NovelToon NovelToon
Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Militer / Cinta Seiring Waktu / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.8M
Nilai: 5
Nama Author: Rindu Yuliana

Gisya Kayla Nursalsabila, seorang gadis pemilik 'Caca Bakery'. Ketika Ayahnya mengucapkan keinginan terakhirnya. Gisya hanya mampu menerima semua keinginan Ayahnya sebelum meninggal.
"Ayah, selamat Jalan Ayah. InshaAllah Caca akan memenuhi semua amanat Ayah." ucap Gisya dalam hatinya.

Perjodohannya dengan Zayn membawa Gisya pada luka hati yang mendalam. Zayn selalu menunda Rencana Pernikahan mereka.
"Maafkan aku Gisya, aku tidak bisa menikah dengan kamu. Aku mencintai oranglain, meskipun tak bisa dipungkiri aku juga ingin bersamamu." Batin Zayn.

Pada akhirnya, Gisya bertemu dengan Fahri. Seorang Tentara yang sama-sama dikhianati. Zayn menjalin hubungan dengan Santi, yang merupakan kekasih Fahri.

Gisya dan Fahri kemudian bertemu, dan menjalin sebuah hubungan.

"Mengalir aja ya, Bang! Gak usah saling genggam terlalu erat, takutnya nanti ada yang patah. Kalo Abang butuh aku, Aku akan selalu ada disamping Abang. Kalo Abang rindu, aku akan selalu ada disini. Dihati Abang. Hiduplah seperti sebelum kamu mengenal aku, Bang. Jangan jadikan keberadaanku sebagai beban dihidup kamu." Tutur Gisya.

"Abang yang harusnya berterimakasih, kamu sudah mau menjadi teman hidup Abang. You’re the one girl that made me risk everything for a future worth having. I just wanna say something, I Love you Gisya. That’s all." ucap Fahri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rindu Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Pertemuan Kembali

Gisya baru saja membuka matanya, samar-samar dia mendengar suara orang berteriak. Namun, Gisya belum bisa bergerak. Tubuhnya seakan lemah, untuk mengangkat tangan pun sangat sulit.

"Dimana ini? Kenapa tubuhku lemah seperti ini? Bunda dimana? Caca takut." batin Gisya.

Hari ini Gisya sudah mulai dipindahkan ke Ruang Rawat Inap biasa, setelah dua hari yang lalu tersadar. Kondisi Gisya sudah cukup stabil, hanya saja ada beberapa hal yang mungkin akan membuat mereka bersedih kembali. Gisya baru saja terlelap tidur, saat dokter datang untuk memeriksa keadaannya.

"Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan mengenai kondisi Gisya. Saat ini Gisya akan kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya terutama kaki. Akibat dari kecelakaan itu membuat beberapa syaraf pada ototnya melemah dan juga ada tulang kakinya yang retak. Saat ini kami sudah memasang penyangga pada tulang kakinya yang retak." tutur Dokter menjelaskan.

"Yaa Allah, Nak." lirih Bunda Syifa.

"Ibu jangan khawatir, itu tidak bersifat permanen. Jika terus melakukan therapy, maka dia akan bisa berjalan seperti biasa." ucap Dokter menjelaskan.

"Berapa lama Dok, Kakak saya harus menjalani therapy?" tanya Syauqi pada Dokter.

"Semua itu tergantung pada pasien. Jika dia memiliki semangat yang tinggi, mungkin dalam 2-3 bulan dia bisa berjalan normal kembali. Jika tidak ada yang ditanyakan kembali, saya permisi mau visite pasien yang lain" pamit Dokter.

"Terimakasih, Dokter." ucap Bunda dan Syauqi.

Gisya yang belum benar-benar terlelap, mendengar semua percakapan itu. Hatinya begitu sakit, dia tidak bisa berjalan. Dia kembali mengingat kejadian itu. Dimana tubuhnya terpental ke aspal, yang Gisya sangat ingat adalah dia merasa tubuhnya melayang jauh.

Sudah 2 bulan berlalu. Setiap hari Syauqi, Febri dan Yuliana bergantian untuk menemani Gisya melakukan therapy. Semenjak kejadian itu, Gisya menjadi lebih pendiam. Bahkan mereka sudah tidak dapat melihat lagi senyuman manis diwajah Gisya. Seperti sore ini, mereka sedang melatih Gisya berjalan menggunakan walker disalah satu Taman depan Taman Makam Pahlawan Bandung. Mereka memilih tempat itu, karena tidak begitu ramai.

