Kebahagian memang tidak pernah abadi.
Sekalipun kamu kaya, cantik ataupun cerdas, roda kehidupan akan selalu berputar selama kamu hidup.
Begitulah kira-kira pribahasa paling sesuai dengan nasib naas yang dialami oleh seorang wanita cantik bernama Lie.
Kebahagiaan yang selama ini ia miliki hilang begitu saja.
Di masukkan kedalam penjara, kedua orangtua nya dibunuh dan perusahaan keluarga diambil alih!
Haruskah aku menyebutmu iblis? Karna manusia bukanlah kata yang pantas untukmu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon esterliia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah cukup!
Sehingga rekan kerja Monca pun tidak tau akan hal itu.
**
Monca tersadar dari tidurnya. Mimpi buruk ini benar-benar masih diingatnya dengan jelas. Tubuhnya berkeringat dingin dan tangannya mengepal dengan keras membuat kuku-kuku jarinya menjadi putih pucat
'Sudah cukup! Sekaranglah saatnya, akan kubalas kau. Dulu memang aku tidak berhasil membunuhmu, tapi sekarang akan kubuat kau menyesal tidak menghukum mati aku.' marahnya dalam hati.
"Monca" mendengar ada yang memanggilnya, ia pun langsung menengok dan melihat Lie di depan pintu "Masuklah Lie, kenapa hanya diam disitu?" jawab Monca tersenyum, perasaannya sedikit lebih baik dibanding tadi saat ia mengingat kejadian buruk itu.
"Aku mengetuk berkali-kali dan kau tidak mendengarnya, aku khawatir dan langsung masuk kedalam. Kau tertidur disitu? Apa kau habis mimpi buruk?" jawab Lie yang melihat Monca duduk disofa dekat jendela sambil berjalan masuk lalu duduk di kasur.
"Kau harus menguatkan dirimu Monca, kau tau kan kita pasti akan bertemu dengan mereka cepat ataupun lambat?" sambil menarik nafas dalam-dalam
"Aku akan memberimu waktu, pikirkanlah baik-baik. Memang akan sulit menghadapinya bahkan hatimu mungkin akan semakin hancur ketika melihatnya, maka dari itu pilihlah keputusanmu sendiri. Dan ketika kau sudah memilih, kuharap kau tidak menyesalinya." setiap kata-kata terdengar tenang, tidak mengintimidasi ataupun menyindir.
"Aku sudah memutuskannya Lie, aku akan bersamamu selalu. Karna musuh kita sama, kita pun harus selalu bersama untuk melawannya." Monca tau hanya Lie lah yang dia punya sekarang, yang mendukung dan mengerti dia.
Ia dulu adalah anak yatim piatu yang berjuang sendiri dengan mengandalkan warisan orangtuanya yang tidak banyak itu untuk berkuliah dan mencari pekerjaan yang layak. Ia merintis semuanya dari bawah namun hancur begitu saja.
Ia memandang Lie, tatapan yang selalu hangat dan bersahabat, ia tidak akan mengecewakan sahabatnya itu.
"Ah aku hampir lupa, aku ingin meminta pendapatmu tentang nama panggilanku yang baru. Bukan lagi Lie tapi Callista. Karna..." ada jeda sesaat sebelum melanjutkan kembali "Lie yang dulu sudah lama tiada." jawabnya tersenyum, namun melihat senyumnya itu justru membuat hatiku merasa sakit, seperti luka yang ditaburi garam, sangat perih dan menyiksa.
Tentu benar, Lie yang dulu sudah lama tiada, tepatnya sejak kedua orangtua nya dibunuh didepan matanya. Sungguh biadab Romie itu batin Monca.
"Bagaimana? terdengar bagus tidak?" tanya Lie ceria menatapku "Ya, lebih cocok denganmu." balasku sambil tersenyum.
"Baiklah sudah kuputuskan, Callista. Welcome to the world" katanya tersenyum ceria sambil melebarkan kedua tangannya diudara. Lalu sesaat ia diam dan tiba-tiba menengok Monca sambil melotot.
"Apa? Ada apa? Kenapa memandangku begitu?" tanya Monca sambil memicingkan matanya pada Lie.
"Apa nama panjangmu? Aku baru ingat hanya tau nama panggilanmu saja!"
"Astaga haha aku pikir kenapa" jawabku sambil berjalan menuju kasur dan duduk disebelah Lie.
"Cristella Monca." mereka terdiam sejenak lalu sama-sama menengok dan berteriak bersamaan "Stella!!" merekapun langsung tertawa.
Ternyata mereka memiliki pemikiran yang sama.
"Benar-benar sehati rupanya." kata seseorang yang sedang menyenderkan badannya diambang pintu dengan kedua tangan disaku.
Monca dan Lie pun menengok bersamaan lalu berdiri "Sejak kapan disitu? Apa kau melayang? Langkah kakipun tidak terdengar" jawab Monca sambil memicingkan matanya menatap Golden.
"Kalian yang terlalu fokus, turunlah sudah waktunya makan malam." jawab Golden sambil berbalik dan berjalan turun, di ikuti cepat oleh Lie dan Monca dibelakangnya.
Mereka bertiga makan bersama dan sesekali berbincang ringan, seperti sudah akrab dan kenal sebelumnya.
Selesai makan Lie menyuruh Bibi Wen untuk beristirahat dan membereskan meja makan serta mencuci piring sendiri, sedangkan Monca dan Golden duduk diam sambil sibuk dengan kegiatan masing-masing.