CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, MAAF BILA ADA KESALAHAN WAKTU DAN TEMPAT.
Sequel dari DUKU MATENG
Latar tempat: Kashmir, India
Jakarta, Indonesia
Kecelekaan tragis yang menimpanya bersama Sang Suami tepat di hari pernikahan mereka, membuat statusnya sebagai istri berakhir.
Semua orang menyalahkannya, menganggapnya sebagai wanita pembawa sial. Dia di asingkan jauh oleh keluarganya, karena dianggap aib.
Semua warna yang ada didalam hidupnya sirna, berganti dengan Saree putih yang abadi. Sindur yang di dahinya ikut menghilang.
Tidak akan ada lagi pria yang mau menikahinya, sekalipun dirinya berstatus sebagai Janda Perawan.
Lalu apa yang akan terjadi, saat ada seorang pria datang dan menentang semua tradisi itu?
'PADA AKHIRNYA, HATIMU AKAN DI SEMBUHKAN OLEH SESEORANG YANG MEMILIHMU DALAM KONDISI APA PUN'
[NADARA NIKAM]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingannya Tuhan Dan Tradisi
Aryan terus saja tersenyum sendiri sembari menyuapkan Rogan Josh pedas kedalam mulutnya. Sesekali pria itu terkekeh sendiri, Aryan tidak peduli pada Rama yang sedari tadi menatapnya aneh.
Tidak hanya Rama, beberapa orang yang melihat Aryan tersenyum sendiri- ikut mengernyitkan dahi dan saling menatap. Bahkan ada yang sudah berbisik merdu, ada pula yang menatap Aryan penuh puja karena pria itu terus saja tersenyum.
"Boss, anda baik baik saja?" Rama berbisik di salah satu telinga Aryan. Rama sudah terlalu risih melihat tatapan para pekerja yang mengarah pada atasannya.
"Memangnya aku kenapa?" Aryan malah balik bertanya. Sepertinya pria itu belum menyadari kalau sedari tadi semua gerak geriknya di perhatikan banyak mata.
"Anda sepertinya kurang sehat, apa kita pulang saja? demam anda sepertinya belum sembuh," ujar Rama lagi.
Pria berkacamata itu tersenyum canggung saat melihat Aryan menatap datar padanya. Rama berdehem pelan, lalu kembali melanjutkan makan siangnya.
"Salima janda Ram," bisik Aryan.
"Uhuk!" seketika Rama tersedak nasinya, bahkan rasa panas di tenggorokannya mulai naik ke hidung. Pria berkacamata itu dengan cepat meneguk air mineral miliknya, sudut matanya melirik kecil pada Aryan yang kembali mengembangkan senyuman.
"Anda bicara apa? memangnya siapa yang memberitahu anda kalau Sa- wanita itu seorang janda," Rama menghela napas pelan, dia mencoba menetralkan detak jantungnya. Jujur, sebenarnya Rama terkejut setengah mati- bahkan terselip rasa senang atas keterkejutannya.
Salima bukan istri orang?
Rama menjerit heboh dalam hati, bahkan sepertinya Rama tidak peduli kalau wanita itu bukan seorang perawan- yang terpenting bagi Rama adalah Salima bukan milik orang lain, tidak peduli statusnya apa.
"Pohon pisang yang memberitahuku. Kalau kamu enggak percaya ya sudah, di kasih lampu hijau kok gak mau!"
Aryan bangkit, pria itu membawa makanan jatahnya menjauh dari Rama. Aryan membiarkan Rama mencerna ucapannya, dia tahu kalau asistennya itu tengah tertarik pada Salima- sejak pertama mereka bertemu, seperti dirinya yang tertarik bahkan terjerat kuat oleh pesona Nadara.
Nadara?
Aryan tersenyum samar di sela sela kunyahannya, nama yang baru dia ketahui hari ini- bahkan wajah si pemilik nama indah itu baru Aryan ketahui tadi. Namun perlahan senyuman Aryan surut, ingatannya kembali kebelakang- di saat dia mendengar kalau Nadara tidak bisa menikah lagi.
Tidak dapat menikah lagi? memangnya kenapa? bukannya wanita Kashmir itu islam, dan di perbolehkan menikah lagi setelah berpisah dengan suaminya mereka di perbolehkan menikah lagi.
Lalu kenapa Nadara tidak bisa menikah lagi, benarkah apa yang dia dengar tadi?
Aryan sibuk dengan pemikirannya, pria berkemeja abu abu itu merogoh sesuatu dari kantung celananya. Aryan meletakan tempat makannya di sebuah batu, kedua tangannya sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
Kedua mata Aryan berkedip cepat, saat melihat fakta fakta yang dia dapatkan. Jakun Sang Prince naik turun, deru napasnya semakin kencang- bahkan perlahan Aryan mendudukkan dirinya di atas rumput, kala membaca sebuah artikel yang dia dapatkan.
"Jadi, wanita yang selalu memaki pakaian putih itu, menunjukan identitasnya sebagai janda seseorang yang di tinggalkan mati oleh suaminya. Tapi kenapa Salima tidak memakai pakaian putih seperti Nadara? apa mungkin mantan suami Salima tidak meninggal, mereka bercerai?" spekulasi itu terus saja menggema di dalam pikiran Aryan.
Merasa tidak puas, Aryan kembali menekan beberapa huruf dan melupakan makan siangnya.
Dilayar ponselnya terdapat tulisan,
Aryan terdiam, bibirnya kelu saat membaca tulisan yang ada di layar ponselnya.
"Jadi, Nadara bukan beragama islam? dia beragama Hindu. Hal itulah yang membuatnya selalu berpakaian putih dan katanya enggak bakalan bisa menikah lagi?"
Aryan tercengang, namun tidak lama kekehan samar keluar dari mulutnya. Pria itu menggelengkan kepalanya dramatis.
"Astaga tradisi macam apa itu? cuma cewek yang dapetin perlakuan itu, atau cowok juga sama? ternyata berat juga dapetinnya, selain harus menentang Tuhan- aku juga harus nentang tuh tradisi, terus aku harus gimana?"
Aryan meremas ponselnya, dia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Kedua matanya berkedip lambat, saat melihat saree putih Nadara berkibar tertiup angin dan menutupi sebagian wajahnya. Aryan tidak dapat mengalihkan pandangannya, hal itu terlalu indah untuk dia lewatkan sekarang.
"Tapi aku bisa gila kalau sampai lepasin dia!" de*sahnya pasrah, Aryan menjeda sejenak sembari menghirup napas dalam.
"Ayo Aryan berjuanglah, kita rayu Tuhan!" lanjutnya lagi dengan tekad bulat.
**AYOOOOOO GAS KEUN BAAAANGGG
YUHUU SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYYY MUUUAAACCHH😘😘😘**
akhirnya ada muka2 opa korea 😍😍😍
keluarga besar, jadi rumah harus besar, nampung banyak 🤭
nanti malah kena omel ya Ram 🤭🤣
dasar para manusia lucknut
pakai batubara sekalian aja lah