Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Rasa Hati.
...~•Happy Reading•~...
Darel yang sudah selesai telpon, segera keluar dari ruang pribadinya dan mendekati Kandara yang sedang duduk diam di sofa. "Mari, temani aku makan." Darel berkata sambil mengulurkan tangannya ke arah Kandara untuk berdiri dan menemaninya makan. Kandara berdiri perlahan, lalu menggapai tangan Darel.
Namun tiba-tiba pintu kamar mereka diketok. Kandara melepaskan tangan Darel, lalu berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang mengetok. Dia terkejut, saat membuka pintu dan melihat kedua anaknya menyerobot masuk.
"Maaf, Mommy... Kami sudah mengantuk, tidak kuat lagi tunggu Mommy dan Daddy." Efrima berkata sambil berlari senang melihat Daddy mereka ada dalam kamar juga. Darel jadi tersenyum melihat kedua anaknya berlari masuk dengan wajah yang tiba-tiba ceria.
"Daddy sudah selesai kerjanya?" Tanya Efrima riang sambil memeluk Darel yang sedang berdiri dengan wajah tersenyum. Begitu juga dengan Efraim, ikut memeluk Darel dengan hati senang. Darel langsung memeluk mereka, sambil tersenyum.
"Kalian sudah makan?" Tanya Darel sambil mencium kepala kedua anaknya bergantian.
"Sudah, Daddy..." Kedua anaknya menjawab bersamaan, sambil terus memeluk Darel dengan erat.
"Tapi kalau Daddy mau kami temani, kami akan ikut makan dengan Daddy." Efrima berkata sambil mendongak melihat wajah Darel dengan wajah senang, tapi tetap memeluknya.
"Katanya sudah mengantuk, sekarang mau makan." Efraim menyenggol Efrima yang ada didekatnya. Efraim berkata demikian, karena Efrima yang mendesaknya datang ke kamar orang tuanya untuk pamit, mau tidur.
"Yeeee... Efri cuma lihat Daddy makan saja." Jawab Efrima, balik menyenggol Efraim, sambil memonyongkan bibirnya.
"Ayooo... Mari, temani Daddy makan. Tapi makan buah saja, yaa." Darel berkata sambil mengacak rambut kedua anaknya. Efraim dan Efrima mengangguk senang, karena diijinkan. Kandara hanya diam, tidak bisa mengatakan apa pun, karena Darel sudah mengijinkan.
"Mommy, tolong beritahu pelayan untuk tambah buah lagi dan kursi untuk mereka." Darel berkata pada Kandara yang masih berdiri diam. Kandara mengangguk, lalu melakukan permintaan Darel, menghubungi kepala pelayan.
Tidak lama kemudian, para pelayan datang membawa yang diminta Kandara, lalu menata kursi tambahan untuk Efraim dan Efrima.
"Efri, tolong berdoa untuk makan malam kita. Daddy belum pernah mendengar Efri berdoa." Darel berkata sambil memegang kepala Efrima yang duduk di sampingnya. Dia teringat pada pertemuan pertama dengan keluarga barunnya di Jakarta, Efraim yang berdoa untuk makan malam mereka.
Efrima mengangguk lalu berdoa. Kandara hanya diam menunduk sambil memegang pundak Efraim yang duduk di sampingnya. Selesai Efrima berdoa, Darel mencium kepalanya lalu makan bersama.
Kandara dan anak-anak hanya makan buah-buahan, sambil melihat Darel yang makan lebih cepat dari biasanya. Dia tidak terlihat santai saat makan dan sesekali melirik ke arah Kandara yang lebih banyak diam dan tidak lakukan protes seperti biasanya terhadapnya. Terutama untuk apa yang dilakukan kedua anaknya.
"Efra jangan tidur di kamar uncle Mikha, ya. Uncle sedang sibuk di hotel." Darel berkata setelah membersihkan mulutnya dan ikut makan buah bersama Kandara dan kedua anaknya.
"Iya, Daddy. Mommy sudah bilang. Efra tidur di kamar Oma." Efraim berkata pelan, karena sudah mengerti maksud Mommy nya. Darel mengangguk sambil mengangkat jempolnya ke arah Efraim.
"Daddy, bolehkah kami tidur di sini dengan Daddy dan Mommy?" Efrima tiba-tiba bertanya, membuat Kandara melihatnya dengan wajah yang tidak bisa digambarkan. Begitu juga dengan Efraim yang melihatnya sambil geleng kepala ke arah Efrima, karena Oma mereka sudah ingatkan untuk tidak mengganggu kedua orang tuanya.
"Sebenarnya, boleh. Tapi kasihan Oma, nanti tidur sendiri di kamar. Dan juga, ada yang mau Daddy bicarakan dengan Mommy malam ini." Darel tidak sampai hati menolak permintaan putrinya. Apa lagi melihat wajahnya penuh harap.
