"Papa, jahat! Rara mau mama bukan bunda!"
Rara berlari keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki. Bara dengan cepat mengejar Rara yang berlari sembari menangis. Ia menyesal.
Bara meraih tubuh anaknya yang sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang dulu selalu dimanja.
"Papa jahat ... hiksss ...." Rara menangis dalan pelukan Bara. Melepas semua rasa rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun untuk mamanya.
"Kita cari keberadaan mama ya," bisik Bara ditengah pelukan mereka. Membuat Rara semakin menangis usai mendengar perkataan sang papa.
"Papa harus menuhin janji itu. Rara nggak mau kalau Papa ingkar lagi." Bara mengiyakan permintaan anaknya.
Hatinya seperti tercabik-cabik melihat buah hatinya yang sudah lama tak bertemu Rida menangis pilu di hadapannya karena keputusannya yang bodoh juga rindu yang menggebu di hati sang anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arina rizqin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SMS Itu Lagi?
Rida terpaku di tempatnya ketika mendengar nada bicara Nanda. Ia menampar bibirnya berkali-kali, ia baru menyesalinya ketika Nanda sudah keluar dari apartemennya.
Selama ini ia selalu diam ketika orang-orang terdekatnya satu persatu mengkhianatinya. Ia diam karena ia sadar, kalau banyak cakap hanya untuk membuat orang terdekatnya kapok, justru itu akan menjadi hal memalukan untuknya.
Selama ini ia hidup bertemankan kesepian, hanya Rara yang menjadi pelipur hati di saat yang lain pergi menjalani kesibukan masing-masing.
Bahkan, mantan suaminya saja masih memikirkan pekerjaannya ketika ia sedang berkeluh kesah tentang pekerjaan dan aktivitas kehidupannya.
Nadia. Nama yang selalu menjadi bayang-bayang gelap dalam ingatannya, sahabatnya tahu akan kisah perih hidupnya. Namun, mengapa ia melakukan hal keji dengan merebut kebahagiaan kecil yang ia miliki?
Dadanya terasa sesak. Ia belum membalas perbuatan mereka, tetapi mengapa seolah-olah semesta menginginkannya mati secara perlahan dengan mengambil kebahagiaannya?
"Akhirnya aku melihatmu menangis pilu, sesuatu yang ingin kulihat sedari dulu akhirnya terjadi di depanku."
Pesan dari nomor yang beberapa waktu lalu menerornya, kini kembali mengirimkan pesan tidak masuk akal.
"Apa maksudmu!? Hadapi aku jika kamu memang berada di sekitarku."
Kepalanya menoleh ke sana kemari. Ia yakin, di apartemennya hanya ada dia sendiri. Tidak ada akses masuk ke dalam apartemen selain dari pintu masuk, balkon pun jarang ia buka.
"Hahahaha. Aku tidak sebodoh itu untuk menunjukkan diri tanpa ada persiapan. Persiapan apa? Tentu saja benda-benda tumpul yang siap kugoreskan ke tubuh jenjangmu."
Pesan darinya benar-benar membuat Rida dilanda cemas, matanya tak henti-hentinya menoleh liar ke sana kemari untuk memastikan omong kosong si pengirim pesan tersebut.
"Keluar kau sialan! Tunjukkan wajahmu! Jangan hanya berani berbicara lewat pesan tak bermutumu!" Rida berteriak kencang, terlihat rahangnya mengeras dan napasnya memburu.
"Cari aku, temui aku. Jangan mimpi!"
Pesan dari si pengirim benar-benar membuat kepala Rida ingin pecah rasanya.
"Aaaaa!!" Rida berteriak sekuat tenaga melepas penatnya.
"Tidak! Aku tidak akan mengalah! Akan aku rebut kembali Mas Bara dan Rara. Dengarkan ucapanku, ********!" Matanya memerah, napasnya memburu, dan dadanya naik turun memperlihatkan kemarahannya.
