"Kamu akan terus dihantui rasa bersalah Dinda. Dan kamu tidak akan bisa lepas dari semua ini. Jika kamu beranggapan, membunuh ku dapat menghentikan semuanya, kamu salah Dinda. Justru kamu akan memulai semuanya. Kamu akan terus dihantui rasa sakit dan penderitaan kemana pun kamu pergi."
Bagaimana seorang Dinda bisa mengalami berbagai hal aneh sekaligus mengerikan dalam hidupnya?
Bisakah dia melalui semua rintangan yang menghadang?
Akankah dia sanggup berjalan hingga akhir?
Peringatan : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan Nama atau pun tempat, itu semua diluar pengetahuan sang penulis. Dan tidak ada maksud dari Sang Penulis untuk menyinggung suatu pihak manapun. Penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ada bahasa atau pun perkataan yang tidak pantas.
Dan tentunya Sang Penulis tak pernah bisa lepas dari kesalahan.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juan Atma Wikarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namaku Dinda : Episode 13
Seluruh badan ku terasa bergetar, aku mulai merasakan takut ketika Kakek ku mengeluarkan pedang dari sarungnya. Pedang itu serasa menakutkan untuk ku. Entah ada apa dengan pedang itu, tapi aku mencium bau darah bercampur wewangian dari pedang itu.
"Kenapa nduk?" (Jogo Rogo)
"Tidak kek." (Dinda)
"Dulu, pedang ini adalah pedang yang sanggat disucikan. Tak sembarangan orang boleh menggunakannya. Yang berhak memegangnya hanyalah orang orang tertentu saja. Mereka yang memiliki sifat yang jujur, bijak, dan rendah hati." (Jogo Rogo)
"Tapi sekarang, siapapun bisa memegangnya." (Jogo Rogo)
"Tapi Saya mencium bau darah dan bau wewangian Kek." (Dinda)
"Iya nduk, dulu pedang ini pernah digunakan pada saat perang. Aturan sebenarnya, pedang ini hanya digunakan ketika ada pengangkatan pendekar baru. Itupun hanya disucikan dan diberi wewangian. Namun karena peperangan itu, para sesepuh terpaksa menggunakannya. Sebagai jaminan agar kita bisa bertahan sampai sekarang ini. Karena dari itulah, pedang ini berbau darah, dan berbau wewangian." (Jogo Rogo)
Aku dan Beni tak berkomentar apapun, selain mendengarkan cerita Kakek ku dengan seksama. Dari cerita itu aku mulai paham, bahwa mungkin perang saudara itu begitu sengit dan mempertaruhkan banyak nyawa. Sampai sampai pedang pun bisa berbau darah seperti itu.
"Nduk?" (Ayah Dinda)
"Iya Ayah?" (Dinda)
"Ayah merasa senang kalau kamu sudah mulai menerima ayah nduk. Tapi kamu harus tahu, mulai hari ini kamu harus berlatih dengan Kakek mu, Jogo Rogo." (Ayah Dinda)
"Dan saat berlatih itulah, ayah tidak boleh menemui mu. Bahkan kamu tidak boleh bersama sahabat mu ini." (Ayah Dinda)
"Tapi kenapa Ayah?" (Dinda)
"Karena saat berlatih, pikiran mu tidak boleh tercampur dengan urusan dunia luar. Kamu diharuskan menetap di sebuah tempat tersembunyi bersama Kakek mu, dan berlatih disana." (Ayah Dinda)
"Lebih tepatnya bersemedi nduk." (Jogo Rogo)
"Ayah, Kakek. Nenek juga pernah mengajari saya dulu, dan saya sudah pernah menjalankan semedi selama berhari hari. Saya merasa kalau saya tidak akan mampu melakukannya lagi Kek, Ayah." (Dinda)
Aku berusaha membujuk Kakek dan Ayahku agar aku tidak melakukan semedi. Karena resiko dan ujiannya sangatlah berat. Bahkan dulu aku hampir saja tewas karena ilmu yang nenek ajarkan kepada ku.
Tapi sepertinya usaha ku sia sia saja. Bahkan ucapan Kakek semakin tegas dan mata Ayah semakin tajam melihat aku. Aku jadi mempertimbangkan lagi tentang ketidak mau'an ku itu. Karena aku juga tidak ingin membuat Ayah dan Kakek ku.
Karena sekarang ini merekalah keluarga satu satunya yang aku miliki. Tidak ada yang lain selain mereka. Dan juga demi mengembalikan kenyamanan desa ini, karena aku tidak mungkin mampu melihat bagaimana kehancuran akan terjadi jika aku tidak menuruti permintaan Kakek dan Ayahku.
"Ingat nduk, apa yang diajarkan oleh nenekku itu baru setetes dari ilmu yang lainnya. Mau tidak mau, kamu harus tetap berlatih. Karena ini menyangkut nyawa banyak orang." (Jogo Rogo)
"Apa kamu mau melihat atau pun mendengar Kami semua disini mati dibantai habis oleh musuh kami?" (Jogo Rogo)
"Iya Kek, saya minta maaf Kek, Ayah. Saya akan berlatih bersama Kakek. Demi kalian, keluarga yang saya miliki satu satunya. Saya tidak akan membiarkan sesuatu mengancam keluarga saya Kek." (Dinda)
"Baguslah nduk kalau begitu. Karena itulah yang kami harapkan, kamu juga mengetahuinya kan? kalau jumlah kami semakin sedikit disini." (Ayah Dinda)
jadinya ngeganggu banget
baca sinopsisnya kliatanbya lymayan asik ceritanya,pas udh baca,lsg drop dgn gaya penulisan
ayooo dikoreksi thor...biar bs jd penulis beneran,bkn abal2 yg banyak berseliweran di platform ini