Follow IG ; Vi_via129.
Alana adalah gadis yang baik hati dan cerdas. Tapi karena keloid di wajahnya dan penampilannya yang aneh membuat ia sering di bully di sekolah dan lingkungan tempat dia tinggal. Bahkan saudari kembarnya pun ikut-ikutan membullynya.
Hingga suatu hari pembullyan itu menyebabkan Alena saudara kembarnya koma dan Alana yang harus menanggung biaya perawatan Alena.
Sadar ia tidak memiliki apapun dan akan semakin menyulitkan hidupnya jika ia terus berhutang kepada sahabatnya. Alana memutuskan untuk menerima tawaran sahabatnya Naya untuk menikah dengan Pamannya yang terkenal dengan kata kejam, sadis dan tak punya hati. Dengan harapan ia dapat mengubah takdirnya.
Sanggup seorang Alana mengubah takdirnya menjadi lebih baik? Dan bagaimana cara dia menghadapi, pria tak berhati yang terkenal sadis dan kejam itu? Kepo in yuk.🤗🤗
Mengandung sedikit bumbu panas-panas.🤗🤗 Harap bijak dalam memilih bacaan.😘😘 follow IG vivia129. untuk visual dan segala informasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iblis berwujud manusia.
Sebelum membawa Alana dan Naya keluar negeri, tante Rina sudah memperhitungkan segala sesuatunya. Mulai dari hari operasi, pemulihan pasca operasi sampai perawatan yang harus Alana jalani sebelum kembali ke tanah air.
Dan keesokan harinya, sesuai jadwal satyo mengantar anak, istri dan adik iparnya itu ke bandara." Papa yakin nggak mau ikut sama kita." Tanya Naya saat mereka tengah menunggu jadwal keberangkatan mereka.
" Nggak sayang, papa punya banyak kerjaan disini." Jawab satyo sembari mengusap kepala putri bungsunya.
Satyo dan Rina di karunia tiga orang anak, dua perempuan, satu laki-laki. kakak Tertuanya Naya adalah seorang pramugari, ia juga mempunyai apartemen sendiri sehingga jarang sekali pulang ke rumah, sementara kakak kedua Naya berada di luar negeri. Tinggallah Naya seorang yang menemani hari-hari mama papanya.
" Papakan bisa mendegalasikan pekerjaan papa kepada orang yang papa percaya! Lagian kita pergi juga nggak lama." Bujuk Naya.
" Lain kali ya sayang." Satyo menarik tubuh Naya masuk kedalam pelukannya.
" Ya udah deh! Kalau papa nggak mau ikut, tapi papa harus janji sama Nay, papa harus makan tepat waktu dan istirahat yang cukup nggak boleh capek! Dan harus sering-sering mengubungi Nay dan mama. Janji." Ucap Naya kepada papanya.
Interaksi ayah dan anak itu tidak luput dari pandangan Alana. Karena jujur saja, jauh di lubuk hatinya, Alana begitu iri dengan sahabatnya itu, bukan karena Naya kaya! Tapi karena Naya begitu di cintai oleh ayah dan ibunya sementara dirinya! Hanya bisa tersenyum melihat kehangatan itu walaupun ia sangat merindukan kasih sayang yang tulus seperti yang di dapatkan Naya.
" Iya papa! Janji." Sahut Satyo membuat bibir Naya tertarik keatas sampai terlihat sebagain gigi putihnya.
Setelah beberapa menit bercengkrama, kini saatnya mereka untuk berpisah dengan satyo karena waktu keberangkatan telah tiba.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Disisi lain, Saddam yang sudah habis kesabaran, karena tidak mendapatkan kabar dari sang kakak, memilih mendatangi rumah Sandrina. Ia bahkan mengancam akan menabrak pintu gerbang rumah kakaknya jika para penjaga masih bersikeras untuk tidak membukanya pintu gerbang untuknya.
Dan pada akhirnya, para penjaga rumah Sandrina membuka pintu gerbang untuk Saddam.
Begitu Saddam telah berada di dalam rumah megah itu, Saddam berteriak memanggil-manggil nama kakaknya kesana-kemari.
" Sandrina, sandrina dimana kamu." Teriak Saddam seperti orang kesetanan. Tapi sayang tidak ada sahutan dari orang yang dia panggil namanya. " Sandrina kamu menang, apa kamu puas sekarang! Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak marah lagi kepadaku." Teriak Saddam lagi, walaupun tidak ada yang menyahutinya.
Bahkan para pelayan di rumah itu hanya mendengar dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, karena mereka tahu seperti apa sikap adik dari majikan mereka itu. Keduanya sungguh jauh berbeda. Jika orang tidak mengenali mereka. maka mereka mungkin tidak akan percaya jika ada yang mengatakan bahwa Saddam dan Sandrina itu kakak beradik. Bagaimana tidak Sandrina berhati malaikat sementara Saddam seperti iblis berwujud manusia, kejam dan tidak punya hati kecuali kepada sang kakak dan keluarganya.
" Saddam apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Satyo saat mendapati adik iparnya itu tengah berlutut di ruang keluarga. Satyo yang baru saja kembali dari bandara setelah mengantar anak, istri dan alana! sedikit terkejut dengan kedatangan Saddam.
" Kak! Dimana kak Rina?" Tanya Saddam, ia langsung berdiri dan menghampiri satyo.