"Ayo, semangat Ca! Kamu pasti bisa!" ucap Yuliana menyemangati Gisya.

Gisya tidak menjawabnya, dia mulai melanjutkan usahanya agar bisa berjalan. Gisya mulai kesal, karena kakinya belum juga bisa lepas dari tongkat yang menyiksanya selama 2 bulan ini.

Bruugghhh!

Gisya terjatuh, mereka panik dan berlari menghampiri Gisya. Namun langkah mereka terhenti ketika Gisya mulai berbicara.

"Stop! Jangan ada yang berani maju, tinggalkan aku sendirian!" pinta Gisya.

"Teh, biar Uqi bantu berdiri. Kalo Teteh cape, kita pulang sekarang ya, Teh." ucap Syauqi membujuk Gisya.

"Stop Teteh bilang! Teteh gak mau dikasihani, tolong Teteh minta tinggalkan teteh sendiri!" tegas Gisya.

"Ca jangan gini ya. Kalo kamu cape, kita istirahat pulang sekarang. Jangan terlalu dipaksakan, aku mohon Ca." bujuk Febri yang berharap Gisya akan mendengarkannya.

"Berapa kali aku bilang, tolong kali ini biarkan aku sendiri dulu! Teteh mohon Qi, aku mohon," lirih Gisya yang memohon pada semuanya.

"Yaudah, kita tunggu kamu disana! Kalo kamu udah tenang, kita akan balik lagi kesini," ucap Yuliana yang mengerti kondisi kita Gisya saat ini.

Mereka pergi menuju salah satu pedagang kaki lima yang menjual gorengan. Disana mereka duduk memperhatikan Gisya dari jauh. Mereka melihat Gisya mencoba bangkit dan mulai berjalan.

Sudah hampir satu jam mereka disana. Namun, Gisya masih berusaha untuk belajar berjalan. Langit sudah mulai mendung, Syauqi beberapa kali membujuk Gisya supaya mau pulang. Tapi Gisya masih kekeh ingin tetap disana. Gisya sudah mulai kesal dan emosi. Dia terjatuh lagi dan kali ini dia memukul-mukul kakinya untuk meluapkan emosinya. Mereka tidak berani mendekat, karena emosi Gisya sedang tidak stabil. Febri dan Yuliana hanya saling berpelukan, berteduh dari hujan dan melihat Gisya dari kejauhan. Begitupun dengan Syauqi, dia hanya bisa menahan airmatanya ketika melihat Gisya seperti itu.

Kebetulan hari itu Fahri juga sudah mulai mendapatkan tugas di Bandung. Fahri sedang menikmati Lari Sore disekitaran Gasibu. Dia memarkirkan mobilnya didekat Taman Makam Pahlawan, karena jalan itu memang tidak begitu ramai dan tidak banyak dilewati kendaraan umum. Hujan mulai turun, Fahri berlari menuju mobilnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis yang terjatuh saat berjalan menggunakan tongkat. Fahri menghampiri gadis itu.

"Yaa Allah, kenapa ini harus terjadi kepadaku?! Aku lelah, aku capek! Aku ingin seperti dulu, aku ingin bisa berjalan seperti dulu!! Dasar tidak berguna!!" teriak Gisya frustasi sambil melemparkan tongkatnya.

Tongkat itu jatuh tepat didepan Fahri, dia berjalan menuju kearah gadis itu. Dibawah guyuran hujan, Fahri tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu.

"Jangan menyalahkan Allah, semua itu terjadi kepadamu karena Allah yakin kamu mampu melewatinya. Jika kamu menyerah, itu tandanya kamu tidak percaya kepada Allah. Mari saya bantu berdiri." ucap Fahri sambil memberikan tongkat itu. Namun Gisya menepisnya.

"Jangan kasihani aku! Aku tidak butuh dikasihani!" teriak Gisya. Fahri termenung sejenak.

"Aku hanya ingin menolongmu, bukan mengasihanimu! Lihatlah dirimu, menangis sendiri dibawah hujan dan meratapi kesedihanmu. Tidakkah kamu memikirkan orang-orang diluar sana? Mereka ada yang jauh lebih menderita darimu! Mereka tidak punya tangan dan kaki, tapi mereka tetap bersemangat untuk menjalani hidup! Tidak bisakah kamu bersyukur akan hal itu?" tutur Fahri menasehati Gisya.

