DISARANKAN SUDAH CUKUP UMUR UNTUK MEMBACA CERITA INI. HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!
"Jangan terluka, karena aku bukan orang yang pantas untuk membuatmu terluka"
~ Shakti Ing Djagat
Shakti, dokter muda yang berniat menolong seorang gadis yang hendak dilecehkan oleh pacarnya, justru berakhir dengan menjadi tersangka pelecehan. Dan harus bertanggung jawab menikahi Zia, si gadis manja yang berstatus pelajar SMA.
Awalnya, Shakti menolak pernikahan itu. Karena merasa tidak bersalah. Dan yang lebih utama, karena dia memiliki janji terhadap kekasihnya. Namun, demi menyenangkan mamanya disetujuinya juga pernikahan tanpa cinta itu.
Apakah Zia mampu membantu Shakti untuk jatuh cinta padanya dalam ikatan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps.13 Terhipnotis
[Aku mau pergi ke Agensi bareng Dara, kamu nggak usah jemput aku, nanti pulangnya dianter juga.] ~ Send to My Husband
[Ok.] ~ From My Husband
"Ciye yang udah nikah, musti ijin dulu sama suami," ledek Dara.
Zia langsung menoyor kepala Dara.
"Sialan, lo!" teriak Dara.
"Udah jalan aja, entar keburu mbak Roronya pergi," kata Zia.
Dara langsung mengemudikan mobilnya seperti perintah Zia. Hari ini, mereka ada janji dengan mbak Roro, yang tak lain adalah manager di agensi yang menaunginya.
Mereka tiba di sebuah gedung pencakar langit. Dan langsung menuju lantai atas tempat kantor agensi nya.
"Jadi ini kontraknya, kalian bisa baca dulu sebelum menandatangani," ucap Mbak Roro.
Sebelumnya, mbak Roro sudah menjelaskan tentang job baru untuk mereka. Yaitu, menjadi model untuk sebuah produk fashion casual.
"Bagaimana, ambil nggak?" tanya Dara.
"Gue belum bisa ambil keputusan sekarang, gue musti ijin dulu. Tapi kalau lo mau ambil, ya ambil aja, nggak usah nungguin gue," jawab Zia.
"Gue kan pengennya bareng. Udah lama kan kita nggak dapet job bareng."
"Kalian masih ada waktu kok buat mempertimbangkan, tapi jangan lama-lama. Paling tidak, besok sudah harus kasih kabar," kata Mbak Roro yang melihat dua gadis di depannya ini sedang bimbang.
"Ok deh Mbak, besok kita kesini lagi ya, kasih kabar. Sekarang mau ijin dulu sama orang tua," jawab Dara berbohong.
"Kita permisi dulu ya, Mbak. Besok kita ke sini lagi buat kasih kepastian," lanjut Zia.
Merekapun berpamitan dan keluar dari ruangan mbak Roro sang manager.
"Tunggu sebentar, gue ke toilet dulu," ucap Zia menghentikan langkah Dara.
Dara mengangguk sebagai jawaban.
Zia pun meninggalkan Dara di kursi tunggu depan resepsionis, dan segera menghambur ke toilet.
Saat keluar dari toilet, Zia tidak memperhatikan kalau ada tanda lantai basah. Dia pun dengan sembrono berlari dari toilet, takut Dara kelamaan menunggu.
Tidak di sangkanya kalau kesembronoannya membuatnya terpeleset hampir jatuh, tapi tidak sampai jatuh, karena ada lengan kekar yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Dia di tolong orang yang kebetulan berjalan di belakangnya dan dengan sigap menahan tubuh Zia saat melihat Zia terpeleset.
Zia kaget karena terpeleset, di saat yang bersamaan dia bersyukur, karena tidak terjatuh. Zia langsung membenarkan tubuhnya untuk berdiri dari lengan yang menahannya.
"Ma-maaf ... dan terima kasih juga," ucap Zia sambil tersenyum sedikit membungkukkan badan.
"it's ok," jawab cowok yang sudah membantu Zia.
