Aku Rania, bukan Dila saudari kembarku. Berkali-kali aku harus menjadi dia karena keadaan. Tapi aku bukan dia, sekeras apapun aku mencoba menjadi dia, aku hanya akan berakhir menjadi diriku sendiri.
Aku Dila, bukan Rania saudari kembarku. Aku adalah aku, aku tidak mau menjadi dia. Aku bahkan tak mau membayangkan jadi dirinya. Sebanyak apapun kalian meminta aku untuk bisa sedikit seperti dia, maaf aku tak bisa. Aku bukan dia, aku adalah diriku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RatihShinbe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Dokter Brian datang untuk memeriksa. Beberapa dokter junior ikut bersamanya. Rania yang sedang membantu Beni mengganti pakaian terkejut melihat salah satu junior yang ikut dengan Dokter Brian adalah Daniel. Pria yang menyapanya di hotel saat itu.
Dengan menundukkan wajah dan berdiri agak jauh dia mencoba berusaha tak dilihatnya. Namun Daniel sangat jeli, dia sudah melihat Rania sejak dia mengancingkan baju Beni.
Daniel menatap Rania dan tersenyum. Beni melihatnya. Rania memalingkan pandangan dan berusaha tak merespon. Daniel merasa aneh saat melihat reaksi Beni yang terlihat tak suka.
"Aku mau segera pulang!" ucap Beni secara tiba-tiba.
Dokter Brian menatapnya, begitu juga dokter junior lainnya.
"Ya, baiklah. Nanti aku akan kabari kapan kamu bisa pulang!" jawab Dokter Brian.
"Aku maunya hari ini Om!" ucap Beni.
Tatapan matanya tertuju pada Daniel. Daniel pun merasa heran dengan sikap Beni. Dia mengangkat kedua alisnya dan menatap Rania juga Beni secara bergantian.
Melihat respon sikap Beni, Dokter Brian mencoba untuk menenangkannya.
"Okay, baiklah, hari ini. Tapi sampaikan pada ibu mu untuk datang ke ruangan ku sebelum pulang?" ucap Dokter Brian.
Rania terkejut dengan respon Beni yang tahu Daniel menatap dan tersenyum padanya. Rania tertunduk, dia mulai paham dengan ucapan Dina tentang Beni yang possesif. Meskipun jauh dari apa yang dia pikirkan.
Rania tertunduk saat Dokter Brian dan junior-juniornya meninggalkan ruangan. Rania terdiam di sisi ranjang. Beni menatapnya dan marah.
Beni memanggil Dila dengan nada yang tegas dan ada rasa marah. Rania berbalik dan menatapnya, dia berusaha berpura-pura tak terjadi apa-apa. Kedua alisnya diangkat berisyarat menanyakan apa yang bisa dia lakukan untuknya.
"Hmmm?" gumam Rania pada Beni.
"Duduk di sini!" ucap Beni kesal.
Rania menurut dan duduk di sampingnya. Dia bersiap untuk kemungkinan Beni menyakiti atau membentaknya seperti sebelumnya.
Beni memegang erat tangannya lagi. Masih dengan genggaman yang menyakitkan bagi Rania. Namun dia menahan rasa sakit itu, meski tak bisa ia menahan kerutan di dahinya karena sakit yang dirasakannya.
"Jangan pernah memandang pria lain seperti itu lagi. Ingat! Aku ga akan maafin kamu untuk hal yang bikin aku kesal!"
bisik Beni setelah dia menarik tangan Rania untuk telinganya agar mendekat pada wajahya.
Rania menahan nafas sejenak, ketakutannya tak bisa dia tunjukkan begitu saja. Beni harus mudah melepaskan Dila yang dia perankan. Rania sudah membuat rencana sebelumnya. Saat Beni begitu tak mau melepaskannya, Rania berpikir untuk membuatnya bosan pada Dila yang sangat penurut.
"Baiklah! Maafkan aku!" jawab Rania dengan lembut.
Dia melepas nafas dengan perlahan dan tanpa menunjukkan rasa takutnya. Rania tersenyum dan berusaha melepaskan genggaman tangan Beni.
Beni yang tak menyangka lagi atas respon Dila pun pelepaskan genggaman tangannya.
"Kau mau pulang kan? Aku akan hubungi Kak Bondan dan Dina" ucap Rania sambil merogoh ponsel di sakunya.
"Hubungi di sini!" ucap Beni.
Rania tersenyum dan mengangguk.
Telponnya tersambung pada Dina yang sedang duduk memeriksa laptopnya.
"Ya Dila, ada apa?" tanya Dina.
"Beni mau pulang hari ini, apa Dokter Brian sudah menelpon?" ucap Rania.
"Aku belum diberi tahu, nanti aku tanya tante Anita. Siap-siap aja dulu Dil" pinta Dina.
"Oke!" jawab Rania singkat.
