Semenjak kejadian malam itu, kehidupan Rosaline berubah 180 derajat, ketika Rosaline mengetahui dirinya hamil. Dirgantara Delta Lelaki tampan nan arogan itu, tidak mengakui janin yang dikandung oleh Rosaline. Sehingga membuat Rosaline harus pergi jauh dari Dirga.
Dirga mulai mencari Rosaline, tapi Rosaline tidak kunjung ia temukan, bagaikan hilang di telan bumi.
Dan selama pencarian Rosaline, ada seseorang yang mengisi kekosongan dalam hidup Rosaline. Yaitu, mantan kekasihnya sewaktu dulu. Cosmos Orlando. Dan hari hari Rosaline, mulai hidup kembali dengan kedatangan Cosmos. Cosmos datang dan menyamar luka pada diri Rosaline.
(sapa author via Instagram : @nindyalivia_)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nindy alivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meet You Again
Sementara dibelahan bumi yang lain. Seorang gadis tengah menatap keluar jendela cafe, sesekali ia meniup kopi yang mengepul dan menyeruputnya secara perlahan. Ia sedang menunggu seorang lelaki dari masalalunya.
"Hay... Maaf, Steffi. karena aku terlambat," ucap lelaki itu sembari menarik kursi kosong yang ada dihadapan Steffi.
Steffi tersenyum dan berkata.
"Tidak apa apa, Jay," Steffi menundukkan kepalanya lalu memainkan bibir cangkir dengan menggunakan jari telunjuknya.
"Ada apa? Kau datang kemari?"tanya Jayden kembali. Karena pasalnya ini adalah Amsterdam, bukan Jakarta. Sebuah kejutan jika Steffi datang jauh jauh hanya untuk menemuinya.
Steffi mengangkat kepalanya dan berkata.
"Tolong bantu aku..." ucap Steffi.
"Bantu apa?" tanya Jayden dengan binggung.
Steffi memajukan tubuhnya dan mendekati kearah Jayden. Dia berkata sambil berbisik.
"Tolong Carikan informasi mengenai Rosaline dan... Dirga," ucap Steffi seraya menyodorkan dua lembar foto, foto milik Ros dan juga Dirga.
Jayden menerima foto itu dengan wajah binggung. Ia melihat foto seorang wanita dengan perut buncit dan dia sedang memegang sebuah pot bunga. Kalau dilihat dari foto ini, foto ini diambil secara diam diam lalu Jayden menaruh foto Ros diatas meja. Seketika raut wajahnya berubah menjadi masam karena melihat foto Dirga.
"Jadi benar, dia adalah kekasihmu?"tanya Jayden dengan kesal.
Steffi mengedipkan matanya, ia jadi merasa tidak enak kepada Jayden.
"Ah... Aku ingin tau, informasi tentang dia. Kalau aku tau informasi tentang dia, baru aku bisa memutuskan untuk terus berjuang atau mundur," ucap steffi sembari meremas tangannya. Hanya Jayden lah satu satunya harapannya saat ini.
Jayden membuang nafasnya, karena ia tidak bisa menolak keinginan Steffi-nya. Seketika ia tergelak, karena ia menyebut Steffi adalah miliknya. Steffi berdecak kesal karena ditertawakan oleh Jayden, padahal ia sedang tidak bicanda.
"Apa yang lucu, hah?!" tanya Steffi dengan kesal.
"Tidak..." ucap Jayaden sembari menggelengkan kepalanya.
"Bohong!" ucap Steffi kembali dengan kesal.
Namun, Jayden tidak menjawabnya. Berdebat dengan Steffi memang tidak akan ada habisnya, jadi ia lebih memilih untuk mengalah. Seketika hening menghampiri mereka kembali, mereka larut dalam pemikiran masing masing.
"Stef."
"Jay."
Ucap mereka secara bersamaan lalu mereka saling tertawa dengan canggung dan mereka kembali terdiam. Karena merasa tidak enak dengan keadaan ini, Jayden pun berinisiatif untuk kembali membuka pembicaraan.
"Kau ingat perkataan mu waktu dulu?" tanya Jayden pada Steffi.
Steffi menatap Jayden dengan tatapan -- Apa? --.