"Berteriaklah sampai kau puas. Karena beberapa hari setelah ini, hidupmu hanya untuk meratapi kesialanmu. Baiklah, perutku sakit menertawakan kebodohanmu. Selamat tinggal, kita akan bertemu dalam beberapa waktu lagi."
Setelahnya tidak ada pesan masuk lagi. Rida perlahan bangkit untuk pergi ke kamar mandi, tubuhnya benar-benar terasa lemas karena tidak di isi makanan berat.
Ia berjalan dengan sempoyongan, meraba benda-benda di dekatnya untuk menopang berat badannya.
Ia membersihkan diri, mandi dan melakukan beberapa kegiatan lainnya di kamar mandi. Ia keluar dengan tubuh segar walaupun masih lemas.
Ia berjalan ke arah meja make up untuk membuat wajahnya agar tidak terlihat pucat. Di rasa sudah selesai, ia berjalan ke arah meja makas mengambil tas yang berisikan dompet dan handphone.
...***...
"Mama Nadia mana, sayang?" tanya Bara kepada Rara, pasalnya saat pulang dari kantor ia hanya melihat Rara berbicara dengan boneka yang bisa mengeluarkan suara pemberian dari mantan istrinya, di ruang tengah.
"Enggak tau, Papa. Tadi Rara di tinggal sendiri," ujar Rara tanpa mengalihkan perhatiannya dari bonekanya.
Rara rindu mamanya, sudah lama ia tidak bertemu mama kandungnya. Papa dan tante Nadia selalu memberikan ia berita kejelekan tentang mamanya, ia yang masih kecil hanya bimbang untuk mengetahui alur yang sedang orang dewasa mainkan.
"Rara tadi kan Tant ...." Ucapan Nadia terhenti kala melihat Bara disisi Rara.
"Loh, kamu udah pulang Mas? Sejak kapan?" tanyanya sembari meletakkan burger di tangannya ke atas meja.
"Udah berapa kali saya bilang sama kamu, jangan pernah meninggalkan Rara sendiri! Saya sudah mengikuti semua perintah mama kamu. Saya peringatkan kepada kamu untuk tidak kurang ajar terhadap saya," desis Bara sembari meraih tubuh Rara, lalu ia gendongnya menuju kamar gadis kecilnya.
Nadia yang dibentak seperti itu terdiam di tempatnya. Seharusnya ia sadar, bahwa pernikahan dan perlakuan baik Bara kepadanya hanya di depan Rida. Ia terlalu bodoh untuk menganggap perlakuan baik itu sebagai rasa cinta.
Dret ... dret ... dret ....
Handphonenya bergetar dalam saku celananya, ia meraih menggunakan tangan yang tidak menyeka air matanya.
"Ada apa, Ma?"
"Kamu di mana?"
" Aku di rumah Mas Bara, kenapa?"
"Apakah Bara menjalankan semua perintah Mama?"
Pertanyaan dari mamanya membuat ia tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi Bara memang menjalankan perintah dari mamanya, tetapi di satu sisi Bara selalu berucap sesuatu yang menyakitkan membuat khawatir timbul.
"Ehm, dia menjalankannya ... kok, Ma" ucapannya sempat terhenti sesaat ketika tiba-tiba otaknya memutar perkataan kasar Bara kepadanya.
"Bagus! Selalu pantau dia. Beberapa hari lagi kita akan melaksanakan misi besar, kita akan melihat penderitaan orang yang pernah membuat kita malu di depan banyak orang."
Terdengar napas kasar sang mama di telinganya melalui telpon. Ia hanya menggelengkan kepala dibuatnya, karena dendam mamanya kepada teman lamanya membuat ia terlibat di dalamnya.
"Aku harap semua terjadi sesuai rencana."
Tit ....
Nadia mematikan telepon sepihak, sebenarnya ia sudah muak dengan semua perlakuan jahat mamanya. Hanya saja, mamanya selalu memiliki kartu As untuk membuatnya tidak punya pilihan lain.
...$$$...
ditunggu lanjutannya