Gisya terdiam, semua ucapan Fahri memang ada benarnya. Selama ini dia hanya meratapi nasibnya, padahal diluar sana masih banyak orang yang jauh lebih menderita darinya.

Gisya mulai mengambil tongkatnya dan mencoba berdiri, tapi kakinya terasa sakit. Fahri yang melihat Gisya kesakitan tidak bergeming. Bukan karena tidak peduli, tapi Fahri ingin gadis itu lebih bisa menghargai oranglain.

"Jika kesulitan, Kenapa tidak meminta tolong?" ucap Fahri sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Gisya.

Gisya terdiam sejenak, Fahri sudah berdiri dan berjalan beberapa langkah. Tapi dia terdiam mematung setelah mendengar suara Gisya.

"Tolong! Tolong aku! Aku mohon tolong aku!" teriak Gisya sambil menangis.

"Suara itu," batin Fahri

Fahri menoleh kearah suara, dia berjalan mendekati Gisya dan mensejajarkan tubuhnya kembali. Fahri memberikan tongkat itu kepada Gisya dan dia mau menerima tongkat dari Fahri. Saat Gisya mendongakkan wajahnya, pandangan mereka bertemu. Gisya dan Fahri sama-sama terkejut. Gisya mulai berdiri dibantu oleh Fahri. Kejadian itu tidak luput dari pandangan Syauqi, Febri dan Yuliana. Saat Syauqi akan menghampiri Gisya, dia ditahan oleh Febri.

"Apa dia gadis itu? Suaranya persis seperti suara wanita dimimpiku dan suara itu yang membuatku sadar dari koma." Batin Fahri.

"Terimakasih," ucap Gisya.

"Apa kabar?" tanya Fahri.

"Seperti yang abang lihat, tidak baik-baik saja."

"Bukan tidak, tapi belum." jawab Fahri.

Saat akan mulai melangkah, Gisya merasa kepalanya pusing dan tidak sadarkan diri. Dengan sigap Fahri menahan tubuh Gisya dan menggendongnya menuju ke mobil miliknya. Namun Syauqi, Febri dan Yuliana menahannya.

"Biar saya yang bawa mobilnya, tolong duduk dibelakang bersama Gisya," ucap Syauqi.

Fahri merasa heran, tapi ketika melihat Febri dan Yuliana dia menganggukkan kepalanya. Dia memangku Gisya di kursi belakang, sementara Yuliana dan Febri menyusul memakai mobil Syauqi.

"Apa dia kekasih Gisya yang baru? Tapi sepertinya usia laki-laki itu jauh dibawah Gisya," ucap Fahri dalam hati.

"Saya Syauqi, adik satu-satunya Gisya," ucap Syauqi yang seolah mengerti dengan apa yang ada di benak Fahri.

"Saya Fahri, sahabat dari kekasih Febri,"

"Abang TNI?" tanya Syauqi pada Fahri.

"Ya, saya baru saja dipindah tugaskan di Bandung. Kamu sepertinya satu profesi dengan saya." tebak Fahri.

"Saya Polisi Bang, baru 2 bulan lulus dari SPN. Sekarang tugas di Polwiltabes." ucap Syauqi.

"Ini kita mau kemana Syauqi? Bukannya tadi klinik sudah terlewat?" heran Fahri karena dia tidak tau Syauqi akan membawanya kemana.

"Ke Rumah Bang, sejak hari itu Teh Caca tidak mau lagi berhubungan dengan sesuatu yang berbau obat." Jelas Syauqi. Fahri hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyetujui.

Febri dan Yuliana sudah sampai duluan di Rumah Gisya. Mereka mempersiapkan handuk untuk Gisya.

Saat mendengar suara mobil, mereka bergegas keluar untuk membuka gerbang.

"Astaghfirulloh! Caca kenapa lagi?" teriak Bunda Syifa yang melihat Syauqi menggendong Gisya.

"Pingsan Bun, mungkin kecapean." jawab Syauqi.

"Yasudah bawa kekamar! Ulil tolong ya gantikan pakaian Caca. Bunda mau bikin teh panas dulu untuk kalian," ucap Bunda Syifa.

"Siap! Bun, pinjam baju Alm. Ayah. Baju Uqi tidak akan muat sepertinya, pasti kekecilan." ucap Yuliana.

"Baju Ayah buat siapa?" Heran Bunda Syifa.

