nggak ada kayaknya.”

“Oke! Baik! Jani pergi dari sini, dan Jani yakin kalian semua nyesel buang Jani kayak gini!” seru Anjani sambil menyeka air matanya.

“Menyesali kamu pergi?! Hahaha... eh, kamu ngaca dong!”

“Jani yakin! Sampai kapan pun, kalian nggak akan punya cucu!” ucap Anjani penuh emosi, nyaris bersumpah.

“Ya, silakan. Lagian juga, saya udah ada calon pengantin wanita buat Bastian. Pengusaha muda dan kaya raya kayak dia, nggak bakal susah cari pendamping hidup. Kecuali kamu. Paling juga yang mau sama kamu ya... pekerja biasa. Sales motor, mungkin.” Artha lalu membalikkan badan dan meninggalkan Anjani begitu saja.

Kesombongan Artha membuat Anjani emosi. Ia pun meninggalkan rumah itu dengan hanya membawa pakaian miliknya dan yang sedang ia kenakan.

“Mbak... Mbak mau ke mana?” tanya Tati, menatap Anjani dengan cemas.

“Pergi, Tati. Maaf kalau aku ada salah sama kamu. Aku nggak bisa dihina kayak tadi! Kamu dengar kan?” ucap Anjani sambil menahan air matanya, suaranya gemetar namun tegas.

“Sabar, Mbak. Mereka emang gitu, sombong. Tapi Mbak mau ke mana?” Tati melangkah pelan, mengikuti Anjani ke depan pintu.

Anjani terdiam sejenak. Pandangannya kosong, namun kemudian ia tersadar.

“Aku pergi ke rumah orang yang mau terima aku, Tati. Aku pergi dulu. Kamu baik-baik kerja di sini.” Ia menoleh dan memeluk Tati dengan erat.

“Baik, Mbak. Mbak kalau perlu apa aja, telepon Tati ya.” Suara Tati mulai bergetar, matanya berkaca-kaca.

“Pasti. Makasih sudah baik sama aku selama aku di sini.” Anjani tersenyum kecil, lalu berpamitan juga pada pembantu lainnya yang berdiri menyaksikan kepergiannya. Mereka terlihat bersedih ketika Anjani melangkahkan kaki keluar dari rumah megah itu.

Di depan gerbang, Anjani menghubungi taksi. Beberapa menit kemudian, mobil berwarna biru muda berhenti di depannya.

“Ke mana, Mbak?” tanya sopir taksi sambil menurunkan kaca jendela.

“Kontrakan di belakang RS Fatmawati, Pak. Jalan aja dulu. Saya lupa-lupa ingat.” Anjani masuk ke dalam mobil dan duduk sambil menarik napas dalam.

“Oke. Nanti arahin aja ya, Mbak.” Sopir itu memutar arah mobil pelan dan mulai mengemudi.

“Siap, Pak.” Anjani menjawab singkat, pandangannya menerawang ke luar jendela.

•••

Pergilah Anjani menuju rumah Pandu. Ia masih menitikan air mata sepanjang perjalanan. Anjani merasakan sesak di dadanya, mencoba menghubungi Bastian namun tak ada jawaban dari sang suami.

“Mbak, kita udah di kawasan belakang rumah sakit, ini ke mana lagi?”

“Oh... maju lagi, Pak. Dua blok dari sini.”

“Oke.”

Tepat, Anjani tiba di depan rumah Pandu.

“Di sini, Mbak?”

“Iya, Pak. Bener.”

“Oke. Sini tasnya saya bawain, Mbak.”

“Makasih, Pak, ya.”

“Sama-sama.”

Berdiri, mengetuk pintu dengan tas koper berwarna kuning di tangan.

“Mas...”

“Mas Dokter...”

“Ke mana sih? Apa lagi tidur tuh orang?”

“Mas... Mas Dokter... Mas... Mas Pandu...”

“Kayak ada orang?” ucap Pandu, yang baru saja mengenakan handuk pada pinggulnya.

Berjalanlah Pandu, membuka pintu rumah.

“Astaga!” ucap Pandu, terkejut melihat Anjani yang tengah berdiri di ambang pintu.

“Mas?”

“Wait...” ucap Pandu, yang berlari kembali menuju kamarnya.

“Mas tunggu?!” pinta Anjani.

“Kenapa?”

“Ada uang nggak, Mas... bayarin taksi... Maaf, Mas... Taksinya nungguin tuh...” ucap Anjani sambil menoleh ke arah mobil taksi.

“Oh, bentar... Tunggu...!”

Tak lama kemudian.

Duduklah Anjani di ruang TV. Pandu baru saja mengenakan pakaian.

“Maaf, tadi nggak pakai baju.” ucap Pandu sambil tersenyum.

“Iya, Mas, udah liat juga kok. Makasih udah bayarin ongkos taksi, Mas...”

“Iya, sama-sama. Oke... ehm...” ucap Pandu, yang bingung melihat tas koper berwarna kuning.

“Ini mau liburan, Jani?” tanya Pandu saat melihat tas koper itu.