Di rumah.
Anita sedang menerima telpon saat Dina menghampirinya di taman belakang. Bondan sedang duduk di dekat ibunya dengan berusaha ikut mendengarkan.
Dina berdiri diam di dekat mereka. Setelah Anita menutup ponselnya baru dia memberitahu tentang ucapan Rania.
"Dila nelpon kalau Ibenk mau pulang katanya tan!" ucap Dina.
Anita melihatnya dan mendengarkan. Anita menghela dan dia beberapa saat tak menjawab ucapan Dina.
Bondan bersikap acuh, dia berdiri dan merapikan jasnya.
"Siang ini aku ada meeting dengan klien! aku ga bisa jemput!" ucap Bondan.
Anita terheran dengan ucapan Bondan.
"Bang!" Anita mengeluh.
"Apa mom? Toh bukan presiden yang datang, kenapa aku harus dirumah! Jika tak ada meeting pun, aku pasti pergi" jelas Bondan.
"Oke, tapi nanti malam kita harus makan malam bersama!" pinta Anita.
"Ya kalo aku ga terlambat pulang!" jawab Bondan sambil melangkah pergi.
Anita menghela nafas melihat sikap Bondan. Dina tersenyum dan seolah bertanya apa yang harus dia lakukan.
"Kamu temenin tante ke Rumah Sakit. Tante perlu temen biar ga terlalu kesal sama si Dila" ucap Anita.
"Oke tante, aku siapin mobil dulu!" jawab Dina sambil tersenyum.
Anita masih duduk di kursi di depan taman. Menatap langit dan berpikir.
Di rumah sakit.
Beni sedang memegang tangan Rania dan bicara soal pulang. Dia memintanya untuk pindah dari hotel ke rumah.
Rania mengerutkan dahinya.
"Itu terjadi jika momi kamu ngizinin. Aku ga mau debat atau memaksakan" ucan Rania.
"Aku akan paksa momi buat nerima kamu. Jika tidak aku akan..." Beni belum selesai.
Rania sudah menyela.
"Bunuh diri lagi?" ucap Rania.
Beni tersenyum dan melanjutkan.
"Ya, aku akan mengancam hal itu!" ucap Beni.
"Kenapa?" tanya Rania sambil menghela nafas.
Beni hanya tersenyum.
"Kau menggunakan diri mu sendiri untuk mengancam seseorang, menyakiti diri sendiri, melukai perasaan orang disekitar mu. Apa dengan cara itu kau ingin terlihat sangat berarti bagi mereka?" ucap Rania.
Ekspresi wajah Rania datar, Beni menatap wajahnya dan merasa ucapannya tanpa ada rasa. Dia hanya bisa diam.
"Ibu mu, Kak Bondan, Dina. Mereka semua merasa takut sesuatu terjadi padamu. Dan kau mengancam mereka untuk menuruti semua keinginan mu dengan ketakutannya" lanjut Rania.
"Hentikan semua ini Benk! Kasihani mereka, jika hal itu tak berlaku bagi dirimu sendiri, setidaknya lakukan ini agar aku tetap bersamamu" ucap Rania.
Rania menghentikan merapikan pakaian Beni. Dia berbalik menghadap Beni yang masih terdiam.
"Aku takkan pergi, tapi dengan satu syarat!" pinta Rania.
"Apa itu?" tanya Beni.
Rania mendekat dan duduk di samping Beni.
"Lakukan apa yang kamu mau terhadap diriku. Tapi jangan melukai perasaan ibumu, kakakmu dan teman mu!" ucap Rania.
Tangannya menggenggam tangan Beni dengan penuh kelembutan.
"Kamu tahu siapa yang aku maksud" lanjut Rania.
"Kenapa sekarang mereka jauh lebih penting bagimu?" tanya Beni.
"Dulu bahkan kamu ngga pernah mau peduli tentang mereka. Apa karena kamu masih suka sama Kak Bondan dan ngga mau menyakiti momi, supaya Kak Bondan ga stress?" ucap Beni sambil melepas genggaman tangannya.
Rania terkejut dengan ucapan Beni. Dia tak tahu dengan hal itu.
~Dila menyukai Bondan!~ ucap hati Rania.
"Jangan terlalu memperlihatkan perasaan kamu sama kak Bondan. Aku ngga akan melepas kamu buat dia" lanjut Beni.
Rania terdiam sejenak. Banyak hal yang tak disembunyikan Bondan darinya. Rania kesal sekaligus marah.
~Bagaimana aku bisa meyakinkan Beni jika banyak hal yang disembunyikan~ ucap hati Rania kesal.
Rania mengepalkan tangannya dan menghela.
Saranghaeyo 🥰🥰
tapi ya terserah yang buat cerita
gk ada yg jelas malah bikin rusuh tambah malah makin banyak
terimakasih sudah mampir ya🥰🤭🤗
😭