Jatuh cinta memanglah hal yang membahagiakan. Tapi, jika jatuh cinta tanpa dicintai, apakah masih dikatakan hal yang membahagiakan?
Itulah yang dirasakan oleh seorang wanita yang bernama Mita Yuriko. Jatuh cinta kepada seorang dokter bedah nan tampan yang banyak disukai oleh wanita cantik, merupakan tantangan bagi dirinya.
Ia terus menunjukan rasa sukanya kepada pria itu, namun pria tersebut tak pernah menanggapinya. Sampai pada akhirnya sebuah insiden yang seharusnya tak terjadi kepada mereka berdua, membuat keduanya menjadi terikat. Dan membuat mereka menyandang sebagai suami istri yang dirahasiakan dari orang-orang sekitar.
Apakah Mita masih memperjuangkan rasa cintanya itu? Apakah ia memilih menyerah saat mengetahui jika pria itu masih belum menyukainya?
——————
Info dulu. Cerita ini kelanjutan dari 'Perjuangan Cinta Si Gadis Desa' jadi, jika kalian penasaran awalan cerita mereka bisa baca dulu karya Author yang itu✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wndanaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 0013. Kebingungan Fadli
🍄🍄🍄
-
-
-
Mita baru saja sampai dirumahnya, ketika dirinya masuk, ia melihat jika adiknya sedang duduk disofa ruang tengah. Disana adiknya tak sendiri, melainkan ada seorang pria yang begitu familiar dimatanya.
Ya, dialah Dafa sahabatnya.
Miko adik Mita, tak sengaja melihat kakaknya yang akan berjalan masuk kedalam kamar. Begitu pun Dafa yang juga melihat keberadaan Mita.
“KAKAK!! KAKAK DARI MANA AJA? Apa kakak tau? Aku hampir saja mati mencemaskan kakak yang tak pulang semalam.” Ucap Miko yang meneriaki kakaknya.
Sedangkan Mita masih saja melanjutkan langkahnya, seperti tak ada niat untuk menjawab pertanyaan adiknya.
“Kakak! Apa kakak tak mendengarku? Mengapa kakak tak menjawab!” teriak Miko lagi.
Mita yang tadinya berjalan itu, langsung berhenti. Ia lalu menoleh untuk melihat adiknya.
“Hari ini biarkan aku sendiri dulu, aku lelah... ingin istirahat....” ucap Mita yang setelah itu masuk kedalam kamarnya. Dan tak lupa mengunci kamarnya itu.
“Apa? Kakakkk....”
Miko berteriak kembali karena begitu kesal dengan keacuhan kakaknya.
“Miko, sudah biarkan kakakmu istirahat. Mungkin ada sesuatu yang menimpanya, sehingga membuat kakakmu terlihat lelah seperti itu. Setelah kakakmu keluar dari kamarnya baru kamu tanya padanya. Tapi... bicaralah secara baik-baik ya...” Jelas Dafa dengan bijak sambil menepuk bahu Miko.
Miko terdiam sambil menghela nafas, “Tapi dia sangat tak tahu malu kak, masa ada kakak disini kak Mita tak menyapa kakak?” dengusnya.
Dafa terkekeh melihat Miko, “Tak apa, mungkin kakakmu benar-benar lelah tadi... jadi kakakmu sampai tak melihat sahabatnya yang ada disini.” Ucap Dafa dengan penuh pengertian.
“Mungkin....”
“Yasudah, kakak pamit dulu ya. Kakak masih ada pekerjaan dikantor, jika kakakmu sudah membaik beritahu kakak lewat telfon.”
Dafa mulai berdiri dari duduknya.
“Kakak tak makan dulu disini? Kakak kan pagi-pagi buta sudah ada disini, pasti kakak belum sarapan dirumah.”
Dafa sejenak mengacak rambut Miko. “Tak apa, kakak akan makan dikantor aja, karena ada rapat jam sepuluh nanti. Jadi kakak agak buru-buru.”
“Maaf ya kak, gara-gara kak Mita kakak jadi repot-repot kesini.” Ucap Miko merasa bersalah.
“Gak apa-apa, kak Mita kan juga sahabat kakak. Jadi, jangan merasa bersalah begitu.” Jawab Dafa.
“Yasudah ya, kakak berangkat dulu. Kamu disini aja jangan antar kakak kedepan.”
“Iya kak, hati-hati.”
°
°
°
°
“Halo dokter Fadli, apakah anda akan makan siang dikantin?” tanya dokter Clara yang saat itu berjalan berdampingan bersama Fadli, ditengah lorong rumah sakit.
“Tidak dokter Clara, saya ada banyak pekerjaan. Mungkin saya akan makan diruangan saya,” jawab Fadli dengan ramah.
“Yah... gagal dong mau makan bareng....” ucap Clara yang membuat wajahnya menjadi kecewa.
“Hahaha, anda makanlah bersama yang lain. Saya tak bisa makan bersama. Jadi, saya duluan ya dokter Clara...” ujar Fadli yang meninggalkan Clara begitu saja. Tanpa memperdulikan kekesalan wanita itu.
