Menceritakan seorang guru yang mencintai muridnya sendiri bahkan ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sang gadis.
Dikta Ananta Pramaja
Seorang guru berwajah tampan dan berkharisma namun memiliki sifat dingin dan wajah datar ke semua orang tapi banyak sekali perempuan yang tergila-gila akibat pesonanya tapi tidak berlaku untuk gadis satu itu ia bahkan sangat tidak menyukai gurunya tersebut.
Veranda Claudysa Shakila
Gadis cantik namun barbar ini berhasil mengikat sang guru dingin bahkan sang guru tergila-gila kepadanya.
Akankan cinta Pak Dikta terbalaskan?
Lanjut baca kisah cinta Pak Dikta dan Veranda ya
Jangan lupa follow dan vote yaa!!
Selamat menikmati🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Putri Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan Perasaan
Setelah dari ruangan Pak Dikta Veranda melangkah menuju kantin.
"Maksud Pak tembok itu apa coba ngejelasin ke gua, dia kira gue peduli apa" Ucap Veranda ngomel
Setelah sampai Veranda langsung saja duduk di meja bersama sahabatnya.
"Kenapa lo dateng-dateng muka di tekuk aja" Ucap Fiona
"Elah Fi macam gak tau aja Veranda kan abis ketemu guru favoritnya" Ledek Alya yang membuat Fiona terbahak
"Berisik lo pada" Ucap Veranda lalu memakan makanannya dengan tergesa-gesa
"Hai Ver" Ucap seseorang membuat atensi ketiganya teralih ke suara itu
"Eh Niko ada apa ya? " Tanya Veranda
"Gak papa gue mau gabung disini boleh gak" Ucap Niko
"Boleh kok gabung aja" Ucap Veranda yang membuat Niko tersenyum manis
Veranda pun melanjutin makanannya yang tertunda tadi tapi ia merasa ada yang memperhatikannya dari tadi. Ia pun menoleh dan menemukan Niko yang sedang memandangnya tanpa berkedip.
"Eh Nik lo kenapa mandang gue kayak gitu" Ucap Veranda yang membuat Niko gelagapan
"Eh gak apa-apa kok" Seraya tersenyum tipis
"Ver habis makan ini lo bisa gak ikut gue bentar ke rooftop" Ucap Niko
"Ngapain" Heran Veranda
"Gak ngapa-ngapain kok gue cuma ada urusan bentar sama lo" Ucap Niko, Veranda yang gak ingin tau lagi hanya mengangguk.
...✨✨✨...
"Ngapain dah lo bawa gue ke rooftop,bentar lagi masuk kelas" Ucap Veranda, ia heran daritadi Niko hanya diam dan memandang lurus ke depan.
"Ver"Ucap Niko tiba-tiba dan memandang Veranda secara dalam
"I-iya kenapa Nik? Tanya Veranda kikuk
"Gue cuma mau bilang kalo dari awal kita ketemu gue udah jatuh cinta sama lo Ver" Ucap Niko yang membuat Veranda kaget
"Gue gak tau kenapa harus ada rasa ini diantara kita, yang terpenting setiap gue ngeliat lo gue pengen elo untuk jadi milik gue,so lo mau kan jadi pacar gue" Ucapan Niko lagi-lagi membuat Veranda tersentak
"Niko lo serius"Ucap Veranda ia sangat ragu
"Lo bisa liat mata gue apa ada kebohongan" Ucapan Niko yang dibalas gelengan oleh Veranda
"Gu-e gak bisa Nik" Ucap Veranda sambil menunduk"
"Kenapa Ver gue kurang apa buat lo" Ucap Niko
"Lo gak kurang apa-apa Nik, tapi gue gak ada perasaan sama lo, sorry Nik dari awal gue cuma anggep lo temen gak lebih" Ucap Veranda sambil menunduk ia ragu dengan tiba tiba Niko menyatakan perasaan. Niko yang mendengar ucapan Veranda itupun kecewa ia pikir Veranda juga menyukainya
"Ma-af Niko" Ucap Veranda terisak
"Hei gak papa kok gue gak papa, gue paham perasaan gak bisa dipaksakan, tapi gue boleh tetep jadi temen lo kan" Ucap Niko yang diangguki Veranda
"Boleh lah lo akan jadi tetep temen gue" Ucap Veranda
"Temen" Batin Niko sambil tersenyum miris
"Ver gue boleh minta 1 permintaan gak? " Ucap Niko
"Minta apa" Ucap Veranda dengan suara seraknya
"Gue pengen banget peluk lo boleh gak" Ucap Niko yang membuat Veranda berfikir sejenak lalu mengiyakannya
"Boleh" Ucap Veranda membuat Niko tersenyum manis
Niko pun memeluk Veranda ia memeluk Veranda secara erat.
"Gak papa gue gak bisa miliki elo yang penting gue selalu ada di samping lo Ver" Batin Niko
Tanpa mereka sadari saat mereka berpelukan ada yang memperhatikan mereka, ya orang itu adalah Pak Dikta. Pak Dikta memperhatikan Veranda yang sedang berpelukan dengan Niko dengan sekuat tenaga ia menahan emosi sehingga urat-urat di wajahnya terlihat jelas.
"Brengsek" Batin Pak Dikta lalu ia pergi dengan segudang rasa sakit