Arav, pria yang menjadi Ayah bagi anak Lisa secara tiba-tiba muncul kembali setelah 5 tahun berpisah. kehadiran yang tidak diinginkan membuat Lisa syok akan sosok laki-laki tersebut.
Masa kelam hidup yang berhasil ia lewati bersama anaknya tanpa sosok kehadiran seorang suami, tapi malah mempertemukan mereka kembali.
Akan kah Lisa menyerah atau semakin mendekati pria itu, apalagi dengan kekayaan dunia yang di tunjukkan pria itu.
"Aku membencimu Arav, aku membeci takdir yang mempertemukan kita!"
Jus Anggur (jangan lupa subcraib ya cantik)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edi Suheri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
"Kamu ngapain disini sendirian, hmm?" Arav langsung berjongkong menyamakan ketinggiannya.
"Dion lagi nunggu Mommy," jawab Dion jujur raut wajahnya nampak begitu murung, pancaran kesedihan sangat terlihat jelas.
Untuk pertama kalinya Arav merasa sedih terhadap anak kecil, ada perasaan aneh timbul dihatinya melihat keadaan Dion sedih seperti ini.
"Mommy kemana? Kenapa Dion menunggu sendirian disini?" tanya Arav lagi tangannya bergerak mengusap lembut bahu Dion.
"Mommy kelja, tiap siang Mommy jenguk Dion tapi sampai sekalang Mommy belum datang juga," keluh Dion memainkan jemarinya tidak tau harus melakukan apa.
Sebenarnya Dion sangat ingin pergi menuju kantor tempat Mommynya bekerja, Dion pernah kesana beberapa kali saat ada Arya. Itulah masa-masa indah dalam hidup Dion karena Arya sangat sayang kepadanya, melakukan apapun yang dia minta bahkan banyak mainan yang diberikan untuknya ketika mereka bersama.
Tak jarang mereka selalu menghabiskan waktu hanya berjalan-jalan.
Arav yang mengerti hanya diam saja, sekarang ia paham kenapa Dion berdiri sendirian disini. Anak itu sedang menunggu kedatangan ibunya terlebih Arav melihat daycare tak jauh dari posisi mereka saat ini, ia langsung bisa menebak kalau Dion di titipkan di daycare.
"Kenapa tidak menunggu disana saja bersama teman-temanmu yang lainya hmm?"
Pandangan Dion beralih mengarah ke arah apa yang di maksud Arav, tak berselang lama Dion menggelengkan kepalanya cepat.
"Meleka tidak suka main sama Dion, Dion main sendili, kata meleka Dion gak boleh main sama meleka." Dion menundukkan pandangannya kini raut wajahnya semakin sedih.
"Kalau begitu ayo main sama Uncle," ajak Arav sembari mengembangkan senyuman nya.
Mendengar itu spontan saja Dion menatap Arav penuh binar senyuman tersungging begitu saja, tapi sayang senyuman itu tak bertahan lama karena setelah beberapa detik kemudian Dion kembali murung.
"Kenapa? kamu tidak suka main sama Uncle?" tanya Arav paham akan ekspresi perubahan wajah Dion.
Dion menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Hal itu membuat kening Arav mengerut. "Kamu takut sama Uncle?"
Dion kembali menggeleng. "Kata Mommy Dion ndak boleh main sama olang asing," jujur Dion. Ia masih sangat ingat perkataan Lisa yang selalu menasihati Dion demi keselamatan anak itu agar tidak mudah percaya pada orang asing.
Apalagi Lisa yang tidak bisa mengontrol Dion secara langsung, hal itu sungguh membuat hatinya resah sebenarnya. Bukanya ia tidak nyakin dengan keamanan Daycare akan tetapi naas siapa yang tau kapan terjadi.
"Dion, lihat Uncle baik-baik, apa Uncle seperti orang jahat hmm?"
Dion menjawab dengan menggeleng sorot matanya senantiasa menatap Arav.
"Uncle pernah nyakitin Dion?" Dion kembali menggeleng.
"Lalu apa yang kamu takutkan hmm, kamu tau sebenarnya Uncle punya rahasia,"
"Rahasia?" Dion langsung antusias mendengar kata rahasia.
"Iya," Arav mengangguk mantap.
"Mau dengar, tapi Dion harus janji untuk tidak memberitahukan siapapun tentang rahasia Uncle! janji," lanjut Arav menunjukkan jari kelingkingnya.
"Mau mau, janji Dion endak akan bilang siapa-siapa." Dion menyatukan jari kelingking mugilnya dengan penuh semangat. Ia ingat dulu pernah membuat janji dengan Arya sebelum laki-laki itu keluar negeri. 'Rahasia antara laki-laki dengan laki-laki'.
