"Urusan internal OSIS nggak pake acara bikin orang nangis di belakang laboratorium, Nayaka. Mulai sekarang, jarak lo sama dia batasnya di gue." — Naren Aksara, Ketua ZENTRIX.
"Kalau dia datang ke sini... jangan pernah lihat muka dia. Biar dia tahu tempat ini bukan buat dia." — Fero Anggadyo, Ketua Black Venom.
Di SMA Garuda, Agnesa Valeria—siswi perfeksionis yang menjunjung aturan—selalu menganggap Naren Aksara sebagai pengganggu. Namun Naren tahu, di balik sikap dinginnya, Agnesa hanyalah gadis kesepian yang tertekan oleh tuntutan orang tuanya.
Saat Naren terus berusaha berada di sisi Agnesa, masalah justru bermunculan. Mahendra mulai menekan Agnesa demi kepentingan keluarganya, sementara Fero bersiap menghancurkan Naren lewat rahasia kelam yang tersembunyi di balik kamar 402 sebuah rumah sakit.
Siapa wanita yang terbaring di sana, dan mampukah Naren melindungi Agnesa sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang bayang sepi
Dapur di rumah Naren terasa jauh lebih hidup daripada biasanya. Bukan karena ramai, tapi karena bunyi air mendidih yang mulai mengeluarkan suara bluk... bluk... bluk... dari panci aluminium kusam.
Naren berdiri di depan kompor, memegang sumpit kayu.
Di sampingnya, Bu Inah sedang memotong sawi dengan gerakan yang konstan dan tenang. Tuk... tuk... tuk...
"Den, kalau kurang banyak, tambah telur aja," ucap Bu Inah tanpa menoleh.
"Enggak, Bu. Segini cukup," sahut Naren. Suaranya rendah, hampir tenggelam dalam suara air yang mendidih.
Naren mematikan kompor.
Klik.
Ia menuangkan mie instan itu ke dalam mangkuk plastik biru. Uap panas mengepul, membawa aroma bumbu kaldu yang tajam.
Ia membawa mangkuk itu ke meja makan kecil di sudut dapur, lalu duduk di kursi kayu yang salah satu kakinya sedikit goyang.
Kriet...
Ia tidak segera memakannya.
Naren menatap mie tersebut, melihat sawi hijau yang layu dan potongan telur yang melayang di permukaan kuah.
Rumah ini besar, tapi Naren hanya merasa memiliki ruang di dapur ini.
Lampu gantung kuning di atas meja makan memancarkan cahaya redup, menciptakan bayangan panjang di dinding yang catnya mulai mengelupas.
Di luar sana, angin malam menyapu dedaunan, sesekali membenturkan dahan pohon ke kaca jendela dengan suara tek... tek.... Naren bisa mendengar deru napasnya sendiri, ritme yang pelan, di tengah keheningan yang membungkus rumah itu rapat-rapat.
"Den, kalau ada masalah, jangan dibawa tidur," Bu Inah meletakkan segelas air putih di dekat mangkuk Naren.
Naren mendongak. Ia menatap wajah wanita paruh baya itu yang sudah memiliki kerutan di sudut mata.
"Nggak ada masalah, Bu."
"Den Naren itu mirip Bapaknya. Kalau lagi kepikiran sesuatu, makannya jadi nggak fokus."
Naren hanya tersenyum tipis. Ia menyeruput kuahnya. Sruup...
"Bapak sudah tidur?" tanya Naren.
"Sudah dari tadi. Ibu juga mau istirahat. Den jangan begadang terus, nanti matanya makin cekung."
Setelah Bu Inah pergi menuju kamarnya, dapur itu benar-benar sunyi.
Naren kembali menatap mie-nya. Ia memikirkan potongan kertas yang ia titipkan lewat gerbang rumah Agnesa.
Ubur-ubur.
Ia sendiri tidak tahu kenapa kata itu yang muncul di kepalanya.
Mungkin karena ubur-ubur transparan, terombang-ambing di laut tanpa arah, tapi punya sengatan yang bisa melumpuhkan.
Apakah Agnesa seperti ubur-ubur? Atau malah dirinya sendiri yang sebenarnya sedang disengat?
Ting.
Ponsel di saku celananya bergetar. Naren mengeluarkannya. Sebuah pesan dari Abyan.
“Ren, besok jadi ke tongkrongan? Atau lo mau diem di rumah aja dengerin lagu galau?”
Naren membalasnya dengan satu kata: “Jadi.”
Ia meletakkan ponselnya di samping mangkuk.
Tangannya menyentuh permukaan mangkuk yang panas, tapi ia tidak menarik tangannya segera.
Ia membiarkan panas itu menjalar ke ujung jarinya, sebuah sensasi yang membawanya kembali ke realitas.
Naren memutar-mutar mie di dalam mangkuk dengan sumpit.
Ia berhenti, lalu menatap mangkuk itu dengan tatapan kosong selama beberapa detik.
Ia memakan satu suap mie, mengunyahnya pelan, lalu meminum air putih.
Ia menghela napas, sebuah embusan yang panjang.