" Kakak kamu, baru saja keluar kota! Ia ada pekerjaan yang harus di urus. Kakakmu juga membawa Naya dan istri kamu. Katanya sekalian mereka liburan." Jawab satyo sedikit berbohong. Agar rencana sang istri tidak di ketahui oleh Saddam.
" Kapan kakak akan kembali?" Tanya Saddam lagi.
" Mungkin dua atau tiga Minggu lagi?" Jawab satyo tidak pasti, membuat Saddam sedikit kesal kepadanya. Tapi tidak dapat melakukan apa-apa kepada satyo sebab iya tidak ingin memperpanjang masalahnya dengan sang kakak.
" Baiklah, aku akan kembali lagi setelah kak Rina pulang. Dan bisakah Kakak meminta kak Rina untuk menghubungiku, katakan padanya aku minta maaf, aku menyesal dan sangat merindukan dia " Pinta Saddam sebelum meninggalkan rumah kakaknya itu.
"Baiklah kakak akan menyampaikannya! Begitu kakak mu menghubungi kakak nanti. "
Saddam mengangguk setelah itu, ia meninggalkan rumah Sandrina. Dan di belakang sana. Satyo tersenyum sembari mengeleng kepalanya. " Sehebat apapun kamu dan sejahat apapun kamu, selama kamu masih memiliki anggota keluarga yang sangat kamu sayangi. Maka kamu akan tetap memiliki kelemahan." Ucap Satyo dalam hatinya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Setelah melewati berjam-jam dalam pesawat akhirnya, mereka tiba di tempat tujuan, dengan selamat. Alana terlihat yang sedikit pucat, pusing dan juga berkeringat dingin. Mungkin karena ini pengalaman pertamanya naik pesawat.
Setelah mendapatkan barang-barang mereka, ketiganya keluar dari bandara dan mengunakan taksi menuju hotel yang telah reservasi oleh satyo.
Waktu menunjukkan pukul dua siang saat mereka tiba di kamar hotel. Dan Alana langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Selain pusing dan deg-degan rupanya Alana juga mengalami jet lag.
Untuk Tante Rina dan Nay sendiri, keduanya lebih dulu membersihkan diri makan siang yang sudah terlambat barulah keduanya beristirahat menyusul Alana.
Disisi lain. Saddam terus menunggu panggilan masuk dari sang kakaknya! dalam sehari ia bisa lebih dari lima kali mengecek ponselnya, tapi sandrina tidak kunjung menghubunginya, bahkan setelah ia meninggalkan pesan kepada Satyo dua hari yang lalu.
" Ini semua karena gadis sialan itu! Awas saja, begitu kamu kembali aku akan membuat kamu merasakan lebih baik mati dari pada hidup. Arrggghh menyebalkan sekali." Teriak Saddam sembari meninju udara.
Tok...tok ...tok...
Pintu ruang kerja Saddam di ketuk dari luar. Saddam melirik kearah pintu sejenak sebelum memberi instruksi kepada orang yang mengetuk pintu itu." Masuk." Teriaknya dengan nada suara sedikit tidak bersahabat.
Tak butuh waktu lama pintu ruangan itu pun di dorong sedikit kedalam, sebelum muncullah seorang wanita dengan pakaian serba minim. Dia adalah sekertaris baru Saddam setelah sekretaris sebelum di pecat oleh Sang kakak
" Permisi pak! Ada berkas yang harus bapak tanda tangani." Ucap wanita itu begitu ia berdiri tepat di hadapan Saddam dengan meja kerja Saddam sebagai pembatas di antara mereka.
Jika di lihat sekilas wanita itu terlihat begitu anggun tapi cara berpakaiannya, jelas sangat ingin menggoda sang atasan. Bagaimana tidak rok hitam span yang berada di atas lutut dengan memamerkan setengah dari pahanya. Kemeja dengan dua kancing teratas yang sengaja di buka, apa coba kalau bukan ingin menggoda.
" Dimana saya harus tanda tangan." Tanya Saddam sambil memutar-mutar bolpoin di tangannya.
" Di sini pak." Tunjuk wanita itu, ia sengaja menunduk untuk memamerkan belahan dadanya kepada Saddam.
Saddam pun mengangguk, kemudian memberi coretan tangannya di tempat yang di tunjuk sekretarisnya. Setelah itu Saddam menyerah berkas itu kembali kepada sekretaris barunya itu dan berkata. " Aku benar-benar suntuk hari ini! Bisakah kamu menyenangkan aku?" Tanya Saddam.
Sang sekertaris tersenyum penuh kemenangan dan menjawab. " Tentu saja saya bisa pak! Katakan apa yang harus saya lakukan untuk membuat anda senang. Apapun itu saya pasti akan melakukannya. "
Tanpa banyak bicara Saddam memundurkan kursi kebesarannya, kemudian melirik ke arah sel*ngkangannya sendiri. Dan tanpa jelaskan pun wanita itu mengerti apa yang harus dia lakukan. wanita itu bahkan tidak menunggu Saddam mempersilahkan dirinya dan langsung meraih ikat pinggang Saddam, hal itu membuat Saddam tersenyum smirk. Selanjutnya wanita itu menyesali kebodohannya karena telah salah memilih mangsa. Sebab begitu Saddam selesai mendapatkan kepuasannya ia langsung memecat wanita itu tanpa belas kasih.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💝💝...