Selama mereka tiba di Seoul, anak-anak belum pernah tidur bersama mereka di kamarnya. Membuat hati Darel tersentuh atas permintaan Efrima. Dia mengacak rambut putrinya sambil berpikir, karena melihat Kandara hanya diam, tidak memberikan solusi atas permintaan Efrima.
"Begini saja, kalian hanya berbaring sebentar. Kalau sudah mengantuk, kembali ke kamar Oma. Daddy tidak kuat menggendong kalian, karena Daddy sedang lelah dan punngung Daddy agak nyeri. Ok...?" Darel berkata dan bertanya sambil melihat putra dan putrinya bergantian.
"Ok, Dad...!" Efraim dan Efrima menjawab riang sambil mengangkat tangan dan membentuk jari mereka 'OK', sebagai tanda setuju.
Setelah anak-anak rasa cukup makan buah, Darel doa syukur sekalian untuk istirahat. Kandara berdiri memanggil pelayan untuk membersihkan meja makan. Darel berdiri lalu mengotak-atik ponselnya, sedangkan kedua anaknya sudah bergulingan di atas tempat tidurnya yang besar, empuk dan mewah.
Tidak lama kemudian, Darel berbicara di telpon. 📱"Sebentar, Darel. Aku belum selesai. Mengapa kau vc?" Mikha berkata pelan, cendrung berbisik.
📱"Sapah prangkomu, agar dia bisa tidur nyenyak." Darel berkata sambil mengarahkan layar ponselnya ke arah Efrima. Hal itu membuat Mikha minta ijin untuk keluar dari ruangan, agar bisa bicara dengan bebas.
📱"Efra, Efri... Uncle belum bisa pulang, karena ada masalah di sini. Ini masih belum selesai, jadi Efri jangan marah, yaa." Mikha berkata sambil mengangkat tangannya, berharap kedua anak Darel tidak protes atau marah padanya.
📱"Iyaa, uncle. Efra tidur dengan Oma." Efraim berkata sambil mengangkat tangannya.
📱"Tidak marah, ko', uncle. Kami diijinkan tidur di kamar Deddiii...." Efrima berkata seakan berbisik dan menutup pinggiran mulutnya dengan kedua tangannya.
📱"Ooh, ok. Big hug..." Mikha membentuk jarinya sebagai tanda 'OK', dengan wajah tersenyum senang. Darel juga memberikan tanda 'OK', karena tahu, Mikha sedang meeting dan agar mengakhiri pembicaraan.
Darel meletakan ponselnya lalu naik ke atas tempat tidur dan memeluk kedua anaknya. Efrima langsung memeluknya dengan erat. Darel melingkari tangannya, melewati kedua anaknya dan menutup mata Kandara yang sedang melihatnya dengan berbagai rasa.
Melihat kondisi Kandara yang terus melihatnya, Darel langsung memeluk kedua anaknya, lalu menepuk punggung mereka beberapa saat untuk menyenangkan mereka sebelum meminta mereka kembali ke kamar tamu.
"Ayooo... Cium Mommy, Daddy antar kalian ke kamar Oma, sebelum kalian tertidur di sini." Darel berkata sambil membangunkan kedua anaknya.
Kedua anaknya bangun dengan tidak bersemangat, lalu mencium Kandara yang masih berbaring. "Sweet dream." Kandara berkata saat kedua anaknya mencium pipinya. Dia tidak berusaha bangun untuk mengantar kedua anaknya seperti biasa. Darel mengerti dan tidak berusaha untuk mengajaknya untuk ikut.
Setelah kedua anaknya dan Darel keluar dari kamar, Kandara mengambil bantal lalu memeluknya, sambil menatap langit-langit kamar dengan berbagai rasa di hati.
Darel yang sudah kembali dan melihat kondisi Kandara, langsung menyingkirkan bantal, lalu memeluknya. Kandara melingkarkan tangannya lalu memeluk Darel dalam diam. Dia menyusupkan wajahnya ke dada Darel sambil terus memeluknya dengan erat.
"Tadi kau mendengar pembicaraanku di telpon? Hhhhmmm...?" Tanya Darel lalu mencium kepala Kandara, dalam. Kandara hanya mengangukan kepalanya dalam diam.
"Tadinya aku mau bicarakan itu denganmu, tapi kau sudah dengar." Darel berkata pelan sambil mengusap punggung Kandara.
"Kepalaku mulai sakit, bukan saja karena masalah perusahaan. Tetapi lebih, karena harus meninggalkan kau dan anak-anak." Darel tetap berkata pelan, dan makin mempererat pelukannya.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
Terimakasih buat authornya..