"Waktu itu, kau bilang kepadaku. Kau lebih memilih untuk dicintai daripada mencintai. Lalu kenapa sekarang, kau lebih memlih mencintai daripada dicintai?" tanya Jayden. Ia merasa lega, karena pertanyaan yang lama bersarang dikepalanya akhirnya ia lontarkan juga.
Steffi terdiam lalu ia menyeritkan alisnya, karena berusaha mencari alasan yang tepat. Namun, ia tak menemukan alasan itu.
"Untuk mencintai seseorang, kita tidak butuh alasan," jawab Steffi.
"Sama sepertiku, untuk mencintaimu. Aku tidak butuh alasan, kenapa aku bisa mencintaimu," balas Jayden dengan santai.
"Waktu itu, kau bilang kepadaku. Alasan kau lebih memilih untuk dicintai. Karena, orang yang mencintaimu, tidak akan pernah tega untuk menyakitimu. Walaupun seujung kuku pun," ucap Jayden seraya menerawang ke masa lalunya.
"Dan kau benar... Bahkan, untuk sekedar marahimu pun, aku tidak bisa," ucap Jayden dengan jujur. Ia memang tidak bisa memarahi Steffi, ia hanya ingin menghujani Steffi dengan kebahagiaan saja.
"Apa kamu masih menerima? orang yang mencintaimu itu?" tanya Jayden kepada Steffi yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak enak.
"Nomor yang anda tuju, sedang sibuk... Silahkan hubungi beberapa saat lagi. Atau tinggalkan pesan, setelah nada berikut. Pip," ucap Steffi dengan wajah polosnya. Ia hanya ingin mengalihkan pembicaraan ini, namun ia tidak tau caranya.
"Tolong sampaikan kepada, Steffi. Saya mencintainya, saya ingin membuat dirinya bahagia selalu. Dan tujuan hidup saya sekarang adalah menikahi Steffi dan memiliki anak anak yang mirip seperti dia". Ucap Jayden dengan antusias.
Steffi membuang arah pandangnya keluar jendela. Sepertinya ia salah berbicara lagi dan Jayden memang pintar dalam hal menjawab ucapannya.
"Jadi? Bagaimana? Kau bisa membantu ku?" tanya Steffi tanpa menolehkan kepalanya.
"Aku bisa membantumu. Tapi dengan satu syarat, jika dia benar benar menyakitimu, kau mau melanjutkan hubungan yang dulu sempat terhenti bersamaku," ucap Jayden dengan serius. Ini adalah kesempatannya, jadi dia tidak akan menyia-nyiakan nya. Sontak Steffi menoleh kearah Jayden dan ia tidak bisa berkata kata lagi, ia tidak bisa menyangga ucapan Jayden, karena ia sangat membutuhkan Jayden. Semacam simbiosis mutualisme.
Steffi membuang nafasnya dan berkata.
"Baiklah..." ucap Steffi dengan terpaksa. Steffi hanya bisa pasrah menunggu dan menerka nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jayden menarik kedua foto tersebut dari atas meja lalu menegangnya seraya berkata.
"Aku akan mencarinya dengan cepat," Ya, lebih cepat. Lebih baik. Ucap Jayden dalam hati.
Kring.
Steffi merogoh ponselnya yang berada didalam tas selempangnya itu. Lalu ia menyeritkan alisnya ketika melihat nama yang tertera.
'Cosmosavage'
Dengan malas Steffi menggeser tombol hijau kesamping dan menempelkannya ditelinganya lalu berkata.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk... Silahkan hubungi beberapa saat lagi," cap Steffi dengan malas.
"............"
Seketika tubuh Steffi menegang karena mendengar ucapan dari kakaknya yang berada diseberang sana.
"Ba... bagaimana bisa?! Bagaimana keadaannya?!" tanya Steffi dengan khawatir.
".........."
"Baiklah, aku akan segera pulang,"
PIP.
Dengan segera Steffi membereskan barang barangnya lalu ia meyampirkan tas selempangnya dibahunya dan langsung berdiri dengan cepat.
"Aku harus pulang..." ucap Steffi dengan gusar.
"Hey... Tenang lah... Ada apa?" tanya Jayden yang juga ikut berdiri.
