Sebuah misi yang di emban oleh dua saudara kembar tak identik. Namun, mereka memegang misi yang berbeda-beda. Bahkan, mereka pun terpisah oleh sebuah tragedi yang menimpa mereka semasa kecil.
Lalu, akankah mereka kembali di pertemukan oleh takdir yang saling berkaitan?
Apa jadinya bila seorang kakak kandung mencintai kembarannya sendiri?
Semua itu akan tersaji dalam sebuah kisah 'Misi Rahasia Si Kembar'.
Selamat membaca!
Terima kasih atas idenya pembaca setiaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Kelompok
Kegiatan belajar mengajar pun di mulai. Habib tampak fokus memperhatikan sang dosen yang tengah menjelaskan di depan sana. Ada sedikit penjelas sang dosen yang membuatnya berpikir keras. Kendala bahasa rupanya cukup menyiksa jiwanya.
Bukan Habib namanya, bila tak punya seribu cara untuk dapat memecahkan masalahnya. Kebetulan orang yang berada di sebelahnya adalah anak yang cerdas. Dia pun meminta orang itu untuk menjelaskan dalam bahasa Inggris padanya.
“Excuse me, can you explain to me. What did the lecturer say earlier?”
{Permisi, apakah bisa kau jelaskan padaku. Apa yang dosen sampaikan tadi?}
“The lecturer asked us to form groups and do the assignments he gave.” terang mahasiswa laki-laki itu padanya.
{Dosen meminta kita untuk membuat kelompok dan mengerjakan tugas yang ia berikan.}
“Thank you,” ucap Habib.
“Your welcome.”
Tanpa ragu sama sekali, Mi Kyong menawarkan diri untuk satu kelompok dengan Habib. Dan ... ada yang tak mau ketinggalan juga. Siapa lagi jika bukan Park Ae-Ri dan genk-nya.
“Can we be a group?” ujar Mi Kyong menawarkan diri.
{Bisakah kita satu kelompok?}
“Habib, will you join us?” tawar Park Ae-Ri yang tak mau kalah dari Mi Kyong.
{Habib, maukah kamu bergabung dengan kami?}
“Ya, Bag-aeli. Naleul gungji geuman. Deo iljjig mos deul-eoss-eo, eung? Naega meonjeo geuleul chodaehaessda. Dangsin-eun gwimeogeoli, eung?!”
{Hei, Park Ae-Ri. Berhentilah menikung ku. Apa kau tidak dengar tadi, hah? Aku lebih dulu mengajaknya. Apa kau tuli, hah?!}
Emosi kedua gadis itu sama-sama tersulut api amarah. Keduanya sama-sama tidak ingin mengalah satu sama lainnya. Habib jadi bingung harus berbuat apa. Dia hanya bisa menengahi perseteruan itu dengan sebaik yang ia mampu.
“Cukup sudah. Aku tidak tahan lagi dengan teriakan mereka.” batin Habib mengerang karena tak sanggup lagi.
“Stop! Can you guys shut up and don't fight anymore? Okay?!” nasihat Habib pada kedua gadis cantik tersebut.
{Berhenti! Bisakah kalian diam dan jangan bertengkar lagi? Oke?!}
“An dwae!” teriak Mi Kyong dan Park Ae-Ri yang tampak kompak, bak paduan suara.
{Tidak bisa!}
“Huhhh, percuma saja meleraikan wanita yang tengah tersulut amarah. Aku harus cari cara yang lainnya.” gumam Habib yang hanya di dengar olehnya saja.
Mi Kyong dan Park Ae-Ri saling dorong. Mereka bahkan sudah siap untuk berkelahi. Tapi, Habib mengucapkan sebuah kalimat yang membuat mereka berhenti seketika.
“I just want a group with well-behaved girls. Doesn't like to fight and is always polite. Is there anything like that between the two of you?” Atensi Mi Kyong dan Park Ae-Ri pun tertuju pada Habib kini.
{Aku hanya ingin satu kelompok dengan gadis yang berperilaku baik. Tidak suka berkelahi dan selalu bersikap sopan. Apa di antara kalian berdua ada yang seperti itu?}
“Jigeum dangjang haengdong-eul meomchwoya halkkayo? Naega seontaeg-eul hal su iss-eulkka?” bisik Mi Kyong dalam hatinya.