“Ish, gak peka banget sih? Aku kan pengennya makan bareng sama kamu....” gerutunya dengan menghentak-hentakan kedua kakinya.
°°°°°
Sudah hampir setengah jam Fadli duduk dikursi kerjanya, namun pria itu hanya mengutak-atik polpennya dimeja. Padahal niat pria itu ingin mengerjakan pekerjaan yang tertunda akibat dirinya yang terlambat datang kerumah sakit.
Namun pria itu masih saja diam melamun, entah apa yang dipikirkan pria itu.
“Hahh... mengapa aku tak bisa berkonsentrasi?” ujar Fadli sambil menghela nafasnya.
Otak pria itu tak bekerja sedari tadi, yang ia pikirkan adalah kejadian malam kemarin saat dirinya pulang kepesta bersama Mita.
Ya, dirinya baru mengingat kejadian itu beberapa jam lamanya. Ia mengingat jika dirinya sedang tak terkendali akibat minuman alkohol yang seperti dicampur dengan obat perangsang. Ia tahu betul jika minuman yang ia minum telah dicampur dengan obat tersebut. Karena gejala-gejala panas yang ada pada tubuhnya adalah gejala-gejala akibat obat perangsang itu.
Dan ia tahu betul, jika ada orang yang sengaja memberikan obat itu kepadanya. Dan satu-satunya yang ia curigai adalah keluarga dari dokter Haris, dirinya tahu jika keluarga tersebut berniat menjebaknya.
Karena dirinya sudah merasa aneh sejak awal. Saat ia yang diundang diacara keluarga itu, dan tak adanya dokter Albaret datang kepesta tersebut.
Dan yang membuatnya benar-benar merasa yakin adalah, saat ia bertanya kepada dokter Albaret mengenai tak hadirnya pemilik rumah sakit itu.
Dan jawaban apa yang ia dapatkan? Dokter Albaret menjawab, jika beliau tak tahu mengenai pesta keluarga itu. Dan tak ada undangan untuknya.
Fadli pun benar-benar merasa percaya jika ia sedang dijebak. Ia ingin menuntut keluarga tersebut, jika saja keluarga itu tak pergi keluar negeri dengan dalih ingin berliburan.
Memikirkannya saja membuat dirinya kesal dan pusing. Apalagi dirinya yang sangat bersalah kepada Mita yang ia tidur dengan paksa. Dan satu hal lagi yang membuatnya benar-benar merasa bersalah adalah, ketika mengetahui jika wanita itu masih keadaan tersegel atau masih virgin.
“Ah... kepalaku benar-benar pusing... seharusnya aku tak meminum minuman itu... tidak-tidak, seharusnya sejak awal aku menolak undangan dari keluarga tak tahu malu itu!” kesal Fadli sambil mengacak-acak rambutnya.
Pria yang disanjung-sanjung oleh kaum wanita karena sifat berwibawanya itu, sudah tak nampak lagi ketika pria itu berada diruangannya. Pria nampak berantakan sekali, jika saja orang lain melihatnya. Maka sifat wibawanya akan hilang dimata para wanita.
“Aku ingin menemui dokter Mita, tapi sejak tadi aku tak melihatnya?” gumam Fadli nampak bingung.
Pria itu lalu bangkit dari duduknya dan berniat untuk mencari keberadaan Mita diruangan wanita itu.
Namun saat Fadli sampai tepat tujuan, ia tak mendapati wanita itu didalam, dan hanya ruangan kosong saja yang terlihat.
Ia lalu berjalan lagi, untuk mencari wanita itu ketempat lain. Dan dirinya sempat menanyakan kepada orang lain, namun jawabannya mereka tak tahu keberadaan Mita.
Sampai ia melihat tiga perawat yang ia ketahui adalah teman dari Mita, ia pun langsung mencegat jalan mereka.
“Maaf semuanya, apakah kalian tahu dimana dokter Mita berada? Saya mencarinya karena ada urusan penting.” Ucap Fadli beralasan.
Salah satu teman Mita menjawab.
“Oh, dokter Mita tak masuk dokter. Katanya ia izin mengambil cuti karena ada urusan mendadak. Begitu dokter Mita bilang.” Jelasnya.
“Begitukah? Apakah besok dokter Mita datang kerumah sakit?”
“Saya tidak tahu dokter, lebih baik anda menghubungi dokter Mita jika itu benar-benar penting buat anda.”
Fadli lalu termenung ditempatnya.
“Aku bahkan tak punya nomornya....” gumam Fadli.
“Apakah saya boleh meminta nomornya? Saya tak punya nomor dokter Mita,”
“Oh, baiklah saya akan mengirimnya kekontak anda.”
“Terimakasih....”
“Sama-sama dokter, kami permisi dulu.”
Fadli hanya mengangguk menanggapi. “Dokter Mita minta cuti? Apa itu penyebab kemarin malam?” gumamnya.
-
-
-
🍄🍄🍄
untung aja lo selamat dri rayuan si dikta bejat filda
yg lain juga dilanjut donk 😆😆😆
semangat author 💪💪💪