"Cepatlah, antara aku ke bandara!" ucap steffi kembali seraya menarik narik tangan Jayden.
Jayden pun langsung menarik Steffi menuju mobilnya dan melesat cepat menuju bandara. Jayden yakin, pasti ada hal buruk yang terjadi di Indonesia.
"Hey... Kamu bawa paspor mu? kau sudah membeli tiket?" tanya Jayden yang masih sibuk menyetir.
Steffi membulatkan matanya lalu ia meringis dan meruntuki kebodohannya itu. Steffi menoleh kearah Jayden dengan ekspresi memohon.
"Tolong lah aku..." ucapnya dengan memohon.
Jayden memasang earphone ditelinganya dan mulai menghubungi sekretarisnya.
"Tolong bawakan paspor dan keperluan lainnya untuk ku keluar negri dan jangan lupa, tolong ambilkan semua barang barang Steffi di..." ucapan Jayden terhenti karena ia lupa menanyakan alamat hotel Steffi singgah.
"Dimana hotelmu, Steffi?" tanya Jayden tanpa menoleh.
"Luxury hotel's," ucap Steffi.
"Jangan lupa bawa keperluan ku untuk keluar negri dan jangan lupa bawakan semua barang milik Steffi di luxury Hotel's."
"Aku menunggumu di bandara," lanjut Jayden lalu memutuskan panggil telepon secara sepihak.
"Kau ikut ke Indonesia?" tanya Steffi sembari menatap Jayden dengan tidak percaya.
"Ya," ucap Jayden dengan singkat.
"Kenapa kau ikut aku?" tanya Steffi.
"Karena aku ingin memastikan kau dalam keadaan baik baik saja disana," ucap Jayden dengan tulus.
Tanpa Jayden sadari Steffi tersenyum samar. Entah kenapa, ia merasa aman bila didekat Jayden.
"Apa yang terjadi di sana?" tanya Jayden.
"Ros, berusaha membunuh dirinya sendiri," Ucap Steffi dengan murung.
"Apa kau menyayanginya?" tanya Jayden kembali.
"Ya, karena kakakku sangat menyayanginya. Lagi pula, dia adalah orang baik. Tapi..." Ucapannya mengantung karena ia mengingat kalau Ros dan Dirga sepertinya memiliki hubungan yang lebih. Entah itu dimasa lalu atau dimasa sekarang.
"Tapi apa?" tanya Jayden dengan penuh tanya, karena ucapan Steffi mengantung. Padahal Steffi sendiri seharusnya tau, kalau digantung itu tidak enak.
"Kau cari tau, informasi mereka dulu. Baru aku beri tau," ucap Steffi yang membuang pandangannya keluar jendela.
"Aku tidak sabar. Dengan hari dimana, aku bisa menguak semua teka teki ini," ucap Jayden dengan semangat. Jayden hanya bisa berharap kalau Dirga adalah lelaki yang sesuai dengan prediksinya, dengan begitu. Steffi akan jatuh ke tangannya kembali.
"Aku pun," ucap Steffi.
Mobil terus melaju membelah kota ini, lalu perjalanan mereka lebih ramai karena radio mobil sedang menyiarkan lagu When I Was Your Man - Bruno Mars.
'That I should have bought you flowers and held your hand, Should have given all my hours when I had the chance, Take you to every party, Cause all you wanted to do was dance. Now my baby is dancing, But she's dancing with another man'
Jayden berdecak kesal karena mendengar lirik itu, lirik itu seperti menyindirnya lalu Jayden mencari cari siaran radio yang lain, lalu berhenti di lagu Lady Gaga - million reason.
"Oh...shit!"
Ia kesal, karena semua yang radio siarkan ini, sepeti sedang bersatu untuk menyindirnya. Sementara Steffi diam diam tersenyum karena melihat tingkah Jayden.
Dan dalam hati pun Steffi berkata.
'Rasakan itu, Boboiboy!'
Jangan marah ya thor
sukses....semangat
mksh
aku bacanya pake perasaan banget sih, jadinya ngena. apalagi baca sambil dengar lagu, uhhh...
ini kesannya memberi dampak - pada pembaca.