{Haruskah aku menghentikan aksiku sekarang juga? Apakah aku bisa menjadi pilihannya?}
“Geuneun jigeum naleul geobuhal geos-inga? A, andwae! Naneun geuga i gyohwalhan yeojaleul seontaeghadolog nwaduji anh-eul geos-ida. Jeoldaehaji anh-eul geos-ida!” ujar Park Ae-Ri juga dalam hatinya.
{Apakah sekarang dia akan langsung menolak ku? Ah, tidak! Tidak akan ku biarkan dia memilih wanita licik ini. Tidak akan pernah!}
Kedua gadis itu saling melepaskan pegangan mereka. Lalu, spontan langsung berubah menjadi gadis yang amat pendiam. Baik Mi Kyong maupun Park Ae-Ri, keduanya sudah tidak saling berdebat lagi.
Ternyata, cara Habib kali ini cukup ampuh dan manjur sekali, bukan?
“Okay, instead of you two fighting because you want to be in the same group with me. It would be better if the three of us were a group. How? That's fairer, right?” saran Habib, yang membuat kedua gadis cantik itu terperangah.
{Oke, daripada kalian berdua bertengkar karena ingin satu kelompok denganku. Akan lebih baik jika kita bertiga satu kelompok saja. Bagaimana? Itu lebih adil, ‘kan?}
“What? Seriously! I would never want to be in a group with her. Will never!” ungkap Mi Kyong menolak dengan tegas.
{Apa? Yang benar saja! Aku tidak akan pernah mau satu kelompok dengannya. Tidak akan pernah!}
“In that case, I'll just find another friend.” Habib pun memalingkan wajahnya dari kedua gadis cantik itu.
{Kalau begitu, aku akan mencari teman yang lain saja.}
“Uh ... wait a minute! Okay, I agree.” ucap Mi Kyong yang tak rela bila Habib bersama yang lain.
{Eh ... tunggu dulu! Oke, aku setuju.}
Pada saat Park Ae-Ri hendak melangkah, Mi Kyong menarik rambut gadis itu dengan arogan.
“Ya, geuman! Naboda apseoji maseyo.” seru Mi Kyong dengan agresif.
{Hei, berhenti! Jangan mendahului ku.}
“Tto geuneun naleul goelobhyeossda. Migyeong jjajeungna!” umpat Park Ae-Ri kesal.
{Lagi-lagi dia menindas ku. Dasar Mi Kyong menyebalkan!}
...----------------...
Habib mengajak kedua gadis itu ke perpustakaan. Habib berniat untuk mencari buku yang sekiranya, menunjang untuk tugas mereka.
Meskipun kedua gadis itu tampak tak bersahabat sama sekali. Tapi, Habib terus berupaya agar mereka semakin akrab.
“You two, sit down. Here, read it. Who knows, it can help us with our work later.” ucap Habib sembari menyodorkan buku-buku pada kedua gadis itu.
{Kalian berdua, duduklah. Ini, bacalah. Siapa tahu bisa membantu tugas kita nanti.}
Kedua gadis itu mematuhi ucapan Habib. Tapi, mereka tiba-tiba menatap heran ke arah Habib. Pasalnya, Habib memperhatikan mereka dengan seksama.
Siapa sangka bahwa ada maksud dan tujuan dari tatapan Habib pada mereka?
Ya, tentu saja itu terkait dengan bahasa dan tulisan yang belum Habib pahami sama sekali.
“Why are you looking at us like that?” tanya Mi Kyong yang sudah tampak gugup.
{Kenapa kau menatap kami seperti itu?}
“Can you translate the reading for me?” ucap Habib dengan mimik wajahnya yang polos.
{Bisakah kamu menterjemahkan bacaan itu untukku?}
Bisa di bayangkan saat ini seperti apa wajah Mi Kyong, bukan?
Ya, wajah gadis itu bak udang rebus. Merah merona dengan ulasan rasa malu di wajahnya. Manis, ya, begitu manis wajah cantik itu bila tersipu malu.
Bak kacang goreng yang di biarkan begitu saja. Perasaan Park Ae-Ri tampak amat terpukul menahan gejolak amarah dalam dada.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka. Yang jelas, tatapan mata Mi Kyong dan Habib saat ini saling mengunci. Hingga, rasa panas mendidih tak lagi bisa Park Ae-Ri hindari.
...----------------...
yang terakhir adalah Aku Mencintaimu dan Menyukai Semua Bab Awal-Akhir 😍😘😘👌🏻
sama donk kitaa😅