"Sekali lagi maaf, ya," mohon Zia merasa bersalah karena tidak hati-hati.
"Lain kali hati-hati." kata cowok yang menolong Zia.
Zia mengangguk.
Cowok di depannya ini masih menatap Zia, entah apa yang dia fikirkan.
"Baru pulang sekolah ya," tanyanya yang melihat Zia memakai seragam SMA.
"I-iya," jawab Zia tersenyum tipis.
"Kenalin, gue Raja," ucap cowok itu memperkenalkan diri.
"Oh, gue Zia." Merekapun berjabat tangan.
"Ada perlu apa lo kesini, masih pakai seragam sekolah pula?" tanya Raja tersenyum, melihat Zia yang berseragam SMA.
"Tadi ada tawaran kerja," jawab Zia jujur.
"Lo sendiri ngapain di sini, apa lo juga model di sini?" tanya Zia balik.
Wajah cowok di depannya ini ganteng, berkulit bersih, berbadan atletis jadi tidak salah bukan jika Zia bertanya seperti itu.
"Gue bukan model, dan gue nggak bisa jadi model. Gue kesini karena pemilik agensi ini adalah temen gue. Jadi intinya gue kesini buat main," jelas Raja.
"Oh,jadi lo temennya pak Arya?"
Raja pun mengangguk.
"Woi! lama banget lo di toilet gue pikir lo pingsan gara-gara belum makan," teriak Dara yang sudah kesal menunggu sahabatnya yang pamitnya ke toliet tapi nggak balik-balik.
"Eh ... sory Dar. Gue tadi terpeleset dan hampir jatuh untung ada Raja yang nolongin," jawab Zia sambil melihat ke arah Raja saat menyebut namanya.
" Kenalin temen gue, namanya Dara. Dan Dara, ini Raja." Zia memperkenalkan keduanya.
Setelah Raja dan Dara saling berkenalan, Zia pun pamit dan pergi meninggalkan Raja.
.
.
.
.
.
"Gila, cowok tadi tu ganteng banget, mana baby face gitu." Ucap Dara sambil menyetir.
Dari tadi masuk mobil sampai ini sudah mau tiba di apartemen Shakti, Dara tidak henti-hentinya memuji Raja.
Benar kata Dara. Raja memang memiliki paras rupawan. Kulitnya putih bersih, matanya cokelat. Posturnya jangan di tanya, pasti bikin kaum Hawa klepek-klepek.
.
.
.
.
.
Zia yang masuk ke dalam apartemen mendapati Shakti sedang duduk di sofa menonton televisi, dan langsung menyusulnya. Tanpa permisi Zia merebahkan tubuhnya di samping Shakti dan menjadikan paha Shakti sebagai bantalnya.
Shakti yang melihat kalau istrinya ini sedang kelelahan, tak memprotes kelakuannya. Dan tetap fokus menatap televisi. Setelah beberapa saat rebahan berbantalkan paha suaminya. Zia bangun dan langsung meneguk air putih yang ada di meja sampai tandas. Shakti menatap Zia tapi tak berbicara.
"Aku ada tawaran job buat model fashion casual, boleh nggak aku ambil?" akhirnya, Zia juga yang berbicara terlebih dulu.
"Terserah kamu saja, yang penting nggak ganggu sekolah kamu," jawab Shakti.
Mendengar itu Zia langsung memeluk Shakti dan mencium pipinya.
"Makasih, ya," ucapnya senang.
Shakti tersenyum.
Untuk pertama kalinya, Zia melihat Shakti tersenyum. Zia seperti terhipnotis. Terpaku di sana, menatap tanpa berkedip. Laki-laki di depannya ini, yang tak lain adalah suaminya, ternyata bisa tersenyum juga. Dan senyumnya itu sangat manis, hingga menampilkan lesung pipinya.
"Awww, " Zia berteriak saat Shakti menyentil dahinya agar Zia tersadar. Zia mengusap-usap dahinya bekas disentil Shakti.