“Mas... aku diusir dari rumah mertua. Aku juga ditalak sama Mas Bastian, semalem.” ucap Anjani sambil menahan air matanya.

“Hah?” ucap Pandu, terkejut mendengar ucapan Anjani.

“Aku nggak tau mau ke mana, Mas? Aku mau pulang ke rumah Mama, tapi malu... aku nggak tau mau bilang apa. Aku mau ke mana lagi sementara waktu ini? Jadi aku ke sini lagi karena inget rumah kamu.” ucap Anjani sambil menangis terisak di sisi Pandu.

Pandu mengangguk, ia memerhatikan wajah sedih itu. Kemudian Pandu mencoba menenangkan Anjani.

“Mas... aku boleh sandaran?”

“Eh gimana?”

“Sandaran, Mas... numpang...”

“Sini,” ucap Pandu sambil menahan tawa dan mendekati Anjani lalu memberikan bahunya untuk Anjani bersandar.

Tangis Anjani semakin menjadi-jadi. Ia tak segan menyeka cairan lendir dari hidungnya menggunakan pakaian Pandu.

“Oke...” ucap Pandu, menahan tawa kala melihat itu.

“Maaf, Mas. Tisunya Mas, jauh banget taruh nya...” lirih Anjani sambil menangis.

“Hahaha...” sahut Pandu dengan tawa.

“Mas seneng ya, liat aku gini, kena talak?”

“Iya. Eh, enggak lah... aku prihatin sama kondisi kamu. Nangis aja terus, nggak apa-apa,” ucap Pandu.

Anjani kembali menangis pada bahu Pandu.

“Mas, bahu kiri aja. Bahu kanan udah basah...”

“Hahaha... oke... aku pindah duduk,” ucap Pandu sambil tertawa.

Anjani benar-benar membenamkan wajahnya pada bahu kiri Pandu dengan tangisan.

“Mas, aku harus apa?”

“Harus apa? Ehm... tenang dulu kayaknya. Kalo tenang, kita bisa mikir,” ucap Pandu pelan.

“Mas...” ucap Anjani sambil mendongak melihat Pandu.

“Hahaha... muka kamu ketutup rambut semua, Jani,” ucap Pandu saat melihat wajah Anjani yang tertutup oleh rambutnya sendiri.

Anjani mencoba tertawa, sementara Pandu merapikan rambutnya yang menutupi wajah cantik itu.

“Udah nangisnya?” tanya Pandu pelan pada Anjani sambil menatapnya.

“Udah, Mas. Maaf, baju kamu kotor, ganti, Mas,” ucap Anjani.

“Yaudah, aku ganti baju dulu. Tunggu ya.”

“Oke.”

Anjani menyeka sisa air matanya. Ia mencoba tenang dan berpikir, sementara Pandu tengah kebingungan dengan kehadiran wanita yang ia cintai di dalam rumahnya.

“Gue harus apa ya? Masa gue cuekin? Apa gue suruh dia tinggal tempat lain? Nggak tega gue. Gue anterin dia balik aja? Tapi dia tadi minta tinggal di sini sebentar.”

“Mas... aku ambil minum ya...?” ucap Anjani dari balik pintu kamar Pandu.

“Ooh... oke, tunggu ya...” sahut Pandu dari dalam kamar.

“Oke, Mas.”

1
Sodri Sodri
bagus bnget aku dah pernah baca ini yg ke 2x/Good//Rose/
Nur Adam
lnjur
MamaG: besok ya, Nur....
total 1 replies
Nur Adam
lnju
Nur Adam
lnjut bhgia trs jani..
Nur Adam
lnjut
Nur Adam
lnjyr
Nur Adam
lnju
MamaG: udah Nur...
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
Nur Adam
lnju
MamaG: nanti malam ya, Nur...
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
MamaG: oke Nur...
total 1 replies
Nur Adam
lnju
mimief
jangan lah Jan...nanti pandu malah tersinggung lagi
dah kita hidup damai sejahtera aja lah
mimief
lagian...kan dia yg mulai ya
makanya gaes,kalau mau ngapa ngapain bawa kaca dulu dirumah yaaa
jadi pastiin orang ga bisa balikin omongan kita🤣🤣
MamaG: dia lupa/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
MamaG: oke, Nur...
total 1 replies
Nur Adam
lnjt
MamaG: siap, Nur...
total 1 replies
mimief
ulet bulu lagi nyamar jadi ulet keket yg ditutupi kepalanya 🤣🤣🤣

mudah mudahan beneran tobat yaa
bukan kumat 🤣🤣
MamaG: 🤣🤣🤣🐛🐛 betul
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
MamaG: tunggu ya, Nur. lagi kondangan
total 1 replies
mimief
eh...ada mantan pelakor.napa liatin
jangan dalem dalem liatnya,yg ini mau juga lagi. repot dah😔🤭🤣
MamaG: /Facepalm//Joyful/ nggak bisa liat yang bening
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
MamaG: oke, Nur...
total 1 replies
Nur Adam
lnht
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!