"Tuh buat orang yang nolongin Caca! Bunda liat aja sendiri," tutur Yuliana sambil berjalan menuju kamar Gisya.

"MashaAllah, Fahri!" sapa Bunda Syifa yang refleks memeluk Fahri.

"Baju Bunda jadi basah karena peluk Fahri. Hehehe, Bunda apa kabar?" tanya Fahri.

"Bunda baik, sudah nanti mengobrolnya. Sekarang ganti baju kamu, tapi pakai bekas Ayah tidak apa-apa ya? Baju Uqi pasti kekecilan dibadan kamu," ucap Bunda Syifa.

"Terimakasih, Bun."

Fahri pun mengganti pakaiannya di kamar Uqi. Saat keluar dari dari kamar mandi, Fahri melihat Uqi yang tertunduk lesu diatas sofa sambil memegang foto Ayahnya. Syauqi mendongakkan kepalanya.

"Abang cocok pakai baju Ayah, lihat hampir sama persis bukan?" tutur Syauqi sambil memperlihatkan foto Ayahnya yang memakai baju yang saat ini sedang dipakai oleh Fahri.

"Kamu merindukan Ayahmu, Syauqi?" tanya Fahri.

"Panggil saja Uqi, Bang. Tentu saja sangat rindu, Ayah meninggal tepat sehari sebelum Ulang Tahun Uqi." lirih Syauqi. Fahri membawa Uqi dalam pelukannya.

"Kamu seorang Polisi, kamu harus kuat! Abang yakin saat ini Ayahmu sangat bangga padamu." ucap Fahri menyemangati Syauqi.

"Kamu beruntung, masih memiliki Bunda disisimu. Jika tidak ada Mama Risma dan Papa Hari, mungkin hingga saat ini aku hidup sendirian." lirih Fahri dalam hati.

Semoga kalian suka jalan ceritanya ya!

Jangan lupa teruss dukung Author yaa!!

Salam Rindu, Author ❤

1
Ara Dhani
aku datang kembali Thor, gak bosen bolak balek baca
Rindu Yuliana 🌸: terimakasih banyak masih mendukung author 🙏🤗
total 1 replies
Tsaqib Hasbi
ini bab yg paling membuat aku nangis,
Tsaqib Hasbi
emang nikah siri gk pake wali,sampai orang tua febri tidak tahu
Tsaqib Hasbi
aku sneng baca kisah ini, romantis, tp ,pas cerita panasnya d skip.👍 bagus,jd ku rasa yg belum nikah pun aman baca kisah ini
alvika cahyawati
kehilangan. ke2 ortu memang sedih tp semua itu. kita kembalikan. pd yg kuasa amien
alvika cahyawati
padahal aku ini udah baca novel untuk kesekian kali nya tapi. ngk bosen baca nya.
w komahoks
meleleh hati adek bangggg🤭
citra marwah
oalaaaa trnyata nasib mirda kaya nasib fahri🥺
citra marwah
19 thn wah wah...mnding skrg chandra 23 jdi agak turun dkit lah perbedaan usia nya,16 thn perbedaan nya...nnti Elmira 20 thn chandra 45 waduuh udh bapak2 bgt😄
citra marwah
klo part ebiw kok melow trs ya🥺
citra marwah
🤣🤣🤣🤣
citra marwah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣Saking panik nya dia mau lahiran sendiri x🤭
Danny Muliawati
lebih baik bgt ca tau dr awal dr pd tau sdh menikah nyesel nanti
Dewi Ink: Hallo ka, ijin sharing🙏 karya Novelku yang berjudul:
180 Hari Menjalani Wasiat Perjodohan.
Siapa tahu suka, terimakasih😊
total 1 replies
Lina Astika Sari
anakmu lah baba.. masak anak meng😂😂😂
Lina Astika Sari
😂😂😂.. jadinya huruf hijaiyah ya baba jafran😁
Lina Astika Sari
😂😂😂😂.. sukak bener deh uqiii..
panik komandan fahri😁
Lina Astika Sari
aku pun gak sanggup kehilangan mas andi thor😭.. menggingatkanku dg alm. adekku😭
Lina Astika Sari
sauqiiiii maliiiiikkkk.. sukak gemes deh sama uqiiiiiii😂
Lina Astika Sari
ngakak aku di part ini.. bisa pulak pak dankinya begurau😂
Ati Rohayati
ending nya sad ya 😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!