"Makanya jangan bengong, nanti kesambet," ucap Shakti menyadarkan.
"Aku itu bukannya bengong, tapi sedang menikmati keindahan lesung pipi suamiku," jawabnya polos, masih mengusap-usap dahinya yang disentil Shakti tadi.
Mendengarnya, Shakti langsung mengembalikan ekspresi wajahnya kembali datar. Melihat perubahan raut wajah suaminya Zia mengerti kalau suaminya ini merasa tidak nyaman. Akhirnya dia pamit untuk masuk kamar dan membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama Zia sudah keluar dengan pakaian kebesarannya kalau di rumah, yaitu hotpant dan kaos oblong over size. Tapi kali ini, kaos yang dikenakan zia berbahan tipis, jadi dari luar pun bisa terlihat kalau bra yang Zia kenakan berwarna hitam. Dia menghampiri Shakti lagi, yang masih duduk di sofa menatap televisi.
"Aku lapar, tapi lagi malas masak," ucap Zia saat mendudukkan dirinya di sofa. "Aku delivery aja ya? kamu juga belum makan, kan?" lanjutnya.
Shakti pun mengangguk.
"Kamu mau makan apa?" tanya Zia.
"Samain aja sama kamu," jawabnya datar.
Zia mengangguk dan langsung memesan makan malamnya melalui ponsel.
Sambil menunggu makanannya datang, Zia meminta Shakti untuk memijat bahunya. Sebenarnya Zia tidak merasa capek, tapi ini hanya alasan Zia agar bisa berinteraksi dengan suaminya. Setelah pengakuan cintanya waktu itu, Zia selalu mencari cara agar hubungannya dengan suaminya itu tak secanggung sebelumnya.
Dan setiap idenya selalu berhasil mencairkan suasana. Meskipun sikap Shakti tak jauh beda dari sebelumnya, masih saja bersikap datar, seolah menahan diri agar tidak mengikuti alur yang Zia ciptakan. Zia pantang menyerah.
"Kamu mau gantian aku pijat nggak?" tanya Zia di sela aktifitas Shakti memijat.
"Enggak!" jawab Shakti tegas.
" Kenapa, kamu nggak percaya sama aku!" sungut Zia, yang langsung berdiri hendak meninggalkan Shakti.
Shakti yang tau kalau istrinya ini ngambek, langsung menarik tangan Zia. Istrinya langsung terjatuh di pangkuannya.
Shakti memeluk Zia erat menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya. Menghirup aroma yang menyegarkan dari leher istrinya itu.
Karena ini adalah yang pertama kalinya, Zia yang merasa geli menolehkan kepalanya. Pandangannya langsung bertemu dengan tatapan mata suaminya.
Shakti langsung mencium bibir ranum Zia begitu melihatnya. Kali ini Zia langsung membuka mulutnya sebagai tanda dia mengijinkan suaminya itu mengabsen setiap inchi dari mulutnya.
Ciuman yang berubah menjadi l*****n itu membuat keduanya terbuai, membuat hasrat yang selalu mereka pendam menggelora seolah akan menenggelamkan mereka.
Shakti mendorong tubuh Zia ke sofa, dengan sangat pelan. Hasratnya membuatnya lupa, kalau apa yang ia lakukan bisa membuatnya kebablasan.
Tapi untung lah, hal itu belum sampai terjadi. Karena suara bel berteriak memanggil pemilik rumah untuk segera membuka pintu.
Mereka yang mendengar bunyi bel seolah tersadar dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Mereka saling pandang dengan tatapan canggung.
Shakti langsung bangkit, menurunkan kembali baju Zia yang sempat ia singkap. Menyugar rambutnya yang sempat berantakan, dan membetulkan penampilannya sebelum membuka pintu apartemennya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ... like ... komen ... favoritnya ... dan vote juga yak.
tengkyu❤❤❤sayang hee
pasti ad sesuatunya tuh di susunya🙈
apalagi Zia
pass banget
keren Thor 👍👍
jadi mau ngakak....boleh doong Thor...?