Tangannya yang lain memegang pinggiran mangkuk, jemarinya menekannya sampai buku-buku jarinya memutih.
Lalu, perlahan, ia melepaskannya.
Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan melihat keluar.
Di balik kaca jendela yang gelap, ia melihat pantulan dirinya sendiri.
Bukan sebagai pemimpin ZENTRIX yang ditakuti, tapi sebagai seseorang yang baru saja makan mie instan di tengah malam.
Kenapa aku harus melakukan ini? Mengapa aku harus mempedulikan Agnesa? Dia benci padaku.
Dia menganggapku sebagai gangguan, sebagai duri di dalam kedisiplinannya. Tapi setiap kali aku melihatnya, bahkan saat dia menatapku dengan tatapan dingin itu, aku merasa... apa ya? Aku merasa seperti sedang melihat ke cermin yang pecah.
Retakannya tajam, tapi aku bisa melihat diriku di sana. Mungkin aku memang ubur-ubur itu. Hanya mengapung, mencari arus, berharap tidak tersapu ke pantai dan mati karena kering.
Naren berbalik kembali ke meja. Ia tidak menghabiskan mie-nya. Masih ada sisa kuah dan sedikit mie di mangkuk. Ia membawanya ke wastafel, membuang sisanya.
Glog... glog...
Ia mencuci mangkuknya dengan air dingin.
Srek... srek... Suara spons yang bergesekan dengan piring plastik terdengar nyaring di dapur yang sepi.
Setelah semuanya bersih, Naren mematikan lampu dapur.
Klik.
Ia berjalan menuju kamarnya melewati lorong yang gelap.
Lantai kayu di bawah kakinya mengeluarkan suara cit... cit... di setiap langkah.
Naren berhenti di depan kamar ayahnya, mendengarkan sejenak. Tidak ada suara. Hanya kesunyian yang tebal.
Ia masuk ke kamarnya sendiri, membanting tubuhnya ke atas tempat tidur.
Bruk.
Naren menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia meraih ponselnya lagi, memastikan pesan dari Abyan tadi belum ada balasan baru.
Kosong.
Ia memejamkan mata.
Pikirannya melayang pada noda susu stroberi di jari Agnesa pagi tadi—bukan, kemarin pagi.
Rasanya sudah lama sekali.
"Ubur-ubur," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Ia tertawa kecil, suara tawa yang tertahan di balik bantal.
Naren meraba saku jaketnya yang tergantung di dekat tempat tidur.
Ia mengeluarkan sebuah bolpoin hitam yang biasa ia pakai untuk menulis catatan di buku-buku sekolahnya.
Ia tidak menulis apa-apa.
Ia hanya memutar-mutar bolpoin itu di sela-sela jarinya dengan lincah.
Tuk... tik... tuk... tik...
Bunyi bolpoin yang beradu dengan tangannya menjadi satu-satunya irama di dalam kamar itu.
Naren terus melakukannya, membiarkan pikirannya tidak tertuju pada apa pun, sampai akhirnya bolpoin itu jatuh ke lantai dengan suara tak yang tajam.
Naren tidak mengambilnya.
Ia membiarkan bolpoin itu tergeletak di sana, di bawah tempat tidur, lalu ia membalikkan tubuh, mencoba mencari posisi tidur yang nyaman di atas kasur yang terasa sedikit keras.
Kenapa bolpoin itu jatuh? Mungkin karena gravitasi. Atau mungkin karena tanganku yang memang sudah tidak bisa lagi menyeimbangkan apa pun.
Ya, gravitasi itu masuk akal. Semua hal akan jatuh kalau kita tidak memegangnya dengan benar.
Agnesa, gang-ku, sekolah, bahkan diriku sendiri.
Semuanya sedang jatuh ke bawah, menuju titik di mana tidak ada lagi yang bisa kita lakukan kecuali menunggu untuk menghantam tanah.
Dan aku? Aku hanya sedang menunggu untuk melihat seberapa keras benturannya nanti.
Naren menarik selimut sampai ke bahunya.
Suara angin di luar sana masih terdengar, kadang menderu, kadang mendesah pelan.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, atau lusa, atau minggu depan. Tapi, setidaknya untuk malam ini, mie instan itu rasanya cukup untuk mengisi kekosongan di perutnya.
Dan mungkin, hanya mungkin, itu sudah cukup untuk membawanya melewati malam ini tanpa harus bermimpi tentang hal-hal yang tidak mungkin.
Di luar kamar, sebuah jam dinding tua berdentang pelan.
Ting...
Waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Hari yang melelahkan telah berakhir, dan Naren, pemimpin ZENTRIX yang dingin dan tak tersentuh itu, akhirnya memejamkan matanya, membiarkan lelap menjemput di tengah kesunyian rumah yang besar dan terasa asing itu.
BERSAMBUNG…
Bab Selanjutnya ➜
"Nes, kita belum selesai bicara."
"Aku sudah selesai,"
Mengapa Agnesa Memilih Lari? Simak Kelanjutan Gejolak Batin Sang Ketua OSIS di Bab 26: Rahasia yang Berputar