Arav mengembangkan senyuman senangnya karena Dion akhirnya bersemangat, sungguh senyuman manis bocah itu membuat hatinya menghangat menjadi tenang rasanya.
"Sebenarnya Uncle pesulap," bisik Arav tepat di telinga kecil Dion, seolah-olah tidak akan membiarkan orang lain mendengarnya.
Sementara di mobil Zaki mengaruk-garuk kepalanya tak gatal, merasa aneh dengan apa yang ia lihat sekarang. Bos sekaligus sahabat dekatnya akrab dengan anak kecil. Namun ia tidak terlalu berani ikut campur selain diluar kerjaan dia memang tidak bisa ikut campur.
Kata pesulap ternyata melewati ekspektasi Arav, Dion begitu kegirangan. "Uncle pesulap sepelti di tp tp?" tanya Dion sangat bersemangat.
"Iya, mau lihat?"
"Mau mau mau ...."
Arav melepaskan tangannya dari Dion, yang tadinya memegang bahu anak itu, mulai mempragakan teknik sulap dengan bermain jari.
"Tangan Uncle kosong kan, setelah ini ada permen disini," kata Arav.
Dion mengangguk cepat.
Tanpa Dion sadari dengan gerak cepat Arav mengambil permen dalam saku jas miliknya. Untung saja ada stok permen disana. Arav bukan lagi orang perokok dia tidak suka lagi merokok sejak dia menjadi orang sukses, untuk mengalihkan hawa rokok dia mengkonsumsi permen hampir setiap saat.
Melihat ada permen di tangan Arav, Dion berloncat girang. "Uncel hebat Uncle hebat," teriak Dion sembari mengambil permen di tangan Arav, ia ikut senang melihatnya.
namun beberapa saat kemudian Dion berhenti meloncat, suara bunyi perut lapar terdengar dengan jelas.
"Kamu lapar?" tanya Arav langsung.
Dion ragu ragu mengangguk menginyakan.
"Kalau begitu ayo kita cari makan Boy," ajak Arav sembari mengendong Dion dan langsung membawa anak itu ke salah satu Cafe yang kebetulan tak jauh dari tempat mereka.
"Tapi Dion endak punya uang," cicit Dion memanyunkan bibirnya.
Ekspresi Dion membuat Arav gemas, "Baiklah Uncel traktir kamu bisa makan sepuasmu," ucap Arav.
"Benelan Uncle?"
"Yes Boy, kamu bisa makan sesukamu,"
"Yeeee ...." teriak Dion girang.
***
Sedangkan di perusahaan Lisa terlihat begitu kelelahan mencuci semua kain kotor, walaupun menggunakan mesin cuci namun sangat menguras tenaganya. Apalagi tubuhnya kurang fit saat inj, rasanya ia tidak sanggup lagi mengerjakan pekerjaan itu.
Tepat dua jam kurang 10 menit akhirnya Lisa selesai mengerjakan semua pekerjaan itu. Ia meletakkan semua pakaian yang sudah bersih di atas meja, lalu beristirahat sejenak sembari menunggu kedatangan Imelda, namun wanita itu tak nampak juga batang hidungnya.
"Aku tidak boleh sakit, satu minggu lagi aku pasti bisa, ayo Lisa semangat, ini bukan saatnya kamu lemah," Lisa berusaha menyemangati hidupnya terlihat begitu menyedihkan.
Tapi sayang tenaganya sepertinya sudah habis total baru hendak melangkah dia sudah ambruk di lantai.
Sedangkan di lantai atas Arav meluapkan kemarahannya, sudah setegah jam lebih ia kembali ke kantor dan meminta Lisa untuk ke ruanganya namun wanita itu tak kunjung datang.
Tentu saja sasarannya adalah Sarah.
"Cepat cari dia dan segera bawa kemari aku beri waktu 15 menit kalau tidak bisa segera urus surat pengunduran diri!" tegas Arav dengan rahang mengeras.
Sarah bergidik ngeri, susah paya sadari tadi ia menelan ludahnya.
"Ba-Baik Pak," sahut Sarah lalu pergi meninggalkan ruangan Presdir bersamaan dengan Zaki yang juga ikut mencari Lisa.
"Berani sekali dia menghindariku, dia pikir dia siapa. Mau bermain-main denganku, lihat apa yang akan aku lakukan padamu," gumam Arav begitu kesal di abaikan seperti ini.
Bersambung .....
Babang Arav cepat selamatkan Lisa huaaaaa
terimakasih up nya,semoga masih bisa bersambung dan gak lama
saya suka ceritanya
selamar bebuka dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan